Sekejap Berubah Gender

Sekejap Berubah Gender
Sick


__ADS_3

Dari balik tirai hujan saat jam pulang sekolah. Ranting-ranting pohon melenggang penuh pesona tertiup angin dan kuyup tergerai, seperti  tangan penari mengikuti irama hujan.


"Kenapa hujan sih?" gumam Cherika lesu.


"Yahh... Gimana nih, padahal mau nongkrong di warung kopi mang Ucup," kata Ignancio merengut kesal.


Warung kopi mag ucup bisa dibilang juga markas dari geng Aodra, jarang-jarang mereka akan ngumpul bareng. Apalagi bos mereka yang akhir-akhir ini menolak nongkrong bareng, kini dengan suka rela menawarkan diri untuk join.


Ya, semenjak Cherika bertukar tubuh dengan Chandika dia tidak pernah mau jika diajak berkumpul atau balap motor bersama geng Aodra.


"Terobos, ngab!" seru Adam yang membuat Ignancio dan Brian mengangguk, tidak terkecuali Cherika.


Mereka bersiap-siap menerobos hujan untuk berlari ke area parkir untuk menghampiri motor masing-masing.


Cherika dan ke 3 teman laki-laki segera berlalu dengan motor sport yang membelah tirai hujan.


10 menit kemudian, mereka sampai di warung kopi mang Ucup.


"Aduduh... Kalian ini basah kuyup semua," kata mang Ucup.


"Ya mau bagaimana lagi. Kalau hujan ya basah, namanya juga kena air," ucap Brian yang langsung terduduk di bangku kayu.


"Mang, teh hangatnya ya," kata Cherika.


"Oalah, neng Cherika? Lama nggak kelihatan?"


"Bos sudah sombong, mang. Setiap kita-kita ajak ke sini selalu menolak dan menangis," sela Ignancio mendahului jawaban Cherika.


"Mana ada sombong," kata Cherika mendengus kesal. Lagi pula yang menolak itu Chandika, bukan dirinya.


"Tahu nggak, mang?" tanya Adam tiba-tiba pada mang Ucup yang sedang membuat teh hangat untuk Cherika.


"Tahu apa?" tanya mang Ucup.


"Bos kita sudah punya pacar sekarang!" seru Adam yang membuat Cherika melotot.


"Wahh, neng Cherika sudah gede ya sekarang," kata mang Ucup dengan meletakan satu gelas teh hangat di meja depan Cherika.


Dan warung kopi itu dipenuhi obrolan-obrolan ringan dan canda tawa. Cherika sangat merindukan suasana ini. Dia bahkan tidak memperdulikan dirinya yang kuyup.


**


Malam harinya.


"Hatchi!"


"Sepertinya gue terserang flu karena menerobos hujan," gumam Cherika dengan suara berdengung, hidungnya mampet.


Cherika menggulung tubuhnya dengan selimut, kepalanya pening dan badannya terasa panas.


Drett


Drett


Ponselnya bergetar, dia meraih ponselnya dan melihat jika sang kekasih menelepon.


"Ya, Dika..."


[Kamu kenapa? Kok suara kamu aneh?]


"Aku nggak apa-apa, cuman flu."


[Flu? Kenapa bisa? Bukannya kemarin baik-baik saja.]


"Aku hujan-hujanan."


[Oh my, kenapa hujan-hujanan?]


"Karena memang hujan," jawab Cherika asal.


[Kamu kan bisa menunggu hujannya berhenti.]


"Kelamaan tahu."


[Kamu ini...]


"Dika jangan marah dong, Cheri lagi sakit nih, kok malah dimarahin..." gumam Cherika cemberut.


Tut Tut Tut


Cherika mengeryit saat sambung teleponnya dimatikan sepihak oleh Chandika.


"Ihh, kok dimatikan sih," kata Cherika kesal, padahal dia masih ingin mendengar husky voice sang kekasih. Suara dalam Chandika memang benar-benar membuatnya tenang, apalagi disaat dia sakit seperti ini.


Cherika mencoba mendial kembali nomor Chandika, tapi tidak diangkat.


"Nyebelin," ucap Cherika dan menggulung kembali tubuhnya dengan selimut.

__ADS_1


Karena merasa pusing dia pun tertidur.


Sudah 30 menit Cherika tertidur dan seseorang mengetuk pintunya.


Tok


Tok


"Cheri..."


Mendengar itu Cherika tidak bergeming, dia membuka mata dan langsung terduduk. Gadis itu berjalan sempoyongan untuk membuka pintu.


"Kenapa, bang Aland?" tanya Cherika dengan serak.


"Lo sakit?" bukan menjawab Aland justru bertanya balik, terlihat sekali ekpresi khawatir pada wajahnya.


"Cuman flu saja kok."


"Pantas saja cowok lo uring-uringan," ucap Aland yang membuat Cherika bingung.


"Maksudnya?"


"Sana ke ruang tamu," kata Aland dan langsung berbalik pergi tanpa menjelaskan lebih lanjut.


Cherika yang bingung langsung melangkah ke ruang tamu. Namun, dia langsung terkejut dengan kehadiran kekasihnya.


"Sayan—"


Sebelum Chandika menyelesaikan perkataannya, Cherika langsung berbalik untuk kembali ke kamarnya.


"Kenapa Dika tiba-tiba datang sih?" gumam Cherika gusar saat sudah kembali ke dalam kamarnya. Penampilannya sekarang sangatlah buruk, dia sangat malu untuk bertemu dengan Chandika.


Lihat saja. Badan berkeringat, lengket, hidung memerah, mata terlihat sayu karena habis bangun tidur, rambut berantakan, dan pakaian yang terlihat kusut di mana-mana.


Cherika segera merapikan penampilannya, dia memakai hot pants yang dipadukan kaos oblong, tidak lupa menyisir dan mengikat ponytail rambut hitamnya. Dia ingin mandi sebenarnya, tapi itu akan membuat Chandika menunggu lama.


Gadis itu segera ke ruang kamu kembali saat merasakan penampilannya sudah menjadi lebih baik.


Di ruang tamu hanya ada Chandika, para abangnya mungkin sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing. Cherika segera duduk di sebelah Chandika.


"Kenapa tiba-tiba datang?" tanya Cherika.


"Tentu saja karena kamu sedang sakit," jawab Chandika dengan meneliti kekasihnya. "Kenapa lama sekali?"


"Aku hanya bersiap agar tidak terlihat buruk di depanmu," ucap Cherika jujur.


"Padahal tidak usah sampai seperti itu."


"Apa kamu ingin ke rumah sakit?" tanya Chandika kemudian, dia mengelus surai ponytail Cherika.


Cherika menggeleng, dia sudah bosan dengan namanya rumah sakit.


"Aku mau peluk kamu saja..."


"Hei, ini sedang di rumah kamu, mana boleh pelak peluk," kata Chandika tergelak.


"Kalau gitu ayo bawa aku pergi," ucap Cherika memohon.


"Kamu lagi sakit, tetaplah di rumah," tolak Chandika.


"Nyebelin," kata Cherika merenggut.


"Sudah jangan cemberut, sayang," ujar Chandika mengelus pipi kemerahan kekasihnya, dia merasakan panas saat menyentuhnya, lalu tangannya menjalar pada dahi dan leher Cherika. "Panas sekali, apa kamu sudah minum obat?"


Cherika menggeleng dengan muka yang masih ditekuk, gadis itu masih merajuk.


"Tunggu sebentar," ujar Chandika sebelum bangkit untuk keluar, dia berniat menghubungi seseorang.


Chandika berdiri di depan teras rumah, udara malam yang dingin sehabis hujan tidak dia acuhkan.


"Bawakan obat flu dan demam."


"..."


"Secepatnya."


"..."


"Akan aku kirimkan alamatnya."


Chandika langsung mengakhiri panggilan itu dan mengirim alamat rumah si gadis tercinta.


Namun, tiba-tiba dia merasakan sebuah tangan menjalar pinggangnya. Chandika hampir jantungan dibuatnya. Cherika tengah memeluknya dari belakang.


"Kamu mengagetkan aku saja," kata Chandika menetralkan rasa kagetnya.


"Peluk..." lirih Cherika.

__ADS_1


"Masuk yuk, di luar dingin nanti kamu tambah sakit," ujar Chandika mengusap tangan Cherika yang melingkar di pinggangnya.


Kenapa gadisnya begitu manja saat sakit?


Cherika menggeleng dan semakin mengeratkan pelukan.


"Lepas sayang, kita pindah ke mobil saja kalau kamu ingin peluk. Di sini dingin," saran Chandika. Dia tidak mau kalau kekasihnya semakin bertambah sakit dan kalau masuk ke dalam rumah mana bisa mereka berpelukan, yang ada para kakak laki-laki Cherika akan mengusirnya secara paksa.


Si gadis belo segera melepas pelukannya. "Gendong..."


Chandika berjongkok. "Sini naik."


Cherika melingkarkan tangannya pada leher Chandika, dan mereka berdua melangkah menuju mobil putih yang tengah terparkir. Chandika membuka pintu mobil bagian belakang. Setelah mereka berdua berada di dalam mobil Chandika segera menyalakan penghangat mobilnya.


"Ayo sini," Chandika langsung mengangkat Cherika untuk duduk di pangkuannya dan memeluk gadisnya itu.


"Hangat," gumam Cherika bersandar di dada bidang Chandika.


Chandika tersenyum simpul dan mengecup pucuk kepala kekasihnya. Namun, mata hitam malamnya teralihkan pada paha Cherika yang mulus tanpa cela.


"Sayang. Bisakah kamu membuang semua celana pendek milikmu?" tukas Chandika dengan menelan savilanya.


"Kenapa?" tanya Cherika tanpa menyadari tatapan Chandika.


"Aku tidak mau jika ini dilihat orang lain, selain aku," jawab Chandika dengan mengelus paha Cherika dengan gerakan memutar.


Cherika merinding seketika. "Na-nakal sekali tangan kamu," kata Cherika memukul pelan tangan Chandika. Benar-benar sudah tidak tersisa kepolosan pemuda imutnya itu.


"Aku hanya nakal pada calon Istriku saja, kok," kilah Chandika terkekeh.


"Hentikan, jangan menggoda orang sakit," gumam Cherika semakin menyembunyikan wajahnya yang semakin terbakar pada dada bidang Chandika. "Ya, aku akan membuangnya.


"Gadis pintar."


Tok tok tok


Chandika segera mengalihkan atensinya pada jendela mobilnya, orang suruhannya sudah datang.


"Ini pesanan, tuan muda," kata orang itu pada Chandika yang membuka kaca pintu mobil.


"Ya," Chandika langsung menerima bungkusan yang di bawa oleh orang suruhannya itu. "Kamu boleh kembali."


"Baik, tuan muda."


"Apa itu?" tanya Cherika.


"Obat untuk kamu."


"Aku tidak mau minum obat," tolak Cherika cemberut.


"Minum ya, sayang," bujuk Chandika.


Cherika akhirnya mengangguk, mana bisa dia tidak luluh dengan bujukan sang kekasih yang bernada lembut itu, yang ada meleleh duluan dibuatnya.


Chandika membantu Cherika untuk meminum obat dan air. "Sudah ya..."


"Hmm,"


"Yasudah kamu tidurlah."


"Nyanyi..."


"Apa?"


"Ayo bernyanyi, Dika," tuntut Cherika.


"A-ah, ya... " jawab Chandika kikuk.


"..."


"Kenapa diam, ihh," protes Cherika yang tidak kunjung mendengar senandung Chandika.


"I'm A Fool To Want You."


"I'm A Fool To Want You."


"To Want A Love That Can't Be True."


"Lagu apa?" tanya Cherika memotong, dia memang tidak pernah mendengar lagu klasik itu sebelumnya.


"I Am a Fool to Want You, Chet Baker," jawab Chandika cepat, dan melanjutkan senandungnya dengan mengelus sayang surai ponytail Cherika.


"A Love That's There."


"For Others Too."


"I'm A Fool To Hold You..."

__ADS_1


Cherika seketika tertidur dengan bernapas dengan mulutnya karena hidungnya masih mampet akibat flu.


_To Be Continued_


__ADS_2