
Di sisi lain.
Jane berjalan di kegelapan malam. Sudah seminggu ini dia bekerja sebagi model. Dia hanya mengambil pekerjaan itu sementara saja lantaran perutnya tidak mungkin selamanya bisa disembunyikan. Memang saat ini kehamilannya belum terlihat.
TIN
Saat langkahnya tinggal sedikit lagi mencapai gedung apartemen dia mendapatkan suara klakson dari arah belakang. Si gadis blaster menghentikan langkahnya dan berbalik.
Sebuah mobil BMW hitam berhenti, dan menampakan seorang pemuda tinggi yang keluar dari mobil itu. Pemuda itu berjalan ke arah Jane.
"Nona, Jane?" tanya pemuda itu dengan sopan.
"Ya. Siapa, ya?" terlihat raut bingung dari Jane. Bagaimana bisa pemuda itu tahu namanya? Dia bahkan belum pernah bertemu dengan pemuda berperawakan tinggi itu.
"Saya Gionino Lazuardy. Kakak laki-laki Ben."
Jane terkejut saat mengetahui siapa pemuda itu. "Ada perlu apa, ya?"
"Maaf, sebelumnya apa kita boleh mengobrol di tempat yang lebih nyaman?" ucap Gionino dengan hati-hati.
Jane menatap menyelidik pada Gionino. Sebenarnya ada urusan apa kakak dari Ben ini? Lagi pula dia sudah tidak ada hubungan apapun dengan Ben.
"Kenapa tidak bicara di sini saja," kata Jane karena dia harus waspada terhadap laki-laki di depannya itu. Siapa yang tahu jika Gionino tidak kalah bejatnya dari Ben.
"Saya merasa kurang sopan saja jika mengajak berbicara seorang gadis di pinggir jalan," jelas Gionino dengan ekspresi sungguh-sungguh.
"Mau bicara di mana?" tanya Jane setelah melihat ekspresi Gionino.
Gionino tidak menjawab, pandangan pemuda itu jatuh pada seseorang yang berjalan ke arah dirinya dan Jane. Terlihat sekali raut keterkejutan dari pemuda itu.
"Ada apa?" tanya Danny yang tahu-tahu sudah di samping Jane.
Jane tertegun melihat pemuda yang akhir-akhir ini sudah banyak membantunya. Hubungannya dengan Danny bisa dikatakan sudah lebih dekat dibandingkan sebelumnya.
"Anda bukannya pewaris keluarga Lazuardy? Ada perlu apa dengan Jane?" lanjut Danny dengan nada yang tidak bersahabat. Perlu digarisbawahi Danny memang mempunyai dendam terhadap keluarga Lazuardy.
Keluarga yang telah membuat kakak perempuannya meninggal.
"Anda?"
"Anda kenal dengan saya?" Danny mengeryit karena respon Gionino.
"Ah, tidak," jawab Gionino seolah menyembunyikan sesuatu.
Danny mengangkat alisnya menatap aneh Gionino.
__ADS_1
"Saya hanya ingin berbicara dengan, nona Jane," lanjut Gionino kemudian.
"Membicarakan apa?"
"Ah itu..."
"Sebaiknya kita cari tempat," ucap Jane memotong perkataan Gionino. "Saya akan bersama teman saya, apa anda keberatan?"
Jane berpikir sebaiknya dia mengajak Danny untuk berjaga-jaga jika Gionino akan berbuat jahat padanya. Danny cukup bisa diandalkan akan hal itu.
"Baiklah, mari ikut saja," kata Gionino menyanggupi. Meskipun ada rasa was-was dihatinya ketika melihat Danny.
"Ayo ikut naik mobil gue, kita ikuti dia dari belakang," kata Danny menarik Jane menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh dari situ.
**
Di dalam mobil BMW yang Gionino tumpangi.
"Hans, apakah kamu tahu jika Danny dekat dengan nona Jane?" tanya Gionino pada Hans yang sedang menyetir mobil.
"Saya tidak tahu, tuan," jawab Hans apa adanya.
"Bagaimana ini bisa terjadi? Danny dia adalah adik dari ibu kandung Ben, tapi justru dekat dengan perempuan yang tengah mengandung anak Ben," kata Gionino dengan mengatakan kenyataan yang terpendam begitu rapi sejak lama.
"Mungkin mereka hanya teman, tuan," ucap Hans berspekulasi.
**
Di restoran tempat berkumpulnya Jane, Danny, dan Gionino.
"Sebelumnya saja minta maaf karena sudah menganggu," kata Gionino yang membuka pembicaraan.
"Ya, tidak apa-apa," jawab Jane setengah hati. Sejujurnya dia memang merasa terganggu. Waktu istirahatnya jadi terbuang, bukan kenapa-kenapa dia hanya mengkhawatirkan kondisi kehamilannya karena sejak pagi dia terlalu sibuk bekerja.
Sekarang sudah pukul 1 dini hari. Setiap hari dia selalu pulang larut, dan ini demi bisa mengumpulkan uang untuk persalinannya kelak. Jane sudah tidak mempunyai siapa-siapa sekarang. Mau tidak mau dia harus bisa menghandle semuanya sendiri.
"Jadi apa yang ingin anda bicarakan?" tanya Jane pada intinya.
"Ini soal anak yang dikandung nona Jane," ucap Gionino yang membuat Jane menegang dan refleks memegang perut ratanya.
"Kenapa?" tanya Jane dengan dingin.
"Saya tahu jika itu adalah anak dari Ben. Kalau boleh, apa bisa saja bertanggungjawab akan anak itu?"
BRAK
__ADS_1
Danny menggebrak meja dengan kepalan tangannya. "Maksud anda apa? Bukannya adik anda yang membuat hidup Jane hancur? Kenapa justru anda yang bertanggungjawab? Kemana adik anda yang pengecut itu?" desis Danny marah. Ini benar-benar mengingatkan dirinya pada masa lalu.
Kakak perempuannya yang saat itu berumur 15 tahun telah dinodai oleh si tua bangka Lazuardy dan tidak ada tanggungjawab sama sekali dari Edward. Hingga kakaknya frustasi dan mengakhiri hidupnya saat hamil tua. Saat itu Danny yang berumur 5 tahun harus menyaksikan betapa terpuruknya kakak perempuannya.
Namun, kenyataan sebenarnya. Kakak perempuan Danny sempat melahirkan terlebih dahulu sebelum bunuh diri. Dan anak yang telah dilahirkan diculik oleh Edward untuk dibesarkan sebagai alat untuk memenuhi ambisi Edward.
Dan Danny yang masih kecil tidak tahu tentang itu.
"Maksudnya. Saya akan bertanggungjawab membiayai segala kebutuhan anak itu kelak," lanjut Gionino. "Ben, dia tidak ingin bertanggungjawab."
"Tidak perlu," kata Jane dengan mengepalkan tangannya. "Saya akan membiayai anak ini sendiri. Anda tidak usah ikut campur dan khawatir akan hal itu. Aku pun tidak mengemis pertanggungjawaban dari Ben sama sekali."
"Tapi, nona—"
"Anda tidak dengar? Jane tidak membutuhkan belas kasihan dari keluarga Lazuardy," kata Danny memotong perkataan Gionino. "Lagi pula akulah yang akan menikahi Jane."
Seketika Gionino dan Jane terkejut akan perkataan Danny.
"Danny lo..." kata Jane tercekat, lidahnya keluh mendadak. Apa Danny serius? Pemuda itu akan menikahi wanita hamil sepertinya?
"Kita permisi dulu," tukas Danny dan menarik Jane untuk bangkit dan pergi dari restauran itu.
**
Di depan pintu kamar apartemen Jane.
"Gue serius dengan apa yang tadi gue bilang," ungkap Danny setelah sejak tadi mereka saling diam.
"Tapi kenapa? Apa lo menyukai gue?" tanya Jane menatap tepat di manik hitam di balik kacamata Danny.
"Bukan seperti itu, gue hanya nggak ingin lo bernasib sama seperti kakak perempuan gue," kata Danny yang membuat hati Jane tercubit.
"Jadi lo cuman kasihan dengan gue?" lirih Jane dengan meremas tas jinjingnya.
"Bukan seperti itu juga, lo cewek yang kuat. Dari segi mana yang membuat gue berbelas kasih?" sangkal Danny.
Jane menarik napas berat. "Gue nggak mau menikah dengan lo."
"Kenapa? Bukankah lebih baik jika gue melindungi lo? Bukankah lo sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi? Gue bersedia untuk menjadi tempat bersandar untuk lo, Jane," ucap Danny dengan ekspresi serius.
"Tidak. Kita tidak saling mencintai, Danny. Lo cuman menjadikan gue sebagai tempat penebus rasa bersalah lo terhadap kakak perempuan lo."
Danny terdiam. Yang dikatakan Jane tidak sepenuhnya salah. Ketika melihat Jane dia selalu teringat dengan kakaknya.
"Urungkan niat lo. Gue masuk dulu."
__ADS_1
Jane masuk ke dalam kamar apartemen miliknya meninggalkan Danny dengan perasaan rumit pemuda itu.
_To Be Continued_