Sekejap Berubah Gender

Sekejap Berubah Gender
Exposed


__ADS_3

Esoknya, pada malam di mana keluarga Aldebaron dan keluarga Jane akan mengadakan makan malam bersama.


"Malam ini aku akan makan malam bersama keluargaku dan keluarga Jane," kata Chandika pada Cherika di ujung sana.


[Ya.]


"Kamu tidak marah?" tanya Chandika hati-hati, dia tidak ingin Cherika salah paham seperti tempo hari.


[Tentu saja tidak. Kenapa aku harus marah?]


"Aku takut kamu salah paham saja."


[Aku tidak marah, kok.]


"Syukurlah," kata Chandika bernapas lega. "Apa kamu sudah baikan?"


[Ya, aku sudah sangat-sangat sehat.]


Chandika terkekeh mendengar kekasihnya yang bersemangat. "Aku senang mendengarnya."


[Itu kan karena kekasihku yang memberikan obat.]


"Siapa kekasihmu?" tanya Chandika dengan pipi bersemu merah.


[Chandika Leofic Aldebaron.]


"Apakah kamu mencintainya?" tanya Chandika mengembangkan senyum.


[Tentu saja aku mencintainya.]


"Kalau aku?"


[Aku mencintaimu, Dika.]


"Aku juga mencintaimu."


Mereka berdua tertawa bahagia, hanya bertelepon saja sudah sangat membahagiakan itu.


"Aku tutup dulu ya, aku harus bersiap."


[Hmm.]


Mereka berdua pun mengakhiri panggilan itu.


"Chan, kamu sedang menghubungi siapa?" tanya Aminta yang menghampiri putranya yang terlihat menelepon seseorang.


"Calon menantu, mami," jawab Chandika tanpa basa-basi.


Aminta langsung paham, wanita paruh baya itu sudah tidak merajuk lagi setelah beberapa kali mendapatkan bujukan.


"Ayo kita masuk ke dalam," suara Jauzan mengintruksi.


Chandika dan Aminta pun menurut untuk memasuki restauran. Satu keluarga itu sangatlah menawan malam ini. Kini, mereka sedang memasuki restauran yang dulu pernah dipesan khusus oleh kakek Albert—Le Quartier.


"Kamu tahu, Chan?" tanya Aminta tiba-tiba.


"Tahu apa, mami?" tanya balik Chandika heran.

__ADS_1


"Kakek sudah membeli restauran ini karena waktu itu kamu bilang menyukai makanan di sini."


Chandika berpikir sesaat. Waktu itu? Berarti Cherika-nya yang menyukai makanan di sini. Sepertinya dia harus berterima kasih pada kakek Albert.


"Padahal waktu itu kamu bilang tidak usah membeli restauran ini, tapi kakek mengabaikannya. Kakek itu sangat menyayangi kamu, Chan. Kamu jangan takut dengannya lagi ya, sayang," jelas Aminta mengusap lembut lengan Chandika yang berjalan di sampingnya.


"Ya," jawab Chandika. Jika dulu dia yang penakut memang selalu menganggap kakek Albert menyeramkan. Itu karena kakek Albert selalu berwajah datar dan berbicara dingin padanya, dia tidak tahu jika di balik itu semua sang kakek sangatlah menyayanginya.


Namun itu dulu, dia yang sekarang sudah berbeda. Chandika yang penakut sudah hilang. Hanya satu yang dia takuti sekarang, yaitu takut kehilangan gadis tercintanya.


"Apa kabar, Ayah," kata Jauzan pada Albert.


"Ayah baik-baik saja," jawab Albert dengan datar.


"Aku dengar kemarin ada yang mencoba mencelakai Ayah."


"Ya, tapi ada seorang gadis yang telah menolong Ayah."


"Gadis?" tanya Jauzan tidak percaya.


Albert hanya mengangguk, pria tua itu mengalihkan tatapan tajamnya pada sang cucu tercintanya.


"Selamat malam, kek," jawab Chandika dengan tersenyum tipis.


"Ya," jawab Albert. "Apakah kamu senang sebentar lagi akan menikah?"


"Tentu saja," jawab Chandika. Tentu aja dia senang, yang akan dia nikahi itu Cherika. Dia akan mengakhiri hubungan dengan Jane sepenuhnya malam ini.


"Kalau begitu ayo kita mulai acaranya," ujar Albert.


"Maaf membuat kalian menunggu," kata Jauzan.


"Tidak masalah. Santai saja, Jauzan. Lagi pula sebenar lagi kita akan menjadi besan," ucap Ridwan tersenyum.


"Aku sangat senang karena kita akan benar-benar menjadi besan, Aminta," kata Emily dengan pancaran bahagia.


Aminta hanya mengangguk, dia masih marah dengan wanita bule yang sudah menampar putranya. Mungkin mereka akan menjadi besan yang tidak akrab setelahnya.


"Sebaiknya kita segera menentukan tanggal pernikahan mereka," ujar Ridwan.


Jane yang sejak melirik Chandika dengan ekor matanya kian bersemu merah, dia tidak menyangka jika dirinya dan Chandika akan menetapkan tanggal pernikahan mereka malam ini.


"Maaf sebelumnya. Aku ingin membatalkan pernikahan itu," sela Chandika yang membuat ekspresi bahagia dari keluarga Jane menjadi luntur seketika.


"Apa maksudnya?" tanya kakek Albert bingung.


"Aku tidak ingin menikah dengan perempuan yang telah hamil dengan orang lain."


BRAK


Ridwan langsung memukul meja dengan emosi yang sudah meledak. Makanan yang berada di meja menjadi berantakan karena ulahnya. "Jangan seenaknya, bocah! Kamu yang sudah menghamili putriku! Masih saja kamu tidak mengaku!" bentak Ridwan menatap marah Chandika.


"Anak yang dikandung Jane memang bukan milikku," kata Chandika dengan ekspresi datar, dia tidak takut sama sekali dengan tatapan Ridwan. Ke dua orang tuanya dan kakek Albert pun kagum dengan sifat tenang Chandika. "Bukankah begitu, Jane?" tanyanya pada gadis blaster yang sedang menunduk.


"Sebaiknya kamu jujur, Jane," kata Chandika sekali lagi.


Seketika Jane menjadi pusat perhatian, semua orang menantikan jawaban dari gadis itu.

__ADS_1


"Tentu saja ini anak kamu, Chan. Kenapa kamu selalu saja tidak mengakuinya?" kilah Jane dengan menampilkan ekspresi terluka. Dia sudah terlalu jauh melangkah, tidak mungkin mengaku begitu saja. Lagi pula Chandika tidak mempunyai bukti apapun soal kandungannya.


Chandika tersenyum miring menatap Jane, padahal dia sudah berniat tidak akan membokar semua keburukan gadis itu. Tapi, Jane masih saja berpendirian pada kebohongannya.


"Kamu dengar, ha! Jane tidak mungkin berbohong!" seru Emily. Tangannya sudah gatal ingin menampar wajah tampan Chandika. Tapi dia tahan, Emily masih ingat ancaman Aminta yang tidak akan segan-segan menghilangkan tangannya.


"Dengarkan ini," kata Chandika dengan meletakan ponselnya di tengah-tengah meja.


"Ben!?"


Terdengar suara Jane dari ponsel Chandika yang memutarkan sebuah rekaman.


Jane langsung memucat dan berkeringat dingin, badannya gemetar ketakutan, lidahnya mendadak keluh.


"L-lo? Kenapa lo di sini?"


"Cih, ngapain lo mundur? Lo kira gue sudi menyentuh lo lagi?"


Ridwan dan Emily pun terkejut. Apa maksudnya menyentuh putrinya lagi?  Mereka berdua menatap Jane untuk meminta penjelasan tapi si gadis blaster seakan membeku.


"Brengs*k! Di mana Chandika? Kenapa gue jadi bersama lo!?"


"Bodoh banget sih lo jadi cewek. Chandika habis memberi lo obat tidur, inilah kenapa gue membawa lo ke sini."


Jauzan dan Aminta saling menatap, mereka tidak habis pikir Chandika yang penakut akan berani memberi obat tidur pada Jane. Benar-benar peningkatan luar biasa. Kakek Albert justru merasa bangga oleh tindakan cucunya itu.


"A-apa bagaimana mungkin?"


"Memangnya siapa yang membuat lo tertidur selama 6 jam jika bukan Chandika?"


"Tapi, kenapa dia melakukan itu?"


"Gue juga nggak tahu. Sesuai saran lo, gue sudah membawa Cherika untuk membuatnya cemburu akan keromantisan lo dan Chandika. Tapi, nyatanya lo justru tertidur, sungguh nggak berguna baget."


'Cherika? Tidak mungkin gadis itu kan?' batin kakek Albert.


"Gue.. gue juga nggak tahu jika Chandika akan memberi gue obat tidur."


"Mulai sekarang berhati-hatilah dengan Chandika. Dia sudah tau jika anak yang lo kandung itu adalah milik gue."


Semua orang yang mendengar pengakuan Ben terkejut. Chandika memang tidak salah di sini, gadis blaster itulah yang sudah berbohong.


Ridwan yang mendengar itu menahan rasa malu dengan mengepalkan kedua tangannya.


"Apa? Bagaimana bisa dia tahu?"


"Gue juga nggak tahu, berhentilah bertanya ke gue. Bertanyalah pada Chandika."


"Mulai—"


Dengan sisah kekuatannya Jane langsung meraih ponsel milik Chandika, dan langsung membantingnya ke lantai hingga hancur.


Prakkk


"Itu bukan aku!"


_To Be Continued_

__ADS_1


__ADS_2