Sekejap Berubah Gender

Sekejap Berubah Gender
Not A Date


__ADS_3

Kicau burung-burung bernyanyi, menyambut mentari pagi indah dan berseri. Itulah perasaan si gadis blaster yang kini sedang tersenyum gembira karena si pemuda tercinta mengajaknya kencan di akhir pekan ini.


Jane tidak menyangkah jika Chandika akan menghubunginya dan mengajaknya kencan hari ini. Ini adalah mimpi indah baginya, apakah dia sudah bisa memikat hati Chandika lagi?


Jika benar, dia sangat bahagia sekali.


Dia akan berusaha tampil cantik di kencan pertamanya dengan pemuda tercinta. Makan dari itu, Jane sengaja bangun pagi-pagi sekali untuk mempersiapkan semuanya. Dari memilih baju cantik, pergi ke salon, dan masih banyak lainnya.


Dia tidak mau jika Chandika kecewa padanya.


"Hari ini aku sangat senang," kata Jane tidak henti-hentinya tersenyum.


Seketika terlintas pikiran yang membuat Jane menyeringai. Dia segera mengambil ponsel dan berniat menghubungi seseorang.


"Halo, Ben."


"..."


**


Drett


Drett


Drett


Cherika mengabaikan panggilan video dari kekasihnya karena dia takut jika hatinya goyah karena melihat wajah rupawan si pemuda. Dia berniat merajuk sampai Chandika bersedia untuk memperbaiki nilai-nilainya. Lagi pula ini juga kebaikan Chandika.


"Kenapa nggak di angkat? Lagi ngambek sama ayang mbeb, ya?" celetuk Aland yang duduk di sebelah Cherika.


"Nggak," jawab Cherika jutek.


Aland hanya terkikik dengan jawaban jutek sang adik.


"Jangan ganggu singa perempuan yang lagi marah," ucap Nathan yang datang dengan membawa gitar keramatnya.


"Siapa yang lagi marah?" kilah Cherika menyangkal.


"Halah, keliatan dari muka lo," ucap Nathan yang sudah terduduk.


Nathan segera memainkan gitarnya dan bernyanyi dengan suara fals miliknya.


Jreng


Jreng


"Pagi biar ku sendiri."


"Jangan kau mendekat, wahai matahari."


"Dingin hati yang bersedih."


"Tak begitu tenang, mulai terabaikan."


Aland pun ikut bernyanyi bersama Nathan.


"Hari yang cerah."

__ADS_1


"Untuk jiwa yang sepi."


"Begitu terang."


"Untuk cinta yang mati."


"Ah-ah-ah."


'Ck, abang-abang sialan,' maki Cherika dalam hati. Lagu yang dinyanyikan Nathan dan Aland sangat mencerminkan hatinya saat ini.


Hari ini adalah akhir pekan yang cerah, pas sekali jika kencang dengan sang pacar tercinta. Tapi, dia lebih mementingkan acara merajuknya dari pada berkencan dengan Chandika.


Ting! Tong!


Suara bel mengalihkan Cherika, refleks dia bangkit dari duduknya. "Apa itu Dika?" tanya Cherika berbinar.


Aland dan Nathan hanya mengangkat bahu.


Cherika langsung keluar untuk menyambut seseorang yang dia yakini Chandika. Persetan dengan acara ngambeknya.


Dengan langkah cepat dia membuka pintu gerbang dan tersenyum lebar.


Sekejap senyumannya luntur. Bukan kekasihnya yang datang, tapi seseorang yang sangat tidak diharapkan kehadirannya.


"Ben?"


"Hai, honey," sapa pemuda eksotis itu.


"Ngapain lo ke sini? Dan dari mana lo tahu rumah gue?" tanya Cherika dengan memincingkan mata tidak suka.


"No," tukas Cherika dan berniat menutup pintu gerbangnya. Baginya Ben hanyalah seorang stalker.


Tapi Ben langsung menahannya.


"Minggir lo," kata Cherika kesal.


"Tapi, ada sesuatu yang ingin gue beritahu ke lo," ucap Ben masih tetap berusaha mengajak Cherika pergi bersamanya.


"Gue nggak perduli," jawab Chandika masa bodo.


"Ini tentang Chandika," kata Ben yang membuat Cherika terdiam sesaat.


"Ada apa memang?"


Skakmat.


Ben tersenyum tipis karena Cherika sudah termakan pancingannya.


"Ikutlah dengan gue."


**


House of Yuen berada di hotel Fairmont yang ada di Senayan. Sebagai restoran yang ada di hotel bintang 5 di Jakarta, tentunya bisa mengharapkan pelayanan kelas VIP di restoran mewah ini.


"Aku senang sekali, Chan," kata Jane dengan wajah yang bahagia. Kini, Jane sedang mengenakan gaun panjang berdetail halter neck yang memberikan kesan glamor dan cantik bersamaan.


"Syukurlah," kata Chandika dengan tampilan formal, mengenakan beludru jacket berwarna coklat yang dipadukan dengan kemeja stripe dan plain pants hitam.

__ADS_1


"Aku tidak menyangka kita akan berkencan di restauran ini."


"Aku pun juga sama," tukas Chandika tersenyum.


"Bayi ini pasti akan senang," ucap Jane mengelus perutnya.


Chandika hanya mengangguk saja. Dirinya lelah untuk berpura-pura tersenyum terus. Jane tidak tahu jika Chandika hanya memanfaatkan kencan mereka. Jika Jane tahu rencana pemuda itu, pasti dia tidak akan seantusias ini.


Para pelayan datang membawakan berbagai macam menu makanan dari negara tirai bambu dan satu botol wine berkualitas terbaik. Chandika mengangguk pelan pada seorang pelayan yang menuangkan wine pada masing-masing gelas Chandika dan Jane.


"Apakah orang hamil bisa meminum ini?" tanya Jane pada pelayan itu.


"Untuk satu gelas tidak apa-apa," jawab pelayan dengan tersenyum sopan. "Ini adalah pelayanan kelas VIP restauran ini."


"Bukankah kita harus merayakan hari ini dengan segelas wine?" kilah Chandika.


"Ya. Kamu benar, Chan," kata Jane tersenyum manis.


Para pelayan berlalu dan meninggalkan mereka berdua, alunan instrumental piano semakin menguatkan suasananya yang romantis untuk si gadis blaster.


"Ayo kita minum bersama," ujar Chandika dengan memegang gelas yang sudah berisikan cairan hitam pekat.


Jane mengangguk dan langsung mengangkat gelas miliknya.


Mereka berdua bersulang.


Chandika hanya menyesap sedikit wine itu, alisnya menyatu menahan rasa pahit dari minuman itu, dia memang tidak terbiasa. Berbeda sekali dengan Jane yang terlihat menikmatinya.


"Ugh, kepalaku pusing," lirih Jane memegang pelipisnya.


Bug


Beberapa detik setelahnya terlihat Jane yang telah tidak sadarkan diri dengan kepala terkulai di atas meja dan wine yang tumpah karena tersenggol tangannya. Kenyataannya wine milik gadis itu telah di beri obat tidur di dalamnya.


Chandika segera bangkit untuk mencari ponsel Jane.


"Ah, ketemu," ucap Chandika yang menemukan benda persegi itu di dalam tas jinjing si gadis blaster.


Butuh waktu 5 menit baginya untuk menghubungkan handphone Jane dengan USB pemberian Galen.


Pemuda itu melirik Jane dengan ekor matanya. "Maaf, salahmu sendiri yang berniat menjebak aku duluan," katanya dengan wajah tanpa ekspresi.


Sudah 5 menit berlalu. Pemuda itu segera meletakkan ponsel itu kembali.


Chandika berniat memapah Jane untuk mengantarnya ke dalam mobil dan memulangkan gadis itu. Jane mungkin akan tertidur hingga 6 jam lamanya, tidak mungkin dia meninggal gadis itu di sini. Namun, pemuda itu terpeleset karena menginjak jejak-jejak wine yang tumpah.


"Hampir saja," gumam Chandika dengan tangan berada di sisi meja dan kursi, posisinya seakan sedang mengungkung gadis yang tengah pingsan itu.


"Dika, apa yang sedang kamu lakukan!?" pekikan suara yang sangat dia kenali seakan membuat jantungnya berhenti.


Chandika langsung bangkit dari posisinya dan segera berbalik.


"Kan sudah gue bilang, dia sedang bersenang-senang dengan cewek lain," kata seorang pemuda berambut chestnut yang semakin mengeruhkan suasana.


"Ini tidak seperti yang kamu bayangkan, Cherika."


_To Be Continued_

__ADS_1


__ADS_2