
"Kalian?" Chandika mengeryit melihat ke tiga orang yang sedang menunggu itu.
"Hai, sepupu," sapa Alvis dengan cengiran gigi kelincinya.
"Pagi," sapa Alice yang tersenyum manis.
"Selamat pagi, tuan muda dan nyonya muda," sapa Danny menunduk sopan.
"Nyo-nyonya muda?" kilah Cherika tidak percaya dengan panggilan untuknya itu. Apakah dia harus mulai membiasakan diri untuk dipanggil seperti itu? Jangan lupakan jika namanya sekarang adalah Cherika Nayyara Aldebaron.
"Mau apa kalian ke sini? Dan kenapa memakai seragam sekolahku dan Cherika?" tanya Chandika terheran-heran.
"Tentu saja kami akan pindah sekolah seperti lo," jawab Alvis sekenanya.
"Kenapa ikut-ikutan?" tukas Chandika tidak suka.
"Ck, mana bisa gue membiarkan lo bersenang-senang di sekolah baru dan meninggalkan gue," kata Alvis bersedekap.
"Aku ingin belajar, mana ada bersenang-senang," ucap Chandika memincingkan mata tidak terima.
"Pokoknya gue mau ikut lo pindah sekolah," putus Alvis dengan seenaknya.
"Alice juga mau ikut pindah," sambung Alice. Justru gadis itu yang paling semangat untuk pindah sekolah. Alice ingin menghindari Bart yang selalu mengejar-ngejarnya di sekolah. Semenjak hari di mana peristiwa pertunangan Chandika dan Jane yang gagal, Bart selalu mengganggunya. (Bab. 58)
"Kenapa kamu juga ikut-ikutan, Danny?" tanya Chandika pada bawahan papi Jauzan itu.
"Aku ditugaskan untuk menjaga tuan muda dan nyonya muda saat di sekolah," jawab Danny jujur.
Chandika dan Cherika saling tatap. Cherika menggeleng.
"Danny, dengarkan perintahku," kata Chandika dengan serius.
"Ya, tuan muda."
"Kamu tidak usah menyamar menjadi siswa SMA lagi, aku sudah tidak perlu baby sitter lagi," ucap Chandika yang membuat Alvis menahan tawa. Sepupunya itu sudah seperti bayi saja.
"Tapi, tuan besar yang—"
"Sudahlah tidak usah kamu turuti papi lagi. Mulai sekarang kamu bekerjalah denganku," potong Chandika justru menyuruh Danny untuk membelot padanya.
"Bekerja pada tuan muda?"
"Ya, jadilah asistenku. Itu lebih baik dari pada kamu menjadi baby sitter, kan?" tawar Chandika.
"Asisten maksudnya?"
"Tangan kananku," jawab Chandika serius.
"Tapi—"
"Aku akan membicarakan ini dengan papi," final Chandika. Dia tidak butuh kata tapi, apalagi penolakan. Dia tahu jika Danny adalah orang yang setia, jadi tidak ada salahnya jika dia menjadikan Danny tangan kanannya. Mulai sekarang dia memang harus bisa mengumpulkan orang-orang yang bisa dia percaya.
"Baik, tuan muda," jawab Danny pada akhirnya.
"Ayo kita berangkat. Ini sudah terlalu siang. Nanti bisa terlambat," ucap Cherika mengintruksi.
**
SMA Tunas Harapan digegerkan dengan kedatangan dua mobil mewah. Tidak hanya murid-murid yang melongo, guru pun juga menunjukkan ekspresi yang sama.
Dua orang keluar dari masing-masing mobil.
Semuanya semakin tidak percaya jika seorang perempuan yang mereka kenali keluar dari mobil mewah itu. Gadis si penyandang beasiswa. Cherika. Belum lagi dua pemuda yang kelewat ganteng dan satu perempuan cantik yang bersama Cherika.
__ADS_1
"Itu Cherika?"
"Dengan siapa dia?"
"Murid baru?"
"Kenapa Cherika bisa bareng dengan mereka?"
"Bisa-bisanya ke sekolah dengan membawa mobil Lamborghini."
"Bukannya itu cowok yang pernah datang ke sekolah kita?"
Bisik-bisik mengiringi empat orang yang berjalan di koridor sekolah.
Chandika yang melihat jika banyak laki-laki yang melihat ke arah Cherika dia segera merangkul pundak istrinya itu. Dan tindakannya sukses membuat semua orang melotot tidak percaya.
"Lepas, Dika. Ingat kata papi," bisik Cherika mencoba melepas rangkulan Chandika.
"Biarkan saja. Aku hanya merangkul kamu. Mereka tidak akan langsung beranggapan kita pasutri," bisik Chandika cuek. "Biar mereka tahu jika kamu sudah menjadi milikku."
"Bukannya itu sama saja?"
"Bilang saja kalau kita pacaran."
Cherika terdiam. Apa tidak apa-apa jika mengaku begitu?
"Hmm, berhentilah bermesraan. Tidak tahukah kalian di sini ada jomblo?" deham Alvis yang berjalan di belakang pasutri itu, Alvis berjalan berdampingan dengan Alice.
Chandika hanya cuek saja, tidak memperdulikan sepupunya yang iri itu.
Begitu pula dengan Cherika. Dia baru ingat jika harus memberi pelajaran pada Alvis yang sudah mencekoki suaminya dengan film biru.
'Awas saja lo, Alvis,' geram Cherika di dalam hati.
Alvis tiba-tiba bergidik. "Kok merinding, ya?" gumam Alvis dengan mengusap lehernya yang tahu-tahu meremang.
"Perasaan gue nggak enak."
"Jangan dipikirkan," kata Alice menenangkan kakaknya.
Langkah mereka berhenti pada ruangan kepala sekolah.
"Kalian masuklah," ucap Cherika pada ke tiga orang yang bersamaan.
"Kamu tidak?" tanya Chandika panik. "Aku tidak mau kamu tinggal."
'Apa dia anak TK?' batin Cherika, Alvis, dan Alice sweatdrop ria.
"Aku akan ke kelas, Dika. Kamu bicaralah pada kepala sekolah tentang kelas mana yang akan kalian tempati," ujar Cherika mencoba membuat suaminya mengerti.
"Tapi aku ingin sekelas dengan kamu," kata Chandika bersikukuh.
"Ngaca, bos. Kelas lo dan gue itu IPS. Cherika itu IPA. Kalian mustahil sekelas," celetuk Alvis. Dia geregetan sekali dengan sepupunya yang manja. Ingin sekali dia menggaruk-garuk tembok untuk menghilangkan kesal dan rasa cemburunya.
'Yoes! Lo pasti bisa melewati cobaan ini, Alvis yang ganteng, yang imut, yang sexy,' batin Alvis menguatkan dirinya.
"Apa!?" Chandika baru tahu dengan kenyataan itu.
"Sudah ya," kata Cherika mengelus lengan suaminya. "Tidak apa-apa tidak sekelas. Kita masih bisa bertemu saat jam istirahat."
"Benar, bang Chan," ujar Alice ikut menyakinkan Chandika.
"Yasudah deh," jawab Chandika akhirnya.
__ADS_1
"Good boy," Cherika tersenyum dan mengacak rambut suami kecilnya itu.
"Kalau begitu ayo masuk," kata Alice yang mengetuk pintu ruang kepala sekolah, dan masuk terlebih dahulu.
Alvis mengikuti adiknya.
"Sana masuk."
"Hmm."
Chandika ikut masuk.
'Sudah seperti mengurus bayi besar saja,' batin Cherika senyam-senyum sendiri.
Cherika langsung beranjak untuk ke kelas. Langkahnya berjalan untuk berbelok.
"DOR!"
"ASTAGHFIRULLAH!" pekik Cherika terlonjak kaget.
Icha dan Clara tertawa bahagia. Mereka adalah pelaku kejutan tiba-tiba itu. Ke dua gadis itu memang mengikuti Cherika karena kepo.
"Kalian membuat gue jantungan saja!" seru Cherika kesal.
Ke dua gadis itu hanya cengengesan.
"Ngapain kalian di sini?" tanya Cherika menyelidik.
"Lo berhutang penjelasan pada kita, Cher," kata Icha.
"Tahi nih," ucap Clara.
"..."
"Eh, tahu maksudnya," koreksi Clara tertawa garing.
"Lo sudah nggak masuk sekolah 3 hari dan tiba-tiba membawa 3 anak baru ke sekolah ini. Dan itu Chandika, kan? Bagaimana bisa dia pindah ke sini?" tukas Icha dengan rasa penasaran yang sudah di ubun-ubun.
"Nanti saja gue ceritain. Gue nggak bisa cerita di sini," jelas Cherika.
"Sebegitu rahasiakah?" tanya Clara heran.
"Begitulah," jawab Cherika sekenanya.
"Ok," jawab Icha dan Clara serempak.
Ke tiga perempuan itu langsung melangkah untuk ke kelas masing-masing.
"Eh, Cher. Di kelas lo ada anak baru," kata Icha tiba-tiba.
"Anak baru?"
"Ya, cewek. Cantik banget orangnya. Dengar-dengar dia itu selebgram," ucap Clara.
Cherika hanya mengangguk, dia tidak perduli akan hal itu. Karena memang tidak ada hubungannya dengannya.
"Nah, itu dia anak barunya!" seru Icha sambil menunjuk pada seorang gadis yang sedang dikerumuni banyak laki-laki.
Sepertinya gadis itu memang sangatlah cantik.
Saat Cherika menatap gadis itu tiba-tiba saja matanya dan mata gadis itu bertemu dalam satu tatapan.
Deg.
__ADS_1
Jantung Cherika seakan berhenti berdetak.
_To Be Continued_