Sekejap Berubah Gender

Sekejap Berubah Gender
Who


__ADS_3

"Tunggu aku!"


Seorang laki-laki tersenyum dan segera memegang tangannya. "Kamu selalu lambat," katanya mengejek.


"Menyebalkan, Jangan mengejekku, tuan," ucapnya dengan ekspresi cemberut.


"Imut sekali," kata laki-laki itu dan langsung mencium pipinya.


Wajahnya langsung memerah dengan sempurna, hatinya berdebar tidak karuan.


"Aku mencintaimu."


.


.


Mata hitam Chandika langsung terbuka lebar.


"Mimpi apa tadi?" tanya pemuda itu sambil memegang kepalanya yang pusing.


"Ha? Mimpi apa?" tanya Nathan yang sejak tadi duduk di single sofa sambil menonton televisi.


"Nggak, bukan apa-apa," jawab Chandika. Dia masih kebingungan tentang mimpinya dengan seorang pemuda yang bergandengan tangan.


'Apakah itu ingatan Chandika asli? Tapi tidak mungkin, jelas-jelas gue sedang berada di dalam tubuh perempuan saat di mimpi tadi, dan wajah laki-laki itu tidak jelas,' batin Chandika bertanya-tanya dalam hati.


"Jangan bengong! Bangun-bangun sudah melamun saja, nanti kesambet baru tahu rasa," kata Nathan yang menatapnya terheran-heran.


Chandika tidak mengacuhkan Nathan, mata hitamnya seketika melihat bouquet bunga matahari di atas meja dekat ranjang. Matanya melebar dan langsung bangkit mengambilnya.


..."Nenek harap dengan ini kamu bisa segera menemukan takdir kamu."...


Terbesit perkataan nenek-nenek yang  pernah memberinya bunga mata hari. "Jangan-jangan..." kata Chandika tercekat, dia langsung membuang bouquet bunga ke tong sampah, firasatnya tidak enak dengan bunga matahari itu.


"Jangan-jangan apa si?" tanya Nathan nyeletuk lagi. "Oh, itu bunga dari Ludhe. Lo cemburu?" lanjut Nathan asal bicara.


"Ludhe?" tanya Chandika tidak percaya.


"Ya, kakak kelas yang sudah lama naksir Cherika," kata Nathan blak-blakan, karena dia berniat mengompori Chandika agar cemburu.


Oh ayolah, Nathan. Dirimu tidak tahu apa-apa.


"Di mana dia sekarang?" tanya Chandika dengan tatapan tajam.


"Mungkin sudah 10 menit dia pergi dari ruangan i—"


BRAK


Chandika langsung pergi sebelum Nathan selesai dengan perkataannya.

__ADS_1


"Ternyata dia orang yang sangat cemburuan," gumam Nathan membeo.


Chandika melangkah cepet di koridor rumah sakit, mata elangnya mencoba mencari si pemuda blaster, warna rambut Ludhe sangatlah mencolok, tidak sulit untuk mencarinya. Namun, siluet seorang nenek-nenek bersyal merah mengalihkan pandangannya, dia langsung berlari cepat mengejar nenek-nenek ke pintu keluar rumah sakit.


ZRAAASHH


Hujan deras masih mengguyur, Chandika seketika menghentikan langkahnya, dia melihat sekeliling dan untuk mencari nenek bersyal merah itu.


JGEEER


Guntur dan kilat petir menyambar dengan sangat kencang, Chandika melihat nenek itu sedang menggunakan payung berwarna merah dan berjalan ke luar pagar. Pemuda itu langsung menerobos hujan, untuk mengejar.


"Tunggu!" serunya ketika sudah agak dekat dengan nenek itu, tapi dihiraukan.


Nenek bersyal merah itu berbelok ke gang sempit. Namun, ketika Chandika ikut berbelok, nenek itu sudah menghilang.


Tiba-tiba bulu kuduk berdiri, Chandika berkedip beberapa kali, tapi tidak menemukan nenek itu. Seluruh badannya sudah basah kuyup.


"Mencari aku?" tanya seseorang yang membuat dia terlonjak kaget, segera membalikan badan untuk melihat orang di belakangnya.


Bagaimana bisa, Nenek-nenek itu dalam sekejap sudah ada di belakangnya. Dan tersenyum miring ke arahnya.


"Nenek pemberi bunga matahari?" tanya Chandika memastikan.


"Ya, ada apa gadis manis?"


"Kamu tau jika aku seorang gadis?" tanya Chandika tidak percaya. Ya, sudah pasti jika nenek ini ada hubungannya dengan perpindahan jiwanya.


"Jaga bicarmu, nenek. Ibuku sudah meninggal dunia sejak lama," kata Chandika menatap marah Nenek di depannya.


Wanita tua itu hanya tersenyum penuh arti. "Namaku Cynderyn," katanya memperkenalkan diri.


Chandika hanya mengeryit dahi, sebenarnya dia tidak perduli dengan nama nenek itu.


"Ingatlah namaku. Aku adalah Ibumu."


"Omong kosong, jangan bercanda!" seru Chandika menatap tajam Cynderyn.


"Apakah kamu ingin ikut bersamaku, nak?" tanya Cynderyn memegang tangan Chandika yang dingin karena hujan-hujanan.


"Lepaskan aku, aku tidak mengenalmu, untuk apa aku ikut bersamamu?" tanya Chandika menepis tangan Cynderyn. Sebenarnya dia tidak tega melihat nenek-nenek yang sedang kehujanan itu, tapi Cynderyn sudah membuatnya kesal sekarang.


"Ini demi keselamatanmu, nak," kata Cynderyn menatap Chandika sendu.


"Aku bisa menjaga diriku sendiri," kata Chandika dengan tegas. "Yang terpenting sekarang, kembalikan aku pada tubuh asliku!"


"Bukan aku yang melakukan itu," bantah wanita tua itu menggeleng.


"Lalu siapa?" tanya Chandika dengan tidak sabaran.

__ADS_1


"Felix."


"Siapa itu Felix?" tanya pemuda berambut hitam legam itu, "Apakah dia Felix Lee?" sambung Chandika ngasal.


"Bukan Felix Lee," jawab Cynderyn menggeleng. "Memang siapa itu Felix Lee?" tanya nenek itu malah penasaran.


"Ya! Dia bias aku," jawab Chandika dengan berbinar.


"Bias? Apa itu, nak?" tanya wanita tua itu bingung.


"Stop! Jangan mengalihkan pembicaraan!" seru Chandika yang hampir oleng ke mode fangirling, sekarang masih ada yang jauh lebih penting dari pada Felix Lee.


"Kamu sendiri yang mengalihkan pembicaraan, nak," kata Cynderyn yang membuat Chandika menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Lupakan. Sekarang jawablah, siapa itu Felix?" tanya Chandika dengan wajah serius.


"Felix, dia ada—Uhuk.. Ugh.." kata Cynderyn tiba-tiba saja terpotong karena batuk darah. "Argh! sakit!" pekik wanita tua itu sambil memegang lehernya.


"Kenapa denganmu, nek?" tanya Chandika panik.


"TI-TIDAK!!" teriak wanita tua itu dan sekejap menghilang meninggalkan kepulan asap hitam.


Chandika langsung membulatkan mata dengan sempurna. Dia mencari si nenek dan menengok ke sekeliling, tapi nihil.


"Nek? Nenek??" panggilnya dengan panik. Dia baru menyadari jika berada di gang sempit yang sangat sepi.


"Apa itu tadi?" lanjutnya bertanya pada diri sendiri dengan badan yang menegang. "Siapa itu Felix?"


**


"OMG! Ada apa denganmu, Chan!?" pekik Aminta saat melihat putranya yang baru kembali dengan kondisi basah kuyup. Tadi dia memang menghubungi Chandika untuk pulang ke mansion.


"Aku habis bermain hujan," kata Chandika apa adanya. Faktanya memang dia habis bermain hujan dengan seorang nenek-nenek. Dia  tidak berbohong.


Aminta memandang putranya dengan kening berkerut.


"Sudahlah, mami. Biarkan aku ke kamar untuk mandi dan mengganti baju, aku ingin cepat-cepat kembali ke rumah sakit lagi, untuk mengantar Cherika ke Singapura," kata Chandika karena sejak tadi Aminta menghalangi jalannya saat ingin masuk ke dalam mansion.


Aminta hanya tersenyum mendengar perkataan Chandika, anaknya adalah laki-laki bertanggungjawab seperti suaminya. "Tapi, ada yang ingin bertemu denganmu," kata Aminta dengan ragu-ragu.


"Siapa?" tanya Chandika.


"Kamu bisa melihatnya sendirinya di ruang tamu," jawab Aminta cepat.


Tidak mau ambil pusing, Chandika langsung melangkah cepat ke ruang tamu. seorang maid memberikan handuk dan langsung dia terima. Segera dia mengelap rambutnya yang basah dengan handuk.


"Oh my, you are Chandika?" tanya seorang wanita bule yang memandang takjub pemuda yang baru saja datang. "Kamu sudah besar sekali," kata Emily, ibu dari Jane.


Jane dan ibunya adalah orang yang ingin bertemu dengannya.

__ADS_1


_To Be Continued_


__ADS_2