
10 tahun yang lalu, 2012.
Langkah kecil seorang anak perempuan menendang-nendang batu krikil, wajah tembamnya cemberut dan terdengar tangisan.
"Hiks.. bang Al jahat, katanya mau ajak Cheyi main, tapi malah main dengan anak gede, hiks.." gerutu Cherika kecil dengan memajukan bibirnya lucu. "Cheyi nggak punya teman, hikss.."
Gadis kecil berambut hitam pendek itu berjongkok dan mengambil ranting pohon untuk mengukir-ngukir tanah, dia menggambar asal-asalan. "Hiks.. Cheyi mau kabul aja dali lumah.." cicitnya masih terisak dengan suara cadelnya.
"Pangelan tolong Cheyi," gumam gadis yang memakai tas biru muda bergambar Ultraman pemberian abang Agust tercinta. "Kata mama, Cheyi itu plinces Jane Eyli. Jadi Cheyi juga punya pangelan yang akan menolong kalena bang Al jahat."
Buk
Gadis kecil itu langsung menghentikan tangisnya karena mendengar sesuatu yang terjatuh, dia langsung bergegas utuk melihatnya, rasa penasarannya memang sangat tinggi. Dia mencari sekeliling taman bermain, dan menemukan seorang anak laki-laki tengah tergeletak tidak sadarkan diri, Cherika kecil langsung menghampiri.
"Hei, bangun, kamu kenapa?" kata si gadis kecil sambil menusuk-nusuk tubuh si anak laki-laki dengan menggunakan ranting pohon.
"Ugh, sakit.. " gumaman lirih anak laki-laki.
"Maaf, Cheyi sudah bikin kamu sakit," kata Cherika langsung membuang ranting pohonnya.
"Tolong aku," kata anak laki-laki yang kini sudah membuka kedua matanya.
"Ya, Cheyi akan tolongin kamu, Cheyi adalah plinces yang suka menolong olang," ucap Cherika langsung membantu si anak laki-laki bangkit dan memapahnya menuju bangku taman.
"Telima kasih," kata anak laki-laki yang terlihat kuyup.
Cherika mengangguk dan tersemyum manis. Namun, senyum gadis itu tidak bertahan lama karena melihat kondisi anak laki-laki yang tengah duduk di sampingnya.
Mata terlihat sembab dan memerah, wajah yang penuh dengan luka sayatan dan lebam membiru, lengan yang penuh dengan luka cambuk dan baju yang terdapat banyak noda darah.
"Apa yang teljadi padamu?" tanya Cherika yang hampir menangis karena tidak tega dengan si anak laki-laki.
"Aku.. aku takut, badanku sakit semua, aku ingin pulang," gumam anak laki-laki itu dengan badan yang gemetar hebat.
"Sttt, Jangan takut, ada Cheyi yang akan melindungimu dali olang jahat," kata Cherika langsung memeluk anak laki-laki yang gemetaran. "Cheyi bisa kalate, jangan kawatil."
"Tapi kamu masih anak kecil sepelti aku, kamu tidak mungkin bisa melawan olang yang menyakiti aku."
"Bisa kok, Cheyi itu adalah Jane Eyli si gadis pembelani," kata Cherika nyengir, menunjukan gigi omponnya.
"Siapa itu Jane Eyli?" tanya anak laki-laki.
Cherika langsung melepas pelukannya, dia pengambil sebuah buku novel dari tas birunya.
"Ini dia!" seru Cherika dengan riang.
"Apa itu?" tanya anak laki-laki bingung.
"Dia Jane Eyli," ucap Cherika kecil sambil menunjuk gambar seorang perempuan di sampul novel.
__ADS_1
"Itu hanya gambal," uncap anak laki-laki mengeryit.
"Tapi dia plinces yang hebat," kata Cherika bersikukuh. "Aku adalah dia," lanjutnya berbinar.
"Oh, itu kamu?"
Cherika mengangguk-angguk lucu.
"Ini untukmu," kata Cherika memberikan novel itu pada si anak laki-laki. "Ini adalah buku favolitku, kamu halus menjaganya ya."
"Tapi, kenapa kamu kasih padaku?"
"Kalena Jane Eyli akan melindungimu. Kata mama, Jane adalah seolang gadis yang sangat hebat!" seru Cherika menggebu.
"Be-benalkah?"
"Ya! Jadi kamu tidak akan teluka lagi."
"Telima kasih," ucap anak laki-laki menerima novel.
"Sama-sama," jawab Cherika ngeyir. "Nama kamu siapa?"
"Chandika."
"Kalau begitu aku panggil kamu Dika ya~"
"Telselah saja."
"Bisa kamu antal aku ke kantol polisi saja?" tanya Chandika, karena dia tidak tahu alamat rumahnya.
"Ya," jawab Cherika membantu Chandika bangkit.
Dengan Cherika yang memapah Chandika, mereka segera pergi ke kantor polisi terdekat. Telak kantor polisi tidaklah jauh.
"Paman, tolong antal Dika ke lumah," kata Cherika pada polisi yang tergesa menghampiri mereka berdua.
"Astaga, kenapa anak ini?" tanya polisi kaget melihat keadaan Chandika.
"Dia habis disakiti olang," jawab Cherika dengan polos.
"Ini namanya penganiyaan terhadap anak di bawah umur."
Hari semakin sore. Cherika mengatakan pada polisi jika bertemu Chandika di taman dekat rumahnya, gadis kecil itu tidak tahu apa-apa perihal bekas luka-luka si anak laki-laki. Polisi semakin mengerutkan keningnya saat Chandika tidak mengatakan apapun saat diinterogasi.
"Aku Chandika Leofic Aldebalon," kata Chandika tiba-tiba memperkenalkan diri.
Polisi terperanjat saat tahu siapa sebenarnya anak laki-laki itu, dia juga mendengar kabar jika putra satu-satunya Aldebaron sudah menghilang 4 hari lamanya. Polisi segera menghubungi keluarga yang bersangkutan.
Dan benar saja, keluarga berpengaruh itu langsung menyanggupi untuk datang menjemput si anak laki-laki.
__ADS_1
"Kata paman polisi, kelualga kamu akan segela datang," kata Cherika pada Chandika. Mereka berdua masih duduk di dalam kantor polisi.
"Hmm," gumam Chandika mengangguk.
"Kalau begitu, Cheyi pulang dulu ya," ucap Cherika yang membuat Chandika memegang tangannya. "Ini sudah sole. Aku memang ingin kabul tadi, tapi aku tidak mau jika abangku kawatil mencali aku."
"Tidak boleh, kamu harus belsamaku teyus," tolak Chandika semakin menegang tangan si gadis kecil kuat.
"Aduh, sakit tahu," rintih gadis berambut pendek hitam.
"Maaf," kata Chandika langsung melepas tangan yang tadi dia genggam erat. "Aku hanya tidak mau belpisah dengan kamu.. hiks," lanjutnya yang kini sudah menangis.
"Sudah Jangan menangis," kata Cherika menghapus air mata Chandika dengan tangan kecilnya. "Sekalang kamu kan sudah punya Jane Eyli yang akan melindungimu," sambungnya sambil menunjuk novel yang berada di pangkuan Chandika.
"Ta-tapi—"
"Nggak ada tapi," kata Cherika galak yang justru membuatnya semakin imut.
"Oke," cuap Chandika kemudian.
Cherika kecil tersenyum lebar. "Yaudah aku pelgi dulu ya~"
"Tapi apakah kita akan beltemu lagi?" tanya Chandika kecil dengan ekspresi tidak rela.
Cherika berpikir sambil memegang keningnya, Chandika hanya bisa menahan gemas melihatnya. "Jika kita beljodoh pasti bertemu lagi."
"Beljodoh?" tanya Chandika bingung.
"Ya, berjodoh seperti mama dan papah," kata Cherika berbinar.
"Baiklah," kata Chandika mengangguk patuh.
"Kalau kita bertemu lagi, kamu halus kembalikan novel milikku, kalena aku hanya meminjamkannya."
"Ya."
**
Kembali ke masa sekarang
Masih di kediaman Aldebaron.
"Dika.." gumam seorang pemuda mullet. Dia merutuki dirinya sendiri, kenapa bisa dia melupakan sesuatu yang penting.
"Apakah Dika mengingat gue?"
"Jangan-jangan karena novel ini, dia jadi sangat tergila-gila dengan Jane?"
Dia tidak bisa berkata apa-apa jika itu memang benar. Namun, jika seperti itu berarti dialah penyebab Chandika menjadi terobsesi dengan sosok Jane Eyre.
__ADS_1
Kenapa jadi semakin rumit seperti ini.
_To Be Continued_