Sekejap Berubah Gender

Sekejap Berubah Gender
Cynderyn


__ADS_3

Malam begitu tenang, sayup-sayup terdengar suara jangkrik memecah keheningan malam, sesekali terdengar suara burung hantu. Udara terasa dingin sampai menusuk tulang. Langit kelam dihiasi bintang-bintang bertebaran menemani si raja malam yang bersinar terang.


Cynderyn memasuki sebuah kastil tua di tengah-tengah gunung bersalju. Wanita tua bersyal merah itu melangkah menaiki tangga menuju lantai teratas kastil.


Pintu kayu yang begitu kokoh dia dorong hingga menimbulkan deritan yang terdengar nyaring di kesunyian. Daun pintu terbuka dan menampakan ruangan luas dengan interior putih dan gold, Cynderyn berjalan ke tengah-tengah ruangan yang terdapat sebuah ranjang king size berkelambu putih yang berterbangan karena terkena angin dari luar jendela yang terbuka.


"Apakah kamu kedinginan?" tanya Cynderyn pada seseorang yang tengah tertidur di atas ranjang. "Ibu akan menutup jendelanya," sambungnya dan segera beranjak menutup jendela.


"Bagaimana kabarmu, nak? Maaf, tadi ibu meninggalkan kamu sendirian," ujar Cynderyn yang kini telah duduk di tepi ranjang.


Seseorang yang masih tertidur itu hanya bergeming.


"Wajahmu bertambah pucat dan membiru," tangan keriput Cynderyn membelai lembut wajah sedingin es milik gadis yang terlelap.


"Ibu janji akan membawa kehidupanmu kembali, Ellisha," sambung wanita tua itu dengan tatapan sendu.


"Ibu tidak akan membiarkan kamu meninggalkan ibu sendirian."


"Akan ibu lindungi dirimu dari Felix."


Ellisha. Gadis yang tengah tertidur dengan tenang, memakai dress putih tanpa corak dengan kedua tangan yang memegang bunga matahari, rambut panjang yang berserakan di atas bantal, bulu mata lentik, hidung mancung, dan bibir yang pucat membiru. Gadis Cantik yang sangat mirip dengan Cherika. Namun, tidak ada tanda-tanda kehidupan pada dirinya.


Dia sudah meninggal dunia.


Cynderyn adalah penyihir menara yang mempunyai kekuatan sihir luar biasa. Dengan kekuatan itu, dia dapat menjelajah waktu. Menjadi seorang Time Traveler. Namun, ada syarat yang harus dia penuhi untuk melakukan perjalanan waktu, yaitu dengan memakan jiwa manusia.


Jika dia tidak memakan jiwa manusia, Cynderyn akan mengalami sakit yang luar biasa dan terbunuh dengan sendirinya.


Cynderyn adalah orang dari dimensi lain. Niat utamanya, yaitu membawa jiwa Cherika yang notabene adalah reinkarnasi dari putrinya.


Ellisha dapat hidup kembali dengan jiwa Cherika.


Tapi, Cynderyn tidak menyangka jika Felix berreinkarnasi di dimensi yang sama dengan Ellisha dan menghalangi niatnya.


Felix, pemuda yang menjadi penyebab Ellisha meninggal.


Awalnya dia ingin membunuh Cherika dengan membuat gadis itu tertabrak mobil. Namun, jiwa Cherika tidak masuk pada bunga matahari yang sebagai perantara. Justru masuk ke tubuh seorang pemuda yang sedang koma.


Pemuda itu Chandika, reinkarnasi dari Felix.


"Ibu pergi dulu. Kamu tunggulah sebentar lagi, putriku," kata Cynderyn dengan mengecup sayang kening Ellisha.


Wanita tua itu segera melafalkan sebuah mantra. Sebuah portal berwarna hitam tiba-tiba muncul dan dia segera memasuki portal itu, meninggalkan Ellisha yang masih terbaring.


Pukul 00.00 dini hari di kediaman Aldebaron.

__ADS_1


Chandika sedang tidur terlelap, keringat menetes dari dahinya, rambut hitam legam miliknya sudah lepek karena keringat. Padahal suhu ruangan tidaklah panas, AC menyala dengan suhu 25° Celsius.


Seorang wanita tua sudah berada di sisih sebelah ranjangnya, menatap dengan intens. Cynderyn meletakan setangkai bunga matahari di sebelah tempat tidur Chandika.


Dia sudah memberikan mantra di dalam bunga itu, mantra untuk mengembalikan ingatan Ellisha yang masih terkubur. Cynderyn berharap jika Cherika mengingat siapa dia sebenarnya dan siapa penyebab dia meninggal dahulu, Cherika pasti akan menjauh dari reinkarnasi Felix dan bersedia ikut bersamanya. Namun, Cherika seakan menolak untuk mengingatnya.


Cynderyn sudah mempunyai beberapa rencana untuk membawa jiwa Cherika.


Pertama membuat Cherika mengingat masa lalunya dan dengan suka rela ikut dengannya.


Ke dua, dia akan membunuh Chandika—tubuh yang sekarang Cherika tempati dan otomatis jiwa gadis itu akan dia renggut paksa. Untuk membunuh Chandika dia sudah melakukan banyak cara, dari memperdaya hati Alvin yang notabene sudah membenci si pemuda sejak dulu, mempengaruhi hati Ben, dan sekarang dia akan menggunakan Ludhe. Cynderyn tidak bisa secara langsung membunuh Chandika, untuk sekedar menjelekkan Felix saja dia langsung merasakan tercekik.


Felix bukanlah orang sembarangan yang dapat dengan mudah dia lawan.


Cynderyn memang mempunyai sihir gelap untuk mempengaruhi hati manusia yang sudah termakan dengan obsesi akan cinta ataupun kedudukan.


"Dunia ini memanglah sangat sempit," gumam Cynderyn tersenyum miring.


"Aku tidak menyangkah jika reinkarnasi Eros akan berada di dunia ini juga, bahkan dia sangat mencintai putriku."


**


Alvis yang hari ini sudah masuk kembali ke sekolah dikejutkan dengan Chandika yang tidak bisanya datang sebelum dirinya, apa lagi sepupunya itu sedang melamun sambil menopang dagu dengan telapak tangan.


BRAK


Pemuda babyface hanya tertawa nyaring.


Chandika hanya melotot melihat pelaku penendang meja, "Mau gue patahin kaki lo? Kepengin duduk di kursi roda lagi?" ancam Chandika yang membuat Alvis menggeleng kaku.


"Slow sih, Cherika," ucap Alvis yang mendudukan bokongnya di kursi sebelah Chandika.


PLAK


Chandika langsung menabok mulut Alvis dengan kenyang.


"Aduh! Kenapa lo pukul bibir seksi gue!?" pekik Alvis yang merasakan bibirnya sakit. "Bar-bar banget sih lo jadi cewek."


"Jangan panggil gue Cherika," kata Chandika berbisik karena kelas sudah mulai ramai. "Panggil gue Chandika."


"Tapi nggak usah nabok juga kali, lihat nih bibir gue sampai jontor," ucap pemuda berambut deep auburn tidak terima.


"Lebay banget sih lo, jontor juga nggak. Sini gue lihat," kata Chandika mendekat pada wajah bayi Alvis, tangannya memegang bibir Alvis. Dia baru menyadari jika Alvis mempunyai tahi lalat di bawah bibir dan sudut bibir yang cute.


DEG

__ADS_1


DEG


Seketika Alvis menjadi gugup dengan jantung yang bertalu-talu bagai genderang.


"Baru gue pukul, belum saja gue cium," sambung Chandika yang membuat Alvis keringat dingin.


"Saat ku melihatmu."


Tiba-tiba saja Bart datang dan menyanyi dengan tidak jelas, membuat Chandika dan Alvis kaget dan segera menjauhkan wajah masing-masing yang memang terlalu dekat.


"Kau sedang bermesraan."


"Dengan seorang.. yang ku kenal..."


"O ow.. Kamu ketahuan.."


"lagi homoan.."


"Dengan dirinya.."


"Teman baikku..."


Seluruh orang di kelas tertawa mendengar nyanyian Bart.


"BERISIK!" teriak Chandika dengan kesal yang membuat kelas menjadi hening.


Namun, dia tidak memperhatikan kondisi Alvis yang wajahnya sudah merona merah. 'Mommy, Alvis baper,' batin pemuda bayi dengan memegang dadanya.


"Selamat pagi!" seru seorang Guru yang baru memasuki kelas, Guru itu heran kenapa kelas sangat hening.


"Oh, Alvis kamu sudah baikan?" tanya Pak Guru yang melihat Alvis yang sudah duduk manis, siapa yang tidak tahu tentang tragedi keluarga Adhideva.


"Yes, sir," jawab Alvis yang sudah mengendalikan debaran jantungnya.


"Syukurlah," kata Pak Guru tersenyum.


Semuanya berjalan sempurna, lalu ujian datang…


"Baiklah anak-anak, hari ini kita akan mengadakan ulangan dadakan," lanjut Pak Guru yang membuat seisi kelas mengeluh.


Hanya Chandika yang berekspresi biasa saja, dirinya itu genius, hanya ulangan dadakan tidak mungkin membuatnya kesulitan.


"Cher, lo boleh kok cium gue, tapi tunggu ketika lo sudah kembali ke tubuh asli cewek lo dulu, ya," bisik Alvis tepat di telinganya.


Chandika menatap horor Alvis. Tadi dia hanya menggoda pemuda babyface itu, tapi kenapa pemuda itu mengganggap serius?

__ADS_1


_To Be Continued_


__ADS_2