
Jane baru saja keluar dari salah satu restauran, terlihat sekali raut wajahnya yang kecewa. Terlihat map coklat sedang dia peluk. Gadis itu sedang mencoba melamar pekerjaan, Namun begitu sulit untuk mendapatkannya. Dia hanya membawa ijazah seadanya, lulus SMA saja belum. Karena sedang hamil dia tidak bisa melanjutkan sekolahnya. Dia harus mencari kerja lantaran orang tuanya sudah mengusirnya, dia harus menghidupi dirinya dan bayinya sendiri.
Ya, dia pasti bisa.
Padahal impiannya dulu adalah menjadi seorang artis Hollywood terkenal.
"Permisi."
"Ya?" Jane menatap seorang laki-laki asing tiba-tiba mendekatinya.
"Apa kamu ingin menjadi model?" tanya laki-laki itu dengan tersenyum ramah. Dia menyodorkan sebuah kartu nama.
Jane mengambil kartu nama itu. Apa ini tawaran baginya untuk bekerja menjadi model?
"Aku lihat kamu sangatlah cantik, pantas sekali untuk menjadi model," kata pria itu.
"Eh?" Jane tidak percaya. "Aku..."
"Jika kamu berniat silahkan langsung datang ke alamat kantor agensi," ucap laki-laki itu terlihat sungguh-sungguh. Jika dilihat penampilannya, dia tidak seperti seorang penipu, pakaian rapi dengan setelan jas formal.
"Baiklah, akan aku pikirkan," jawab Jane.
"Baiklah, kalau begitu aku permisi dulu," kata laki-laki yang terlihat berumur kepala 3 itu dan berbalik pergi.
"Menjadi seorang model?" gumam Jane dengan melihat kartu nama yang tadi dia dapat. "Serius?"
Apakah menjadi model semudah ini? Bahkan untuk menjadi artis saja dia harus casting sana-sini dan sangat sulit untuk lolos.
"Jane?" sebuah panggilan membuyarkan lamunannya. Siapa orang yang tiba-tiba menyapanya lagi itu?
Mata jadenya terbelalak saat melihat gadis bermata belo yang telah memanggilnya. "Cherika?"
Ya, gadis itu adalah Cherika dan ada Chandika yang tengah berdiri disampingnya. Apa-apaan pertemuan yang sangat kebetulan ini?
Jane belum siap menahan malu pada Cherika. Sebenarnya dia ingin meminta maaf pada gadis itu, tapi tekatnya belum bulat.
"Sedang apa di sini?" tanya Chandika. Dia dan Cherika ingin menemui Gionino di restauran yang sempat didatangi Jane.
"Aku sedang mencari kerja," jawab Jane jujur.
"Kenapa mencari kerja? Bukannya kamu sedang hamil?" tanya Chandika lagi.
"Karena aku membutuhkan uang," ucap Jane dengan menunduk.
Chandika dan Cherika saling tatap. Mereka ingin bertanya lebih lanjut tapi merasa tidak enak.
"Ngomong-ngomong. Bagaimana hubungan kalian?" tanya Jane tersenyum.
__ADS_1
"Kami sudah menikah," jawab Chandika. Pernikahan mereka memang tidak dipublikasikan. Hanya orang-orang tertentu dan para tamu undangan yang tahu.
Jane terkejut. Hatinya sakit mendengar itu, tapi dia mencoba tersenyum. Dia mencoba tegar. Jane sudah sadar jika dia memang tidak pantas untuk bersanding dengan Chandika. "Selamat atas pernikahan kalian."
"Terima kasih," jawab Chandika dan Cherika bersamaan.
"Dan maaf untuk semua perlakuanku dulu. Aku benar-benar menyesal," kata Jane dengan mengumpulkan keberanian. Dia tidak boleh menjadi pengecut yang lari dari permintaan maaf.
"Tidak apa-apa, kok," jawab Cherika tersenyum tipis. Ya, Cherika tahu perasaan Jane karena mereka sama-sama perempuan, sejatinya Jane bukanlah orang jahat. "Kadang kita membenci orang yang sifatnya sama seperti kita, tanpa kita sadari."
Ya, ke dua perempuan itu memang sama-sama menyukai Chandika. Tidak mustahil jika sifat mereka sama.
Jane tertegun dengan perkataan Cherika.
"Sepertinya kita harus segera pergi, sayang," instruksi Chandika pada Cherika.
"Oh, aku hampir lupa," ucap Cherika yang melupakan tujuan aslinya datang ke sini. "Aku dan Chandika ada urusan. Kami duluan ya," sambungnya menatap Jane.
"Ah, ya," jawab Jane.
Pasangan suami-istri itu berlalu untuk memasuki restauran meninggalkan Jane yang menatap dengan tatapan penuh arti.
"Benar, sampai mati pun aku tidak akan pernah bisa memisahkan mereka berdua," gumam Jane tersenyum kecut. "Betapa bodohnya aku yang berusaha memaksakan perasaan ini pada Chandika."
**
"Nona Cherika?" sapa seorang pria berpakaian formal.
"Ya."
"Saya Hans, sekertaris tuan Gionino. Tuan sudah menunggu anda dan suami anda," kata Hans mempersilahkan.
Mereka berdua mengikuti Hans dari belakang.
"Sayang."
"Ya, Dika."
"Bukannya Jane habis keluar dari restauran ini, apa dia tidak bertemu dengan Gionino? Ayah dari bayi Jane itu kan Ben, itu berarti Gionino adalah paman dari bayi itu," bisik Chandika.
"Aku tidak tahu. Jangan campuri urusan orang, Dika," jawab Cherika kalem.
"Ok," kata Chandika menurut. Dia hanya penasaran saja tadi.
Tanpa mereka sadari bisikan Chandika dapat didengar olah Hans, pria itu kaget mendengarnya. Sepertinya dia akan menyampaikan informasi ini pada tuannya. Entah apa yang akan dilakukan Gionino saat tahu jika adik tersayangnya menghamili seorang perempuan.
"Silakan masuk," ujar Hans dengan membuka pintu ruang makan VIP.
__ADS_1
Mereka kini berada di ruangan dengan interior konsep abad pertengahan yang otentik.
"Selamat siang," sapa seorang laki-laki berperawakan tinggi—Gionino Lazuardy. "Kalian sudah datang," Gionino tersenyum ramah.
"Maaf kami terlambat," tukas Cherika segera duduk dan diikuti Chandika.
"Tidak masalah. Justru saya yang dengan seenaknya mengajak bertemu tiba-tiba. Pasti saya sudah menggangu kesibukan kalian berdua," kata Gionino merasa bersalah.
"Baguslah jika anda sadar," ucap Chandika dengan dingin.
Cherika memegang tangan sang suami berniat menenangkan. Padahal tadi suaminya bersikap biasa saja, kenapa sekarang jadi berubah menjadi dingin dan angkuh? Apakah ini sifat lain dari Chandika yang belum dia ketahui?
"Maaf karena mengganggu waktu kalian. Tapi saya senang bisa bertemu dengan pewaris keluarga Aldebaron."
"Senang? Saya rasa hubungan kita tidak bisa dibilang menyenangkan," kilah Chandika. Ya, mereka adalah saingan bisnis. Seseorang yang saling menjatuhkan satu sama lain. Dari mana yang menyenangkan?
"Anda pasti bingung karena saya tiba-tiba telepon dan mengajak bertemu, ya?" tukas Gionino dengan tersenyum kikuk.
"Tidak usah banyak basa-basi," ketus Chandika.
"Terima kasih karena kalian mau menemui saya," kata Gionino dengan memainkan jemarinya di atas meja.
"Ya, tidak apa-apa. Maksud perkataan anda di telepon itu apa?" Cherika bertanya karena memang itulah tujuannya bertemu dengan Gionino.
"Sebelumnya saya ingin mengucapkan selamat atas pernikahan anda berdua," kata Gionino sungguh-sungguh. "Dan saya ingin meminta maaf atas nama Ben, adik laki-laki saya."
"Ya," jawab Cherika sekenanya.
Dan Chandika hanya diam saja.
"Tujuan saya untuk menemui anda berdua adalah untuk memberitahu jika kalian harus hati-hati. Ben akan mencoba memisahkan kalian. Dia bisa berbuat nekat. Saya tidak bisa menghentikan Ben karena kami memang tidak akur," jelas Gionino.
"Saya hanya tinggal melenyapkan dia," kata Chandika dingin.
Cherika membelalakkan matanya ketika mendengar perkataan suaminya. Chandika yang menurutnya polos dan penakut bisa berkata ingin melenyapkan orang seakan itu bukan masalah berat. Apakah pemuda itu benar-benar suaminya?
"Saya mohon jangan," kata Gionino dengan tatapan syarat akan permohonan. "Ben hanya diperdaya oleh ayah saya, Edward Lazuardy."
"Saya tidak perduli tentang itu," kata Chandika memincingkan mata sinis.
"Saya berharap jika anda bisa menghentikan tindakan nekat Ben tanpa harus membunuhnya," kata Gionino.
"Saya tidak bisa menjanjikan apapun," kata Chandika final.
Gionino tertunduk dengan tatapan pias. Sampai akhirnya dia memang tidak bisa melindungi Ben.
_To Be Continued_
__ADS_1