
Di sebuah kastil yang terpelihara dengan baik, yang berada di tengah-tengah gunung bersalju. Kasti itu dibangun dalam bentuk persegi, dikelilingi benteng dan parit yang begitu dalam.
Interior kastil terkesan dengan kekayaan dan keindahannya. Aula dan ruangan bernuansa putih dan gold, terdapat lukisan-lukisan yang begitu tua, Cermin, dan Mosaik.
"Ugh.." erang seorang pemuda membuka kedua matanya, badannya terasa remuk dan sakit saat dia bangkit dari posisi tidur. Dia memposisikan dirinya untuk duduk di bibir ranjang.
Nyalanya api unggun di sudut ruangan membuat kamar yang sedang ditempatinya menjadi hangat, padahal di luar sedang terjadi badai salju.
Pemuda itu melihat keadaannya, seluruh tubuh sudah terbalut dengan perban. Dia ingat seharusnya dia telah mati karena tercabik-cabik oleh beruang salju. Tapi sepertinya ada yang datang menolongnya.
Tok tok
Ketukan pintu mengalihkan lamunannya, dia menatap daun pintu terbuka dan menampakan sesosok perempuan berambut hitam sepinggang, mungil, dan terlihat sangat rapuh.
"Tuan, kamu sudah bangun?" tanya gadis mungil itu mendekat padanya.
Dia dapat dengan jelas melihat wajah si perempuan. Sangat cantik dengan mata besar seperti boneka.
Pemuda itu mengangguk. "Apakah kamu yang sudah menolong aku?" tukasnya masih menatap tidak berkedip gadis cantik yang sekarang sudah berdiri di hadapannya.
"Ya, tuan. Aku menemukan kamu sedang terbujur sekarat dengan luka cabik dari beruang, aku kebetulan sedang berjalan-jalan di sekitar untuk mencari kayu bakar," jelas gadis belo itu.
"Mencari kayu bakar di tengah badai salju?" tanya pemuda itu tidak percaya. Gadis di depannya terlihat sangat rapuh, tidak mungkin bisa melakukan hal itu.
"Ya, aku adalah putri penyihir kastil, badai salju dan binatang-binatang buas tidak akan bisa menyakitiku," kata gadis itu jujur. "Seorang penyihir kastil adalah orang terkutuk yang memiliki sihir yang luar biasa dan aku memiliki kekuatan itu."
Pemuda itu terkejut mendengarnya.
"Tidak usah takut padaku, tuan," lanjut gadis belo yang mengartikan ekspresi terkejutnya sebagai rasa takut. "Aku tahu jika orang diluar kastil sangat takut dan membenci penyihir kastil seperti aku dan ibuku."
"Tidak, aku tidak takut padamu, aku hanya terkejut saja," sangkal si pemuda. "Aku terkejut karena mengetahui fakta kalau penyihir kastil sangatlah cantik sepertimu, padahal rumor mengatakan jika penyihir kastil sangatlah menyeramkan dan buruk rupa."
Gadis itu hanya tertawa pelan mendengar perkataan si pemuda. "Terima kasih karena mengatakan kalau aku cantik," kata gadis belo sedikit bersemu merah.
Pemuda bersurai hitam legam terpesona karena melihat si gadis tertawa. "Siapa namamu?" tanyanya tanpa mengalihkan tatapannya pada si wajah ayu.
"Ellisha. Kalau tuan sendiri?" tukas Ellisha tersenyum manis.
"Namaku Felix."
"Salam kenal tuan Felix," kata Ellisha dengan menunduk dan mengangkat sedikit roknya dengan sopan.
Meskipun dia tidak pernah bertemu orang asing sebelumnya, Ellisha sudah diajarkan tata krama oleh sang ibunda. Ellisha selalu di larang untung pergi terlalu jauh dari kastil. Alasannya karena Cynderyn tidak mau jika putrinya akan di sakiti manusia lain yang sangat membenci penyihir kastil yang dianggap terkutuk, kekuatan sihir Ellisha masih belum sekuat Cynderyn.
__ADS_1
"Terima kasih telah menolongku, Ellisha," kata Felix dengan tersenyum tipis.
"Tidak masalah, tuan. Ibuku dan kakak laki-lakiku sedang pergi ke negri lain karena ada urusan, jadi aku bisa membawamu ke kastil ini. Jika mereka ada di sini, mungkin aku tidak bisa menolong kamu," ucap Ellisha apa adanya.
"Memang kenapa jika ada ibumu dan kakakmu?" tanya Felix heran.
"Mereka tidak semudah itu mempercayai manusia lain, tuan tahu sendiri jika kami dibenci karena terkutuk," jelas gadis belo.
"Lalu kenapa kamu dengan mudahnya menolongku?" tanya Felix lagi.
"Entahlah, aku tidak tega melihatmu saat itu," jawab Ellisha.
"Hanya itu?"
"Ya, tuan."
Felix menatap Ellisha dalam, dia tidak menyangka jika gadis itu menolongnya karena alasan manusiawi, bukan karena harta atau tahta yang dia miliki. Ellisha memiliki hati yang tulus.
"Biarkan aku merawat lukamu, tuan. Jika kamu sudah sembuh, segeralah pergi dari kastil ini," kata Ellisha yang membuat hati Felix berdeyut tidak enak.
Pemuda itu tidak ingin pergi dari kastil ini tanpa membawa Ellisha untuk dia nikahi, dia sudah jatuh cinta pada gadis baik hati itu.
Ellisha segera mengobati luka-luka Felix dengan sihirnya, gadis itu cukup mahir dalam pengobatan dengan menggunakan sihir. Tapi luka pemuda itu sangatlah parah, jadi cukup memakan beberapa hari untuk sembuh. Dia berharap Felix akan pulih sebelum Cynderyn dan Eros kembali.
Seminggu sudah berlalu. Felix kini telah pulih, luka-lukanya sudah sembuh dan tidak berbekas. Felix dan Ellisha juga sudah menjadi semakin dekat, sudah tidak ada perasaan canggung seperti pertama kali mereka mengobrol.
"Tuan, kamu sudah pulih. Bisakah kamu pergi dari kastil ini? Aku khawatir jika ibu dan kakak akan segera kembali. Mereka pasti akan mengusirmu atau bahkan dibunuh," kata Ellisha yang sedang duduk di kursi kayu ruang utama, api unggun di cerobong asap memberikan kehangatan.
"Aku tidak ingin pergi, Ellisha," ucap Felix yang duduk di sebelah gadis itu.
"Kenapa?" tanya Ellisha heran.
"Aku tidak bisa meninggalkan kamu. Jika aku pergi, aku akan membawamu bersamaku," ujar Felix yang membuat Ellisha kaget.
"Ja-jangan bercanda, tuan," kata Ellisha dengan gugup.
Felix langsung memegang ke dua tangan Ellisha, dia mencium ke dua punggung tangan milik gadis itu. "Aku mencintaimu. menikahlah denganku, Ellisha," kata Felix dengan tatapan mendamba pada Ellisha.
Jantung Ellisha berdetak dengan cepat, dia merasakan berjutan kupu-kupu berkumpul di hatinya.
"Aku mencintaimu karena kamu telah menyelamatkan dan merawat aku dengan tulus, dan bukan karena hal lain. Aku terus jatuh hati kepadamu setiap hari." sambung pemuda bersurai hitam legam sambil menaruh satu telapak tangan Ellisha di pipinya.
Wajah Ellisha sudah memerah seutuhnya, dia memberanikan diri untuk mengusap pipi Felix lembut.
__ADS_1
Felix menikmati usapan gadis itu dengan mata yang terpejam.
Kalau boleh jujur Ellisha juga sudah jatuh hati pada pemuda itu, pemuda yang sangat tampan melebih sang kakak. Seminggu dengan Felix sangatlah membuatnya bahagia, pemuda itu membuat nyaman dengan sifat lembut dan perhatiannya. Rasa sukanya pada Felix melebihi rasanya pada Eros.
Apakah ini cinta yang sesungguhnya?
"Aku mencintaimu," kata Felix menyadarkan Ellisha.
"Ellisha, aku mencintaimu," ucap Felix sekali lagi. Dia menuntut jawaban dari gadis pujaannya.
"Aku juga mencintaimu, tuan," ucap Ellisha menatap mata hitam kelam Felix, mata yang menatapnya penuh rasa cinta.
Felix tersenyum bahagia karena Ellisha juga mencintai dirinya, ingin rasanya dia meloncat gembira.
"Terima kasih," kata Felix langsung memeluk si gadis mungil. "Terima kasih telah mencintai aku."
Ellisha membalas pelukan hangat Felix, dia mengangguk dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang Felix.
Malam dengan salju yang turun dengan indahnya menjadi saksi kebahagiaan mereka berdua. Namun, mereka tidak tahu jika hidup akan memaksa untuk menjauhkan hati dari seseorang yang di cintai.
.
.
Tok
Tok
Ketukan pintu pada kamarnya membuat Chandika terbangun dari tidurnya.
Dia merasa linglung sesaat. Chandika merasa bermimpi tadi, tapi lupa dengan mimpinya barusan. Namun, hatinya merasa bahagia entah karena apa.
Tok
Tok
"Chan, bangun.." kata Aminta dengan mengetok sekali lagi.
Chandika segera bangkit dari tempat tidurnya dan membuka pintu.
"Ada apa mami?"
"Kamu tidak sekolah? Ini sudah jam 7 pagi," tukas Aminta mengomel.
__ADS_1
Chandika kaget seketika, dia kesiangan lagi. Benar-benar Deja vu.
_To Be Continued_