
Jane membuka ke dua matanya, bola mata jade miliknya melihat sekeliling dan dia mencium bau obat-obatan kas kamar rumah sakit. Jane ingat jika dirinya pingsan saat hendak masuk ke kamar apartemen. Lalu siapa yang menolongnya dan membawa ke rumah sakit?
"Sudah bangun?" tanya Danny yang sejak tadi menunggu gadis itu siuman, sudah 2 jam lamanya. Waktunya benar-benar sudah terbuang.
"Danny? Lo yang menolong gue? tanya Jane langsung bangkit terduduk.
"Ya."
"Terima kasih," ucap Jane memegang kepalanya yang pusing.
"Beristirahatlah, gue sudah menghubungi keluarga lo," kata Danny yang masih berdiri sambil bersandar pada dinding.
Jane menggangguk lemah, dia memang sangat lemas, kepalanya pusing, dan perutnya terasa kram. Padahal dia tidak mempunyai riwayat sakit mag.
Danny kembali fokus pada ponsel miliknya.
Jane memposisikan dirinya untuk duduk bersandar pada kepala ranjang, dia tidak menyangka jika Danny yang sudah menolongnya. Kenapa harus pemuda yang tidak pernah dia pikirkan itu yang selalu datang tanpa dia minta.
Cklek
Pintu terbuka menampakkan Ridwan dan Emily yang memasang wajah marah. Emily langsung menghampiri putrinya dengan langkah cepat.
Plak
Sebuah tamparan tepat mengenai pipi Jane, pipi yang tadi pucat kini menjadi memerah.
"Kenapa mama menampar aku?" tanya Jane kaget karena mendapat tamparan tiba-tiba.
"Masih bisa kamu bilang kenapa?" kilah Emily marah.
Jane diam karena memang dia tidak tahu, apakah dia telah melakukan kesalahan?
"Jane katakan dengan jujur," kata Ridwan yang berekspresi marah seperti Emily.
"Jujur apa?" tanya Jane heran, belum lagi pipinya yang sangat berdenyut sakit. Tamparan ibunya sangatlah keras.
"Anak siapa yang sedang kamu kandung?" tanya Ridwan dengan meradang.
Jane tersentak kaget, matanya membulat sempurna. "A-apa aku hamil?"
"Ya, apakah kamu baru tahu!?" sentak Emily.
Jane terdiam, lidahnya mendadak kelu seketika. Dia meremas ujung bajunya gusar. Pantas saja dia tidak kunjung datang bulan, akhir-akhir ini dia selalu mual dan muntah-muntah, lalu sangat mudah lelah.
"Jawab dengan jujur, Jane. Anak siapa itu, hah?" tanya Ridwan sekali lagi. Dia memang terlalu membebaskan putrinya.
"Apakah itu anak Chandika?" tambah Emily.
Danny yang mendengar tuan mudanya di bawa-bawa hanya menyimak saja, dia tidak berniat ikut campur, tapi hanya menguping.
Jane semakin menundukkan wajahnya, dia tahu sangat jelas jika anak yang dikandungnya adalah anak Ben.
Namun, bagi dirinya ini adalah sebuah kesempatan besar.
"Ya, aku mengandung anak Chandika."
__ADS_1
**
"Ini pakai," kata Aland menyarahkan helm Bogo hitam pada Cherika.
Pagi ini Cherika sudah dapat sekolah kembali, dia sebenarnya sangat senang karena bisa kembali sekolah dan bertemu temen-temennya yang dulu. Tapi wajah manis gadis itu tertekuk.
Cherika dengan malas menerima helm yang di sodorkan Aland, dan segera memakainya.
Bukan karena apa, dia kesal karena mengingat jika motor kesayangannya telah di jual oleh si kakak pertama—Agust. Sekarang dia tidak bisa motor-motoran lagi. Sepertinya dia harus menabung lagi untuk membeli motor baru.
Dengan terpaksa dia menduduki jok belakang motor bebek kakaknya. Dia dibonceng Aland untuk berangkat ke sekolah.
"Kenapa sih, biasanya juga bang Aland bonceng," kata Aland heran dengan wajah cemberut adik perempuannya.
Cherika hanya diam saja, moodnya sudah sangat buruk pagi ini.
"Pegangan, nanti jatuh," kata Aland kemudian. Pemuda itu membawa tangan Cherika untuk memeluk pinggangnya.
Gadis itu menurut saja, dia melingkarkan tangannya pada pinggang sang kakak laki-laki dan menyenderkan kepalanya di punggung Aland.
"Jangan nangis kalau gue ngebut," ucap Aland yang mulai menjalankan motornya.
"Ck, mana mungkin," bantah Cherika merengut.
Aland hanya mengedikkan bahu.
'Dika pasti bikin image gue jadi cewek menye-menye, masa naik motor ngebut saja nangis,' batin Cherika.
Dia tidak tahu jika pemuda yang sebelum ini menempati tubuhnya telah membawa perubahan besar pagi kehidupannya.
Hanya membutuhkan 15 menit Cherika dan Aland sampai di sekolah.
Cherika turun dari boncengan sang kakak. Tapi, sebelum dia mencoba melepas helm, Aland langsung membantunya.
"Hais, gue bisa sendiri kali, bang. Udah kayak orang pacaran saja kita," kata Cherika pada Aland yang sudah melepas helm dari kepalanya.
"Oh, lo sudah bisa buka helm sendiri ternyata," ucap Aland terkekeh. "Biasanya juga selalu minta gue bukain."
Cherika melongo.
"Eh, lihat princess datang!"
"I-itu Cherika!?"
"Dia sudah sadar?"
"My God, Cherika imut sudah masuk sekolah lagi!"
"Vitamin banget mukanya,"
"Jadi makin imut saja, pacar gue~"
"Heh, pacar gue tuh!"
"Ngaca!"
__ADS_1
"Uwaaa Cherika!!"
Pekikan seantero sekolah membuat Cherika melotot tidak percaya. Seketika dirinya dikerumuni bagai gula oleh para semut.
'Apa-apaan ini? Kenapa gue jadi populer begini??' batin Cherika menelan ludah dengan susah payah.
Seingatnya warga sekolah sangat menjauhinya karena terkenal urakan dan tidak segan-segan nonjok orang. Tapi, kenapa jadi seperti ini?
"Cherika kenapa rambut kamu dikuncir ponytail? Padahal lebih manis di gerai seperti bisa?"
"Kamu habis sakit kenapa semakin manis saja?"
"Sini aa gendong, kamu pasti cape kalau jalan ke kelas,"
"Minggir kalian!" seru Aland pada siswa dan siswi yang mengerumuni adiknya, dia langsung menggandeng Cherika untuk segera jalan menuju kelas.
Sedangkan Cherika masih mematung karena shock.
'Dika, apa yang telah lo lakuin selama ini!!'
Hilanglah sudah masa-masa menenangkan dirinya.
**
Sedangkan tersangka yang membuat kehidupan Cherika berubah sedang memarkirkan mobil Lamborghini Veneno miliknya di area parkir British School.
"Kok jadi merinding ya?" gumam Chandika mengusap tengkuknya. Dia tidak tahu jika gadisnya jadi kesusahan karena ulahnya.
Kini tidak ada lagi Chandika yang cupu, penampilannya tetap seperti sewaktu Cherika menjadi dirinya. Karena dia pikir jika Cherika tidak menyukai penampilan cupunya.
Ya, apapun untuk Cherika tercinta.
Segera dia membuka pintu mobil setelah menyambar ransel di jok samping.
Seperti gerak slow motion pintu mobil putih itu terbuka ke atas dan Chandika keluar dengan kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya. Seketika dia menjadi pusat perhatian.
"Astaga itu Chandika!"
"Makin keren saja, anjrit!"
"Auranya seperti pangeran."
"Tumben dia nggak pakai motor?"
"Orkay mah bebas mau pake motor sultan atau mobil sultan."
"Sayang sudah punya Jane."
"Gaskuen sebelum janur kuning melengkung."
"Sabi."
Chandika yang menjadi pusat perhatian berjalan tenang, kadang dia tersenyum ketika ada yang menyapa. Dia cukup senang karena teman-teman sekolahnya tidak menatap jijik lagi padanya. Dulu bahkan dia diejek habis-habisan karena berprilaku bagai orang idiot.
"Permisi aku mau lewat," kata Chandika dengan tersenyum manis pada kerumunan perempuan yang menghalangi jalannya.
__ADS_1
Namun, dia tidak sadar jika senyumannya membuat para siswi kejang-kejang dan pingsan di tempat.
_To Be Continued_