Sekejap Berubah Gender

Sekejap Berubah Gender
Innocent? [18+]


__ADS_3

"Dari mana kamu, Ben?" tanya Gionino pada sang adik yang baru pulang.


"Bukan urusan lo, Bangs*t," desis Ben langsung langsung menubruk bahu sang kakak.


"Apa kamu sedang tertarik dengan seorang perempuan yang bernama Cherika?" tanya Gionino yang menghentikan langkah Ben.


"Sialan, lo mengawasi gue!?" bentak Ben yang sudah berbalik menatap tajam kakak laki-lakinya.


"Berhentilah bermain-main dengan perempuan," sambung Gionino masih dengan wajah yang datar.


"Jangan ikut campur!"


"Aku ini kakak kamu, sudah sepantasnya aku menasihati dirimu," ujar Gionino pada adiknya. Sejujurnya dia sangat sayang pada Ben, tapi pemuda curly itu sangat membencinya.


"Kakak? Tidak ada kakak yang diam saja saat adiknya tertekan untuk bisa melampauinya. Gue lebih senang jika lo tidak ada," kilah Ben dengan tangan terkepal.


Gionino diam, lidahnya keluh. Bukan maksudnya dia diam seperti itu, dia hanya ingin segera menggeser posisi ayahnya untuk bisa melindungi Ben. Bagaimanapun Ben ingin mencoba melampauinya pemuda itu tidak akan bisa menjadi kebanggaan Edward Lazuardy. Karena Ben hanyalah anak haram Edward dengan perempuan tidak jelas. Itu mengapa Ben mendapat perlakuan tidak adil dari sang ayah.


Namun, kebenaran itu tidak diketahui Ben. Dalam hidup pemuda itu hanya tertanam ajaran bagaimana bisa untuk menjadi pewaris Lazuardy dan melampaui Gionino. Ya, itulah ajaran dari Edward Lazuardy.


"Berhentilah menganggap diri lo kakak gue," sambung Ben.


Bagaimana bisa Gionino melakukannya? Dia tidak bisa meninggalkan adiknya yang telah terselimuti kebencian itu.


Sejatinya Ben hanya memerlukan seseorang yang dapat menghangatkan hatinya.


**


"Ahhh Ouch.. apa yang kamu lakukan?" lirih Chandika saat merasakan jakunnya digigit kecil oleh Cherika.


"Gemas," gumam Cherika. Bukannya berhenti sampai di situ dia justru menciumi leher putih Chandika, wangi citrus sangat memabukkan dirinya hingga lupa diri. Menggigit dan mencium hingga meninggalkan jejak kemerahan.


"Shh... He-hentikan," lenguh Chandika mendorong pelan kekasihnya dari lehernya.


Kenapa gadisnya ini begitu agresif? Bisa gila dia dibuatnya.


"Wahh lucu, kenapa bisa memerah?" kilah Cherika menatap berbinar leher Chandika yang tanpa sadar sudah dia bubukan kiss mark olehnya.


"Aduh, kenapa kamu membuat leherku memerah? Kalau papi dan mami melihat bagaimana?" ucap Chandika memegang lehernya, dia merasakan jejak saliva Cherika.


"Biarkan saja, ini lucu. Aku ingin buat lagi!" seru Cherika yang membuat Chandika jantungan.


"Ja-jangan," tolak Chandika dengan menahan napas. Tapi tidak dihiraukan Cherika yang sudah menciumi lehernya kembali.


Sebenarnya di sini yang perempuan itu siapa sih? Kenapa Chandika seakan terpojok seperti perempuan seperti ini?

__ADS_1


'Tidak! Jangan di situ!' jerit Chandika dalam hati. Pasalnya tangan Cherika masuk ke dalam kemejanya dan meraba roti sobek di baliknya. 


"Che-Cherika.. Aku rasa.. ka-kamu tidak seharusnya melakukan ii—ahh," protes pemuda itu terpotong karena Cherika menggigit lehernya kembali. "Ja-jangan.. seperti ini, nanti aku bisa lepas kendali." 


Cherika menjauhkan wajahnya, tapi tangannya masih mengelus perut pemuda yang seakan sudah kehabisan napas itu. Dia itu pencinta roti sobek.


"Keluarkan juga tanganmu," ucap Chandika dengan lirih.


Gadis itu tidak menghiraukan ucapan Chandika. "Memangnya kamu bisa lepas kendali?" tanya Cherika seakan menantang. Dalam pikirannya Chandika itu polos, buktinya saja pemuda itu hanya pasrah saat ini.


"Tentu saja, aku ini juga laki-laki normal," ujar Chandika sedikit kesal karena diremehkan. Tidak mami Aminta dan tidak Cherika, ke dua perempuan terpenting di hidungnya itu kenapa sama-sama meragukan kejantanan dirinya?


"Aku tidak percaya," ucap Cherika tersenyum miring.


Cherika menyudahi kegiatannya, dia turun dari pangkuan Chandika.


Namun, Chandika menarik kembali dirinya untuk kembali duduk di pangkuannya.


Sebelum Cherika berkata apapun, bibir Chandika sudah membungkam bibir kecilnya. Gadis itu terkesiap dengan mata yang terbuka lebar. Tapi langsung tertutup rapat ketika merasakan bibir bawahnya dikulum pelan dan lembut. Cherika mengeram saat lidah Chandika memaksa untuk membuka bibirnya dan segera masuk ke dalamnya. Mereka tenggelam dalam ciuman panas dan penuh gairah.


"Hmmp.. Dikha," Cherika mendesah dengan napas yang sama sekali tidak teratur, memanggil nama si pemuda sembari meremas rambut hitam legam Chandika yang masih sibuk pada rongga mulutnya.Tanpa sadar Cherika semakin merapatkan tubuhnya pada Chandika.


Cherika merasa jika dirinya tidak mampu melawan sama sekali, dia sangat terbuai.


Seakan ingin balas dendam, Chandika memasukan tangannya ke dalam sweater oversize gadis itu dan meraba punggung halus Cherika dengan gerakan sensual.


GREK


Suara pintu kereta terbuka menghentikan tangan Chandika yang hendak menjalar ke bagian atas perut di gadis. Pemuda itu segera mejauhkan wajahnya dan menciptakan jejak saliva di antara ke duanya.


Dia benar-benar sudah lepas kendali, itulah mengapa sangat berbahaya jika dia berciuman dengan Cherika, tangannya ini pasti tidak bisa diam. Padahal dia berniat menyimpan ciuman ini setelah menikah dengan Cherika nanti.


Salahkan saja Cherika yang mengompori dirinya.


Chandika menatap kekasihnya yang tersengal-sengal. Wajah Cherika memerah seperti buah tomat kesukaannya, bibirnya merah mengkilap dan bengkak. Apakah dia sudah keterlaluan?


"Maafkan aku," kata Chandika mencium kening si gadis yang tertutup poni.


Cherika tidak bisa berkata apa-apa. Ini kali pertamanya berciuman dengan seseorang, dia tidak menyangka jika Chandika yang dia kira polos sangat handal dalam hal ini.


'Si polos ternyata adalah suhu,' batin Cherika tidak menyangka.


Chandika segera membenahi keadaan mereka yang berantakan. Dan menggendong Cherika bridal style untuk keluar dari gondola.


"Aku bisa jalan sendiri," kata Cherika dengan meremas kemeja bagian dada Chandika.

__ADS_1


"Shh.. menurutlah. Tidak sadarkah apa yang sedang kamu remas?" tanya Chandika dengan berdesis.


Cherika langsung melepas remasannya, dia malu dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Chandika, leher yang kini telah terdapat bekas kemerahan karena ulahnya.


"Jangan menggigitnya lagi," ujar Chandika memperingati.


"Ti-tidak kok."


"Sebaiknya kita pulang sekarang, ini sudah cukup larut," ucap Chandika yang mendapatkan anggukan dari Cherika.


Chandika menggendong Cherika sampai ke mobil Lamborghini Veneno miliknya. Dia menurunkan gadis itu di dalam mobil, tidak lupa juga membantu Cherika untuk memasangkan safety belt.


"Dika," panggil Cherika saat Chandika sudah terduduk di jok sebelahnya hendak menjalankan mobilnya.


"Ya, sayang?" sahut Chandika tanpa mengalihkan tatapan dari menyetir.


Cherika menggigit bibir bawahnya yang membengkak itu, dia ingin menanyakan sesuatu tapi ragu.


"Jangan menggigit bibir seperti itu, apa kamu ingin aku cium lagi?" kilah Chandika yang melirik Cherika dari ekor matanya.


Cherika tersentak dengan perkataan Chandika.


'Fixs, dia memang nggak sepolos yang gue kira,' batin Cherika merutuki kebodohannya.


"Apakah kamu sudah pernah berciuman sebelumnya?" tanya Cherika hati-hati.


Chandika terdiam sesaat, dia bingung menjawabnya. Dahulu dia memang pernah berciuman dengan Ellisha yang notabene Cherika sendiri.


"Tidak kok," jawab Chandika.


Ya, itu benar kan? Dirinya yang sekarang memang belum pernah ciuman sebelum ini. Lagi pula dia hanya reinkarnasi Felix. Dia hanya merasakan ingatan Felix.


"Aku tidak percaya," kata Cherika merengut.


"Oh ayolah, sayang. Kamu bahkan sudah tahu semua ingatanku saat kita bertukar tubuh. Apakah ada ingatan tentang aku berciuman dengan seseorang?"


Mereka memang sudah bertukar ingatan saat itu.


"Ya, aku percaya," tukas Cherika kemudian.


"Gadis pintar."


Cherika menyenderkan badannya, dia merasa kantuk tiba-tiba.


"Aku mencintaimu, Chandika," kata Cherika sebelum terlelap.

__ADS_1


"Aku lebih sangat mencintaimu."


_To Be Continued_


__ADS_2