
Langit malam yang begitu pekat menjadi latar seorang pemuda yang sedang melangkah di jalan setapak, kedua tangannya di masukan ke dalam saku jaket kulit hitam. Langkah lebar kakinya memasuki rumah bergaya industrial. Setelah masuk ke dalam, pemuda itu di sambut dengan perpaduan warna-warna monokrom yang terlihat begitu elegan pada interior ruang tamu, ada aksen warna terang seperti kuning yang direfleksikan melalui pajangan atau hiasan lainnya.
Rumah itu adalah markas Bruiser, rumah yang cukup tersembunyi.
Mata hitam bagai elang melihat sekumpulan laki-laki sedang duduk di sofa ruang tamu, "Apakah inti dari Bruiser sudah kumpul semua?" tanya Chandika pada Galen.
"Sudah," jawab Galen dengan masih memakan kripik kentangnya.
"Kenapa lo ngumpulin kita, Leo?" tanya Justin pada Chandika dengan tatapan meneliti.
"Sebelum gue jawab. Gue ingin bertanya, apakah kalian sudah tau indentitas dari Heaven?" tanya Chandika to the point.
"Bos sangatlah misterius, tidak ada yang tahu indentitas dirinya," jawab Axel.
"Dia adalah Alvis Rajendra Adhideva, anak pertama dari pengusaha kaya raya nomor dua di dunia," kata Chandika membuat inti Bruiser terkejut, bahkan Galen sampai tersedak kripik kentangnya.
"Uhuk.. uhuk.. "
"Kenapa selama ini bos menyembunyikan indentitas? Apakah bos tidak percaya dengan kami?" tanya Haidar, pemuda bergigi gingsul dengan wajah yang kecewa.
"Bukan itu alasannya," ucap Chandika dengan cepat. "Tapi, untuk menyembunyikan kalau dia adalah ketua Bruiser dari ayahnya."
"Kenapa harus di sembunyikan?" celetuk Galen setelah meminum air.
"Karena kalian adalah kekuatan yang di bentuk Alvis, untuk membantunya melawan Alvin Radeya Adhideva, ayahnya yang psikopat," lanjut Chandika.
"Di mana Heaven sekarang?" tanya Kelvin yang sejak tadi diam menyimak, dia adalah wakil ketua Bruiser.
"Gue nggak tahu di mana posisi dia sekarang, kemungkinan dia sedang di kurung oleh Alvin."
"Ya, gue juga sudah bersiap jika hal ini terjadi," kata Kelvin dengan ekspresi serius. "Heaven sangatlah misterius, pasti ada yang disembunyikan darinya, dan dugaan gue benar."
"Jadi apakah kalian akan ikut bersama gue untuk menolong Alvis."
Inti Bruiser yang berjumlah lima orang laki-laki saling menatap dan serempak mengangguk setuju.
"Kami semua sangat berhutang budi pada Heaven, tentu saja akan menolongnya," kata Kelvin mewakili.
Bruiser adalah geng motor yang dibentuk oleh Alvis. Meskipun geng motor itu mempunyai tiga ratus anggota, tapi Alvis hanya mempercayai ke lima anggota intinya, jadi Chandika hanya meminta pertolongan pada ke lima pemuda itu.
__ADS_1
"Pertama-tama kita cari posisi Heaven," lanjut Kelvin.
"Gue akan mencarinya," kata Galen yang entah sejak kapan sudah siap dengan sebuah laptop, pemuda itu adalah hacker kelas kakap yang paling dicari oleh FBI, dan selalu bisa lolos karena di bawah perlindungan Alvis, bukan hal yang sulit untuknya melacak seseorang.
Dengan cepatnya jari-jari Galen menari di keyboard laptop, merentas jaringan keluarga Adhideva bukannya hal yang sulit baginya.
"Ketemu!" serunya dan langsung memakan kripik kentangnya. "Heaven sedang ada di ruang bawah tanah mansion Adhideva."
"Kapan kita akan bergerak, Leo?" tanya Justin.
"Malam ini."
**
Di kediaman Aldebaron.
Aminta sedang fokus melihat majalah fashion dan terduduk di bangku samping kolam tenang, jari lentik yang agak keriput membalikan satu demi satu lembaran majalah. Suami dan putranya sedang tidak ada di rumah, di mansion hanya ada dirinya dan para maid dan beberapa bodyguard yang menjaga.
Wanita berambut hitam pendek itu menghela napas sesaat, jam sudah menunjukan pukul 08.00 malam, tapi putranya masih saja belum kembali, padahal dia ingin mengajak Chandika streaming video bersama.
"Apakah putraku sedang berkencan?" tanya Aminta pada maid yang sejak tadi di belakangnya.
"Saya tidak tahu, nyonya besar," jawab maid yang berkepala tiga itu.
Maid perempuan yang di belakangnya hanya tersenyum maklum dengan sifat nyonya besarnya yang kelewat posesif pada sang putra.
"Nyonya, ada nona Alice ingin bertemu," kata seorang bodyguard yang baru saja datang.
"Alice? Kenapa malam-malam datang?" tanya Aminta dengan raut heran.
"Saya tidak tahu, nyonya. Saat ini, nona Alice sedang menangis di ruang tamu, dia mencari nyonya besar," jawab bodyguard menjelaskan situasi.
"Baiklah," kata Aminta kemudian, perasaannya menjadi tidak enak.
Aminta langsung menutup majalah yang sedang dia baca tadi dan segera melangkah ke ruang tamu.
"Oh my, Alice.. what's wrong with you?" ucap Aminta yang melihat Alice menangis sesenggukan. Gadis dengan dress bermotif floral yang terlihat kotor dengan tanah dan luka di lutut.
"Mami Aminta.. hiks," isak Alice segera memeluk Aminta yang berjalan ke arahnya.
__ADS_1
"Shttt, what's up?" tanya Aminta sekali lagi sambil mengelus rambut hitam Alice.
"Tolonglah mommy dan bang Alvis," kata Alice yang masih dengan erat memeluk Aminta, badannya gemetar ketakutan.
"Kenapa dengan mereka?" tanya Aminta dengan terheran-heran.
"Daddy... hiks."
"Hmm?"
"Tolong hentikan daddy yang akan membunuh mommy dan bang Alvis."
Aminta yang mendengar itu langsung terperanjat, dia segera melepas Alice yang memeluknya dengan erat, "Apa!? Bagaimana mungkin??"
"Tolonglah mereka, hanya mami Aminta yang dapat menghentikan daddy.."
"Alice!"
Alice tiba-tiba saja pingsan dan segara Aminta memapahnya, bodyguard yang sejak tadi memperhatikan dengan sigap membantu mengangkat Alice dan menidurkan di sofa.
Aminta menatap Alice yang tidak sadarkan diri dengan jejak air mata dengan tatapan kalut.
..."Aminta, aku akan membalas sakit hatiku ini, kamu tidak akan bisa hidup bahagian dengan Jauzan."...
Terbesit perkataan Alvin 16 tahun yang lalu, saat di hari pernikahannya dengan Jauzan, pria itu membisikan kata-kata itu dengan nada ancaman. Aminta memang mengindahkan ancaman Alvin. Dia tahu jika pria itu adalah orang yang nekat, pria psikopat yang menjadi cinta pertamanya.
Namun, dia tidak pernah menyangka jika Alvin akan berniat membunuh saudara kembarnya dan keponakannya.
Apapun itu, dia akan menghentikan Alvin.
"Nyonya, anda mau kemana?" tanya maid pada Aminta yang sedang bersiap-siap pergi.
"Aku akan ke kediaman Adhideva," kata Aminta dengan mengambil kunci mobilnya. "Kamu jagalah Alice, pindahkan dia ke kamar atas, ganti bajunya dan obati luka-lukanya," lanjutnya memerintah.
"Baik, nyonya besar."
"Nyonya, biarkan saya ikut bersama anda, tuan besar sedang tidak ada di mansion, jadi saya yang akan melindungi nyonya jika ada hal yang tidak diinginkan terjadi," kata bodyguard yang bernama Lucas.
"Baiklah."
__ADS_1
Aminta langsung menyerahkan kunci mobilnya pada Lucas dan mereka segera menaiki limosin hitam, dan langsung meninggalkan mansion Aldebaron.
_To Be Continued_