Sekejap Berubah Gender

Sekejap Berubah Gender
Can't Meet


__ADS_3

"Bang Nathan, izinkan gue menemani Cherika," kata Chandika pada Nathan yang menghalanginya masuk ke ruang rawat Cherika.


"Sudah gue bilang, lo nggak usah menemui Cherika lagi," ujar Nathan menolak Chandika dengan bertolak pinggang.


Si pemuda mullet merasa sedikit terkejut, Nathan yang selama ini selalu menunjukan muka konyol dan senyum ramah, kini menatapnya dengan dingin. Sejak kapan kakak ke enamnya itu bisa berekspresi seperti itu?


"Gue mohon," kata Chandika menundukkan wajahnya.


"Ck, adik gue itu bukan cewek yang seperti calon tunangan lo bilang. Gue nggak akan membiarkan Cherika dihina seperti itu lagi," ucap Nathan dengan mata berkilat marah. "Gue kira lo menyukai Cherika, tapi sepertinya lo memang cowok bajingan yang hanya memainkan hati cewek."


"Nggak kayak gitu," sangkal Chandika, dia memang tidak ada niat untuk memainkan hati siapapun, lagipula Cherika adalah tubuh aslinya.


"Jangan kira karena lo anak orang kaya bisa berprilaku seenaknya."


Chandika semakin menundukkan wajahnya, dia takut melihat wajah Nathan yang memerah karena marah, baru kali ini dia melihat Nathan marah, mana berani dia melawan kakak kandungnya yang telah menjaganya selama ini.


"Mulai sekarang jauhi Cherika," sambung Nathan yang membuat Chandika membeku. "Jika lo masih mencoba mendekati Cherika, lo akan berurusan sama gue."


Nathan langsung kembali ke dalam ruang Cherika dan menutup pintu.


'Kenapa jadi kayak gini?' batin Chandika perih.


**


My Universe-Coldplay dan BTS.


[You (you), you are (you are) my universe]


[And I (I) just want (just want) to put you first]


[And you (you), you are (you are) my universe]


[And you make my world light up inside]


[My Universe...]


Aminta sedang bernyanyi dan menari dengan menggoyang-goyang Army Bomb dengan gembira, tidak menyadari putranya yang terlihat lesu berjalan menghampirinya.


Chandika langsung menjatuhkan badannya di sofa ruang tamu yang cukup luas, tidur dengan tengkurap.


"Malas, mau jadi lele saja," gumam pemuda itu.


"Oh, astaga, kenapa kamu?" tanya Aminta yang sadar dengan gumaman putranya, wanita itu segera mematikan TV ruang tamu yang menampilkan musik video Boyband yang telah menjadi favoritnya itu.


"Chan?" tanya Aminta sekali lagi dengan mengelus rambut tebal putranya.

__ADS_1


"Mami," rengek Chandika dengan suara beratnya, dia memeluk pinggang sang ibunda.


"Aduh, putra mami kenapa jadi manja lagi?" tukas Aminta tersenyum lembut. Sudah lama putranya tidak bersikap manja.


"Chan, nggak boleh bertemu Cherika lagi," gumam Chandika.


"Memang siapa yang melarangmu?" tanya Aminta terheran-heran.


"Bang Nathan," jawab Chandika cepat.


"Kenapa memang?"


"Ini semua karena Jane, dia datang menyusul aku ke Singapura dan menghina Cherika di depan bang Nathan," kata Chandika menjelaskan dan segera bangkit untuk duduk di sofa.


Kening Aminta berdenyut seketika, hal itu sudah dia kira sebelumnya, pasti akan ada salah paham di antara Chandika dan Jane.


"Sebenarnya kamu benar-benar menyukai Jane tidak, Chan?" tanya Aminta memastikan perasaan putranya sekali lagi, pasalnya sikap Chandika pada Jane tidak menunjukan jika pemuda itu masih menyukai Jane seperti dulu.


Jika dulu, Chandika selalu menunjukan kalau dia sangat menyukai Jane, sampai-sampai selalu bercerita tentang Jane setiap hari pada Aminta, selalu meminta ini itu untuk memberikan hadiah untuk Jane, dan di dalam pikiran Chandika selalu ada Jane dan Jane.


Namun, sekarang mana pernah Chandika memikirkan Jane. Untuk menghubungi Jane saja tidak pernah.


"Suka ko," jawab Chandika tidak rela. Lagipula dia tidak punya hak untuk mengatakan jika tidak menyukai Jane, dia bukanlah Chandika asli, yang dia tahu tubuh yang sekarang dia tempati sangat menyukai di gadis blaster. Bahkan sampai tergila-gila.


Chandika hanya diam, dia bingung untuk berkata apa, tidak mungkin jika dia mengatakan sejujurnya. Mengatakan kalau dia bukanlah Chandika, yang Chandika itu Cherika, dia sedih karena tidak bisa bertemu dengan Chandika asli yang sedang berada di tubuh aslinya.


"Kenapa diam?" tanya Aminta menuntut jawaban putranya.


"Karena aku hanya merasa bersalah pada Cherika, dia sudah menyelamatkan nyawaku," kata Chandika tidak sepenuhnya berbohong.


"Yakin hanya itu?" tanya Aminta tidak percaya begitu saja.


"Hmm," Chandika hanya bergumam tidak jelas.


"Yasudah, berarti tidak masalah dong jika kamu tidak bisa bertemu lagi dengan Cherika?"


"Tentu saja masalah," kilah Chandika masih tidak terima.


"Loh katanya hanya merasa bersalah saja. Jika hanya itu yang kamu rasakan, papi sedang berusaha melakukan apapun untuk penyembuhan Cherika, kamu tidak perlu khawatir. Biar papi saja yang mengurus Cherika, kamu tidak usah repot untuk menemuinya."


Chandika hanya diam saja, perkataan Aminta memang benar. Jika dia terus berkilah, Aminta pasti semakin memojokkan dirinya.


"Ya, mami," jawab Chandika pasrah.


"Sekarang kamu fokuslah dengan Jane, pertunangan kalian tinggal seminggu lagi," kata Aminta menasehati putranya. "Jane adalah pilihan kamu, jangan abaikan dia."

__ADS_1


Chandika hanya mengangguk, tidak membantah perkataan sang ibu.


"Besok sepulang sekolah, ajak Jane untuk memilih gaun di butik milik mami, gaun untuk pertunangan kalian," perintah Aminta.


Chandika hanya mengangguk lagi.


**


Di sebuah jalan sempit yang cukup lembab dan becek, sangat minim penerangan. Seorang dengan menggunakan Hoodie berwarna hitam dengan tudung kepala melangkah semakin masuk ke dalam kegelapan.


"Siapa kau?" tanya seorang pria dengan badan penuh tato.


"Tidak perlu tahu siapa saya," kata pemuda Hoodie. "Saya punya pekerjaan untuk kalian," lanjutnya menatap ke dua orang yang sedang menatap ingin tahu.


"Siapa yang ingin kau bunuh?" tanya pria yang satunya to the point. Mereka berdua adalah pembunuh bayaran berdarah dingin yang terkenal di dunia gelap.


"Putra tunggal Aldebaron," kata pemuda bermata biru.


"Keluarga konglomerat itu?" tanya pria bertato.


Ludhe hanya diam saja dengan ekspresi datar.


"Jika benar, akan sedikit sulit membunuh anggota keluarga berpengaruh. Kau ingin membayar kami berapa?"


"2 milyar."


Kedua pria menyeramkan itu tercekat tidak percaya, pasalnya itu adalah bayaran termahal bagi mereka.


"2 milyar untuk uang muka, dan akan saya tambah jika kalian berhasil," ucap Ludhe dengan menyerahkan koper yang berisi uang tunai pada kedua pria di depannya.


Ke dua pria itu langsung menerima koper dari Ludhe dan membuka isinya. Dan benar saja, ada sejumlah uang yang sangat banyak di dalam koper.


"Senang berkerja sama dengan anda, tuan," kata pria bertato.


"Tapi, kalian hanyalah sebagai umpan."


"Umpan?"


"Ya, karena saya akan membunuhnya dengan tangan saya sendiri," ucap Ludhe dengan mata biru yang menyorot tajam.


"Baiklah tuan," jawab ke dua pembunuh bayaran.


"Waktunya seminggu dari hari ini," kata Ludhe mengingatkan.


_To Be Continued_

__ADS_1


__ADS_2