Sekejap Berubah Gender

Sekejap Berubah Gender
Season 2 : Revealed


__ADS_3

"Kenapa tidak memeriksa CCTV terlebih dahulu, bukannya ada CCTV di koridor sekolah?" ucap Chandika tahu-tahu.


Siska membatu seketika, kenapa dia melupakan hal itu?


"Meskipun CCTV tidak dipasang dikamar mandi tapi kita bisa melihat jika bukan akulah yang menarik Siska ke kamar mandi, tapi Siska sendirilah yang mengikuti aku ke kamar mandi," jelas Chandika dengan masih menampilkan ekspresi tenangnya.


"Jadi... Kalian tidak mempercayai aku? Hiks.. Aku membutuhkan hak asasi perlindungan perempuan, jika kalian mengecek CCTV itu berarti kalian lebih mempercayai dia," kata Siska mencoba untuk menghalau pemeriksaan CCTV, jika itu terjadi tamatlah riwayatnya.


"Tidak bisa seperti itu, bukannya percaya atau tidak. Kita memang membutuhkan bukti, jangan asal menghakimi seseorang," ujar Cherika menatap Siska tajam.


"Hiks... Padahal kita sama-sama perempuan, Cherika. Kenapa kamu lebih membela Chandika? Apa karena dia suami kamu?" tukas Siska yang air mata palsunya.


Seketika semua orang terkejut, kecuali Chandika. Darimana Siska tahu jika Chandika dan Cherika telah menikah?


"Mana sudi aku disamakan dengan perempuan seperti kamu," kata Cherika sarkastik.


Siska mengepalkan tangannya. Dia menatap benci Cherika.


"Gue juga setuju jika memeriksa CCTV, Chan nggak mungkin melakukan pelecehan itu..." timpal Alvis, si pemuda babyface.


'...Lagi pula yang ada ditubuh Chandika itu kan Cherika, mana ada cewek melakukan pelecahan terhadap cewek,' batin Alvis melanjutkan perkataannya.


"Ya, aku juga setuju," ucap Alice.


"Periksalah rekaman CCTV-nya, aku yakin jika putraku tidak mungkin melakukan itu," kata Aminta ikut menyetujui.


"Bisakah kita memeriksanya?" tanya Jauzan pada Martin.


Martin menatap Chandika dan Siska saling bergantian. Ya, dia memang harus bersikap adil. "Baiklah, ayo kita periksa," ucapnya kemudian.


Siska berkeringat dingin setelahnya, dia sangat panik saat ini.


Mereka langsung pergi ke ruang keamanan sekolah. Di dalam perjalanan semua siswa-siswi melihat prihatin Siska dan berbisik-bisik. Semuanya memang sudah mempercayai kebohongan gadis honey blonde itu.


"Kasian sekali Siska."


"Itu adalah resiko menjadi orang cantik."


"Gue nggak nyangka jika Chandika bisa melakukan pelecehan itu, bukankah dia berpacaran dengan Cherika?"


"Mau bagaimana lagi kecantikan Siska pasti sudah menggoda iman Chandika."


"Gue berharap jika Chandika bertanggungjawab."


Sesampainya di ruang keamanan. Martin segera menyuruh penjaga untuk memutar rekaman CCTV pada saat kejadian.


Setelahnya layar monitor menampilkan keadaan koridor tempat kamar mandi laki-laki berada. Terlihat Chandika yang berjalan santai dan Siska yang mengendap mengikutinya dari belakang. Saat Chandika memasuki kamar mandi, Siska menengok ke segala arah dan ketika merasakan keadaan aman gadis itu langsung masuk ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


"Lihat bukan? Dialah yang berbohong," kata Chandika tersenyum miring pada Siska yang sudah mati kutu.


"Kenapa kamu berbohong, Siska? Apa kamu sadar jika perbuatan kamu itu sudah termasuk pencemaran nama baik? Kamu bisa dipenjara akan hal ini," ucap Martin memarahi Siska. Dia tidak habis pikir dengan jalan pikiran salah satu siswinya itu. Sekarang Martin sangatlah malu pada keluarga Aldebaron.


Siska hanya menunduk, dia tidak tahu harus berbicara apa. Membela diri pun pasti tidak bisa, kebohongannya sudah terbongkar dengan cepat.


"Minta maaflah pada keluarga Aldebaron sekarang," sambung Martin.


"Aku minta maaf," ucap Siska menurut.


"Aku harap tidak ada kejadian seperti ini lagi, Martin. Kamu didiklah yang benar siswi kamu ini," ucap Jauzan dingin.


"Baik, tuan. Maaf atas kelalaian saya," kata Martin dengan rasa bersalahnya. "Saya akan menskors Siska untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya."


"Hanya di skors? Kenapa tidak dikeluarkan dari sekolah saja?" celetuk Alvis yang tidak terima atas hukuman Siska.


"Maafkan aku... Hiks, jangan keluarkan aku dari sekolah ini. Aku berjanji untuk tidak mengulangi perbuatan aku lagi," isak Siska meminta maaf sekali lagi.


"Tidak usah menangis dengan air mata buaya itu," kata Chandika jengah. "Harusnya lo itu dipenjara karena sudah merusak nama baik gue."


"Maafkan aku, Chandika. Aku hanya begitu mencintai kamu hingga membuat aku nekat berbuat seperti ini," ucap Siska tidak habis-habisnya minta maaf.


"Cewek gila," sinis Chandika.


"Sudahlah, Chan. Maafkan saja dia," kata Aminta dengan mengusap lembut lengan putranya.


"Hmm," Chandika hanya bergumam.


Sekolah pun digegerkan dengan Siska yang ternyata berbohong, si gadis cantik yang tadinya diagung-agungkan kini menjadi bahan gunjingan. Rasa simpati dan empati mereka seakan sudah terkikis habis.


**


Di kantin sekolah.


"Kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Cherika pada Chandika. "Siska tidak menyakiti kamu, kan?"


"Aku baik-baik saja. Siska hanya menyakiti diri sendiri, dia tidak menyakiti aku," jawab Chandika tersenyum.


"Syukurlah," kata Cherika memeluk Chandika.


"Hais, berhentilah menganggap kami ini nyamuk," ucap Icha dengan memutar bola matanya.


"Tahu nih, mengesalkan sekali," timpal Clara.


"Untung gue sudah terbiasa," kata Alvis tanpa mengalihkan tatapannya dari ponsel.


Clara melirik Alvis diam-diam, sepertinya perempuan ini tertarik dengan wajah babyface milik Alvis.

__ADS_1


Dan di satu sisi Brian menatap Clara dengan hati yang teriris karena perempuan yang selama ini dia sukai diam-diam justru melirik pemuda lain.


"Makannya buruan tembak," ucap Adam dengan berbisik pada Brian.


"Lo tahu?" Brian terkejut seketika. Dia pikir tidak ada yang tahu tentang perasaannya pada si gadis rambut bergelombang.


"Tahu lah," jawab Adam sekenanya. Pemuda itu memang tahu jika Brian sering curi-curi pandang pada Clara. "Buruan tembak dia. Jangan sampe dia suka beneran sama si ketua geng Bruiser itu."


Brian hanya diam. Dia terlalu takut untuk mengungkapkan perasaannya. Takut ditolak.


"Gue nggak nyangka loh, ternyata Siska begitu. Padahal gue sempat suka dengan dia, baru saja mau gue jadiin pacar," celetuk Ignancio.


"Lo sih memang cuman liat dari cantiknya saja," kata Adam mengejek Ignancio.


"Tentu saja, tampang tuh nomor satu. Lihat saja bos kita saja mempunyai pacar yang luar biasa ganteng. Sebagai wakil ketua gue juga harus mempunyai pacar yang luar biasa cantik juga dong," ucap Ignancio dengan spekulasi ngawurnya.


Seketika semua sweatdrop mendengarnya.


"Ngaca dulu," kata Chandika yang alis Cherika asli.


"Ini kaca," kata Alice menyodorkan kaca pada Ignancio.


Bukannya menerima Ignancio justru terbengong melihat Alice. "Kenapa gue baru sadar kalau ada bidadari yang duduk di sebelah gue?"


"Jaga mata lo! Mau gue congkel, ha!?" bentak Alvis tidak terima jika sang adik ditatap mesum oleh Ignancio.


"Ck, galak banget," ucap Ignancio sewot.


Alvis justru semakin melotot karena respon Ignancio.


"Yaelah, santai sih, bang. Gue nggak akan makan adik lo, gue cuman mengagumi ciptaan Tuhan yang indah saja," sambung Ignancio.


Muka Alice merona seketika.


"Tuh kan si cantik ngebluss, jadi pengen uwel-uwel itu pipi," lanjut Ignancio tidak ada takut-takutnya.


"Berengs*k!" maki Alvis, dia ingin bangkit untuk meninju Ignancio tapi Cherika mentahannya.


"Jangan emosi, Ignancio hanya bercanda, Alvis," kata Cherika yang menghentikan Alvis.


"Alice ayo kita pergi," perintah Alvis pada adiknya itu.


"Ya," Alice hanya menurut.


"Protektif banget sama adik sendiri," cibir Ignancio melihat kakak beradik yang pergi meninggalkan kantin.


"Sejak insiden keluarga Adhideva, Alvis memang menjadi sangat menjaga Alice. Dia hanya khawatir jika adiknya akan mendapatkan laki-laki seperti ayahnya yang tega menyiksa bahkan ingin membunuh keluarganya sendiri," jelas Cherika yang notabene Chandika asli itu.

__ADS_1


Ignancio pun mengerti, Dia tahu akan hal itu. Dia bahkan melihat Alvis yang memang benar-benar hampir mati karena disiksa ayahnya sendiri.


_To Be Continued_


__ADS_2