Sekejap Berubah Gender

Sekejap Berubah Gender
Trust Me


__ADS_3

Suasana ruang tamu mansion Aldebaron kini terlihat menegangkan, Chandika yang sudah terduduk merasa bingung karena dirinya ditatap dengan tatap yang rumit dari Jauzan dan Aminta. Sedangkan Jane, gadis itu menunduk dengan isak tangis, entah apa yang gadis itu tangisi. Dan ke dua orang tua Jane terlihat menatap Chandika marah.


Chandika tidak tahu ada apa ini sebenarnya? Atau ini karena dia memutuskan hubungannya dengan Jane?


"Lihat ini, pemuda yang berwajah polos ini seakan tidak mempunyai salah apapun," sindir Ridwan dengan sarkasme dengan manatap Chandika.


"Maaf jika aku tidak bisa bertunangan dengan Jane," kata Chandika yang mengartikan sindirian Ridwan sebagai kemarahan atas keputusannya tidak jadi bertunangan dengan Jane.


PLAK


Emily langsung bangkit dan menampar pipi Chandika kencang hingga telapak tangannya membekas dengan sempurna.


Chandika yang mendapatkan tamparan langsung mengeraskan rahangnya. Tangan pemuda itu terkepal, ingin rasanya dia memukul Emily, tapi dia tahan karena Emily hanyalah seorang wanita paruh baya.


Aminta yang melihat putranya di tampar di depan matanya langsung bangkit menghampiri Emily, dia marah karena tidak terima. Ya, tentu saja, Aminta yang notabene ibu dari pemuda itu saja tidak pernah sedikitpun menyakiti Chandika, tapi Emily bisa-bisanya menampar putranya.


PLAK


"Jaga tanganmu itu, Emily!" bentak Aminta setelah menampar balik Emily, istri dari Jauzan itu memang tidak pernah marah, tapi jika sekalinya marah akan sangat menyeramkan. "Berani-beraninya kamu menampar putraku! Apakah kamu ingin kehilangan tanganmu itu!?"


Jauzan pun bangkit menenangkan istrinya dengan mengusap pundak Aminta lembut. Pria paruh baya itu juga marah dengan tindakan Emily, tapi dia dapat mengendalikannya.


"Salahkan putramu yang tidak tahu diri itu, Aminta! Sudah menghamili Jane, tapi malah memutuskan hubungan mereka!" seru Emily yang memegang pipi yang telah ditampar Aminta.


Chandika sontak tersentak mendengar itu.


"Jane hamil?" tanya Chandika menatap Jane yang masih menunduk dan terisak, seolah dialah yang paling tersakiti di sini. "Bagaimana bisa? Kalian menuduhku menghamilinya? Bahkan—"


"Hiks... Chan, kenapa kamu tidak mengakuinya?" Jane langsung memotong perkataan Chandika. "Aku sedang mengandung anakmu."


Chandika melotot tidak percaya menatap Jane. "Apa yang kamu bicarakan? Aku tidak pernah membuat anak dengan kamu!" sangkal Chandika geram.


Ya, mana pernah dia berhubungan intim dengan si gadis blaster. Dia saja baru kembali pada tubuh aslinya, tidak mungkin jika Cherika yang melakukannya kan?


"Cobalah untuk bertanggungjawab dan akui kesalahan, Chandika," tukas Ridwan dingin. "Jane tidak mungkin berbohong untuk menjatuhkan harga dirinya sendiri."


"Kami tidak mau tahu, Jane dan Chandika harus segera menikah. Jangan pikir jika Chandika dari keluarga kaya kami akan melepaskan begitu saja," ujar Emily menatap Aminta dan Jauzan.

__ADS_1


Aminta dan Jauzan tidak tahu harus berkata apa, baru kemarin Chandika meminta menikah dengan Cherika. Lalu hari ini Jane juga ingin menikah dengan Chandika karena mengaku tengah mengandung.


Ada apa ini sebenarnya? Apa mereka harus menikahkan putra mereka dengan dua orang perempuan sekaligus?


"Jane ayo kita bicara," kata Chandika langsung menarik Jane untuk menjauh dari ruang tamu menuju keluar mansion.


Kini Chandika dan Jane sedang berdiri berhadapan di taman. Angin sore menerpa rambut hitam legam si pemuda dan rambut burgundy si gadis.


Pemuda yang sedang memakai kemeja polos tanpa kancing dan celana kain hitam itu mengusap wajahnya kasar. "Apa yang sedang kamu rencananya, Jane?"


"Tentu saja aku sedang berusaha mempertahankan hubungan kita," kata Jane menatap dalam Chandika.


"Tidak ada yang harus dipertahankan, aku dan kamu sudah tidak mungkin bisa bersama," ketus Chandika. Gadis di hadapannya itu sangat membuatnya kesal.


"Apapun caranya, aku akan menjadikanmu milikku," kata Jane dengan mengulurkan tangannya untuk mencoba menyentuh pipi Chandika yang masih memerah karena tamparan Emily.


Namun, Chandika langsung menepisnya.


"Menikahlah dengan laki-laki yang sudah menghamili kamu, jangan meminta pertanggungjawaban dariku," desis Chandika tidak terima. Oh ayolah, jelas-jelas anak yang dikandung Jane bukan miliknya, dirinya saja masih perjaka.


"Yang semua orang tahu anak ini adalah milik kamu," kata Jane tersenyum miring. "Kamu tidak akan bisa menolak untuk menikah dengan aku, Chan."


Jane hanya menatap sendu punggung Chandika yang menjauh darinya, yang dia harapkan hanya hidup bahagia dengan pemuda itu. Salahkan dia untuk mencoba mewujudkan keinginan sederhananya?


**


Setelah kepergian Jane dan ke dua orangnya. Kini ruang tamu hanya menyisakan Chandika, Jauzan, dan Aminta.


Chandika duduk di sofa dengan menumpukan salah satu kaki di atas kaki lainnya.


"Kalian tidak percaya padaku?" tanya Chandika menatap papi dan maminya.


Kedua pasangan suami-istri Aldebaron diam, seperti tengah memikirkan sesuatu.


"Chan tidak mungkin menghamili Jane, kalian percayalah," kata Chandika menuntut kepercayaan ke dua orang tuanya.


Jauzan dan Aminta saling tatap dan kemudian tertawa.

__ADS_1


Chandika terheran-heran melihat ke dua orang tuanya tertawa. Dia pikir tadi akan mendapat makian dan jotosan. Lalu apa sekarang?


"Papi percaya kok. Lagi pula Danny itu selalu mengikuti kemana pun kamu pergi dan papi tidak pernah mendapat laporan jika kamu pernah skidipapap dengan perempuan manapun," kata Jauzan yang membuat Chandika sweatdrop.


"Mami juga percaya. Kamu itu kan sangat polos, mana tahu cara membuat anak," kata Aminta mengibaskan tangannya seakan menganggap remeh jika Chandika dapat membuat hamil anak orang.


Chandika hampir jantungan dengan perkataan mami Aminta. Kenapa ibunya itu menganggap remeh dirinya?


"Lalu kalian kenapa diam saja saat aku dituduh?" tanya Chandika merengut.


"Kami hanya ingin menonton live sinetron ikan terbang," kata Aminta berbinar mengingat wajah Chandika yang panik saat dituduh menghamili Jane. Benar-benar tontonan gratis.


Jauzan hanya tertawa senang.


'Orang tua luctnut,' batin Chandika menjerit dalam hati. Biarkan saja dia mendapatkan dosa karena sudah memaki papi dan maminya di dalam hati.


"Kalian tega sekali. Bahkan saat ke dua orang tua Jane memintaku menikahi anak mereka seminggu lagi kalian hanya mengiyakan saja," kilah Chandika kesal.


"Ya, mau gimana lagi. Kami tidak ingin ikut campur dalam proses pendewasaan dirimu, Chan," kata Jauzan tersenyum tipis.


"Maksudnya?" tanya Chandika tidak mengerti maksud perkataan sang ayah.


"Papi dan mami ingin kamu bisa menyelesaikan masalah ini sendiri. Kami ingin melihat sudah seberapa dewasanya kamu dalam menghadapi hidup," kata Jauzan dengan penuh wibawa.


"Kami hanya ingin yang terbaik untukmu, sayang," sambung Aminta tersenyum tulus.


Chandika tertegun.


"Waktu kamu hanya seminggu untuk bisa membuktikan kebenaran itu," kata Jauzan lagi.


"Jika aku tidak bisa membuktikannya?"


"Tentu saja terima konsekuensinya."


Jadi ini adalah tantangan dari Jauzan dan Aminta untuk putra tersayang mereka, tantangan untuk membuktikan sudah seberapa dewasanya Chandika sekarang.


Tapi, masalahnya apa bisa Chandika melakukannya?

__ADS_1


_To Be Continued_


__ADS_2