
Jari-jarinya sangat lincah bergerak di tombol keyboard, siempunya jari memfokuskan matanya pada layar komputer yang menampilkan deretan bahasa pemrograman, mulutnya tidak hentinya mengunyah kripik kentang kesukaannya itu.
Ctak ctak ctak
"Nah, ketemu," kata Galen yang mengalihkan atensi Chandika dan Alvis yang tengah mengobrol.
"Sudah kamu temukan orangnya?" tanya Chandika mendekati si pemuda hacker.
"Lihat ini," ucap Galen dan menekan tombol enter.
Alvis yang juga penasaran juga mendekat.
Di layar komputer kini telah menampilkan sebuah CCTV di sebuah kelap malam. Ada Jane dan seorang pemuda yang sangat familiar tengah bercumbu di tengah hingar-bingar suasana kelap.
"Itu kan..." kata Alvis yang melihat siapa pemuda itu.
Chandika hanya menatap datar ke dua pasang yang sudah terbuai akan gairah, mereka tanpa malu melakukannya di depan umum. Dan sesaat kemudian ke duanya beranjak seperti ingin pindah tempat.
Galen menekan tombol enter lagi.
Rekaman CCTV sekarang pindah ke sebuah ruangan seperti kamar hotel. Ke dua pasangan tadi melanjutkan aksi yang dipenuhi gairah itu.
Alvis mengalihkan tatapannya pada sepupunya. "Chan, lo jangan lihat itu. Nanti kepolosan lo rusak," ujar Alvis dengan memberikan peringatan yang sudah tidak berguna.
Sudah terlanjur lihat kenapa baru di larang?
"Oh, jadi begitu caranya membuat anak?" gumam Chandika.
Alvis meringis karena kepolosan sang sepupu sudah hilang sepenuhnya.
"Kenapa nggak lo sensor dulu sih!?" omel Alvis pada Galen.
"Karena memang nggak lulus sensor KPI," jawab Galen asal.
"Tapi sepertinya ini tidak cukup untuk membongkar kebohongan Jane," kata Chandika mengintruksi.
"Bukan sudah jelas kalau di CCTV itu dia skidipapap dengan Ben. Apa yang kurang?" tanya Alvis heran.
"Kalau hanya dengan ini aku tidak bisa menyangkal jika anak yang dikandung Jane bukan milikku, Jane bisa saja mencari alasan lain. Aku membutuhkan bukti yang lebih akurat," jelas Chandika.
"Ya, lo benar. Bisa saja Jane mengatakan jika Ben hanyalah orang pertama baginya, dan lo harus menunggu anak itu lahir untuk melakukan tes DNA," kata Alvis manggut-manggut.
"Pada akhirnya aku akan tetap menikahi Jane sampai anak itu lahir," tukas Chandika.
__ADS_1
"Derita lo," ejek Alvis malah tertawa. Benar-benar sepupu yang mengesalkan.
"Gue akan menyadap headphone cewek itu," ucap Galen.
"Bisakah?" tanya Chandika.
"Lo pasang alat ini pada headphone cewek itu selama 5 menit," kata Galen sambil menyodorkan benda seperti USB pada Chandika. "Alat ini sudah gue masukan virus."
Chandika menerimanya. Bagaimanapun caranya dia akan memasang USB itu pada headphone Jane.
**
Sepulangnya di rumah Cherika sangatlah lapar, karena kejadian tabrakan dengan Jane dia tidak jadi mendapatkan traktir dari Icha dan Clara. Dia mengecek isi kulkas tapi tidak menemukan apapun selain air dingin.
"Kenapa nggak ada makanan sih?" gerutu Cherika dengan sebal. Sepertinya para kakak laki-lakinya lupa untuk membeli stok bahan makanan.
"Makan mie ayam enak kali ya?" gumam Cherika sambil membayangkan mie gandum kuning yang dibumbui dengan daging ayam yang semakin membuatnya lapar.
Segera dia melangkah ke kamarnya dan mengganti baju seragam dengan high waisted short jeans dan crop blouse.
Tidak lupa Cherika mengunci kembali pintu rumahnya, Cherika berniat berjalan kaki untuk mencari si pedagang mie ayam.
'Jalan-jalan sore nggak buruk juga.'
Suasana sore yang sejuk adalah hal pertama yang Cherika rasakan, semilir angin menerpa rambut ponytail hitam miliknya. Langkah kakinya tiba-tiba berhenti melangkah saat melewati taman yang menjadi tempat pertemuan pertamanya bersama Chandika kecil, di taman ada beberapa anak yang sedang bermain pasir dan lari-larian. Senyum kecil terukir di bibirnya.
Panggilan dari suara anak kecil membuatnya refleks menunduk ke bawah, seorang anak perempuan yang hanya setinggi lututnya menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Ya?"
"Kucingku ada di atas pohon, bisakah kakak menolongnya?" pinta si gadis kecil yang terlihat ingin menangis itu.
Mana tahan dia dibuatnya.
"Di mana kucingnya?"
Anak perempuan itu menarik tangan Cherika untuk semakin dalam memasuki taman, menggiring Cherika menuju ke sebuah pohon besar di pinggir taman.
"Di sana!" seru si anak perempuan menunjuk kucing bengal yang memiliki bulu bercorak seperti marmer.
"Kenapa bisa berada di situ?" tanya Cherika pada si bocah kecil.
"Aku juga nggak tahu, tiba-tiba saja Kitty sudah di atas sana," jelas si anak perempuan.
__ADS_1
Cherika mengangguk, beruntung dia sudah mempunyai pengalaman memanjat pohon mangga bersama Aland sewaktu kecil. Jadi bukan hal yang sulit memanjat pohon besar itu dan mengambil Kitty.
Gadis itu melepas sandal Velcro miliknya. Cherika mulai memanjat dengan menempatkan kakinya di benjolan pohon yang kokoh dan mencengkeram sisi batang dengan paha dan betisnya. Tidak lama kemudian dia berhasil sampai di cabang pohon di mana Kitty berada, untung saja cabang itu terlihat kuat dan kokoh jadi dia tidak kesulitan untuk menaikinya.
"Ayo sini, pus, pus," kata Cherika mencoba memanggil Kitty.
Kitty menanggapi panggilan Cherika dan berjalan perlahan menghampiri si gadis. Dia peluk kucing bengal itu.
Cherika ingin langsung beranjak untuk turun.
Namun.
Cherika melupakan hal yang sangat penting. Dia memang bisa memanjat pohon, tapi dia tidak bisa untuk kembali turun.
'Gimana ini?' batin Cherika merutuki kebodohannya.
"Kakak! lembar Kitty padaku!" seru si anak perempuan meloncat-loncat gembira.
"Kamu bisa menangkapnya?" tanya Cherika dengan menaikkan oktaf suaranya.
"Bisa!" seru anak perempuan mengangguk antusias.
Cherika segera melempar Kitty dan si anak perempuan sukses menangkapnya.
"Terima kasih, kak," kata si anak perempuan dan langsung lari meninggalkannya.
"Hei jangan tinggalkan aku!" teriak Cherika mencoba memanggil, tapi hanya hiraukan.
Cherika mematung, dia seperti pengganti Kitty yang terjebak di atas pohon.
Bagaimana dia bisa turun? Apakah loncat saja?
Gadis itu melongok ke bawah, mustahil jika melompat, yang ada dia bisa cedera. Dia dilanda kebingungan sekarang. Cherika tidak bisa menghubungi seseorang untuk menolongnya, karena dia memang sengaja meninggalkan ponsel di rumah. Sejatinya dia hanya berniat membeli mie ayam saja, tapi kenapa dia jadi menyangsang di atas pohon?
"Tolong!" teriak Cherika meminta tolong, tapi tidak ada yang datang.
Posisinya saat ini memang di pinggir taman, tempat yang jarang sekali ada orang. Kebanyakan orang yang berkunjung ke taman hanya berkumpul di dekat pintu masuk atau tengah taman.
Sepertinya dia harus menunggu para saudaranya yang menyadari kalau dirinya tidak ada di rumah dan datang mencarinya. Entah butuh beberapa lama lagi.
Matahari sudah tenggelam seutuhnya, suasananya sudah gelap. Sudah 10 menit cherika menunggu, tapi belum juga ada yang datang.
Ingin rasanya dia menangis.
__ADS_1
"Sedang apa kamu di situ, kucing nakal?"
_To Be Continued_