Sekejap Berubah Gender

Sekejap Berubah Gender
Enjoy Lies


__ADS_3

"Aduh, maaf ya. Gue nggak sengaja mendorong lo, Cher," kata Icha dengan wajah menyesal. Dia tidak menyangka jika kesalahannya akan membawa seseorang masuk ke rumah sakit dengan mudahnya.


"Sudahlah, ini ke 10 kalinya lo minta maaf," kata Cherika jengah. Lagi pula Icha memang tidak sengaja, dia juga tidak marah.


"Tapi gue minta ma—"


"Hais, diam Icha. Kita tunggu saja semoga cewek itu nggak kenapa-kenapa," ucap Cherika memotong perminta maafkan Icha.


Clara mengelus pundak Icha agar temannya itu tidak panik lagi.


Ke tiga gadis itu kini sedang di rumah sakit menunggu Jane yang tiba-tiba pingsan karena insiden tabrakan yang tidak disengaja. Emily juga terlihat panik menunggu Jane yang sedang diperiksa.


Pintu bercat putih terbuka menampakan sosok Dokter wanita.


Mereka langsung menghampiri sang Dokter. "Bagaimana keadaan putri saya, dok?"


"Dia baik-baik saja, hanya kelelahan saja," kata Dokter yang membuat mereka bernapas lega.


"Lalu bayinya?" tanya Emily kemudian.


Icha dan Clara saling tatap. Ya, dugaan Icha memang benar. Jane memang sedang hamil. Benar-benar firasat yang tidak meleset. Sedangkan Cherika yang memang sudah tahu hanya biasa saja.


"Bayinya juga tidak kenapa-kenapa, hanya terjadi benturan kecil saja," jelas Dokter.


"Oh, syukurlah," kata Emily lega. Bisa gawat jika bayi yang dikandung Jane kenapa-kenapa, bayi itu adalah kunci agar Jane bisa menikah dengan Chandika.


"Yasudah, saya permisi dulu. Dia juga sudah siuman sekarang, kalian boleh melihatnya," ujar dokter dan berlalu.


Emily langsung masuk ke dalam ruang rawat Jane diikuti Cherika, Icha dan Clara.


"Oh my, Jane kamu membuat mama khawatir sekali," kata Emily pada Jane yang kini terduduk di atas brankar.


Jane tidak menjawab perkataan Emily, kini tatapannya sedang menatap tajam gadis yang menurutnya sudah mendorongnya dengan sengaja.


"Puas lo, jala*n!?" maki Jane pada Cherika.


Cherika yang tahu-tahu mendapatkan makian hanya berwajah datar saja, dia tahu jika Jane memang perempuan dengan sejuta makian.


"Maksud lo apa, monyet!?" balas Icha dengan geram. Dia menyangka jika Jane memaki dirinya, soalnya dia yang merasa jika itu memang salahnya.

__ADS_1


"Gue bukan ngomong sama lo," kata Jane menatap Icha sengit.


Icha terdiam, dia menatap Cherika dan Clara bergantian. Jika bukan dia berarti salah satu dari temannya.


"Kenapa diam lo, Cherika?? Lo sengaja menabrak gue supaya keguguran?" tukas Jane yang membuat Icha, Clara, dan Emily terkejut.


"Percaya diri banget lo," kata Chandika memincingkan mata.


"Maksud kamu apa, Jane? Kamu kenal dengan perempuan itu?" tanya Emily yang bingung sejak tadi.


"Dia cewek yang menggoda Chandika, mama. Dia penyebab Chandika memutuskan hubungannya dengan aku," adu Jane yang membuat Cherika, Icha, dan Clara melotot tidak percaya. "Lalu sekarang dia berusaha untuk menggugurkan kandungan aku... hiks," lanjutnya terisak.


Emily yang percaya dengan perkataan putrinya seketika terbakar api marah. "Jadi kamu sengaja, ha? Dasar perempuan ular!" seru Emily menatap Cherika nyalang.


'Astajim, drama apa lagi ini,' batin Cherika menjerit.


"Jahat sekali kamu, Cherika. Padahal kita sama-sama perempuan, tapi kamu begitu tega denganku... hiks," isak Jane semakin menjadi-jadi.


Icha dan Clara saling tatap, mereka juga tidak tahu tentang ini. Tapi mereka tahu Cherika bukanlah orang yang seperti Jane bilang. Cherika adalah perempuan yang terlalu cuek untuk melakukan hal absurd tersebut. Lagi pula Cherika memang tidak sengaja mendorong Jane, justru Icha yang salah di sini.


"Gue mohon jangan sakiti anak gue dan Chandika. Biarkan gue dan Chandika bahagia," kata Jane menatap Cherika dengan lelehan air mata. Dia sengaja mengatakan jika anak yang dikandungnya adalah anak Chandika, dengan begitu Cherika akan menjauh dari Chandika.


"Maaf, tapi gue nggak bisa menjauh dari Chandika," ucap Cherika yang tahu maksud perkataan Jane.


Cherika dengan cepat menghalau dengan menggenggam tangan wanita bule itu.


"Ringan sekali tangan, tante," kata Cherika dengan menatap tajam Emily. Dia ingat jika Emily jugalah yang sudah menampar Dika-nya. Cherika meremas kuat tangan Emily sampai siempunya mengerang kesakitan.


"Akh! Sa-sakit, lepaskan," rintih Emily mencoba melepaskan tangannya. Dia tidak menyangka jika kekuatan gadis mungil itu sangatlah kuat.


Cherika langsung melepas kasar pergelangan tangan Emily.


"Sialan lo Cherika!" maki Jane semakin menjadi-jadi. Padahal gadis itu sedang mengandung tapi perkataannya tidak bisa dia jaga.


"Nikmatilah sandiwara ini selagi lo bisa menikmatinya," kata Cherika menatap Jane datar.


Jane yang mendengar itu membeku seketika. 'Apa dia tahu?' batin Jane dengan perasaan gusar.


"Siapa yang sandiwara!?" sangkal Jane.

__ADS_1


"Kebohongan hanya akan menyelamatkan lo sementara, tapi menghancurkan lo selamanya," tukas Cherika yang semakin membuat wajah Jane memucat.


Jane tidak menyangka jika Cherika tahu kebohongan dirinya, gadis itu lebih berbahaya dari yang dia pikirkan.


"Karena lo sudah nggak kenapa-kenapa gue pergi dulu," sambung Cherika berbalik pergi dari ruangan itu, yang diikuti Icha dan Clara.


"Cherika..." gumam Jane dengan amarah yang sudah tidak terbendung.


"Cher, tunggu sih," panggil Icha pada Cherika yang berjalan sangat cepat.


Cherika hanya diam saja, tapi langkahnya dia perlambat.


"Kenapa? Kalian juga pengin bilang gue cewek murahan yang merebut calon tunangan orang?" tanya Cherika.


"Mana ada kita kayak gitu, kok lo berpikir kayak gitu sih?" kilah Clara.


"Kita percaya kok kalau lo bukan cewek kayak gitu," timpal Icha.


Cherika menghentikan langkahnya, dia menatap si ke dua perempuan itu. "Tapi yang dikatakan Jane itu tidak sepenuhnya salah, gue sekarang memang sudah berpacaran dengan Chandika."


"Kalau itu mah gue sudah menebak, Cher. Waktu Chandika menghampiri lo di UKS saja gue sudah tahu kalau kalian ada apa-apanya," ujar Icha.


"Ya, gue juga sudah menebak. Mana ada cowok yang sebegitunya perhatian sampai mau bolos sekolah demi cewek yang lagi datang bulan," sambung Clara terkikik geli.


"Jane saja yang tidak tahu diri, sudah tahu Chandika tidak suka padanya tapi tetap saja ngotot ingin nikah," ucap Icha.


"Karena cinta itu membutakan segalanya," tukas Chandika.


"Y-ya si, gue saja dulu sampai cinta buta sama kak Ludhe dan berujung mengganggu lo," kata Icha dengan kikuk.


"Untung gue belum pernah jatuh cinta," ucap Clara dengan bangga.


"Nanti juga ada saatnya lo jatuh cinta," ujar Cherika tersenyum miring pada Clara.


"Ya, semoga saja gue nggak bertepuk sebelah tangan kayak Icha," tawa Clara.


"Songong sekali," kata Icha menoyor pelan kepala Clara, tapi dia tertawa juga setelahnya.


Cherika juga ikut tertawa.

__ADS_1


Sepertinya gadis tomboy yang sebelumnya tidak mau berteman dengan perempuan itu, kini sudah mendapatkan teman perempuan yang satu frekuensi dengannya.


_To Be Continued_


__ADS_2