Sekejap Berubah Gender

Sekejap Berubah Gender
Love Letter


__ADS_3

"Siapa dua cowok tadi, Cher?" tanya Clara yang duduk di sebelah Cherika.


"Orang yang gue kenal," kata Cherika apa adanya, tatapannya masih betah melihat pemandangan di luar jendela mobil. Menatap gedung-gedung pencakar langit yang seakan berlari-lari.


"Mereka anak British School, ya? Satu sekolah dengan Chandika dong?" tanya Icha yang menyetir di jok depan. Gadis itu tahu jika Chandika sekolah di British School ketika pemuda itu datang untuk bertemu Cherika di UKS dengan masih menggunakan seragam sekolah tersebut.


"Ya," jawab Cherika mengalihkan tatapannya saat mendengar nama Chandika. Pemuda imut miliknya.


Cherika memang sudah mengeklaim Chandika sebagai miliknya. Toh mereka saling mencintai.


"Kayanya ke dua cowok tadi suka deh sama lo," kata Clara mengingat Ben dan Alvis.


Cherika hanya diam saja, dia tidak perduli dengan pemuda lain selain Dika-nya.


"Pesona Cherika memang lagi di posisi puncak," kata Icha heboh.


Cherika memutar matanya jengah, benar-benar obrolan yang tidak berfaedah.


"Oh iya, lo dan Chandika ada hubungan apa?" lanjut Icha bertanya tentang rasa penasarannya.


Cherika bingung menjawab apa, hubungan dia dan Chandika memang tidak jelas. Bolehkah dia menyebut Chandika pacar?


Berpikir kata pacar membuat pipi Cherika memanas.


"OMG! Cherika sedang merona!" seru Clara yang dengan jelas melihat pipi tembam Cherika tiba-tiba memerah.


Icha melirik kebelakang lewat kaca spion tengah. Dan benar saja yang dikatakan Clara.


"Pasti ada sesuatu antara lo dan Chandika," tebak Icha.


"Tapi bukannya Chandika sudah punya calon tunangan?" tanya Clara yang mengingat kejadian bertemu Chandika dan Jane di restauran pizza.


"Oh, cewek yang sedang hamil itu?" celetuk Icha yang membuat Cherika terkejut.


"Hamil?" tanya Cherika.


"Ya, saat itu calon tunangan Chandika tiba-tiba mual dan muntah," jawab Icha.


Cherika ingat jika Jane memang beberapa kali mual-mual dan muntah saat sedang bersamanya.


"Jangan sembarang bicara, Icha. Menuduh orang tanpa bukti itu dosa," kata Clara.


"Tapi memang betul kok, firasat gue nggak pernah meleset," ucap Icha dengan percaya diri yang tinggi.


"Kalau cewek itu hamil berarti anaknya Chandika dong?" tanya Clara menutup mulut berlagak kaget.


"Nggak mungkin," bantah Cherika yang membuat Icha dan Clara menatapnya bingung.


"Apa yang nggak mungkin, Cher?" tanya Icha mengangkat alisnya.

__ADS_1


"Chandika terlalu polos untuk membuat cewek hamil," jawab Cherika yang membuat Icha dan Clara tertawa.


"Mana ada cowok zaman sekarang polos," kata Clara mengibaskan tangannya.


"Memang benar kok," kilah Cherika merengut kesal.


Lagi pula selama ini yang di tubuh Chandika adalah dia, mana mungkin Chandika menghamili Jane. Sangat mustahil jika Jane hamil dengan Chandika. Jika Jane memang benar-benar hamil, anak itu pasti milik orang lain.


Tidak lama kemudian mobil Icha berhenti tepat di depan rumah Cherika.


"Duluan ya," kata Cherika membuka pintu mobil.


"Ya," jawab Icha dan Clara serentak dan langsung berlalu.


Cherika yang baru sampai merasa heran ketika ada dua orang berpakaian serba hitam tengah berdiri di depan pagar rumahnya.


"Ada apa ya?" tanya Cherika tanpa basa-basi.


"Nona Cherika?" tanya balik pria berpakaian hitam.


"Ya."


"Kami bodyguard dari tuan muda Aldebaron, mau mengantar dua motor ini," kata pria yang satunya.


'Tuan muda Aldebaron? Dika?'


Cherika melirik dua motor yang familiar itu, dia baru sadar jika ada dua motor di balik badan besar dan kekar ke dua pria itu. Mata belonya seketika berbinar senang, dia sangat rindu dengan motor Ducati dan BMW HP4 Race itu. Apakah Chandika memberinya ke dua motor itu?


Cherika menerimanya, dia melihat ada dua kunci motor dan sebuah kertas di dalamnya.


"Kalau begitu kami permisi, nona," kata si bodyguard.


"Ya. Terima kasih," ujar Cherika.


Setelah ke dua bodyguard itu pergi Cherika langsung memeluk ke dua motor kesayangannya itu.


"Halo anak-anak," sapa Cherika senang. Akhirnya dia bisa motor-motoran lagi.


Gadis belo itu langsung memasukan ke dua motor ke dalam gerbang rumahnya.


Saat ini rumahnya memang kosong karena para kakak laki-lakinya sedang tidak ada di rumah. Karena itu bodyguard suruhan Chandika hanya bisa menunggu di depan pintu gerbang.


Setelahnya Cherika langsung masuk ke dalam rumah, mendudukkan dirinya di sofa ruang tamu. Dia membuka kertas yang tadi berada di dalam paper bag.


Saat membuka kertas yang terlipat rapi dia menemukan sebuah kartu hitam.


"Kenapa Dika memberi Black Card?"


Gadis itu membaca kertas yang ternyata sebuah surat.

__ADS_1


...Untuk calon istriku....


...Apa kamu suka hadiah yang aku berikan?...


...Maaf jika bukan aku sendiri yang memberikan itu....


...Sekarang aku sedang sibuk karena sedang belajar untuk mengurus perusahaan....


...Aku sedang menjalankan syarat dari papi untuk bisa menikahi kamu....


...Black card itu juga untukmu, kamu kan pernah bilang jika sangat senang memiliki kartu itu....


...Aku mencintaimu....


Wajah Cherika seketika memerah sempurna, dia tidak tahu jika Chandika akan semanis ini. Bisa-bisanya mengirimkannya surat, padahal ini sudah bukan zamannya pakai surat.


"Ternyata dia serius untuk mengajak nikah!" pekik Cherika senang, bahkan sampai melompat-lompat dengan memeluk surat pemberian pemuda tercinta.


**


Di sebuah ruangan dengan perpaduan rak berwarna putih dan karpet berpola. Warna abu-abu pada furniture menunjukkan style modern yang saling menyatu dengan meja kerja dengan style rustic.


Chandika terduduk dan terlihat sibuk dengan beberapa dokumen yang sedang dia pelajari. Sejak pulang sekolah dia sudah mendapatkan pembelajaran dari asisten suruhan papi Jauzan, dia diberi kesempatan untuk belajar selama seminggu sebelum masuk ke perusahaan secara resmi, dia akan langsung menempati posisi sebagai Presiden Direktur. Dan untuk posisi CEO masih dipegang oleh papi Jauzan.


Dia akan menjadi Direktur di usianya yang masih 17 tahun.


Salahkan saja dirinya sendiri yang ingin menikah muda.


Tok


Tok


Bunyi pintu di ketuk mengalihkan atensi pemuda itu. "Masuk."


"Tuan muda diperintahkan untuk ke ruang tamu," kata seorang pelayan yang muncul dari balik pintu.


"Siapa yang memerintah?" tanya Chandika heran.


"Ini perintah dari tuan besar."


Chandika mengeryit. Padahal ayahnya tahu jika dia sedang sibuk belajar. Tapi, kenapa menyuruhnya ke ruang tamu?


"Baiklah," kata Chandika kemudian.


Pemuda itu bangkit dari posisinya dan keluar dari ruangan itu. Langkah kaki lebarnya membawa dirinya ke ruang tamu yang tidak jauh dari ruangan tempatnya tadi.


Ketika Chandika sampai di ruang tamu dia melihat ada lima orang yang sudah terduduk di sofa dan terlihat menunggunya.


'Kenapa Jane dan ke dua orang tuanya datang?' batin Chandika terheran-heran.

__ADS_1


_To Be Continued_


__ADS_2