
"Kediaman sedang di serang bocah-bocah ingusan yang membawa senjata api, tuan," kata pria serba hitam pada Alvin yang mata kirinya dibalut perban.
"Sudah saya tunggu, si anak Jauzan pasti akan mencoba menjadi pahlawan untuk menyelamatkan Alvis," kata Alvin dengan menyeringai. "Umpan sudah dimakan, dan tinggal mengeksekusi."
"Lalu bagaimana untuk menghentikan bocah berandal itu, tuan?"
"Suruh para mafia bayaran untuk mengatasi."
Alvin mempunyai 300 bodyguard dan 800 mafia bayaran, dia sengaja bekerja sama dengan mafia untuk mengantisipasi kejadian seperti ini, dan dia juga sangat tahu jika Chandika dan Bruiser akan datang ke sarang harimau.
"Nyawamu tidak akan selamat lagi, putra Jauzan."
**
Di gerbang utama.
DOR
DOR
DOR
CRASH
CRASH
"Bocah, Bangs**! Ugh.."
Suara tembakan dan darah mengalir menjadi pemandangan malam yang panjang ini.
DOR
Samurai milik Kelvin berhasil membelah peluru menjadi dua bagian. "Tidak semudah itu, paman," ucap Kelvin dan langsung menebas mafia bayaran yang tadi menembaknya.
DOR
"Mereka tidak ada habisnya, Kelvin," kata Justin sambil menembak pria yang mengarahkan moncong pistol padanya.
"Ck, apa lo sudah lelah?" ejek Kelvin pada Justin yang tidak menunjukan ekspresi lelah sama sekali.
"Gundulmu itu!"
DOR
Sebuah peluru hampir saja menggores bahu Justin, tapi pemuda itu langsung bersembunyi di balik pilar.
DOR
Tembakan dari revolver Justin telah bersarang di kepala pria yang hampir menembaknya itu. "Gue bingung, kenapa orang-orang di sekitar sini nggak terusik dengan suara-suara tembakan dari kediaman ini, ya?" tanya Justin pada Kelvin yang sedang menebas dua pria besar sekaligus.
"Daerah ini adalah milik Adhideva, rumah-rumah yang tadi kita lewati itu juga milik Adhideva, wilayah rumahnya sampai ujung ke ujung daerah ini."
"Eh buset! Bos kita tajir banget ternyata," kata Justin terperanjat.
"Bokapnya yang tajir."
"Sama saja, pasti bos kecipratan duitnya juga."
DOR
DOR
__ADS_1
"Sial!" sebuah peluru mengenai paha Kelvin. "Gara-gara lu ngajakin ngomong terus!" seru Kelvin marah pada Justin dengan wajah yang meringis.
"Hohoho, sorry," kata Justin malah tertawa mengejek
Pria berpakaian hitam terus saja muncul, seakan tidak ada habisnya. Keringat kedua pemuda itu mengucur, mereka berdua terlihat sudah agak kelelahan.
"Enyahlah!" seru Kelvin menusuk perut pria di depannya, pahanya sangat nyeri dan luka tembaknya hanya dia ikat dengan kain untuk mencegah darah keluar lebih banyak lagi.
"Kelvin, are you ok?" tanya Justin yang kini merasa bersalah pada Kelvin.
"Ini nggak masalah buat gue."
"Peluru gue sebentar lagi akan habis."
"Nggak bisa diandalkan."
"Mereka terlalu banyak, Kelvin. Kalau seperti ini terus kita akan kalah telak."
DOR
DOR
Mereka berdua kini sedang bersembunyi di balik tembok untuk berlindung, karena para pria berpakaian hitam yang baru sama muncul sudah menembak membabi buta.
"Kita hanya sebagai umpan, yang terpenting Heaven bisa diselamatkan."
"Ya."
DOR
DOR
DOR
"Heh, lo berdua sudah kayak tikus kejepit saja," ejek pemuda yang baru saja datang itu, ada 40 pemuda yang mengikutinya dari belakang, mereka masing-masing membawa pistol glock.
"Lo Ignancio?" tanya Kelvin masih menatap kaget kedatangan si wakil geng Aodra, si musuh bebuyutan.
"Ya iyalah, lo kira gue demit," kata Ignancio sewot.
"Lo ngapain ke sini?" tanya Justin, dia melihat pemuda-pemuda yang tadi datang bersama Ignancio langsung menembaki para pria berpakaian hitam.
"Kita mau bermain marawis."
Kelvin dan Justin hanya speechless mendengar jawaban asal-asalan Ignancio.
"Kalau bukan bos yang merengek dan menangis supaya Aodra membantu geng Bruiser, gue nggak akan mau bergabung dengan kalian untuk menyelamatkan Heaven," sambung Ignancio memicingkan mata.
Ya, ini semua karena Cherika yang sudah menyuruh Aodra turut membantu.
"Maksud lo Cherika yang menyuruh?" tanya Kelvin memastikan.
"Ya. Sudah nggak usah bawel, ini pistol untuk kalian berdua," ucap Ignancio dengan melemparkan pistol glock hitam.
"Darimana lo dapat pistol-pistol ini?" tanya Justin heran, pasalnya pistol adalah benda ilegal yang harus mendapatkan izin penggunaan, dia saja harus merakit sendiri agar bisa memiliki berbagai jenis senjata api.
"Bokap gue itu pemimpin mafia, bukan hal mudah buat gue mendapatkannya," jawab Ignancio seadanya.
"Apa? Anak yang kelihatan bodoh kayak lo adalah anak dari pemimpin mafia?" kata Justin tidak percaya.
"Sialan lo!" maki Ignancio tidak terima. "Gue kasih tahu ke kalian, mafia yang di bayar oleh Adhideva adalah musuh dari bokap gue, jadi gue nggak akan tanggung-tanggung untuk melawan mereka," lanjut Ignancio dengan wajah yang berubah menjadi datar.
__ADS_1
"Ya, kita juga nggak segan untuk membunuh mereka," kata Kelvin langsung berdiri tadi duduk bersandar di tembok.
"Jika lo ngerepotin, pulang saja," kata Ignancio yang melihat paha Kelvin yang tertembak.
"Hanya luka kecil."
"Baiklah, hanya kali ini geng Aodra dan geng Bruiser bergabung," kata Ignancio, dan mereka bertiga langsung menembaki lawan, bergabung dengan 40 pemuda yang datang bersama Ignancio.
**
"Lo yakin ini jalannya?" tanya Chandika pada Galen.
"Ya."
"Hei, kalian sedang apa berjalan mengendap seperti itu?" tanya pria berpakaian hitam yang sedang berjalan ke arah mereka. "Jangan bermain-main, sekarang sedang ada keadaan yang mendesak, siapkan senjata kalian!"
Seketika ke dua pemuda itu langsung berdiri tegak, mereka memang sedang menyamar sebagai mafia bayaran. "Baik!" seru mereka serempak.
"Ah, kalian anak baru? Kenapa wajah kalian tidak familiar?" kata pria itu membuat Chandika dan Galen menegang.
"Y-ya, sir," jawab Galen dengan gugup.
"Password?" tanya pria itu dengan menatap curiga pada ke dua pemuda di depannya.
Chandika dan Galen hanya saling pandang dan memberikan isyarat dengan tatapan mata untuk segera melarikan diri.
Namun, sebuah moncong pistol langsung diarahkan ke tengah kepala Chandika. "Berani-beraninya kalian menyusup, saya sangat hafal wajah-wajah anggota mafia yang lain, tidak ada anak baru yang bergabung sejak kemarin," kata pria itu menatap nyalang pemuda di depannya.
"Sepertinya anda salah paham," kata Chandika masih dengan ekspresi tenang.
"Maksudmu?" tanya si pria dengan mengeryit bingung.
Chandika langsung menarik kerah kemeja pria itu dan langsung mencolok ke dua matanya dengan jari telunjuk dan tengah.
"ARGH.. Mataku!"
DUAK
Galen langsung menendang lutut bagian belakang pria itu dan langsung mengambil pistol yang tadi digunakan untuk mengancam Chandika.
DOR
Peluru langsung menembus pelipis pria itu. "Gue bukan penyusup, tapi gue adalah orang yang akan membunuh lo," ucap Galen yang membuat Chandika merinding.
Chandika tidak menyangka, Galen yang bermuka polos seakan hanya tahu bermain komputer bisa menembak orang dengan sangat mudahnya. Pasalnya, dirinya saja tidak mungkin tega membunuh, dia hanya berani sampai membuat orang pingsan saja.
Suara tembakan dari tempat Chandika dan Galen sangatlah nyaring, dan itu menyebabkan beberapa mafia datang ke tempat mereka berdua.
"Gue yang akan mengurus mereka, lo segera ke ruang bawah tanah dan selamatkan Heaven," ucap Galen yang membuat Chandika mengangguk. "Ruang bawah tanah ada di lantai dua dan jalan masuknya ada di kamar paling ujung."
"Ya, hati-hatilah," kata Chandika langsung bergegas ke arah tangga, meninggalkan Galen yang sudah siap menembak para mafia yang berdatangan.
DOR
DOR
DOR
Chandika melangkah cepat di anak tangga, tidak mengacuhkan suara-suara tembakan yang saling sahutan, langkah lebarnya sampai di lorong panjang dan segera mencari pintu kamar paling ujung.
Segera dia buka kenop pintu berwarna coklat dengan ukiran gold. Namun, sebuah tongkat baseball tiba-tiba saja mengarah padanya.
__ADS_1
BUG
_To Be Continued_