
"Ada yang ingin gue bilang pada lo."
Cherika menatap Alvis, dia heran dengan perubahan ekspresi si pemuda yang menjadi serius. "Bilang apa?" tanyanya penasaran.
Alvis merubah posisinya menjadi menyerong untuk menatap intens Cherika. Dia menarik dalam-dalam napasnya, tekatnya sudah bulat. Dia ingin menyatakan perasaannya, dia hanya ingin mengangkat sesuatu yang mengganjal di hatinya, dia sudah terima apapun jawaban dari gadis itu. Dia hanya ingin jujur akan perasaan.
"Gue mencintai lo."
Cherika terkejut sesaat, dia tidak menyangka jika si pemuda babyface akan mengatakan itu.
"Gue cuman ingin lo tahu perasaan gue, ini kali pertama gue mencintai seseorang," ucap Alvis dengan memegang dadanya. "Rasanya berdebar dan sakit bersamaan. Gue tahu jika kita nggak mungkin bisa bersama karena lo sudah memilih sepupu gue sendiri."
"Terima kasih lo sudah mengungkapkan perasaan itu dan memilih gue sebagai orang yang lo cintai. Gue sangat berharap lo bisa memakluminya dan kita masih bisa berteman baik," kata Cherika dengan menatap penuh arti si pemuda Adhideva.
"Gue akan berusaha memakluminya. Gue merasa lega karena sudah mengatakannya, gue hanya nggak mau memendamnya," ucap Alvis tersenyum.
Cherika juga ikut mengembangkan senyumnya.
"Bolehkah gue memeluk lo terakhir kalinya?" pinta Alvis.
"Tentu," jawab Cherika. Dia sudah menganggap Alvis sebagai teman baiknya. Selama dirinya bertukar tubuh dengan Chandika, pemuda itulah yang menjadi temannya. Mana mungkin dia tega untuk menolak permintaan itu.
Alvis segera memeluk Cherika.
"Gue berharap lo bisa segera melupakan gue dan mendapatkan cinta yang lain," kata Cherika yang membalas pelukan si pemuda babyface.
"Ya, mungkin akan membutuhkan banyak waktu," jawab Alvis tersenyum kecut.
"Hmm," sebuah dehaman menyadarkan mereka berdua.
Cherika dan Alvis mengurai pelukan mereka dan menatap Chandika yang tengah menatap mereka dengan ekspresi yang tidak terbaca.
**
Saat ini waktu menunjukkan pukul 5 sore. Tampak sinar jingga cerah bersinar membuat langit berwarna merah jingga. Burung-burung terlihat kontras dan tampak jelas berterbangan kesana kemari dan angin yang terasa sangat sejuk dan berhembus lumayan cepat. Bentukan siluet yang dihasilkan dari bayangan rumah dan pepohonan semakin mendukung syahdunya suasana.
"Sudah sampai, ya..." ucap Chandika saat mereka berdua berada tepat di depan pintu gerbang rumah minimalis.
"Iya ya..." kata Cherika dengan menyatukan kedua tangannya di depan, memainkan jari-jarinya.
"Masuklah."
"Dika, kamu tidak ingin berbicara sesuatu denganku?" tanya Cherika ragu-ragu.
"Berbicara apa?"
Sejenak Cherika terdiam.
"Apa kamu marah karena aku berpelukan dengan Alvis?" tukas Cherika dengan menatap mata kelam pemuda di hadapannya.
__ADS_1
"Tidak kok."
"Kamu tidak cemburu?" tanya Cherika memastikan lagi.
"..."
"Tuh kan kamu cemburu. Sejak tadi saja mendiamkan aku," ucap Cherika menyelidik. Saat perjalanan pulang Chandika memang hanya diam saja.
"..."
"Jangan diam saja... " ujar Cherika, dia meraih ke dua tangan Chandika untuk digenggam.
"Aku tidak bisa marah padamu, Cherika," lirih Chandika yang akhirnya mengeluarkan suaranya. "Aku sudah berusaha untuk tidak cemburu padamu, tapi aku tidak bisa menahan rasa kesal saat kamu berdekatan dengan laki-laki lain. Padahal aku tahu jika kecemburuan dapat mengakhiri cinta pada tempat yang salah."
Cherika terkejut saat Chandika meneteskan air mata. Mengakhiri cinta? Maksudnya apa? Dan kenapa dirinya juga ikut meneteskan air mata?
Chandika langsung memeluk tubuh mungil kekasihnya. Ingatan masa lalu yang mengakibatkan dia dan Cherika meninggal bersama tiba-tiba saja terlintas. Dia tidak mau hal itu terulang lagi.
"Hiks.. " tahu-tahu Cherika terisak dengan tubuh yang bergetar. Gadis itu juga tidak mengerti kenapa dia merasakan sesak yang luar biasa di dalam hatinya.
"Shtt.. sudah jangan menangis," bisik Chandika tepat di telinga Cherika.
"Tapi kamu juga menangis ...hiks," cicit Cherika menggenggam kuat baru bagian depan Chandika. "Kamulah yang sudah membuatku menjadi cengeng seperti ini."
Salahkan Chandika yang tiba-tiba meneteskan air mata duluan.
Chandika tersenyum kecil. "Maafkan aku. Aku hanya kelilipan saja."
"Benaran kok," kata Chandika dengan cepat menghapus jejak air matanya. Dia mengurai pelukannya dengan memegang kedua pundak Cherika. "Lihatlah aku tidak menangis."
Cherika mengangguk setelah melihat wajah tampan kekasihnya.
Dengan menggunakan kedua ibu jarinya Chandika mengusap lembut pelupuk mata gadisnya, dia mencium jejak-jejak air mata Cherika.
"Kekasihku yang cantik berhentilah menangis," ucap Chandika setelahnya.
Cherika merona mendengar ucapan Chandika, dia tidak tahu jika pemuda itu pandai merayu. "Dasar pembual."
"Aku tidak membual, sayang," tukas Chandika dengan merapikan poni Cherika yang berantakan.
"Aku masuk dulu," ucap Cherika yang tidak tahan dengan perlakuan manis Chandika.
"Ya," jawab Chandika, tapi justru memeluk Cherika kembali seakan tidak mau gadisnya pergi.
"Lepas... " kilah Cherika mendorong Chandika.
Chandika tertawa kecil setelahnya. "Yasudah, sana masuk."
Cherika segera membuka gerbang rumahnya dan masuk ke dalam. Tapi sebelumnya dia mengintip menatap Chandika. "Aku sangat mencintaimu."
__ADS_1
BRAK
Drap
Drap
Gadis itu langsung menutup pintu pagar degan kencang dan berlari masuk ke dalam rumah.
"Aduh.. manis sekali," gumam Chandika dengan mengguyar rambut hitamnya, kedua pipinya sudah merona.
Chandika langsung berbalik untuk menghampiri mobilnya.
Tanpa ada yang menyadari Cynderyn tengah menatap interaksi sepasang kekasih itu dengan wajah yang mengeras, terlihat kegelapan menyelimuti dirinya.
Wanita tua itu menghembuskan napas dengan kasar.
**
Chandika memarkirkan mobil Lamborghini putih miliknya, dia segera keluar dan melangkah masuk ke dalam mansion yang berdesain modern kontemporer.
Ketika memasuki ruang tamu dia melihat papi Jauzan dan mami Aminta tengah bermesraan sambil terduduk di sofa.
"Barista terbaik adalah istri. Dan kopi paling nikmat adalah yang dibuatnya dengan penuh cinta," kata Jauzan dengan menyesap kopi buatan sang istri tercinta.
"Kamu bisa saja, suamiku," ucap Aminta tersenyum malu.
"Kamu tahu tidak, istriku?" tanya Jauzan yang meletakan kembali cangkir kopinya.
"Tahu apa?"
"Hari Minggu itu weekend tapi kalau cinta kita will never end," ujar Jauzan dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Oh my..." Aminta ingin memeluk sang suami, tapi seseorang yang tiba-tiba terduduk di sebelahnya menghentikan aksi pelukannya.
Pelipis Jauzan berkedut menahan kesal karena kedatangan putranya yang selalu mengganggu.
"Kamu sudah pulang, sayang. Sini peluk mami..." kata Aminta segera memeluk Chandika.
Semakin kesal sudah Jauzan melihatnya. Tadi dia sudah berusaha mati-matian untuk mendapatkan pelukan hangat istri tercintanya. Lalu dengan seenaknya putranya itu tahu-tahu datang dan merebutnya.
"Ya, mami," kata Chandika dengan melirik sang ayah. Dia tersenyum penuh dengan kemenangan.
'Bocah luctnut,' batin Jauzan menangis dalam hati.
Aminta melepas pelukannya. Namun, senyumannya luntur karena melihat leher putra semata wayangnya.
"OMG! ada apa dengan leher kamu, Chan!!" teriak Aminta dengan histeris.
Chandika lupa menutupi bercak-bercak di lehernya itu.
__ADS_1
Terakhir saat Aminta melihat pipi putranya yang terdapat bekas lipstik saja sudah membuatnya menangis kejar, apalagi sekarang?
_To Be Continued_