
Di dalam mobil. Perjalanan pulang ke mansion Aldebaron.
Cherika terus menatap Chandika. Dia masih terkejut akan sisi lain dari suaminya itu. Kenapa dia baru menyadarinya? Apakah masih ada hal yang belum dia ketahui tentang Chandika?
"Kenapa menatapku terus, hmm?" tanya Chandika yang masih fokus menyetir. Dia melirik Cherika sekilas dari ekor matanya.
"Ah, tidak," jawab Cherika kikuk. Dia malu karena kepergok sedang menatap suaminya itu.
"Yang benar?" tanya Chandika memastikan.
"Benar kok. Aku hanya ingin melihat wajah rupawan suamiku saja," ucap Cherika tidak sepenuhnya bohong.
Seketika pipi Chandika merona.
'Ya, ini baru Dika yang aku kenal. Dika yang imut sudah kembali,' batin Cherika masih menatap Chandika.
Cherika tersenyum setelahnya.
20 menit kemudian pasangan suami istri baru itu telah sampai. Mereka berdua keluar dari mobil. Chandika segera menyuruh pelayan untuk membawa koper milik istrinya.
"Apa kita akan tinggal bersama papi dan mami?" gumam Cherika dengan menatap mansion modern kontemporer itu.
"Ya," sambung Chandika merangkul bahu Cherika. "Apakah kamu ingin aku membeli rumah untuk kita tinggal berdua?"
"Sebenarnya tidak apa-apa jika kita memang harus tinggal bersama papi dan mami. Tapi aku juga ingin kita hidup mandiri. Mungkin akan menyenangkan jika kita mempunyai rumah sendiri," kata Cherika dengan tersenyum.
"Besok aku akan mulai bekerja di perusahaan," ucap Chandika tiba-tiba.
"Lalu bagaimana dengan sekolahmu?"
"Aku bisa sekolah saat paginya dan langsung bekerja sepulangnya."
"Apa kamu tidak lelah jika seperti itu?" tanya Cherika khawatir.
"Tentu saja tidak. Aku akan bekerja keras untuk menjadi suami yang baik. Dan supaya aku bisa membeli rumah untuk kita dan anak-anak kita kelak. Aku ingin membeli rumah dengan hasil kerjaku sendiri," kata Chandika dengan sungguh-sungguh.
Hati Cherika menghangatkan mendengar perkataan suaminya. Chandika memang benar-benar sudah berubah. Tuan muda manja yang selalu mengandalkan orang tua kini sudah digantikan dengan seorang suami yang ingin bekerja keras.
"Aku semakin mencintaimu, Dika," ucap Cherika memeluk pinggang Chandika.
"Tidak. Aku yang lebih mencintaimu."
Mereka berdua tertawa bersama setelahnya.
"Menantu mami sudah datang," sambut Aminta dengan senang. Dia senang karena kini Cherika sudah menjadi anak perempuannya. Akhirnya ada perempuan selain dirinya di keluarga Aldebaron.
"Ya, mami," jawab Cherika dengan melepas pelukannya pada pinggang Chandika dan rangkulan di bahunya. Dia canggung jika harus bermesraan di hadapan Aminta.
"Ayo ikut mami, kita mengobrol-ngobrol," ajak Aminta.
"Tidak bisa," kata Chandika sebelum Cherika menjawab.
__ADS_1
"Haish, kenapa sih? Mami hanya ingin mengobrol dan bercerita dengan menantu mami, sekalian mengakrabkan diri."
"Chan, masih ingin berduan dengan Cherika. Mami jangan pisahkan aku dan istriku."
Cherika langsung menunduk karena wajahnya memerah malu. Bisa-bisanya Chandika bilang seperti itu pada Aminta.
"Sayang. Ayo kita ke kamar, kamu jangan ikut dengan mami," lanjut Chandika dengan menarik Cherika untuk menaiki tangga menuju kamar.
Aminta yang ditinggal hanya melongo.
"Kamu tidak boleh seperti itu, Dika. Mami kan hanya ingin mengobrol denganku," kata Cherika saat mereka sudah sampai di dalam kamar.
"Aku tidak mau... kamu harus selalu bersamaku, aku bisa kangen berat jika kamu bersama mami," ucap Chandika dengan merengek.
Cherika terkikik, suaminya benar-benar seperti anak kecil. Sepertinya Chandika berniat memonopoli dirinya.
"Dasar kamu ini," ucap Cherika dengan mengacak rambut hitam legam Chandika.
"Cherika."
"Hmm?"
"Dengarkan aku," kata Chandika menatap Cherika dengan tatapan mendamba.
"Ya," Cherika balik menatap tepat di netra hitam Chandika.
Chandika memegang pinggul Cherika. "Aku tidak akan pernah berbuat jahat padamu."
"...Aku akan berusaha membuatmu bahagia."
Cherika menarik sudut bibirnya.
"Terima kasih karena sudah memilihku untuk menjadi suamimu."
**
Malam hari. Di sebuah kelap malam.
Dentuman musik mengiringi orang-orang yang berjoget meliuk-liukkan badan.
Ben sedang terduduk dengan tatapan menerawang, bibirnya menghembuskan asap dari rokok yang baru saja dia hisap.
"Hei, sayang..." panggil seorang wanita berpakaian sexy tiba-tiba bergelayut manja padanya. "Kemana saja? Kenapa baru kelihatan?" wanita itu mengusap-usap paha bagian dalam Ben.
Ben melihat wanita itu. Dia memang agak mabuk. Wanita bermakeup tebal itu tiba-tiba saja berubah menjadi gadis bermata belo yang selalu dia pikirkan. "Cherika?" gumam Ben yang berhalusinasi itu.
Wanita itu mengeryit. Tapi tersenyum setelahnya, tidak apa-apa jika dia dianggap orang lain, yang terpenting dia mendapatkan uang malam ini.
"Ya. Sayang..." bisik Wanita itu manja.
Ben segera mencium bibir dengan lipstik merah merekah itu. Dia mencium dengan rakus dan terburu-buru. Tangannya pun langsung menarik baju wanita itu dan meremas sesuatu dibaliknya.
__ADS_1
"Uhm..." geram wanita itu kesenangan. Dia melingkarkan tangannya pada leher Ben.
Seakan tersadar Ben langsung berhenti. Dia langsung berdiri dan membuat wanita itu terjungkal dengan paksa.
"Sialan!" maki Ben dengan menatap wanita yang dia kira Cherika. Ternyata wanita itu adalah wanita penghibur.
Wanita itu pun takut karena melihat wajah Ben yang sangat menyeramkan. Dia langsung bangkit dan kabur.
"Bangs*t! Berhentilah memikirkannya," gumam Ben frustasi.
"Gue harus melupakan Cherika dan segera menjalankan rencana untuk membunuhnya."
Pemuda curly itu langsung pergi untuk keluar dari kelap malam. Dia ingin pulang untuk menjernihkan pikirannya. Dia tidak boleh goyah hanya karena perasaan cintanya. Ambisi untuk menggeser posisi kakaknya adalah tujuan utamanya.
Ben langsung menaiki mobilnya dan segera melesat.
Tidak membutuhkan waktu lama dia sudah sampai di mansion Lazuardy. Dia segera keluar dari mobilnya dan melangkah masuk. Seketika wajahnya mengeras karena melihat sang kakak yang terlihat menunggunya di ruang tamu.
"Apa benar kamu sudah menghamili seorang perempuan, Ben?" tanya Gionino pada adiknya.
Ben sedikit terkejut atas pertanyaan kakak yang sangat dibencinya itu. "Dari mana lo tahu?"
Gionino langsung mengusap wajahnya kasar. Mendengar Ben yang tidak menyangkal itu sudah membuktikan jika informasi dari Hans benar.
"Nikahilah perempuan itu, Ben! Kamu tidak boleh lari dari tanggungjawab!" seru Gionino memarahi Ben.
"Sudah berapa kali gue bilang, berhentilah mencampuri urusan gue," lanjut Ben marah.
"Tapi kamu sudah menghancurkan kehidupan seorang perempuan, ingatlah jika kamu juga terlahir dari rahim seorang perempuan."
"Cih, bahkan ibu tidak pernah menganggap gue ada. Mungkin dia juga tidak menganggap gue lahir dari rahimnya," kata Ben berdecih sinis. "Jadi untuk apa gue perduli?"
Gionino seakan tercubit mendengar perkataan Ben. Itu memang benar. Ibunya yang memang bukan ibu kandung dari Ben sangat membenci Ben dan tidak pernah menganggap Ben ada. Ibunya yang sudah meninggal 7 tahun yang lalu itu selalu memperlakukan Ben dengan buruk, bahkan tidak segan-segan untuk menyiksa. Itulah salah satu penyebab Ben amat sangat membencinya. Ayah dan Ibu sangat menyayanginya sedangkan Ben tidak sedikitpun menerima kasih sayang itu.
"Lo selalu bilang jika menyayangi gue, kan?" tanya Ben tiba-tiba.
"Ya. Kamu adikku, Ben. Tentu saja aku menyayangimu," jawab Gionino.
"Jika lo benar-benar menyayangi gue, kenapa bukan lo yang bertanggungjawab dan menikahi perempuan itu?" kata Ben tersenyum miring. "Gantikan gue untuk menikahinya. Bukankah seorang kakak sudah sepantasnya berkorban?"
Gionino menatap tidak percaya adiknya. Apa Ben benar-benar tidak waras. Ben menyuruhnya untuk bertanggungjawab atas anak yang sebenarnya adalah anak Ben?
"Jangan keterlaluan!" bentak Gionino marah.
"Nggak bisa berkorban, kan?" tukas Ben sinis.
Gionino mengepalkan tangannya.
"Katakanlah jika gue memang adik yang kurang ajar," lanjut Ben. "Jadi tidak usah lo ikut campur dengan urusan gue."
_To Be Continued_
__ADS_1