
PRANG
Cynderyn menyapu bersih meja rias dengan kasar, ruangan yang temaram kini menjadi sangat kacau. Banyak barang-barang berserakan karena wanita tua itu mengamuk.
"Sialan Felix, tidak aku kira jika dia dan Ellisha akan melakukan kontrak jiwa. Pantas saja jiwa mereka tertukar saat aku ingin membunuh Cherika," kata Cynderyn berkilat tajam.
"Bisa-bisanya dia menghasut putriku untuk melakukan itu."
Chyderin melangkah ke tempat tidur yang ditempati Ellisha. Gadis yang sebenarnya sudah tiada itu.
"Kamu tenang saja, putriku. Bagaimanapun caranya ibu akan membawa jiwa Cherika untuk kamu."
**
Di sebuah ruangan yang dipenuhi rak-rak berisikan buku, bau buku menjadi sensasi tersendiri saat berada di ruang perpustakaan itu.
Sepasang kekasih sedang menikmati kebersamaan mereka. Ellisha duduk di hamparan kalasa dengan Felix yang tidur di pangkuannya.
Gadis belo itu membaca sebuah buku tebal sembari mengelus surai hitam legam sang kekasih.
"Kamu sedang membaca apa?" tanya Felix dengan tiba-tiba.
"Aku sedang membaca buku sihir, aku harus menyempurnakan kekuatan sihir milikku," jelas Ellisha masih fokus dengan bacaannya.
"Untuk apa? Kamu sudah cukup handal untuk menyembuhkan aku," kata Felix mendongak untuk menatap wajah gadisnya yang terlihat mengabaikan dirinya.
"Tentu saja untuk bisa keluar dari kastil, aku ingin melihat seluruh negri ini. Jadi aku ingin menjadi lebih kuat untuk melindungi diri supaya bisa berkenalan sepertimu."
"Aku bisa melindungimu," ucap Felix percaya diri.
"Bahkan untuk melawan beruang salju saja kamu kalah," kata Ellisha terkikik geli.
"Tapi aku mempunyai kekuasaan," ujar Felix yang membuat Ellisha mengeryit bingung.
"Kekuasaan?" tanya Ellisha karena tidak paham, dia mengalihkan atensinya pada buku untuk menatap kekasihnya yang masih tiduran berbantal pahanya.
Felix terdiam cukup lama untuk menjawab pertanyaan Ellisha. Dia berpikir jika inilah saat jujur.
Pemuda itu langsung bangun untuk terduduk menatap dalam Ellisha. "Aku akan berkata jujur padamu, sebenarnya aku bukanlah seorang pengelana," katanya dengan hati-hati.
Ellisha diam menanti akan kejujuran kekasihnya.
"Aku adalah seorang Pangeran negri ini," lanjut Felix.
__ADS_1
Seketika Ellisha menatap Felix seperti sebuah bongkahan batu yang akan menimpanya, dia merasa takut.
Ellisha langsung berdiri dari duduknya, dia mundur ke belakang untuk menjauh dari Felix. Wajahnya menjadi pucat dan air mata sudah memenuhi pelupuk matanya, "Ti-tidak mungkin, bagaimana bisa kamu adalah seorang Pangeran dan sekarang kita adalah sepasang kekasih?"
Felix memandang getir gadis yang dicintainya kini ketakutan dan menjauh darinya, memang tidak seharusnya dia jujur. Tapi cepat atau lambat Ellisha pasti akan mengetahuinya.
"Apakah kamu tidak tahu jika penyihir kastil dan keluarga kerajaan saling mengutuk?" tanya Ellisha dengan wajah pias.
Di dunia ini, penyihir kastil dan keluarga kerajaan memanglah tidak akur. Penyebab Ellisha dan Cynderyn diasingkan di pengunungan bersalju dan dianggap terkutuk adalah ulah dari Raja itu sendiri. Raja iri dengan kekuatan besar dari penyihir kastil, bahkan Raja yang telah membunuh ayah kandungnya. Suami dari Cynderyn.
Dan Cynderyn mengutuk keturunan Raja agar tidak pernah mendapatkan cinta sejati.
Bagaimana bisa Ellisha menjalin kasih dengan anak Raja yang telah mengutuk keluarganya?
Ibunya akan menentang hubungannya dengan Felix, bahkan dunia ini menentang.
"Tapi aku sangat mencintaimu, Ellisha. Aku tidak perduli dengan dunia ini, yang aku mau hanyalah kamu," kata Felix yang sudah menangis. Dia dan Ellisha sama-sama menangis karena kenyataan yang mereka hadapi.
"Tidak, kita akhiri saja hubungan ini. Kamu segeralah pergi dari sini."
"Apakah kamu tidak mencintaiku? Kenapa kamu berbicara seperti itu?" tanya Felix dengan hati yang seakan di tusuk ribuan pedang.
Ellisha tidak menjawab. Jika ditanya seperti itu, maka jawabannya adalah dia sangat mencintai pemuda itu. Bahkan sudah melebihi rasa cintanya pada dirinya sendiri.
Gadis itu semakin terisak.
Felix segera beranjak untuk memeluk gadis belo itu. Ellisha yang awalnya berontak, lama kelamaan menjadi terkulai pasrah pada pelukan si pemuda.
"Aku bahkan bersedia memberi jiwaku padamu," tukas Felix dengan sungguh-sungguh.
"Terimalah jiwaku ini, Ellisha," lanjutnya dengan melepas pelukannya dan menatap mata cokelat gadisnya.
Ellisha tertegun. "Apa yang kamu bicarakan?" tanyanya memastikan.
"Aku ingin membuat kontrak jiwa terhadap kamu," kata Felix sembari mencium tangan kanan Ellisha.
"Kamu ingin terikat selamanya dengan aku?" tanya Ellisha tidak percaya.
Kontrak jiwa adalah sama dengan menyatukan jiwa mereka berdua untuk selama-lamanya, seperti benang merah yang mengikat. Dengan melakukan itu, makan Felix tidak akan mungkin terpisah darinya karena jiwa mereka sudah menjadi satu.
"Ya, hidupku adalah milikmu. Hanya dengan ini aku membuktikan jika aku memang benar-benar mencintaimu," ujar Felix dengan berlutut di depan Ellisha
"Jika kamu juga mencintaiku, tolong terimalah aku," sambung Felix.
__ADS_1
Ellisha tidak bisa berkata-kata, laki-lakinya di depannya terlihat sangat serius. Sejatinya dia hanyalah seorang gadis yang ingin menjalankan kisah happy ending bersama orang yang dia cintai. Dia juga sangat mencintai Felix.
Bolehkah dia egois?
Lagi pula mereka hanya korban dari perselisihan antara orang tua.
"Ya," jawab Ellisha mantap. Dia sudah membulatkan tekat untuk bersikap egois demi orang tercinta
Felix tersenyum mendengar jawaban Ellisha. "Lakukanlah, Ellisha," tukasnya masih dalam posisi berlutut dan menatap dalam Ellisha.
Ellisha segera mengambil tusuk rambut dari gelungan rambut hitamnya, dia mengarahkan benda tajam itu pada jempolnya.
Dia mendekat pada Felix dan mengusap bibir bawah pemuda itu dengan jempolnya yang tengah mengeluarkan darah. Ellisha mencium bibir Felix. Belum lagi Felix pulih dari kekagetannya, gadis itu sudah menelengkan kepalanya dan semakin dalam menciumnya. Tanpa sadar Felix bergerak terkejut dan membuka bibirnya, membiarkan lidah Ellisha menelusup kedalamnya. Tindakan itu dapat membuat Felix mengecap rasa anyir dari darah. Beberapa saat kemudian kedua pasangan itu diterpa gelombang gairah yang memabukkan.
Felix yang sudah mengatasi kekagetannya, dia semakin mendongakkan kepalanya dan menyematkan jari-jarinya pada helaian hitam gadisnya. Pemuda itu tidak menyangka jika melakukan kontrak jiwa dengan Ellisha akan melakukan hal menggairahkan seperti ini.
Ellisha pada akhirnya melepaskan ciumannya, namun sejurus kemudian pemuda itu mencium dagu Ellisha dan terus turun hingga ke leher.
"Gadis nakal. Kenapa kamu melakukan itu, hmm?" tanya Felix dengan napas yang memburu, menatap wajah Ellisha yang semerah tomat.
Setahu pemuda itu, melakukan kontrak jiwa hanya dengan meminum darah dari orang yang akan dia berikan jiwanya, tapi Ellisha dengan beraninya mengambil ciuman pertamanya.
.
.
"Hei, apa yang kamu pikirkan?" tanya Chandika menyadarkan Cherika yang sejak tadi melamun dengan tatapan yang kosong.
Cherika tersentak, dia refleks memegang bibirnya. Sebuah ingatan samar tiba-tiba saja terpikir olehnya. Tapi dia seakan lupa lagi, yang dia rasakan hanya sensasi aneh pada bibirnya dan hatinya yang menghangatkan.
'Apa dia menolak ingatannya lagi?' batin Chandika dengan menatap Cherika dengan penuh arti.
"Ah, nggak. Gue cuman berpikir jika tidak ingin meminum obat," kata Cherika asal, dia menatap obat yang harus dia minum.
"Minum obat saja harus berpikir."
"Karena gue nggak suka dengan obat," ucap Cherika lesu.
"Kalau dengan aku suka?"
"Hah??"
_To Be Continued_
__ADS_1