Sekejap Berubah Gender

Sekejap Berubah Gender
Carelessly Kiss


__ADS_3

Cherika meremas seprai putih dengan gugup.


"Ini gue Cherika."


Untuk beberapa saat dia mendengar pintu terbuka dan tertutup.


[Hai. Putri tidur sudah bangun, hmm?]


Chandika kekeh di sebrang sana.


"Yang selama ini tertidur itu lo," kata Cherika sedikit melupakan rasa gugupnya karena mendengar tawa di pemuda.


[Oh, ya?]


"Ya! Lo baik-baik saja? Kita kembali ke tubuh masing-masing karena tubuh lo tertusuk tepat di jantung. Apakah terjadi sesuatu yang buruk?" tanya Cherika yang sejak tadi penasaran akan hal itu.


[Aku baik kok, bahkan luka tusuk itu tidak terasa sakit sama sekali.]


"Benarkah? Itu mustahil, gue bahkan merasakan sakit seperti ingin mati," kata Cherika heran.


[Entahlah. Kamu tahu sendiri kan, tidak ada yang mustahil ketika tubuh kita tertukar.]


"Ya, lo benar," jawab Cherika mengangguk meskipun tidak dapat di lihat Chandika. "Syukurlah jika tidak terjadi hal yang buruk."


[Apakah kamu mencemaskan aku?]


"Tentu saja, apa tidak boleh?" kilah Cherika dengan hati-hati.


[Boleh saja. Justru aku sangat senang.]


"Hmm," Cherika berdeham karena merasakan tenggorokan mendadak kering.


"Terima kasih karena telah menyelamatkan gue waktu itu," sambung Cherika mengingat kejadian di kediaman Adhideva.


[Tidak masalah. Lebih mudah menjadi berani ketika seseorang membutuhkan perlindunganmu.]


"Lo memang sangat pemberani," ucap Cherika tertawa pelan. "Tapi gue itu kuat, jadi tidak perlu dilindungi," lanjutnya dengan sombong.


[Bahkan yang kuat terkadang membutuhkan perlindungan.]


"Ya, jika tidak ada lo, saat itu mungkin gue sudah tiada."


[Itu tidak akan pernah terjadi. Aku akan selalu melindungi kamu, Cherika.]


DEG


"..."


Cherika hanya diam saja, dia merasa Jantungnya berdetak tidak karuan. Gadis itu tidak menyangka jika Chandika bisa berbicara manis seperti itu.


[Kamu masih ada di situ?]


Tanya suara di ujung sana karena Cherika terdiam cukup lama.


"Ya," jawabnya cepat.

__ADS_1


[Apakah kamu mengantuk? Ini memang sudah sangat malam.]


Cherika melirik jam dinding yang sudah menunjukan tengah malam, perbedaan waktu di Singapura dan Jakarta adalah 1 jam.


"Hmm," Cherika bergumam tidak jelas. Sebenarnya dia tidak mengantuk sama sekali.


[Baiklah, tutup saja teleponnya. Besok aku akan menemui kamu.]


"Lo akan ke sini?" tanya Cherika dengan mata yang berbinar.


[Ya.]


"Ok," ucap Cherika singkat menutupi rasa senangnya.


[Selamat malam.]


"Selamat malam," jawab Cherika segera memencet tombol merah di layar headphone.


Gadi itu memeluk ponsel milik Nathan di depan dadanya, dia tidak sabar untuk menunggu hari esok.


**


"Kau sudah menipuku, Cynderyn," ucap Ludhe menatap nyalang wanita tua di hadapannya.


Kini dia dan Cynderyn sedang berada di jalan raya yang sepi, nenek-nenek syal merah itu tiba-tiba saja menghadang laju mobilnya.


"Kamu saja yang terlalu bodoh," kata Cynderyn menyeringai.


"Wanita tua sialan!" maki Ludhe dengan urat di lehernya.


"Cih, tidak sudi. Kaulah yang sudah membunuh Ellisha, kau hanya melimpahkan kesalahan pada Felix," ucap Ludhe dengan amarah.


"Itu tidak benar!" sangkal Cynderyn kalut.


"Akuilah kesalahan yang kau perbuat. Jangan kau ganggu Cherika lagi, kembalilah ke dunia asalmu," ujar Ludhe dengan tatapan memperingati.


Cynderyn hanya tertawa berbahak. "Kamu tidak bisa menghentikan aku, Eros. Aku terlalu cepat seribu tahun untuk kamu lawan."


Ludhe mengepalkan kedua tangannya.


"Bagaimanapun caranya aku akan membawa jiwa Cherika untuk menghidupkan Ellisha kembali," lanjutnya menggerenyotkan bibir.


"Jadi itulah tujuanmu sebenarnya, ha!" bentak pemuda blaster murka.


"Ya, kamu ataupun Felix tidak akan pernah bisa menghentikan aku."


Setelah mengatakan itu Cynderyn langsung menghilang bagai debu.


"Keparat!" maki Ludhe dengan menendang ban mobil miliknya.


"Kau pikir saya akan diam saja, Cynderyn?" gumam Ludhe dengan gigi yang bergemerutup.


**


Pagi yang cerah di Singapura atau negri singa.

__ADS_1


"Pagi," sapa seorang perawat pada Cherika yang terduduk di brankar.


Gadis itu hanya mengangguk.


"Bagaimana keadaan, nona Cherika?" tanya perawat dengan ramah.


"Saya sudah baik-baik saja, Sus," jawab gadis belo apa adanya. Dia memang merasa sehat, kepalanya yang masih diperban juga tidak terasa sakit sama sekali. Rasanya dia ingin pulang saja.


Perawat memeriksa kondisi tubuh Cherika, memeriksa tensi, suhu tubuh, tekanan darah, dan memeriksa infus. Menilai atas kondisi tubuh Cherika. Setelahnya perawat itu menatap Cherika seperti sebuah keajaiban dunia. "Nona memang sudah sangat baik-baik saja. Sepertinya besok sudah boleh keluar dari rumah sakit."


"Benarkah?" tanya Cherika dengan berbinar senang, dia memang tidak betah di rumah sakit.


"Ya, tentu saja," jawab perawat tersenyum. "Dr. Philip juga mengatakan seperti itu, asal nona meminum obat dengan teratur."


Seketika muka Cherika memucat, dia sangat membenci sesuatu yang berbau obat, menelan obat saja dia tidak bisa. "Apa boleh tidak minum obat?" tanya Cherika hati-hati.


"Nona harus minum obat," putus perawat itu final.


"Baiklah," gumam Cherika terpaksa.


"Kalau begitu saya permisi dulu, sarapan pagi akan segera datang. Nona Cherika bisa minum obat saat selesai sarapan," jelas suster sebelum keluar.


Sepeninggal perawat, Cherika langsung merebahkan dirinya, tidur membelakangi pintu. Dia sangat bosan. Nathan sedang ke hotel untuk berganti pakaian, dia hanya sendiri di ruang inap VIP yang cukup besar. Hanya suara TV menyala yang menemaninya.


Cklek


Suara pintu terbuka, dia yakin jika itu orang yang mengantar sarapan untuknya. Dia malas untuk memakan makanan rumah sakit yang sangat hambar apalagi harus meminum obat setelahnya. "Taruh saja makanannya," ucap gadis belo tanpa mengubah posisinya.


Bunyi langkah sepatu menggema di ruangan. Cherika heran karena orang yang mengantar makanan hanya diam saja, tidak menjawab perkataannya.


Gadis itu merasakan jika orang itu tengah berdiri di samping ranjang dan menatap punggungnya. Cherika langsung berbalik untuk melihat orang itu.


Hal pertama yang dia lihat adalah bola mata sehitam malam yang seakan menghipnotis dirinya, dia terpesona dalam keterkejutan. Apalagi dia merasakan hembusan nafas hangat yang bercampur dengan bau daun mint yang memabukkan. Sangat dekat dengan wajahnya.


Cup


Sebuah ciuman mendarat di pipi tembamnya. Cherika melebarkan bola matanya yang membuat semakin Belo.


Cup


Dan satu ciuman lagi mendarat di pipi sebelahnya.


"Stop!" seru Cherika yang sudah sadar dari rasa shock, dengan cepat dia mendorong wajah si pencuri ciuman yang ingin menciumnya lagi dengan kedua tangannya.


"Ke-kenapa lo mencium gue sembarangan, Chandika??" tanya Cherika dengan tergagap dan jantung yang berdegup tidak beraturan.


"Memang kenapa? Bukannya dulu kamu selalu meminta cium?" kilah Chandika dengan polos.


Alias pura-pura polos.


Cherika langsung bangkit dari tidurnya dan terduduk menghadap Chandika yang berdiri di samping ranjang.


"Itu nggak sopan!"


_To Be Continued_

__ADS_1


__ADS_2