Sekejap Berubah Gender

Sekejap Berubah Gender
Get Out Of The Way


__ADS_3

Cherika bingung dengan ke dua pemuda yang baru saja masuk kembali ke ruangan, Nathan yang habis mengobrol dengan Chandika menatap si pemuda mullet tajam. Dan yang di tatap tajam hanya memasang wajah polos seakan tidak tahu apa-apa.


"Apa yang habis kalian bicarakan?" tanya Cherika dengan rasa herannya.


"Tentang pernikahan kita," jawab Chandika yang membuat Cherika terbatuk karena tersedak ludahnya sendiri.


"Uhuk.. uhuk.."


"Kamu kenapa, sayang?" tanya Chandika langsung mendekati Cherika.


Nathan segera menghalanginya. "Pulang sana," kata Nathan bersedekap.


"Aku tidak ingin pulang. Berhubung esok Cherika sudah diperbolehkan pulang, aku akan tetap di sini untuk mengurus administrasi rumah sakit," tolak Chandika dengan asalan yang kuat.


"Kenapa nggak om Jauzan saja," kilah Nathan ngotot untuk mengusir Chandika.


"Papi sedang menjaga mami di rumah sakit," jawab Chandika jujur. Jauzan memanglah yang menyuruh Chandika mengurus administrasi dan kepulangan Cherika, pria paruh baya itu mana tega meninggalkan istri tercintanya yang sedang sakit.


"Mami sakit?" tanya Cherika dengan wajah khawatir.


Nathan yang mendengar adiknya jadi heran sendiri, dia tidak menyangka jika Cherika sudah sedekat itu dengan nyonya Aldebaron, sehingga memanggil mami dengan gamblangnya.


"Mami terkena pecahan vas bunga hingga kepalanya bocor," jelas Chandika.


Cherika langsung menutup mulutnya terkejut, Aminta sudah menjadi sosok ibu baginya. Dia sangat khawatir dengan wanita paruh baya itu.


"Mami sudah baik-baik saja," kata Chandika saat melihat ekspresi sendu gadisnya.


"Memang ada apa sebenarnya? Kenapa tante Aminta terluka dan lo juga?" tanya Nathan penasaran.


Chandika menceritakan tentang pertunangannya yang batal dan peristiwa penembakan. Kecuali sosok Ludhe yang menjadi dalang semuanya.


"Benar-benar masalah keluarga konglomerat," tukas Nathan menggeleng-gelengkan kepalanya.


Cherika dan Chandika saling tatap, tidak mungkin mereka mengatakan pada Nathan jika ini adalah masalah kesalahpahaman Ludhe.


"Yasudah lo boleh di sini, tapi jaga jarak dengan Cherika," ucap Nathan dengan nada ancaman.


"Ok," jawab Chandika.


Cherika hanya memutar bola mata malas melihat interaksi ke dua pemuda itu.


Chandika segera melangkah untuk duduk di sofa dan Nathan duduk di samping brankar.


Cherika menatap Chandika yang kini sedang fokus pada ponsel. Dia tidak habis pikir dengan perkataan pemuda itu. Sejak kapan Chandika berbalik jadi mencintainya? Atau dia hanya di jadikan pelarian saja? Alis Cherika mengerut tidak suka dengan pemikiran terakhirnya.


'Awas saja jika gue cuman dijadiin pelarian, gue potong anunya,' ancam Cherika membatin.

__ADS_1


Yang sedang di tatap tiba-tiba saja merasakan merinding seketika. "Duh, kok jadi merinding ya," lirih Chandika.


**


"Maaf, non. Tuan mudah sedang tidak ada di mansion," kata maid yang menghadang Jane di depan pintu mansion.


Jane heran, bukannya Aminta mengatakan jika Chandika sedang di mansion? Kenapa justru tidak ada?


"Kemana dia?" tanya Jane.


"Saya tidak tahu, non. Tadi pagi-pagi sekali tuan muda sudah pergi dari kediaman," jawab maid dengan sopan.


"Dia tidak mengatakan apa-apa?" tanya Jane sekali lagi.


"Tidak. Tapi sepertinya tuan muda ingin ke luar negri."


"Luar negri?" kilah Jane tercekat.


"Iya non."


Seketika Jane menggerakkan gigi, dia sepertinya tahu kemana pemuda itu pergi. Dia tidak menyangka jika Chandika yang sedang terluka rela mengunjungi gadis koma itu.


Ya, dia tidak tahu jika Cherika sudah sadar dari komanya.


Haruskah dia menyusul ke Singapura lagi?


Dengan napas beratnya Jane berbalik pergi. Dia harus menekan rasa cemburu dan amarahnya.


**


Pagi hari di kota singa.


Cherika menikmati aktivitas untuk bersiap-siap pulang. Dia sangat rindu dengan hari-hari sebagai dirinya yang asli. Tidak sabar rasanya untuk kembali berkumpul kembali dengan keluarga dan teman-temannya.


"Bahagia sekali," celetuk Chandika yang sejak tadi memperhatikan gadis itu.


"Hmm," Cherika hanya bergumam dan mengangguk. Kenyataannya dia memang sedang bahagia.


Chandika sejak kemarin selalu berada di sisinya, pemuda itu sengaja ingin pulang ke Indonesia bersama Cherika. Bahkan semalam dia dan Nathan menginap di kamar rumah sakit.


Nathan sekarang sedang kembali ke hotel untuk membereskan barang-barangnya.


Tok


Tok


Bunyi ketukan pintu mengalihkan atensi mereka berdua. Seorang petugas kebersihan datang dari balik pintu.

__ADS_1


"Maaf, ada titipan untuk nona Cherika," ucap wanita itu pada Cherika.


"Titipan?" tanya Cherika dengan mengeryit.


Wanita itu memberikan satu bouquet bunga matahari pada Cherika.


Chandika langsung menerima bunga itu sebelum Cherika, dia mengatakan terima kasih dan wanita itu berlalu.


"Apakah ini yang kamu maksud? Teror bunga matahari?" tanya Chandika dengan alis terangkat.


Cherika memang sudah menceritakan soal nenek-nenek yang bernama Cynderyn dan teror bunga matahari pada si pemuda mullet. Tapi, gadis itu tidak tahu, tanpa dikasih tahu pun Chandika sudah tahu jika Cynderyn pasti akan mengganggunya.


"Ya," jawab Cherika.


"Buang saja," kata Chandika langsung membuang bunga itu. Dia tahu jika bunga matahari itu sudah diberi mantra olah Cynderyn untuk memulihkan ingatan masa lalu Cherika. Sejatinya dia tidak terlalu khawatir jika ingatan Ellisha kembali diingat Cherika, tapi dia juga tahu niat jahat Cynderyn yang bisa memanipulasi ingatan Cherika seperti Ludhe.


Dia tidak akan membiarkan Cynderyn melakukan itu.


"Gue juga selalu membuang bunga itu," kata Cherika yang melihat bunga matahari yang sudah di dalam tong sampah.


Chandika langsung mendekat pada Cherika, ke dua tangannya berada di sisi badan Cherika yang sedang terduduk di pinggir ranjang.


"A-apa sih? Minggir," kata Cherika tergagap. Dia heran dengan dirinya sendiri, kenapa dia gampang sekali gugup saat berdekatan dengan pemuda itu?


"Jangan pakai gue lo, pakai aku kamu," kata Chandika dengan nada menuntut.


"Terserah gue," kilah Cherika yang sudah menutupi rasa gugupnya dengan ekspresi yang datar.


"Sayang," bisik Chandika semakin mendekatkan wajahnya.


'Sayang pala lo peyang,' batin Cherika menjerit dalam hati, dia tidak mengira jika akan menjadi tikus terjepit yang di kurung lengan Chandika.


"Minggir, Dika," kata Chandika dengan galak. Tapi malah terdengar seperti cicitan. Perkataan dan hatinya sungguh bertolak belakang.


Cherika menatap wajah rupawan Chandika. Tatapannya terpaku pada tahi lalat di bawah mata kanan, pangkal hidung dan di bawah bibir pemuda itu, sungguh sangat manis. Dan jangan lupakan bibir heart shaped yang sangat menggoda untuk dia cium.


Tanpa sadar gadis itu menelan savilanya.


"Lagi lihat apa, sayang?" tanya Chandika dengan napas yang menerpa wajah Cherika.


Oh ayolah, apakah dia dan Chandika sekarang sudah berpacaran? Kenapa pemuda itu memanggilnya sayang terus?


Cherika langsung mengalihkan tatapannya dari bibir menggoda itu. "Berhentilah memanggil gue sayang," katanya tanpa menjawab pertanyaan Chandika. Mana sudi dia menjawab, yang ada sudah malu duluan. Dia seperti gadis mesum yang ingin sekali menyentuh bibir si pemuda.


"Kalau mau cium, tinggal cium saja, aku tidak keberatan kok."


_To Be Continued_

__ADS_1


__ADS_2