Sekejap Berubah Gender

Sekejap Berubah Gender
A Friend


__ADS_3

"Bisa lo jelaskan sekarang?" tanya Alvis dengan tidak sabar. Sekarang ke dua pemuda itu sudah berada di kamar inap VIP rumah sakit, tempat Alvis di rawat.


"Meskipun gue jelaskan, lo mungkin tidak akan percaya," kata Chandika memicingkan mata. Pemuda itu sangat malas dan tidak berniat menjawab pertanyaan Alvis di atap tadi. Namun, Alvis tetap memaksa. Tadinya dia ingin meninggalkan pemuda babyface itu di atas atap, tapi dia tidak tega karena Alvis tidak mungkin bisa kembali ke ruang rawatnya sendiri.


"Lo bahkan belum menjelaskan, bagaimana gue bisa percaya," balas Alvis dengan tatapan sengit.


"Ini sangat di luar akal sehat, lo nggak bakal paham dengan otak lo yang kelewat bodoh itu," ucap Chandika sarkastik.


"SIALAN! Argh.. aduh, sakit.." erang Alvis karena tadi berteriak, dia lupa jika wajahnya masih babak belur dan sudut bibirnya terluka parah.


Chandika hanya tersenyum mengejek, "Karma mulut sompral."


Alvis masih meringis kesakitan, ingin sekali dia cekik leher putih sepupunya itu.


"Jadi, siapa sebenarnya Cherika?" tanya Alvis lagi tidak putus asa, dia sungguh penasaran tentang hal yang mengganjal.


Chandika menarik napas berat.


"Gue sebenernya bukanlah Chandika asli dan Cherika adalah Chandika yang sebenarnya, tubuh kita berdua tertukar," jelas Chandika kemudian.


"Hah??" Alvis hanya membeo mendengarnya. "Jagan bercanda," kata Alvis dengan kening yang berkerut.


"Sudah gue bilang kan, lo nggak akan percaya," kata Chandika dengan ekspresi malas.


"Tunggu, ini sungguh nggak masuk di akal, bagaimana bisa gue percaya?" tanya Alvis dengan kening yang tiba-tiba saja berkedut. "Apa lo mempunyi bukti untuk membuat gue percaya?"


"Saat pertandingan balap pertama kita, maksudnya lo dan Cherika. Gue menang melawan lo, dan untuk imbalannya gue memberi lo satu syarat yang hanya kita berdua yang tahu," kata Chandika dengan senyum misterius.


Dengan sadar Alvis menelan ludahnya sendiri. "Apa?"


"Lo harus lari keliling jalan raya dengan keadaan bugil pada tengah malam," kata Chandika tersenyum miring pada Alvis.


Alvis seketika melebarkan matanya dengan sempurna.


"Tapi, sayang lo nggak mau melakukan syarat dari gue itu. Maka dari itu gue sangat membenci lo, karena lo adalah seorang laki-laki pengecut," sambung Chandika dengan  tatapan mengejek.


"Jaga bicara lo!" seru Alvis dengan tatapan kesal, dia tidak terima jika di bilang pengecut. Oh ayolah, orang mana yang akan mau menuruti persyaratan gila itu, dia itu masih punya urat malu dan harga diri, mana mungkin mau berjalan bugil di jalan raya.


"Dan sebagai gantinya gue meminta lo berciuman dengan Kelvin."


Seketika Alvis mual karena membayangkan jika dia benar-benar berciuman dengan Kelvin. Padahal itu adalah ciuman pertamanya.


"Cherika, bangsa**!" umpat Alvis dengan menatap sengit.

__ADS_1


"Lo udah percaya sama gue?" tanya Chandika dengan tertawa mengejek.


"Ya, dan ingin rasanya gue mencakar muka lo itu," ucap Alvis masih emosi.


"Sabar. Gue sekarang ada di dalam tubuh sepupu tersayang lo," kata Chandika yang sudah berhenti tertawa.


"Pantas saja, Chandika bersifat aneh akhir-akhir ini," kata Alvis yang sudah menahan amarahnya. "Bagaimana bisa tubuh kalian tertukar?" tanya kemudian.


"Masih misteri," jawab Chandika dengan wajah yang serius.


Alvis hanya mengeryit tidak suka dengan jawab Chandika.


"Jadi yang tertembak sebenarnya adalah Chandika?" tanya Alvis kemudian.


"Ya.


"Gue gagal dong untuk melindunginya, padahal gue sudah berjanji untuk melindunginya dari daddy," ucap Alvis dengan badan yang bergetar, laki-laki yang terkenal sosiopat itu sekarang sedang menangis.


"Sudahlah, itu bukan salah lo, justru dia sangat berterima kasih karena lo telah melindunginya selama ini," kata Chandika langsung berjalan ke arah Alvis dan memeluk laki-laki itu, dia tahu kondisi mental pemuda itu tidaklah stabil.


Alvis membeku karena Chandika yang memeluknya.


DEG


DEG


Cklek


Pintu tiba-tiba saja terbuka, seorang pemuda yang berjalan dengan tongkat menatap ngeri pemandangan di depannya.


"Bos? Jadi selama ini lo beneran homo ya? Setelah mencium gue, sekarang lo ada hubungannya dengan Leo?" tanya Kelvin orang yang membuka pintu itu.


BRUK


Alvis langsung mendorong Chandika hingga jatuh.


"Ini nggak seperti yang lo bayangkan," kata Alvis yang seperti kepergok sedang selingkuh.


Sungguh situasi yang sangat awkward.


"Hmm," deham Chandika yang berdiri dari jatuh terduduknya. "Lo jangan cemburu, Kelvin," katanya justru semakin membuat salah paham.


"Heh? yang benar saja," kata Kelvin menatap aneh.

__ADS_1


"Wahh, ternyata ada Leo di sini," kata Galen yang datang dari arah belakang Kelvin dan diikuti Justin, Haidar, dan Axel.


"Oh, kalian datang," kata Alvis pada inti dari geng Bruiser.


"Kita ingin melihat keadaan Bos dan Kelvin," kata Haris tersenyum dan menunjukan gigi ginsulnya.


"Gue sudah baik-baik saja," jawab Alvis cepat.


"Syukurlah, bos. Kita senang lo bisa selamat dan berkumpul bersama kita lagi," ucap Axel.


"Ya, Terim kasih karena kalian sudah mau repot-repot menyelamatkan gue," kata Alvis menatap satu persatu inti geng Bruiser.


"Santai aja, kita itu teman, tentu saja bukan hal yang sulit untuk saling membantu," kata Justin.


"We can’t find any other way to explain how much help you have given. We don’t know what, we would do without you," tambah Kelvin.


"Can’t say thank you enough," kata Alvis tersenyum menunjukan gigi kelincinya.


**


Mount Elizabeth Hospital adalah rumah sakit si Singapura yang memiliki 8 pusat keunggulan, yang didukung dengan lebih dari 450 dokter spesialis senior dan 345 bedah rawat inap.


Cherika segera diarahkan ke ruang operasi untuk pengangkatan peluru yang bersarang di otaknya.


Operasi ini dipimpin oleh dokter ahli bedah yakni Dr. Philip, selain itu pula dibantu petugas anestesi, perawat dan dokter operator.


Di luar ruang operasi. Malvin berjalan mondar-mandir dengan menggigit kuku-kuku jarinya, dia sangat khawatir dengan sang adik yang kepalanya sedang di bedah.


"Malvin, tenanglah," kata Agust menenangkan Malvin. Dia juga melihat Jauzan yang sedang duduk di sebelahnya, juga menunjukkan wajah yang sangat khawatir.


Jauzan tidak tahu dengan perasaannya saat ini, dia merasa jika anaknya yang sedang ada di ruang operasi. Dia sangat cemas, keringat mengucur di pelipisnya.


Operasi sudah berlangsung sekitar 4 jam.


Cklek


Pintu ruang operasi terbuka dan Dr. Philip keluar dari ruangan.


"Bagaimana, dok?" tanya Malvin masih dengan wajah yang khawatir, Agust dan Jauzan langsung berdiri dari duduk.


"Peluru telah diambil, peluru itu rata dan dalam. tetapi pesakit masih dalam keadaan kritikal," jawab Dr. Philip dengan menggunakan bahasa Melayu. "Kami masih menyediakan penjagaan kritikal untuk pesakit yang memerlukan rawatan rapi," lanjutnya yang mengatakan jika Cherika masih membutuhkan perawatan yang intensif untuk kondisi kritis pasca operasi.


"Tolong lakukan yang terbaik," kata Jauzan.

__ADS_1


"Kami akan melakukan yang terbaik untuk pemulihan pesakit," jawab Dr. Philip.


_To Be Continued_


__ADS_2