Sekejap Berubah Gender

Sekejap Berubah Gender
Approval


__ADS_3

"Itu bukan aku!"


"Jelas-jelas itu suara kamu, Jane!" bentak Emily, dia tidak menyangka putrinya akan berbohong padanya. Apakah selama ini dia salah mendidik Jane?


"Bu-bukan..." lirih Jane dengan lelehan air mata. "Papa... Mama... Percayalah padaku yang di rekaman itu bukan aku," lanjutnya dengan menatap ke dua orang tuanya.


Plak


Bukan Emily yang menamparnya, tapi Ridwan yang sejak tadi mengepalkan tangan. Dia tidak menyangka putrinya akan mempermalukannya.


"Pa-papa," Jane tercekat. Tamparan Ridwan sangatlah keras, sudut bibirnya saja sampai pecah dan mengeluarkan darah.


"Maafkan putri saya," kata Ridwan pada keluarga Aldebaron. Dia sangat malu tentang ini.


Albert menghembuskan napas berat, dia tidak menyangka akan ada hal seperti ini. Memang seharusnya dia tidak ikut campur tentang percintaan cucunya itu. "Ya, bawalah putrimu pergi. Pernikahan ini tidak akan pernah terjadi," kata Albert tegas.


"A-apa? Kita bisa menggugurkan bayinya, jadi pernikahan ini akan tetap terjadi. Lagi pula bukannya Chandika sangat mencintai Jane?" kilah Ridwan dengan gusar.


Jane menatap tidak percaya ayahnya, dia tidak mau menggugurkan kandungannya. Dia tidak mungkin membunuh anaknya yang tidak berdosa. "Hiks... Tidak, aku tidak mau menggugurkannya, papa," tolak Jane dengan memegang perutnya, berniat melindungi.


"Dasar anak sialan!"


Ridwan berniat menampar kembali pipi Jane, tapi Chandika dengan segera menghentikannya.


"Tidak sepantasnya seorang ayah melakukan itu, seharusnya kamu bercermin. Anak adalah cerminan orang tua. Apa yang kamu harapkan padanya bergantung pada caramu memperlakukannya," kata Chandika sarkastik.


Badan Ridwan menegang seketika. Dia tidak bisa berkata apa-apa.


Jane yang menatap Chandika semakin terisak piluh. Bagaimana bisa dia tidak mencintai pemuda sebaik Chandika? Meskipun dia sudah berbuat licik, tapi pemuda itu masih mau melindunginya.


'Aku memang tidak pantas bersanding dengan kamu, Chan,' batin Jane dengan hati teriris-iris.


"Sudah cukup. Sebaiknya kamu selesaikan baik-baik urusan keluargamu, Ridwan," kata Jauzan yang tidak ingin terjadi keributan lagi.


Ridwan pun malu seketika, dia sudah tidak punya muka untuk berhadapan dengan keluarga Aldebaron. Dia segera menarik Jane dan Emily untuk pergi dari restauran itu.


"Sekretaris Theo," panggil Albert pada Theo yang sejak tadi berada di sisinya.


"Ya, tuan."


"Bereskan kekacauan ini, beritahu pada media jika cucuku tidak jadi menikah dengan Jane," perintah Albert. Salahkan Emily yang sudah berkoar-koar pada media tentang pernikahan yang tidak akan terjadi ini.


"Tunggu kakek," kata Chandika mengintruksi.

__ADS_1


Albert menatap Chandika penuh tanda tanya.


"Aku tetap ingin menikah," kata Chandika yang membuat Jauzan dan Aminta tergelak dan Albert yang terkejut.


"Kamu masih ingin menikahi wanita hamil itu?" tanya Albert tidak percaya. Bukannya tadi cucunya itu ingin membatalkan pernikahan? Tapi kenapa berubah pikiran?


"Bukan. Aku ingin menikah dengan gadis lain yang aku cintai."


"Bukannya Jane yang kamu cintai?"


"Aku tidak mencintai Jane, kakek," sangkal Chandika.


"A-apa? Kakek kira kamu mencintainya, karena itu kakek menjodohkan kamu dengan Jane," kata Albert tercekat. Jadi selama ini dia salah?


"Aku mencintai gadis lain," tukas Chandika dengan ekspresi serius.


Kakek Albert memijit pangkal hidungnya, dia tidak mau jika Chandika akan mendapatkan istri yang tidak baik, contohnya saja Jane—gadis yang sudah hamil duluan. Memang siapa gadis yang kini cucunya cintai itu? Padahal dia ingin cucunya itu menikah dengan gadis yang telah menolongnya kemarin.


"Bawalah gadis itu untuk menemui kakek," kata Albert setelah terdiam cukup lama.


**


Makan malam yang seharusnya menjadi hal terbahagia bagi keluarga Ridwan Moch justru berakhir dengan rasa malu yang luar biasa.


"Jika kamu tidak mau, suruh anak Lazuardy itu bertanggungjawab. Suruh dia menikahi kamu," desis Ridwan yang menyetir mobil.


"Aku tidak mau menikah dengan Ben, hiks... Dia cowok yang jahat. Lebih baik aku tidak menikah dengan siapa pun," cicit Jane.


"Jane, dengarkan papa kamu! Jika kamu tidak menikah dengan Chandika makan cobalah menikahi pemuda kaya lainnya. Tidak apa kalau kamu menikah dengan Ben, bagaimanapun dia adalah putra dari pengusaha kaya," kata Emily menasihati.


"Tidak, aku tidak mau menikah dengan Ben," tolak Jane.


"Jangan membangkang! Kalau kamu masih keras kelapa, jangan anggap kami orang tua kamu lagi!" bentak Ridwan.


"Kalian sangat egois, kalian tidak pernah memikirkan perasaan aku, yang kalian pikirkan hanyalah uang dan uang. Aku sudah tidak mau dijadikan alat oleh kalian, ini bukan kedurhakaan. Taat dan berbakti kepada orangtua terdapat batasannya," kata Jane dengan berani.


"Kamu benar-benar membuat papa kecewa, Jane!" bentak Ridwan sekali lagi.


"Papa, aku tidak tahu mengapa aku bisa menjadi mengecewakan seperti ini ketika dewasa, yang aku tahu, itu adalah bentuk kekecewaanku di masa dewasaku saat ini."


**


"Chan, kamu benar-benar akan membawa Cherika pada kakek?" tanya Aminta saat mereka sudah sampai di kediaman.

__ADS_1


"Tentu saja," kata Chandika mantap.


"Jika kakek tidak menyukai Cherika bagaimana?" tanya Jauzan.


"Tinggal kawin lari," jawab Chandika tanpa berpikir panjang.


"Sembarangan kamu ya! Jika kamu kawin lari, papi akan kesulitan dan tidak bisa pensiun!" seru Jauzan mengusap wajahnya kasar. Hilang sudah masa-masa pensiunnya yang sudah dia tunggu-tunggu.


"Tinggal bikin anak lagi," kata Chandika dengan santainya.


"Kamu kira bikin anak itu seperti membuat teh manis? Sekali clup langsung jadi!?" pekik Jauzan.


"Uhuk.. uhuk.. " Aminta terbatuk karena tersedak ludahnya sendiri. "Tidak ada membuat anak lagi. Mami ini sudah tua, Chan," kata Aminta setelah melototi Jauzan.


"Yasudah biar aku dan Cherika yang membuatnya," celetuk Chandika yang membuat Jauzan dan Aminta speechless.


"Jadi tidak masalah bukan jika aku kawin lari?" lanjut Chandika.


"Tidak ada kawin lari!" seru Aminta menjewer gemas telinga Chandika. "Siapa yang mengajari kamu bahasa kawin lari?? Mami tidak akan membiarkan kamu meninggalkan mami!" omel Aminta.


"Aduh, mami. Sakit..." rintih Chandika yang menunduk paksa. "Papi yang mengajari, Chan."


Jauzan yang melihat putranya di jewer tertawa dengan senang, ini adalah hal yang langka. Namun, dia terdiam seketika saat mendapat tatapan membunuh dari sang istri. Sepertinya setelah ini adalah gilirannya.


"Mana ada papi yang mengajari kamu!" sangkal Jauzan.


"Pokoknya kamu tidak boleh melakukan itu, Chan."


"Ya, mami. Aku hanya bercanda, kok."


Aminta pun melepas telinga Chandika, meninggalkan jejak kemerahan di telinga itu.


"Jangan bercanda keterlaluan," ucap Aminta bertolak pinggang.


Chandika mengangguk.


"Kamu tidak perlu khawatir, Chan. Papi akan membantumu jika kakek tidak merestui kalian," kata Jauzan menepuk bahu sang anak tunggal.


"Ya, mami juga akan membantu. Jadi kamu tidak usah kawin lari," tambah Aminta.


"Terima kasih," ucap Chandika tersenyum senang dan memeluk ke dua orang tuanya.


Chandika merasakan hangat di hatinya, setidaknya orang tua di kehidupannya saat ini tidak menentang cintanya dan Cherika.

__ADS_1


_To Be Continued_


__ADS_2