Sekejap Berubah Gender

Sekejap Berubah Gender
Forbidden Love


__ADS_3

"Aku suka padamu, kak Eros," katanya dengan jari-jari yang saling bertaut gugup.


"Aku juga suka padamu, adikku Ellisha," jawab pemuda di depannya tersenyum.


"Aku menyukaimu sebagai seorang wanita, bukan sebagai seorang adik," ucapnya mengungkapkan isi hatinya.


Pemuda di depannya tertegun atas pernyataannya. "Kita adalah saudara, tidak sepantasnya kamu memiliki perasaan seperti itu."


"Kita hanya saudara tiri," ujarnya tidak terima akan kenyataan itu.


"Hapus perasaanmu itu, Ellisha," ucap pemuda itu yang membuat hatinya seperti tertusuk ribuan benda tajam.


"Aku tidak bisa," tolaknya dengan air mata yang sudah mengalir.


"Kamu harus bisa," kata pemuda itu dingin. "Kita selalu bersama, bercanda tawa, dan tersenyum. Mohon jangan kamu putuskan kebersamaan ini karena kesukaan dan perasaanmu padaku."


"Maafkan aku, tapi perasaan ini susah untuk di lupakan," katanya dengan menunduk.


"Belajarlah untuk melupakan aku, mulai sekarang jaga jarak denganku," ucap pemuda itu berlalu meninggalkannya yang semakin terisak piluh.


Dirinya menangis dengan mulut terbungkam, tidak sanggup menjelaskan seberapa hancurnya hatinya. Dia kecewa pada pemuda itu dan dengan dirinya sendiri. Memang tidak sepantasnya dia menyukai pemuda itu, anak dari ayah tirinya yang sudah lama tiada.


"Aku bersumpah untuk kehidupanmu selanjutnya. Kita tidak akan bersaudara dan kamu akan sangat mencintaiku," ucapnya dengan masih menangis.


**


Chandika membuang bouquet bunga matahari di tong sampah.


"Dapat bunga lagi?" tanya Alvis yang melihat Chandika sedang berdiri di depan tong sampah depan kelas.


"Ya, gue sengaja datang pagi-pagi sekali untuk bisa bertemu dengan Cynderyn, tapi hanya ada bunga ini di kolong meja," kata Chandika datar.


"Kenapa ingin bertemu dengannya?" tanya Alvis heran, nenek-nenek yang di ceritakan Chandika cukup membuatnya ngeri.


"Gue ingin menanyakan tentang mimpi-mimpi aneh yang gue alami," ujar Chandika dengan tatapan menerawang.


"Masih bermimpi aneh lagi?" tanya Alvis penasaran.


"Ya, dan semakin aneh."


"Semakin aneh kayak gimana?"


"Gue memimpikan cowok yang bernama Eros dan sepertinya gue mempunyai perasaan spesial untuknya," jelas Chandika.


"Siapa Eros?" tanya Alvis dengan nada yang terlihat ketus.

__ADS_1


"Gue nggak tahu, muka cowok itu nggak jelas," kata Chandika mengingat mimpinya.


"Cowok yang sama seperti mimpi lo sebelumnya?"


"Entahlah."


Alvis bingung dengan jawaban Chandika, jika pemuda itu tidak tahu lalu bagaimana dengan dirinya?


"Ehmm, hmm," demam Alvis beberapa kali. "Kemarin ke Singapura kenapa nggak ngajak gue?" tanyanya kemudian.


"Oh, lo kepengin diajak?"


"Ya iyalah pengin," jawab Alvis dengan cepat.


"Tapi gue ke Singapura bukan buat berlibur, gue menemani Chandika," ujar pemuda mullet dengan jujur.


"Gue juga pengin melihat sepupu asli gue."


"Gue nggak mengizinkan," tolak Chandika tegas.


"Lah kok gitu??"


"Orang berisik kayak lo akan membawa pengaruh tidak baik untuk pemulihannya," kata Chandika yang nyelekit.


"Ya, emang," kata Chandika membenarkan.


"BRENGSE*!" maki pemuda bayi dengan tatapan membunuh, cepat sekali dia merubah ekspresinya, benar-benar memiliki kepribadian ganda.


Chandika langsung kembali ke dalam kelasnya tidak memperdulikan Alvis yang sudah terbakar api amarah.


'Nggak itu, nggak ini sama-sama temperamental, memang Dika doang yang paling imut sedunia,' batin pemuda bersurai hitam legam.


Chandika mendudukkan bokongnya di kursi, dia mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Sejak kemarin, dia tidak sempat mengecek ponselnya, pikirannya terlalu kalut. Chandika melihat banyak sekali panggilan dan pesan dari Jane.


Dia sampai lupa jika mempunyai calon tunangan yang harus diperhatikan, dia tidak boleh mengabaikan Jane meskipun dia bukanlah Chandika asli. Dia tahu perasaan Jane, karena dia juga perempuan. Tidak baik jika menyakiti hati sesama perempuan.


"Astaga, gimana gue bisa lupa dengan Jane," kata Chandika kaget karena melihat isi pesan dari Jane yang meminta penjelasan darinya. Penjelasan kenapa pergi ke Singapura diam-diam.


Dia jadi pusing sendiri, memangnya dia harus berkoar-koar jika ingin ke Singapura? kenapa Alvis dan Jane menuntut hal yang sama, apakah memang dia yang tidak peka?


**


"Menjauhlah darinya, Ellisha!" sentak pemuda bermata biru pada gadis berambut hitam panjang sepinggang.


"Kenapa aku harus menjauhinya? Berhentilah mencampuri urusanku, kak!" tolak Ellisha dengan pandangan kecewa, kenapa semua yang dia lakukan selalu salah di mata sang kakak.

__ADS_1


"Kamu tidak seharusnya bersamanya!" bentak Eros dengan marah.


"Lalu aku harus bersama siapa? Dengan kakak?" tanya Ellisha tertawa getir dan membuat Eros menegang.


Ellisha sudah melupakan rasa sukanya pada kakaknya itu. Cara melupakan yang terbaik adalah dengan mencintai orang lain.


"Ellisha! dengarkan kakakmu!" seru Cynderyn yang sejak tadi melihat pertengkaran ke dua anaknya, meskipun Eros bukan anak kandungnya tapi dia juga menyayangi pemuda itu.


"Ibu juga sama saja, tidak ada yang mengerti aku," kata Ellisha dengan terisak pelan. "Aku dan Felix saling mencintai, kalian tidak bisa memisahkan kami."


"Sadarlah, kamu memang tidak akan bisa bersama dengannya, dunia ini menentang!" seru Eros mencekal pergelangan tangan Ellisha kencang. "Bagaimana mungkin kalian saling jatuh cinta, namun ditakdirkan untuk tidak bersama?"


"Lepaskan aku, kak! Jika dunia ini menentang, kami akan pergi ke dunia yang mengizinkan aku dan dia bersama," kata gadis belo dengan melepas paksa cengraman tangan Eros.


PLAK


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulus Ellisha sampai membuat pipinya memerah dan sudut bibir berdarah.


Tangan Cynderyn gemetar karena refleks menampar pipi putrinya karena mendengar perkataan Ellisha yang membuatnya sangat marah.


"Tarik kembali ucapanmu! Kamu tidak akan pernah meninggalkan ibu sampai kapanpun!" seru Cynderyn dengan suara yang bergetar.


Ellisha memegang pipinya yang berdenyut sakit, dia tidak percaya jika ibu yang selalu menyayanginya akan menamparnya. "I... Ibu menampar aku?" tanyanya tercekat.


Eros melihat adiknya tidak tega, ingin sekali dia memeluk Ellisha.


"Eros, kurung Ellisha di kamarnya, jangan biarkan dia keluar sedikitpun dari kamarnya," kata Cynderyn pada Eros.


Ellisha terkesiap mendengar perkataan ibunya, kenapa bisa ibunya  sampai bertindak seperti itu?


"Baik, ibu," jawab Eros patuh, dia tidak bisa membantah Cynderyn yang selama ini sudah menjadi sosok ibu baginya.


"Lepaskan aku, kak!" seru Ellisha ketika dirinya ditarik paksa oleh kakak laki-lakinya. "Jangan halangi aku untuk bersamanya, hiks..."


"Menurutlah, Ellisha," kata Eros sambil menyeret gadis mungil itu hingga mendorongnya ke dalam kamar dan mengunci dari luar.


"Tidak! Buka pintunya, ka!" teriak Ellisha dengan menggedor pintu berkali-kali.


Namun, tidak ada jawaban dari balik pintu. Eros sudah pergi dengan membawa kunci kamarnya.


"Hiks.. tuan Felix.." gumam gadis itu memanggil pemuda tercinta dengan bersandar pada daun pintu.


"Tuhan, jika aku harus bertahan dan bersabar, apakah akan ada akhir yang indah untukku dan dia?"


_To Be Continued_

__ADS_1


__ADS_2