
"Uhuk.. uhuk.."
Albert kaget saat melihat cucu kesayangannya tersedak.
"Oh my, sayang, ini minum," kata Aminta segera memberi air putih pada Chandika. "Hati-hati saat makan," lanjutnya sambil mengelus pundak putranya.
Chandika segera meneguk habis air yang diberi sang ibunda tadi.
"Kamu tidak kenapa-kenapa, cucuku?" tanya Albert pada Chandika, masih jelas raut khawatir di wajah keriputnya.
"I'm ok," jawab Chandika kalem.
Meskipun bersifat dingin dan menyeramkan, Albert sangatlah menyayangi cucu satu-satunya itu. Albert memang tidak secara langsung menunjukan rasa sayangnya. Bahkan dia sengaja melakukan perjodohan ini agar cucunya bahagia, dia tahu jika Chandika sangat menyukai Jane.
Namun, bagi Chandika asli, sosok kakeknya adalah pria tua yang selalu bersifat dingin dan itu membuatnya takut.
"Kakek tidak usah membeli restauran ini," sambung Chandika kemudian, dia tidak habis pikir dengan si kakek Aldebaron, bisa-bisanya mengatakan ingin membeli restauran seperti ingin membeli cabai.
"Baiklah," jawab Albert dingin mendengar penolakan cucunya.
"Apakah kakek tsundere?" tanya Chandika keceplosan.
"Tsundere? apa itu?" tanya Albert bingung.
"Ah, lupakan," jawab Chandika merutuki mulutnya yang lupa di rem.
"Sekretaris Theo," panggil Albert pada pria berpakaian formal yang sejak tadi berdiri di belakangnya.
"Ada apa, tuan?" tanya sekretaris Theo yang sudah mendekat pada Albert.
"Cari tahu tentang tsundere," kata Albert yang membuat Chandika sweatdrop.
"Baik, tuan," jawab sekertaris Theo menyanggupi.
Aminta langsung menyenggol lengan putranya agar tidak berbicara macam-macam lagi dengan sang kakek.
"Baiklah, saya akan mulai membahas perjodohan Chandika dengan Jane," kata Albert kemudian. "Apakah kalian berdua setuju untuk bertunangan?" tanyanya melihat Chandika dan Jane bergantian.
"Aku setuju," jawab Jane dengan cepat.
Chandika hanya mengangguk.
"Mereka memang sangat cocok," ucap Ridwan tertawa renyah.
"Kita akan segera menjadi besan, Aminta," kata Emily pada Aminta yang hanya tersenyum.
"Baguslah jika kalian setuju dan pihak keluarga juga senang," lanjut Albert dengan datar.
"Sebaiknya kita segera menetapkan tanggal pertunangannya," kata Ridwan, dia sangat senang karena akan memiliki menantu penerus keluarga terkaya di dunia.
"Bagaimana jika tiga minggu lagi," ucap Albert.
"Lebih cepat memang lebih baik," sahut Emily senang.
Seketika Jane tersenyum lebar, tidak lama lagi dia bisa bersama Chandika selama-lamanya.
Chandika hanya diam saja, hatinya ngilu.
Aminta melihat ekspresi putranya yang terlihat tidak senang, dia tahu jika Chandika sudah tidak mencintainya Jane, tapi kenapa putranya bersedia untuk dijodohkan?
__ADS_1
"Saya akan segera mempersiapkan semuanya," kata Albert yang tidak menyadari ekpresi cucunya.
Setelah pembicaraan itu dan menyantap makanan penutup, mereka langsung meninggalkan restauran untuk kembali ke kediaman masing-masing.
"Sekertaris Theo," kata Albert yang sudah berada di dalam mobil Bugatti Centodieci. "Apakah yang saya lakukan sudah benar?"
"Ya, tuan. Bukankah anda melakukannya demi kebahagiaan tuan muda," jawab sekertaris Theo yang sedang mengemudi.
'Istriku, semoga ini adalah hal yang terbaik,' batin Albert mengenang sang istri yang sudah meninggal 5 tahun yang lalu.
**
"Jane, kamu yakin ingin bertunangan dengan Chandika?" tanya Emily pada anaknya yang duduk di sebelahnya.
"Yakin. Jane sangat mencintainya," kata gadis blaster dengan berseri-seri.
"Tapi setahu mama, kamu sangat membenci Chandika, bahkan kamu berpacaran dengan anak Lazuardy," kata Emily kemudian.
"Sekarang aku baru menyadarinya, dulu aku hanya terlalu egois untuk mengakui perasaanku," ucap Jane menjelaskan. "Dan aku sudah putus dengan Ben."
"Syukurlah jika kamu sudah sadar, Jane. Papa juga tidak suka kamu menjalin hubungan dengan anak Lazuardy yang tidak ada harganya itu," kata Ridwan yang sedang mengemudi di bangku depan. "Dia tidak ada apa-apa jika dibandingkan dengan Chandika yang putra tunggal keluarga Aldebaron."
Ridwan adalah seorang yang ambisius.
"Ya. Aku memang terlalu bodoh saat itu," kata Jane dengan menatap sendu keluar jendela.
"Kamu harus menjadi gadis yang pintar, Jane. Dengan kekuasaan dan kekayaan Aldebaron, pasti papa tidak akan susah lagi dan memakan uang rakyat," ucap Ridwan dengan senyum licik.
"Ja-jadi papa selama ini??" tanya Jane kaget, dia baru tahu jika ayahnya melakukan korupsi.
"Jika papa tidak melakukannya. Hidupmu tidak akan bisa semewah ini, kamu tahu sendiri kan, mamamu sudah tidak menjadi artis Hollywood lagi."
Jane melirik ibunya.
Gadis blaster itu tidak bisa berkata-kata.
'Apakah aku harus memanfaatkan Chandika seperti yang papa bilang?'
**
Sesampainya di mansion, Chandika langsung bergegas ke kamarnya untuk membersihkan diri.
"Rasanya ingin berendam air hangat," ucapnya sambil melepas kancing kemeja putih, terlihat roti sobek yang sangat menggoda iman.
Glek
Pemuda itu menelan savila berat, sepertinya dia akan bermain-main sebentar dengan tubuh ganteng ini, tidak apa-apa jika dia tidak bisa mendapatkan hati si pemuda, tapi sekarang kan tubuh ini miliknya.
"Jadi gue bebas dong," gumamnya menatap pantulan di kaca kamar mandi. "Emang enak lo, Jane. Lo bakalan dapet Chandika yang sudah menjadi bekas gue," lanjutnya dengan tertawa setan.
"What am I now? What am I now?"
"What if I'm someone I don't want around?"
"I'm falling again, I'm falling again, I'm falling."
"What if I'm down? What if I'm out?
What if I'm someone you won't talk about?"
"I'm falling again, I'm falling again, I'm falling."
__ADS_1
Senandung Chandika menyanyikan lagu falling—Harry Styles, sambil melakukan niat jahatnya.
Sudah satu jam berendam, dia keluar kamar mandi dengan hanya lilitan handuk di pinggang dan wajah yang memerah.
"Omg, ternyata gue mesum baget," ucapnya dengan menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Maafin gue ya, Chan," lanjutnya kemudian.
Pemuda itu langsung menggambil pakaian di almari dan memakai piyama biru dongker. Kemudian dia berjalan ke meja belajar, dia ingat jika ada PR yang harus dikerjakan.
Pikiran boleh kalut, tapi PR adalah tugas Negera.
Chandika mendudukkan bokongnya di kursi, dan mulai mengerjakan soal fisika yang cukup menguras otak.
"Kok ballpoint macet sih," gerutunya dan mencari-cari ballpoint baru, dia membuka semua laci.
Namun, pergerakannya berhenti saat menemukan sebuah buku novel yang familiar. Chandika mengambil novel yang berjudul Jane Eyre.
"I-ini kan," katanya tercekat.
Chandika segera membuka novel itu, memeriksa bagian belakang buku, dia melihat ada sebuah tulisan anak kecil.
Punya princess
Kata Abang, mama telah pergi jauh
Hanya novel ini yang aku miliki
Ini adalah kenangan dari mama
Novel ini sangat berharga bagiku
Jika novel ini hilang, tolong kembalikan ya~
"Novel milik gue," lanjutnya terkejut. "Bagaimana bisa ada pada Chandika?"
DEG
..."Ini untukmu."...
..."Ini adalah buku favolitku, kamu halus menjaganya ya."...
..."Tapi, kenapa kamu kasih padaku?"...
..."Kalena Jane Eyli akan melindungimu, kata mamaku Jane adalah seolang gadis yang sangat hebat!"...
..."Be-benalkah?"...
..."Ya! Jadi kamu tidak akan teluka lagi."...
Brak
Dia menjatuhkan novel itu karena lemas seketika.
Tes
Tes
Tes
Air mata turun dari kedua matanya.
"Jadi, Chandika adalah anak laki-laki itu? Bagaimana bisa gue melupakannya?"
__ADS_1
_To Be Continued_