Sekejap Berubah Gender

Sekejap Berubah Gender
Season 2 : Memories


__ADS_3

Chandika memasuki kantin bersama Alvis dan Alice. Kantin sudah dipenuhi dengan murid-murid yang ingin mengisi perut lapar mereka.


"Kyaaa! Lihat itu si anak baru dari kelas IPS!"


"Benar-benar ganteng, yang cewek juga cantik."


"Dengar-dengar mereka anak konglomerat."


"Tapi dia berpacaran dengan Cherika."


"Hah? Yang mana?"


"Itu yang mirip Kim Taehyung."


"OMG! Kok bisa ya dia mau sama Cherika."


"Karena Cherika cantik dan imut."


"Cantikan jika Siska."


"Siska?"


"Itu loh si selebgram."


Dug


Seketika semua terdiam ketika Siska menabrak Chandika.


"Ah, maaf. Aku tidak sengaja," kata Siska dengan ekspresi menyesal. Dia mengulurkan tangan untuk mencoba membersihan seragam Chandika yang terkena tumpahan es jeruk miliknya. "Baju kamu jadi kotor."


"Ck, jangan sentuh," ucap Chandika dingin dan menepis tangan Siska yang ingin membersihkan kemejanya.


"Sengaja lo ya!" tukas Alvis membentak Siska.


"Aku tidak sengaja," cicit Siska menunduk. Sepertinya gadis itu akan menangis karena bentakan Alvis.


"Nggak usah cengeng lo, cewek bangs—"


"Aduh, bang Alvis jangan mulai deh," potong Alice. Kepribadian lain Alvis muncul. Padahal Chandika yang ditabrak tapi Alvis yang marah-marah.


"Aku benar-benar menyesal. Jadi izinkan aku membersihkannya," ujar Siska mencoba membersihan kemeja Chandika lagi.


"Minggir!" seru Cherika tiba-tiba menyingkirkan Siska dari hadapan Chandika.


Bugh


"Akh!" rintih Siska karena terjatuh di lantai.


Cherika mengeryit. Padahal dorongannya tidak begitu kuat. Tapi kenapa Siska bisa terjatuh? Apa dia playing victim?


Seisi kantin pun kembali ribut. Mereka membicarakan Cherika yang sangat kasar dengan Siska.


"Kenapa kamu jahat sekali padamu, Cherika... Hiks," isak Siska dengan masih dalam keadaan terduduk.


"Jahat apa sih? Dorongan aku tidak sekeras itu," ucap Cherika menatap aneh Siska.

__ADS_1


"Bos, jangan kasar dong sama Siska," kata Ignancio yang membantu Siska bangkit.


"Banyak drama banget lo!" bentak Alvis.


"Aku tidak drama," lirih Siska sesenggukan.


"Shtt, jangan menangis ya, Siska," hibur Ignancio. Seisi kantin pun jadi iba melihat Siska..


"Cherika, aku minta maaf jika aku punya salah. Aku benar-benar tidak sengaja menabrak Chandika," cicit Siska menatap Cherika.


"Merepotkan sekali," kata Chandika membuka mulut. Pemuda itu menatap tajam Siska.


Siska menunduk karena tatapan tajam Chandika. 'Sejak kapan Pangeran Felix mempunyai tatapan setajam itu?' batinnya heran.


"Ayo kita pergi saja," kata Cherika mengapit lengan Chandika dan mengajaknya ke bangku tempatnya tadi.


Chandika menurut dan diikuti oleh Alvis dan Alice.


Siska menatap Cherika kesal. 'Pengganggu," desis Siska dan berlalu.


Namun, tiba-tiba saja Chandika merasakan jika kepalanya berdenging dan berputar.


"Ugh..."


Chandika hampir saja jatuh jika Cherika dan Alvis tidak sigap menahan lengannya.


"Kamu kenapa?" tanya Cherika khawatir.


"Pusing," gumam Chandika dengan memegang pelipisnya yang berdenyut hebat.


"Pusing karena belum makan lo, ya?" tanya Alvis tidak kalah khawatir.


Chandika menggeleng.


"Kita duduk dulu," saran Cherika dan menggiring Chandika untuk duduk.


"Gue akan memesan makan dan minuman hangat," ucap Alvis berlalu.


"Alice ikut," kata Alice mengekor sang kakak.


Setelah terduduk di bangku Chandika menyandarkan kepalanya pada bahu Cherika. Dia merasakan ingatan-ingatan samar berputar di kepalanya, bahkan air mata menetes dari pelupuk matanya.


"Kenapa menangis?" tanya Cherika menghapus air mata Chandika. "Apa begitu sakit? Kita ke rumah sakit?"


"Tuan Felix..." gumam Chandika dengan terisak.


Deg


Jantung Cherika bergetar saat Chandika memanggil nama masa lalunya.


"Kamu..."


"Aku merasakan banyak sekali ingatan samar yang berputar di kepalaku dan sangat membuatku pusing," adu Chandika. "Tapi aku tidak tahu ingatan apa itu..."


'Apa karena telah bertemu Vransiska ingatannya memaksa kembali?' batin Cherika.

__ADS_1


"Sudah ya... Jangan memaksa mengingat kembali," kilah Cherika mengelus pipi Chandika sayang.


**


Sudah seminggu Siska mencoba mendekati Chandika dengan berbagai cara. Dari pura-pura terjatuh, menabrak dan menatap genit pada Chandika. Dan karena itu pula ingatan Ellisha kembali sepenuhnya.


"Aku begitu sangat mencintaimu," ucap Chandika dengan memeluk tubuh polos Cherika dari balik selimut.


Sekarang pukul 1 dini hari dan mereka baru selesai dengan kegiatan yang akhir-akhir ini selalu pasangan muda itu lakukan.


"Tidak, aku yang lebih mencintai kamu," balas Cherika dengan tatapan menuntut.


Mereka tersenyum bersama setelahnya dan menempelkan ke dua jidat mereka.


Chandika menatap Cherika dengan tatapan syarat akan kerinduan yang begitu besar. "Aku tidak menyangka jika kita akan benar-benar bertemu di dunia ini."


"Ya. Aku sangat bahagia akan hal itu. Di dunia ini aku bisa mencintai kamu sebanyak yang aku mau dan bahkan bisa menikah denganmu," kata Cherika mengecup pipi Chandika.


"Maaf...jika aku terlalu lama untuk mengingat kamu, tuan Felix," ucap Chandika dengan tatapan sendu.


"Tidak apa-apa. Aku bahkan sempat berpikir jika lebih baik kamu tidak mengingat ingatan yang begitu menyakitkan itu," kata Cherika mencoba menenangkan perasaan Chandika.


"Tidak, ingatan dengan kamu sangat begitu berharga untuk tidak aku ingat," kata Chandika menangkup ke dua pipi Cherika.


"Tapi gara-gara aku yang terlalu bodoh dan dengan mudahnya tersihir oleh putri Vransiska kita jadi—"


Chandika mengecup bibir Cherika agar tidak meneruskan perkataannya, kecupan yang begitu lembut dan menenangkan.


"Kamu tidak salah," ucap Chandika ketika menjauhkan wajahnya. "Aku yang salah karena tidak percaya padamu, padahal aku tahu kamu begitu mencintaiku. Tapi aku justru termakan oleh kecemburuan."


"Kecemburuan bermakna rasa sakit yang dirasakan dari ketakutan bahwa tidak dicintai sama oleh orang yang cintai sepenuhnya. Mulai sekarang kamu hanya perlu percaya jika cintaku begitu besar padamu dan hatiku sepenuhnya adalah milikmu," ujar Cherika dengan sudut bibir yang terangkat, menunjukkan senyuman yang tulus.


"Ya, aku sangat mempercayai kamu."


"Kalau begitu cium aku lagi," pinta Cherika.


Chandika terkekeh pelan, dia meraih wajah Cherika dan segera memberikan ciuman tepat di bibir titis Cherika. Bibir mereka bergerak dan saling mengecap menjadikan ciuman panas yang meninggalkan suara decapan erotis.


Merasa cukup Chandika menyudahi ciuman yang membangkitkan gairah mereka lagi. Wajah mereka merona malu-malu padahal mereka sudah sangat sering melakukan hal itu.


"Lagi... " pinta Cherika lagi.


"Jika diteruskan ini akan berakhir panjang. Kita sudah melakukan 3 kali tadi."


"Kan kita memang harus bekerja keras untuk mendapatkan bayi," kata Cherika dengan polosnya.


"Kamu serius? Nanti kamu yang akan hamil loh, kamu yang akan menggantikan aku melahirkan. Itu sangat menyakitkan."


"Melahirkan? Bukankah bayi akan diberi oleh burung bangau lewat cerobong asap? Apa yang menyakitkan?"


'Wtf!'


Chandika cengo seketika. "Kamu tahu cara membuat bayi tapi tidak tahu bayi itu lahir dari mana?"


"Memangnya dari mana?"

__ADS_1


"Oh, astaga, kamu bodoh sekali..."


_To Be Continued_


__ADS_2