
PLAK
PLAK
"Bodoh kalian! Melawan satu bodyguard saja tidak bisa!" maki seorang pria bercincin rubby pada ke empat pria di depannya.
"Maafkan kami, tuan," kata pria berkepala botak dengan sudut pipi yang sudah berdarah.
"Dasar bajingan tidak berguna!"
BUG
Kepalan tangan mendarat di wajah pria botak yang membuatnya memar kebiruan. "Bukan bodyguard yang kami lawan, tapi anak itu sendiri yang melawan kami," kata pria botak dengan wajah menunduk.
"Jangan konyol! Anak Jauzan itu penakut dan tidak bisa apa-apa! Bagaimana bisa dia yang melakukannya!?" seru siluet tidak percaya dengan pria botak itu.
"Memang anak itu yang memukul kami sampai sekarat, bahkan hanya dengan tangan kosong," ucap pria berkulit hitam di sebelah pria kepala botak.
"HAHAHAHA!" seketika siluet yang memakai cincin rubby tertawa dengan kencangnya. "Menarik, bocah itu sudah berani melawan."
**
"Ka-kamu sedang apa di sini?" tanya Cherika menatap pemuda yang membuatnya takut.
"Tentu saja datang menemui kamu, baby," kata Ben dengan suara seraknya.
Cherika langsung mendelik dan tiba-tiba saja merasakan ingin muntah karena panggilan Ben untuknya. 'Apa-apaan laki-laki sinting ini,' batinnya kesal dalam hati.
Ben, pemuda dengan rambut warna chestnut, tiba-tiba saja ada di depan pintu gerbang sekolahnya dan menghampirinya saat sedang menunggu Aland yang sedang latihan basket.
"Dari mana kamu tahu sekolahku?" tanya Cherika dengan memicing curiga.
"Apapun yang ingin gue tahu, pasti gampang untuk mencarinya."
Terkesiap sesaat mendengar jawaban Ben, perempuan belo itu langsung berbalik, dia tidak ingin berurusan dengan laki-laki yang menurutnya mengerikan itu, tidak di tubuh aslinya atau di tubuh Cherika kenapa Ben selalu mengganggunya.
"Tunggu, gue ingin bicara," seru Ben mencekal tangan Cherika menahannya.
"Bicara apa?" tanya Cherika segera menarik tangannya dari cengkeraman Ben, dan membuat ekspresi tidak rela dari pemuda bermata cokelat.
"Putuslah dengan Chandika," kata Ben yang membuat Cherika heran.
"Apa?"
"Putus dengan Chandika dan berpacaran dengan aku."
Cherika hanya menatap tidak percaya pemuda di depannya, bukannya Ben sedang berpacaran dengan Jane. "Tidak waras," kata Cherika dengan sarkastik.
Ben yang mendengar hanya mengeraskan wajahnya,."Lo tidak bisa menolak!" serunya dengan merubah aksen bicaranya.
"Kenapa aku tidak bisa menolak? Memang siapa dirimu yang bisa memerintah?"
"Gue akan membuat hidup lo menderita bersama dengan Chandika," ucap Ben penuh penekanan.
"Silahkan."
"Lo akan menyesal karena menolak gue, dan lebih memilih cowok idiot semacam Chandika."
__ADS_1
Tangan Cherika langsung terkepal kuat mendengar dirinya yang dulu dihina, sudah cukup, dia tidak ingin mendapatkan hinaan itu lagi. Dirinya adalah putra satu-satunya keluarga Aldebaron, tidak pantas jika ada orang yang merendahkannya.
PLAK
Ya, dia tidak ingin menjadi laki-laki lemah lagi, dia harus berubah dan melawan ketakutannya.
Ben memegang pipinya yang berdenyut perih dan menatap nyalang Cherika.
"Enyahlah," kata Cherika dengan tatapan dingin.
"Lo akan benar-benar menyesal, Cherika," geram Ben dan langsung pergi karena semua orang yang berada di sekitar sudah menatap mereka berdua.
**
Massage_
Chan 🦁 : ke luar.
Cherika hanya mengeryit bingung dengan isi pesan yang dia dapat, sekarang sudah pukul 08.00 malam, kenapa orang itu menyuruhnya ke luar.
^^^My : Ada apa? 😳^^^
Chan 🦁 : Cepatlah, gue sudah ada di depan gerbang.
_
Dengan cepat Cherika memakai jaket bomber abunya dan segera berlari kecil ke luar rumah. Saat dia membuka pintu gerbang, terlihat seorang pemuda dengan memakai sweater putih dan celana jeans hitam sedang terduduk di atas motor.
"Kamu mengapa ke sini?" tanya Cherika yang membuat pemuda itu menatap ke arahnya.
GREP
"Hei, lepaskan, aku sulit bernapas," kata Cherika meronta.
Namun, bahunya merasakan sesuatu yang basah, "Hiks.."
"Ka-kamu menangis?" tanya Cherika terkejut, pasalnya dalam ingatannya Cherika asli adalah seorang perempuan yang kuat dan tidak pernah menangis, tidak seperti dirinya yang cengeng.
"Hiks.. Gue bermimpi tentang penyiksaan yang lo alami," cicit Chandika dan membuat perempuan belo yang dipeluknya tersenyum pahit.
"Maafkan aku, sudah membuatmu bermimpi ingatan menyakitkan itu."
"Gue tidak kenapa-kenapa, jangan meminta maaf," kata Chandika yang melepaskan pelukannya dan memegang kedua pundak Cherika. "Gue harap lo bisa melawan rasa traumatis itu," lanjutnya dengan menatap dalam mata cokelat gadis di depannya.
Cherika terdiam sesaat, "Aku sedang berusaha."
Chandika langsung mengusap kepala Cherika, "Lo nggak selemah yang orang lain pikirkan, gue tahu itu. Yakinkan diri lo dan berusahalah sebaik mungkin."
Ya, dia pasti bisa melawan rasa takutnya itu.
"Terima kasih, Cherika," kata Chandika asli dengan hati menghangat.
"Pelaku penculikan itu apa lo ingat?" tanya Chandika dengan hati-hati, karena tidak ingin membuka luka lama di hati orang di depannya.
Cherika hanya diam saja, entah apa yang dia pikirkan.
"Tidak usah diingat jika itu menyakitkan," kata Chandika tersenyum maklum.
__ADS_1
"Hmm," guman Cherika kemudian.
Si pemuda hanya mengangguk dan segera mengelap sisah air matanya, "Gue bawa sesuatu untuk lo," katanya kemudian dengan memberikan sebuah paper bag pada Cherika.
"Ini.." ucapnya tertahan ketika melihat isi paper bag itu.
"Iya, seblak untuk lo."
"Apa itu seblak?"
"Oh my, lo nggak tahu makanan terenak itu?" tanya Chandika tidak percaya.
"Aku tidak tahu," geleng Cherika polos.
"Seblak itu adalah makanan yang terbuat dari kerupuk basah yang dimasak dengan sayuran, telur, ayam atau daging sapi, terus dimasak dengan kencur," jelas Chandika panjang lebar. "Gue kalau lagi menstruasi suka sekali makan seblak, makannya gue bawakan itu untuk lo."
"Oh," sahut Cherika ber 'oh' ria, dia bingung karena belum pernah memakan seblak, mami Aminta dan papi Jauzan melarang dia untuk jajan sembarangan.
"Hanya 'Oh'?"
"Ah, Terima kasih," kata Cherika tersenyum manis.
"Iya sama-sama," jawab Chandika dengan senyum tipis. "Lo nggak mau memberi sesuatu juga ke gue? karena sudah perhatian ke lo."
"Apa?" tanya Cherika bingung. Oh ayolah, dia tidak pernah bilang jika ingin diperhatikan oleh orang di depannya dan tidak juga minta dibawakan seblak.
"Hais, cepat kasih gue sesuatu."
"Kasih apa?"
"Cium!"
"Uhuk.. uhuk.." Cherika terbatuk karena tersedak ludahnya sendiri.
"Cepatlah.."
"Dalam mimpi!"
BRAK
Cherika langsung berbalik dan menutup pintu pagar dengan kencang, meninggalkan Chandika yang tersenyum geli melihatnya.
'Apa-apaan dia, kenapa senang sekali menggoda aku, aku ini laki-laki, kenapa perempuan seenaknya bilang cium seperti itu, apa dia benar-benar tidak menghargai aku sebagai laki-laki!?' batin Cherika kesal dengan menghentakkan kaki berjalan ke dalam rumah.
**
Ben sedang berada di sebuah kelap malam terkenal di Jakarta.
"Bos, gimana dengan Cherika? Apa lo sudah mendapatkannya seperti mendapatkan Jane?" tanya Carlos yang duduk di sebelahnya.
Seketika rahang Ben mengeras karena teringat dengan perempuan yang berani menamparnya tadi siang, dia tidak menghiraukan pertanyaan Carlos.
Ya, gadis itu berbeda dengan Jane yang sangat gampang tergila-gila dengannya. Baru pertama kali dia mendapatkan penolakan dari seorang gadis, Cherika memang tidak secantik Jane si gadis blaster, tapi entah kenapa dapat membuat hati Ben berdesir saat pertama kali pertemuan mereka.
Niat awalnya memang untuk memperalat Cherika untuk membuat Chandika merasakan dikhianati ke dua kalinya, tapi mengapa hatinya menjadi gelisah saat mendengar penolakan gadis itu. Tidak mungkin kan, kalau dia menyukai gadis biasa itu.
Ben langsung meneguk minumannya yang ke tiga sampai habis karena pemikirannya itu.
__ADS_1
_To Be Continued_