Sekejap Berubah Gender

Sekejap Berubah Gender
The Villain


__ADS_3

Alvis menatap nyalang pria paruh baya yang sedang terduduk dengan tenangnya.


"Ada apa? Berani sekali kamu menatap saya seperti itu?" tanya pria di depannya dengan suara dingin.


"Kenapa anda menggangu Chandika?" tanya Alvis dengan mata berkilat tajam.


"Apa anak Jauzan itu mengadu padamu?" smirk siluet dengan cincin rubby. "Ini akibatnya jika kamu membangkang, Alvis. Ingatlah janjimu padaku," lanjutnya dengan menatap tidak kalah tajam.


Pemuda deep auburn semakin meradang.


"Apa kamu ingin ibu dan adikmu yang aku bunuh?"


"Bajingan! Jangan sentuh mereka!"


"Itu salahmu sendiri, kamu pikir aku bodoh dan tidak tahu kelakuanmu di luar sana? Balapan liar, menjadi ketua geng Bruiser, dan tatomu yang di sembunyikan itu?"


Alvis kaget, bagaimana bisa pria itu tahu.


"Saya selalu mengawasimu, Alvis," kata siluet itu menjawab kebingungan pemuda di depannya. "Saya tahu jika kamu sedang mengumpulkan kekuatan untuk melawan saya, bukan?"


"Psikopat gila!" umpat Alvis pada Ayahnya.


"Jangan menjadi seperti ibumu yang licik itu," kata Alvin dengan nada memperingati.


Ya, siluet itu adalah Ayah dari Alvis. Cincin rubby adalah simbol keluarga Adhideva.


Alvin Radeya Adhideva.


Psikopat, yang terobsesi akan cinta masa lalunya.


**


18 tahun yang lalu, tahun 2004.


BRAK


"A-apa yang kalian lakukan?" tanya seorang perempuan bernetra hitam menatap dengan lelehan air mata pada dua orang yang berada di atas ranjang.


"Aminta, ini tidak seperti yang kamu bayangkan, saya bisa jelaskan," kata seorang pemuda berambut cokelat bangkit dari ranjang dan hanya mengenakan celana panjang hitam.


"Alvin, kenapa kamu berselingkuh dengan saudariku sendiri?" tanya Aminta menggeleng tidak percaya.


"Saya tidak berselingkuh, Aminty yang menjebak saya!" bantah Alvin gusar dan mengulurkan tangannya berniat memegang tangan Aminta, tapi segera ditepis oleh gadis itu.


"Tidak kakak, Aku dan Alvin memang saling mencintai, kakak lepaskanlah Alvin untukku," kata Aminty dengan melilit selimut di tubuhnya.


"Apa yang kamu bicarakan, ******!" bentak Alvin menatap Aminty yang menunduk ketakutan.

__ADS_1


"Aku kecewa padamu Alvin," kata Aminta semakin banyak mengeluarkan air matanya.


"Tidak, Jangan menangis! Saya mohon, percayalah pada saya, Aminta," kata Alvis dengan hati yang tercubit melihat gadis yang dicintainya mengeluarkan air mata dengan derasnya, dia tidak suka itu.


"Berbahagialah kalian," kata Aminta langsung berlari keluar.


"Berhenti, Aminta!" seru Alvis dan ingin mengejar gadis bermata hitam itu, tapi sebuah tangan menghentikannya.


"Alvin, kamu harus bertanggungjawab padaku, ini salahmu yang mabuk," kata Aminty.


"Sialan! Saya tidak akan lepas kendali jika tidak kau beri obat!"


"Terima saja. Takdirmu adalah bersama aku, bukan dengan Aminta," kata Aminty mengulum senyum.


"Brengsek!" maki Alvis dengan mendorong kasar tubuh Aminty.


Sejak kejadian itu, hubungan pemuda Adhideva dan Aminta kandas. Alvin yang terpaksa menikah dengan Aminty karena permintaan pertanggungjawaban keluarga gadis itu padanya, dan tidak lama kemudian Aminta menikah dengan Jauzan, pemuda yang dijodohkan dengan Aminta.


Alvin yang masih sangat mencintai Aminta menjadi frustrasi dan bertekad untuk membalas rasa sakit hatinya. Alvin sangat membenci Jauzan yang menikahi Aminta, dia tidak akan membiarkan Jauzan bahagia dengan Aminta, karena wanita itu hanya harus bahagia dengannya, dan dengan cara membunuh anak dari pasangan itu pasti akan membuat hubungan keduanya tidak bahagia.


**


Kembali ke masa sekarang, di kediaman Aldebaron.


"CHANDIKA, ANAKKU!" teriak Aminta memanggil anak semata wayangnya. Teriakan kencang Aminta sudah menjadi hal yang bisa di mansion Aldebaron, para maid dan bodyguard yang berjumlah puluhan hanya diam dan melanjutkan pekerjaan masing-masing.


"Lihat mami membeli apa!?"


Chandika yang ingin tahu dengan beberapa paper bag yang ditenteng Aminta langsung mendekat dengan wajah penasaran, "Apa?"


"Tada!" seru Aminta dengan senyum lebar.


Mata hitam legam Chandika seketika membulat karena sesuatu yang dikeluarkan Aminta dari paper bag. Album, photocard, postcard, poster, pakaian, photobook, slogan, boneka, light stick, mini banner, kipas angin, gantungan, dan itu semua adalah merchandise dari Bangtan Boys.


"Mami i-ini..."


"Bagaimana? Keren bukan, sekarang mami adalah Army," kata Aminta dengan tersenyum bangga.


"Ini sedikit berlebihan, mami."


"Tentu saja tidak berlebihan," kata Aminta cemberut karena tidak terima dengan perkataan putranya.


Oh my, salahkan dirinya yang mengenalkan boyband Korea itu pada mami Aminta.


'Maaf, Chandika. Mami lo menjadi fangirling BTS karena gue,' batin si pemuda merutuki kesalahannya.


"Mami sengaja membeli banyak, supaya berbagi dengan kamu, sayang,” kata Aminta yang membuat Chandika menatapnya haru. "Kamu mau, kan?"

__ADS_1


"Mau!" jawab Chandika dengan mata berbinar.


Oh ayolah, kapan lagi dia bisa membeli merchandise boyband favoritnya itu, saat menjadi Cherika dulu dia tidak cukup mempunyai uang untuk membelinya.


'Enaknya jadi orkay.'


**


"Tuan, saya sudah menemukan jejak wanita itu," kata Danny pada Jauzan.


"Di mana kamu menemukannya?" tanya Jauzan mengalihkan pandangannya dari dokumen-dokumen di meja kerjanya.


"Korea Utara."


"Pintar juga, dia bersembunyi di negara yang sangat tertutup itu," ucap Jauzan sedan senyum miring.


"Saya akan segera menangkapnya," kata Danny menundukkan kepala hormat.


"Ya, jangan buang-buang waktu lagi," kata Jauzan menanggapi perkataan Danny. "Bergeraklah dengan cepat."


"Baiklah, tuan," ucap Danny dengan patuh.


"Lalu bagaimana dengan putraku hari ini? Apa dia membuat masalah atau ada orang yang mengincarnya lagi?" tanya Jauzan mengalihkan topik.


"Maaf sebelumnya, tuan. Tadi pagi saya bangun kesiangan dan tidak bisa menjaga tuan muda seperti biasanya," aku Danny dengan jujur.


"Hmm, gaji kamu saya potong 30%," kata Jauzan menatap dingin Danny.


"Tapi, tuan—"


"40%."


"Jang—"


"50%."


"Ya, tuan, saya mengaku kesalahan fatal ini," kata Danny sambil menangis dalam hati. Oh ayolah, tega sekali tuannya ini, padahal dia sudah berhasil menemukan jejak wanita itu, tapi kenapa gajinya dipotong karena dia bangun kesiangan, harusnya dia mendapat bonus besar.


"Lanjutkan," perintah Jauzan pada pemuda di depannya.


"Pagi ini, tuan muda diserang dua balas orang yang membuntutinya saat berangkat sekolah," kata Danny yang membuat Jauzan mengeraskan wajahnya. "Tapi, tuan muda dapat melawan mereka semua dengan seorang diri, saya melihat jejak perkelahian yang menyisahkan ke 12 orang yang luka-luka parah. Saya sudah berhasil menangkap orang-orang itu, tapi ada beberapa yang telah melarikan diri."


"Apa? Putraku melawan mereka seorang diri?" tanya Jauzan dengan tatapan tidak percaya. "Bagaimana bisa? Chandika sangat penakut dan tidak bisa bela diri."


"Benar, tuan. Kenyataannya memang tuan muda yang melumpuhkan orang-orang itu seorang diri," kata Danny meyakinkan pria paruh baya di depannya.


"Sulit dipercaya," ucap Jauzan dan mata hitamnya melihat sebuah figura  foto keluarga kecilnya yang berada di atas meja dengan tatapan penuh arti. Putranya menjadi seperti orang lain saja, kemana Chandika yang selalu tergantung dan manja padanya dan Aminta, apakah putranya itu sudah dapat melawan rasa traumatis itu. "Apa ada yang telah aku lewatkan, Danny?" lanjut Jauzan bertanya.

__ADS_1


_To Be Continued_


__ADS_2