
"Putri Vransiska," ucap Cynderyn menatap perempuan yang tidak diundang itu.
Vransiska. Putri dari negri sebrang. Dia sengaja datang ke negri ini untuk menikah dengan Pangeran Felix, Pangeran yang terkenal akan ketampanannya. Namun, siapa sangka jika Felix kabur dari istana demi hidup bersama dengan anak dari seorang penyihir.
Putri Vransiska adalah orang yang sangat ambisius. Apapun keinginannya harus tercapai, termasuk menikah dengan Felix. Meskipun harus berbuat jahat dia tidak segan-segan.
"Apa mau kamu, Putri?" tanya Cynderyn dengan tatapan menyelidik.
"Seperti yang sebelumnya aku katakan. Ayo kita bekerjasama untuk memisahkan Pangeran Felix dan putrimu," kata Vransiska tersenyum miring.
Cynderyn yang awalnya tidak mau, tapi dengan banyak bujuk rayu Vransiska akhirnya mau untuk bekerjasama.
"Apa rencana kamu?" tanya Cynderyn.
"Buatkan aku ramuan pemikat."
**
Di hamparan bunga matahari pada malam hari. Bulan purnama menggantung begitu indah di atas langit.
"Tuan..."
"Ya, Ellisha," jawab Felix dengan mengelus rambut hitam Ellisha yang sedang bersandar di bahunya.
Mereka berdua sedang terduduk di rerumputan dengan menatap pantulan bulan di air sungai yang terlihat gelap.
"Aku tidak merasakan lagi hawa kehadiran dari kak Eros," kata Ellisha mencengkram kedua tangannya.
"Tidak mungkin, kan? Apa kak Eros telah tiada?" sambungnya dengan terisak.
"Eros pasti baik-baik saja. Kakak kamu itu laki-laki yang kuat, bukan?" kata Felix mencoba menenangkan. Sejatinya Felix juga berpikir hal yang sama seperti Ellisha.
'Apa Eros dibunuh ibunya sendiri?' tanya Felix di dalam hati.
"Gara-gara aku dia..."
"Shttt," Felix menutup mulut Ellisha dengan jari telunjuknya. "Jangan menyalakan diri sendiri. Kamu harus percaya pada Eros jika dia bisa menjaga diri."
"Ya," Ellisha mengangguk.
Felix segera mengusap jejak-jejak air mata Ellisha dan mengecup ke dua mata hadis itu.
Ellisha merona karena perlakuan manis orang yang sangat dia cintai itu.
Malam semakin larut. Ellisha tertidur pada pangkuan Felix yang sedang memeluknya. Karena mereka masih di dalam pengejaran prajurit mereka terpaksa tidur di alam terbuka seperti ini.
SRAKK
Perhatian Felix teralihkan karena mendengar bunga matahari yang bergoyang seperti ada seseorang.
"Siapa?" tanyanya. Tapi tidak mendapatkan jawaban.
Felix segera menurunkan Ellisha dari pangkuannya dan menyenderkan gadis itu pada pohon. Dia menyelimuti Ellisha sebelum beranjak untuk mengecek sesuatu itu.
Dengan langkah perlahan dia mendekat dan menebas batang-batang bunga matahari dengan pedang yang dia pegang. Namun tidak ada siapapun.
SRAKK
Felix langsung mengikuti suara itu. Semakin dia cari tapi tidak menemukan apapun.
Karena Felix merasa jika sudah terlalu lama meninggalkan Ellisha sendiri dia berniat berbalik untuk kembali. Tapi sebelum benar-benar berbalik dia mencium bau yang sangat manis dan begitu memabukkan. Bagai tersihir dia menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Pangeran..." terdengar suara yang memanggilnya. Felix segera mengikuti suara itu. Pemuda itu telah terpengaruh ramuan pemikat yang dibuat oleh Cynderyn.
"Pangeran kemarilah..." panggil Vransiska pada Felix yang sudah berada di hadapannya. Tatapan pemuda itu kosong.
Felix menurut dan menghampiri gadis itu.
"Peluk aku," kata Vransiska.
Pemuda itu segera memeluk Vransiska.
KRAK
Ellisha yang baru saja datang langsung membeku, matanya terbelalak melihat pemuda yang dia cintai berpelukan dengan perempuan lain.
Vransiska tersenyum melihat kedatangan Ellisha yang tepat waktu itu. "Cium aku, pangeran Felix."
Bagai kerbau yang dicucuk hidupnya Felix menurut dan mencium Vransiska tepat di hadapan Ellisha.
Air mata mengalir di kedua mata Ellisha. Hatinya bagai dihujam sebilah belati. "Tuan..."
Suara Ellisha langsung dapat menyadarkan Felix. Pemuda itu mendorong Vransiska hingga terjatuh. "Sialan! Apa yang telah kamu lakukan padaku, Vransiska!"
"Kamu kasar sekali, Pangeran. Tega sekali kamu mendorongku setelah mencium aku," kata Vransiska dengan menjilat bibirnya sendiri.
Felix langsung mengusap kasar bibirnya. Bagaimana bisa dia mencium perempuan gila semacam Putri Vransiska? Ingin muntah rasanya.
Felix mengalihkan perhatiannya pada Ellisha. Gadisnya terisak dengan badan yang gemetar. "Ellisha, ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku...aku tidak sadar saat melakukan itu. Percayalah padaku," jelas Felix mencoba mendekat pada Ellisha.
Ellisha mundur dan berbalik pergi. Gadis itu lari.
"Tidak! Jangan pergi!" seru Felix mengejar Ellisha.
"Kamu salah paham," Felix masih mengejar dan mencoba menjelaskan. "Aku tidak mungkin mengkhiyanati kamu. Hanya kamu yang aku cintai."
Ellisha tidak percaya akan hal itu. Melihat Felix memeluk dan mencium perempuan lain sangat membuat hatinya sakit.
"Berhenti, Ellisha! Di situ ada jurang!" teriak Felix memperingati.
"Kyaaaa!"
"Ellisha!!"
Felix melihat ke bawah Ellisha bergelantung pada akar pohon yang menjuntai.
"Pengang tanganku!" seru Felix mengulurkan tangannya.
Ellisha menggeleng, dia masih sesenggukan.
"Aku mohon," kata Felix dengan syarat permohonan, dia tidak bisa membiarkan gadis yang sangat di cintanya terjatuh. Apalagi di bawah sana terdapat batu-batu yang sangat tajam. Jika Ellisha jatuh sudah dipastikan nyawa gadis itu tidak akan bisa selamat.
"Aku sangat mencintai kamu, Ellisha," lanjut Felix yang tidak bisa membendung air matanya lagi, pemuda itu menangis. "Kamu hanya perlu percaya padaku."
Melihat kesungguhan dari tatapan Felix, gadis itu segera meraih tangan si pemuda mullet.
"Terima kasih telah mempercayai aku. Kamu tenang saja, aku pasti akan menyelamatkan kam—Ugh..." sebelum menyelesaikan perkataannya darah segar tiba-tiba saja keluar dari mulut Felix. "Uhuk...uhuk..."
"Ibu..." Ellisha membolakan matanya. Di atas sana dia melihat Cynderyn tengah menusuk Felix dengan pedang dari arah belakang.
Bukannya melepas pegangan tangannya, Felix justru semakin kuat memegang tangan Ellisha. "Jangan lepaskan tangan aku...Arrgghh!"
Cynderyn memberikan hujaman pada punggung Felix berkali-kali.
__ADS_1
Brukk
Vransiska mendorong Cynderyn. "Apa yang kamu lakukan!? Jangan membunuh Pangeran Felix!!"
"Tujuan aku adalah membunuhnya, jika dia tidak mati Ellisha pasti akan selalu mengikutinya," desis Cynderyn.
"Tidak akan aku biarkan kamu melakukannya!" seru Vransiska. Niatnya adalah untuk menikah dengan Felix, jika Felix dibunuh untuk apa dia berkerjasama dengan Cynderyn?
"Berani sekali kamu menghalangi aku!" Cynderyn segera menyerang Vransiska.
Dengan kekuatan yang masih tersisa Felix langsung menarik Ellisha.
"Tuan... Hiks, kamu tidak apa-apa?" tanya Ellisha yang sudah berhasil naik itu. Dia melihat sekujur tubuh Felix yang berdarah-darah.
"Ellisha, maafkan aku...uhuk," ucap Felix dengan darah kental yang semakin banyak keluar dari mulutnya.
"Tidak...hiks, aku yang minta maaf karena tidak percaya padamu. Bertahanlah..." isak Ellisha memeluk Felix yang sudah terkulai lemas.
"Aku tidak kuat lagi..."
"Kamu harus kuat. Bukankah kamu mencintai aku? Kita akan bersama selamanya, bukan? Aku akan mengobati kamu... Hiks..." Ellisha mencoba mengobati luka Felix dengan sihir penyembuhan miliknya, tapi tusukan yang diberikan Cynderyn terlalu dalam dan pemuda itu sudah banyak sekali kehilangan darah.
Dengan tangan yang gemetar Felix menyentuh pipi Ellisha. "Ja... Jangan menangis, aku tidak suka melihat kamu menangis..."
"Makannya kamu harus bertahan..."
"Haaah... Uhuk!"
"Tu... Tuan!"
"El.. Ellisha..." ucap Felix dengan napas yang sudah hampir habis.
"Tuan... Hiks."
"Ki... Kita, selanjutnya ayo kita bertemu lagi di dunia yang mengizinkan aku mencintaimu sebanyak yang aku mau..."
Setelah itu Felix menutup mata dan menghembuskan napas terakhirnya.
"Tu-tuan! Tuan Felix... Hiks... Tidak! Jangan bercanda! Bangunlah... Huaaaa..." Ellisha memeluk erat Felix dengan isak tangis yang sangat kencang.
Di sisi lain Cynderyn sudah berhasil membunuh Putri Vransiska. Dia tersenyum melihat Felix benar-benar sudah meninggal. Dengan begini Ellisha tidak akan pernah meninggalkannya lagi.
"Ellisha, kemarilah, ikut ibu pulang ke kastil," ucap Cynderyn sembari melangkah mendekati Ellisha.
Ellisha melepas pelukannya pada Felix, dia bangkit.
"Kemarilah," Cynderyn tersenyum.
Gadis itu mengambil pedang Felix yang memang selalu pemuda itu bawa kemana-mana. Dengan pedang milik pemuda yang sangat dia cintai, Ellisha berniat mengakhiri hidupnya. Dia ingin segera bertemu Felix di dunia yang pemuda itu bilang.
"Jangan kamu lakukan itu, Ellisha!" seru Cynderyn mencoba menghentikan putrinya.
JLEB
Ellisha menancapkan pedang tepat mengenai jantungnya.
"Tidak, Ellisha!!"
'Tuhan... Tolong pertemukan kami kembali.'
_To Be Continued_
__ADS_1