
"Kenapa kamu marah?" tanya Chandika dengan berkaca-kaca.
"Nggak, gue nggak marah kok. Sudah jangan menangis," kata Cherika panik karena Chandika terlihat ingin menangis. Dia lupa jika pemuda di hadapannya sangatlah mudah menangis.
"Benaran tidak marah?" tanya Chandika memastikan.
"Ya," jawab Cherika mantap.
"Jadi, jika aku mencium kamu lagi, kamu tidak akan marah?" tanya Chandika dengan wajah memelas.
"Nggak. Ah, maksud gue nggak boleh cium, lo cium Jane saja," kata Cherika gelagapan.
"Aku tidak mau mencium Jane," uncap Chandika yang membuat si gadis belo mengeryit bingung.
"Kenapa? Kalian kan sudah bertunangan," tukas Cherika heran.
Chandika merenggut tidak suka.
"Oh, gue lupa pertunangan kalian batal karena kejadian itu. Tapi kan lo bisa menentukan hari pertunangan lagi, jadi kalian bisa—"
"Sttt," potong Chandika dengan menempelkan jari telunjuknya pada bibir tipis Cherika. "Aku tidak ingin bertunangan dengan Jane."
"Kenapa? Bukannya lo menyukai Jane?" tanya Cherika terheran-heran.
Chandika yang sejak tadi berdiri, kini dia duduk di bibir ranjang. Cherika bergeser memberi ruang untuk pemuda itu.
"Aku sudah tidak menyukainya," kata Chandika menatap intens Cherika.
"Lo sudah move on?" tanya Cherika terkejut.
"Ya. Kan kamu yang menyuruh untuk melupakannya," jawab Chandika dengan mengungkit masa lalu.
"Gue kira lo belum move on dari Jane, makannya gue mau-mau saja saat lo akan bertunangan dengannya," kata Cherika dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, dia merutuki kesalahan yang telah dia lakukan.
"Tidak usah dipikirkan, aku bisa membatalkan pertunangan itu," ucap Chandika tanpa beban.
"Bisakah seperti itu? Bukankah itu adalah perjodohan bisnis?" tanya Cherika bingung. Setahunya perjodohan bisnis tidak mudah untuk ditolak atau dibatalkan. Dia mengetahuinya dari film sinetron yang sering Nathan tonton, abangnya itu memang suka menonton sinetron di ikan terbang.
"Siapa bilang perjodohan bisnis?" tanya Chandika bukannya menjawab.
"Kata gue," jawab Cherika ngasal.
Chandika menahan gemas melihat Cherika yang menjawab asal seperti itu, ingin rasanya dia mencium berkali-kali gadis itu, tapi dia harus bersikap seperti Chandika yang imut dan polos.
Meskipun Chandika sudah ingat tentang kehidupan masa lalunya. Namun, tidak dengan Cherika yang masih belum mengingatnya.
Cherika seakan menolak tentang ingatan dirinya sebagai Ellisha.
Ingatan Ellisha memang terlalu buruk untuk kembali Cherika ingat, tidak apa-apa jika Cherika tidak ingat dirinya sebagai Felix. Chandika hanya perlu mencintai dan melindungi gadis itu kembali.
"Itu bukan perjodohan bisnis, aku dapat dengan mudah membatalkannya. Selama ini tidak ada yang pernah menolak keinginan aku, ke dua orang tuaku dan kakek pasti akan setuju-setuju saja dengan keputusanku," jelas Chandika.
__ADS_1
Cherika terbengong mendengar penjelasan Chandika. Benar-benar kekuatan sang pewaris tunggal. Selama dirinya menjadi Chandika, dia tidak pernah kepikiran untuk menggunakan kekuatan itu.
"Ya, bagus kalau begitu," ujar Cherika kemudian.
Chandika tersenyum lembut menatap Cherika.
Dia bersyukur karena sudah tahu jika dirinya adalah reinkarnasi Felix, karena dengan kekuatan yang Felix punya dia bisa melindungi Cherika.
Netra coklat dan hitam yang sangat kontras bertemu untuk mengunci satu sama lain. Cherika terpaku menatap wajah pemuda di hadapannya perlahan mendekat pada wajahnya.
Deg
Deg
Suara detak jantung Cherika sangat bertalu-talu dia takut jika pemuda yang semakin mendekatkan wajah padanya akan mendengarnya.
"Ma-mau apa lo?" tanya Cherika dengan tergagap.
Chandika bergerak maju mendekati telinga Cherika. "Aku merindukan kamu, Cherika," bisik Chandika dengan napas yang menggelitik.
'Bolehkah gue pingsan sekarang?' batin Cherika menjerit dalam hati, dia tidak kuat dengan apa yang Chandika bisikan. Jujur dia juga memang merindukan pemuda itu. Tapi, dia terlalu malu untuk mengakuinya.
"Kamu tahu? Selama aku koma dirimulah yang hadir di pikiranku," kata Chandika jujur. Saat itu dia memang seakan kembali ke masa lalu dan mengulang kisah antar Felix dan Ellisha.
"Jangan membual, Dika. Dalam kondisi koma seseorang tidak sadar dan tidak memberi respons terhadap suara maupun nyeri atau sakit. Bagaimana bisa lo memikirkan gue?" kilah Cherika tidak percaya.
"Tapi kenyataannya seperti itu."
"Sungguh tidak dapat dipercaya," kata Cherika masih menganggap Chandika membual.
"Memang gue nggak percaya tuh," ujar Cherika dengan masih pada pendiriannya.
Chandika hanya mengangguk tidak ingin memperpanjang lagi.
"Sepertinya aku mendengar kamu memanggil Dika?" tanya Chandika mengalihkan pembicaraan.
"Ah, ya... banyak sekali hal yang ingin gue beritahu ke lo," kata Cherika mendadak semangat.
"Bicarakan saja semua, aku akan di sini sepanjang hari," tukas Chandika tersenyum manis.
'Selama gue jadi Chandika KW mana pernah tersenyum manis seperti itu, tapi kegantengannya jadi berkali-kali lipat bertambah,' batin Cherika terpana. Ya, saat menjadi Chandika dia selalu memasang muka sedatar tripleks.
Tok
Tok
Ketukan pintu mengalihkan perhatian mereka berdua.
Cklek
Seorang dengan membawa troli berisikan makanan rumah sakit datang.
__ADS_1
"Ini sarapan untuk nona Cherika," kata wanita paruh baya yang berpakaian serba putih.
"Terima kasih," ucap Chandika yang menerima nampan yang berisikan makanan.
Wanita paruh baya itu tersenyum dan berbalik pergi.
"Jadi ini yang sejak tadi kamu tunggu?" tanya Chandika pada si gadis belo sambil meletakan nampan di meja.
"Ya, tadi gue kira lo adalah seseorang yang membawa sarapan," jawab Cherika jujur.
Chandika terkekeh kecil menanggapi jawaban Cherika.
Chandika yang sesungguhnya memang mudah sekali berekspresi.
"Makanlah," kata pemuda mullet menggeser meja makan pasien ke hadapan Cherika.
"Gue nggak menyukai ini."
"Kamu itu sedang sakit, jadi makanlah," ujar Chandika yang sekarang duduk di kursi samping ranjang.
"Ck, gue ini nggak sakit, yang habis tertembak itu kan lo," kata Cherika dengan berdecak.
"Tapi, kamulah yang sekarang menempati tubuh yang habis tertembak itu," balas Chandika.
"Curang sekali," gumam Cherika. Dia segera memakan makanan yang menurutnya sangat hambar itu.
Chandika memperhatikan si gadis mungil yang sedang tenang makan dengan wajah tertekan. 'Lucu sekali,' batinnya tersenyum tipis.
"Lo sendiri sudah makan?" tanya Cherika kemudian.
"Belum," jawab Chandika. Dia memang belum makan, dari pagi-pagi sekali dia sudah terbang ke Singapura dengan jet pribadi miliknya. Mana sempat sarapan.
Cherika segera menyendok makanan dan mengarahkan pada Chandika, berniat menyuapi. "Buka mulut lo," perintahnya dengan tanpa ekspresi.
Cherika yang cool kini telah kembali.
Pemuda mullet itu hanya menurut, dia membuka mulutnya dan menerima Cherika menyuapinya.
"Gimana?"
"Enak," jawab Chandika apa adanya. Makanan itu memang terasa enak karena gadis tercinta yang menyupi.
"Hah?" Cherika menatap aneh Chandika.
"Lagi," ucap Chandika membuka mulutnya kembali.
"Sepertinya lidah lo bermasalah karena dicekik Ludhe," kata Cherika dengan menyuapi pemuda itu lagi.
Chandika hanya mengangkat bahu.
Mereka berdua makan bersama dengan Cherika yang menyuapi Chandika.
__ADS_1
Benar-benar pemuda yang manja.
_To Be Continued_