Sekejap Berubah Gender

Sekejap Berubah Gender
Season 2 : Threat


__ADS_3

"Kamu baik-baik saja, sayang?" tanya Aminta yang terduduk di bibirĀ  ranjang. Dia mengelus surai hitam Cherika yang agak basah karena sehabis mandi.


Cherika sudah memakai loose dress dengan detail V-neck. Sepertinya sekarang dia harus terbiasa memakai semua dress cantik yang suaminya belikan. Dia harus meninggalkan kehidupan tomboynya dan menjadi istri yang baik.


"Aku baik-baik saja, mami," jawab Cherika bingung. Kenapa mami Aminta datang ke kamarnya? Apa Chandika yang menyuruh?


"Kata Chan, milikmu sakit?" tanya Aminta hati-hati, itu adalah hal yang sensitif untuk dibicarakan.


"A-ah, ma-mami tahu dari mana?" tanya Cherika gugup.


"Sudahlah tidak usah gugup, mami kan juga perempuan sepertimu," ujar Aminta tersenyum.


"Ya, mami," kata Cherika dengan mengangguk.


"Rasa sakitnya juga nanti akan hilang dengan sendirinya, sebaiknya kamu dan Chan jangan melakukan itu dulu sebelum kamu sembuh. Jangan membersihkannya dengan sabun, basuh saja dengan air hangat," saran Aminta. "Dan gunakan obat antiseptik untuk mengobati lecetnya."


"Baiklah," jawab Cherika malu. Dia sangatlah malu karena mami Aminta sudah tahu jika dia dan Chandika melakukan itu sampai dirinya lecet-lecet. Ingin rasanya dia menggali lobang untuk bersembunyi.


"Maaf jika Chan adalah laki-laki yang manja. Itu karena mami dan papi selalu memanjakannya. Bahkan untuk masalah seperti ini saja dia menyuruh mami untuk menolong kamu," ucap Aminta tertawa kecil.


"Tidak masalah, kok," kata Cherika dengan cepat.


"Salah mami juga yang tidak memberi tahu Chan supaya dia tidak bermain kasar. Mami saja bingung kemana perginya Chan yang polos itu?" tukas Aminta dengan berpikir keras. "Dan siapa yang telah mengajarinya akan hal itu?"


"Aku juga tidak tahu."


"Sudahlah tidak udah dipikirkan," ucap Aminta. "Sebaiknya kamu makan saja. Kamu belum makan sejak pagi, kan?"


Cherika menggangguk. Perutnya memang sudah sangat keroncong sekali.


Aminta mengambil nampan yang berada di meja, dia tadi membawa makanan untuk menantunya itu.


Cherika mulai memakan makanannya dan sesekali mengobrol dengan Aminta. Tidak ada rasa canggung dengan sang ibu mertua karena saat dulu menjadi Chandika dia memang sering mengobrol dengan Aminta. Bahkan bermanja-manja.


**


"Kenapa gelisah banget?" tanya Alvis yang melihat Chandika mondar-mandir di depan pintu kamar seperti suami yang sedang menunggu istrinya melahirkan. "Cherika benaran akan melahirkan?" lanjut Alvis dengan pertanyaan bodohnya.


Seketika Chandika menghentikan langkahnya. "Jangan sembarang, hamil saja belum," ketus Chandika.


"Terus kenapa?" tanya Alvis dengan rasa penasarannya.


"Anu.. itu.."


"Lo habis bermain kasar?" tanya Alvis tepat sasaran.


"Bagaimana kamu tahu?" Chandika kaget.


"Jelas terlihat pada leher lo, hobi baget sih membuat tanda di leher," ucap Alvis menggeleng-geleng.


Chandika refleks memegang lehernya. "Aku tidak menyadarinya."


"Dasar dimabuk cinta," ejek Alvis.


"Kamu tidak akan pernah mengerti, Alvis," ujar Chandika yang membuat Alvis mengeryit bingung.


"Mengerti apa?"


"Menikahlah supaya mengerti."

__ADS_1


Pelipis Alvis berkedut. "Brengs*k sekali lo," umpat Alvis.


Chandika tidak menghiraukan umpatan Alvis. Sepupunya itu memang mudah terpancing amarah, tapi dia tidak perduli tentang itu.


"Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan setelah ini?" tanya Chandika tiba-tiba.


"Apa?" tanya Alvis. Cepat sekali perubahan ekspresinya.


"Aku telah membuat anak dengan Cherika. Jika dia hamil aku akan dipecat menjadi adik ipar, aku sudah berjanji jika tidak akan membuat Cherika hamil sebelum berumur 20 tahun," jelas Chandika dengan gusar.


"Hah?" Alvis cengo. "Berjanji dengan siapa?"


"Dengan kakak laki-laki Cherika."


Alvis berpikir sejenak. "KB."


"KB?" Chandika membeo.


"Lo nggak tahu?" tanya Alvis terheran-heran.


Chandika menggeleng.


"Bocah ini, masalah itu saja tidak tahu. Tapi sudah berani-beraninya menikahi anak orang," kata Alvis tidak percaya.


"Aku menikah karena memang mencintai Cherika. Apa hubungannya dengan KB?"


Alvis mengurut pangkal hidungnya, masa iya dia harus mengajari sepupunya itu tentang KB? Bukankah hal itu sudah dipelajari di sekolah?


"Berkonsultasi dengan dokter saja."


Chandika mengangguk.


"Baiklah," kata Chandika menurut.


Tidak tahukah Chandika jika hati Alvis masih merasakan rasa sakit karena dia belum melupakan perasaannya pada Cherika? Beruntunglah karena Alvis pandai menyembunyikan ekspresi nelangsanya.


Kalau tidak, sudah menangis di pojokan dia.


"Ngomong-ngomong lo bisa tahu bikin anak dari mana?" tanya Alvis tiba-tiba.


"Dari rekaman Ben dan Jane," jawab Chandika jujur.


Seketika Alvis tersedak ludahnya sendiri. "Uhuk.. uhuk.."


Chandika hanya mengangkat alisnya saat melihat respon Alvis.


"Jadi lo bermain kasar karena mengikuti Ben?" tanya Alvis tidak percaya.


"Bukannya begitu cara membuat anak?"


Alvis hampir terjungkal dari posisi berdirinya. "Jangan seperti itu!"


"Kenapa?"


"Permainan Ben itu kasar, jangan mengikutinya."


"Benarkah?"


Oh, ayolah. Alvis jadi pusing sendiri karena sepupunya ternyata begitu bodoh. Dia melupakan satu hal, Chandika itu pemuda polos yang baru mengenal dunia dewasa.

__ADS_1


"Ayo gue ajarin lo cara bermain yang benar," ajak Alvis karena sudah geregetan sendiri.


"Memangnya kamu tahu apa? Kamu sudah pernah membuat anak dengan siapa memang?" tanya Chandika memincingkan mata, menatap Alvis remeh.


"Jangan meremehkan! Menonton film biru adalah jalan ninjaku!"


"Film biru?"


"Ck, tidak udah banyak bertanya. Ayo ikut gue. Gue akan memberi lo film edukasi!"


**


BRAK


Gebrakan meja membuat kertas yang ada si meja berhamburan.


"Dasar anak tidak berguna!" maki Edward Lazuardy pada putra bungsunya.


"Maaf ayah," ucap Ben menunduk.


"Mana janjimu untuk membuat anak Aldebaron hancur, hah!?" bentak Edward dengan melempar beberapa foto pada muka Ben.


Ben pun melihat foto itu. Foto Chandika yang menikah dengan Cherika. Terlihat sekali raut bahagia dari ke duanya. Badan Ben membeku, hatinya pun sakit. Kenapa dia baru tahu tentang ini? Gadis yang dia cintai telah menikah dengan musuhnya.


"Kamu bilang jika ingin merebut perempuan itu, kan? Lalu apa? Mereka sudah menikah!" seru Edward dengan emosi yang meluap-luap. "Jika begini terus perusahan Aldebaron tidak akan pernah jatuh, hanya ditugaskan untuk menghancurkan seorang pemuda saja kamu tidak bisa!?"


"Chandika telah mengancam jika aku mengganggunya, dia akan membuat hidupku hancur," ucap Ben mencoba membela diri. Dia memang tidak bisa berkutik atas ancaman Chandika.


"Dan kamu takut?"


"Ya. Aku tidak punya kekuasaan seperti dia, ayah. Aku tidak bisa melawannya," jawab Ben jujur. Dia berharap jika ayahnya mengerti dan tidak memberinya tugas untuk menghancurkan Chandika lagi.


"Jika aku memberimu kekuasaan, apakah kamu bisa melawannya?" tukas Edward yang membuat Ben terkejut.


Ayahnya akan memberinya kekuasaan? Apakah ini mimpi? Apakah dia berhasil menyingkirkan kakak laki-lakinya?


"Tidak, tidak. Kamu belum bisa menyingkirkan Gionino," kilah Edward seakan tahu isi pikiran Ben.


"Lalu kekuasaan apa yang akan ayah berikan?"


"Kekuasaan untuk melawan hukum negara ini," kata Edward dengan seringainya.


"Maksud, ayah?"


"Bunuh istri putra Aldebaron itu."


Bagai tersambar petir wajah Ben menjadi pucat dan lidahnya keluh mendadak.


"Gadis itu adalah satu-satunya kelemahannya. Bagaimanapun caranya kamu harus membunuhnya. Hukum di negara ini tidak akan bisa melawan kamu, aku menjamin kekuasaan itu untukmu."


Membunuh Cherika? Gadis yang dia cintai? Apakah dia bisa?


"Jika kamu berhasil melakukannya, ayah dengan senang hati menggeser posisi Gionino dan menggantinya denganmu, Ben."


Tangan Ben terkepal. Ya, itu adalah tujuan hidupnya. Menggeser posisi kakak laki-lakinya.


"Akan aku lakukan, ayah."


Persetan dengan cinta bertepuk sebelah tangannya.

__ADS_1


_To Be Continued_


__ADS_2