Sekejap Berubah Gender

Sekejap Berubah Gender
Kritis


__ADS_3

Cherika yang melihat gerakan tangan Alvin yang ingin mengambil pistol, seketika panik dan langsung berlari ke arah Chandika.


"Awas!" seru gadis belo itu ketika Alvin sudah mengarahkan pistol ke arah Chandika.


DOR


Peluru menembus dahi Cherika yang melindungi Chandika.


"CHERIKA!!"


"BOS!!"


Teriak semua orang karena melihat gadis mungil itu tertembak.


"Ti-tidak, kenapa lo.." kata Chandika tercekat ketika melihat Cherika yang terjatuh dengan luka tembak di tengah-tengah dahi.


DOR


DOR


"KEPARAT!" seru Jauzan yang baru saja datang dan langsung menembaki Alvin hingga tewas. "Maaf, aku datang terlambat," sambung Jauzan langsung menghampiri Aminta yang sedang mematung karena melihat Cherika tertembak.


Aminta yang melihat suaminya datang langsung saja memeluk Jauzan dan menangis. "Suamiku, tolong selamatkan gadis itu," kata Aminta dengan gemetar, dia melihat Cherika yang sudah tidak sadarkan diri di pangkuan Chandika.


Hati Chandika meradang, sakit, dan kepalanya berdenyut. Dia menangis dalam diam. Pikirannya kacau, bagaimana bisa tubuh aslinya tertembak, kenapa harus ada kejadian seperti ini.


"Cepat bawa dia ke rumah sakit!" seru Jauzan pada bawahannya.


Jauzan tidak menyangka kalau dia akan datang terlambat seperti ini, padahal dia sudah mempersiapkan penyerangan untuk Alvin dengan sangat matang, dia sudah membawa banyak intel polisi untuk menyergap kediaman Adhideva saat tengah malam. Tapi, bagaimana bisa keadaan sudah sangat kacau seperti ini. Kenapa ada putranya dan istrinya di tempat ini, dan banyak sekali pemuda dengan senjata api.


"Danny, bereskan keadaan di sini," kata Jauzan pada pemuda berambut coklat terang.


"Baik, tuan," jawab Danny dengan patuh.


"Coba jelaskan ada apa yang sebenarnya yang telah terjadi, Lucas,"  kata Jauzan pada bodyguard yang mendampingi istrinya itu.


**


Di sebuah ruang tamu yang bernuansa krim dan putih terdengar suara melengking pemuda yang sedang bermain gitar.


JRENG JRENG


"Engkau bukanlah segalaku"


"Bukan tempat tuk hentikan langkahku"


"Usai sudah semua berlalu"


"Biar hujan menghapus jejakmu"


"Nanananana"


"Nanananana"


"Nanananana"

__ADS_1


"Aduh! Brisik banget ya lo, bang Nathan!" seru Aland yang menghampiri Nathan yang sedang bernyanyi dengan suara fals.


"Ganggu saja sih lo, bocil!" seru Nathan tidak terima dirinya diganggu. "Jangan mengganggu Ariel Tatum lagi nyanyi!"


"Ariel Noah kali!"


"Ah, ya," kata Nathan dengan menjentikkan jarinya.


"Cewek mulu sih yang ada dipikiran lo," ucap Aland yang langsung duduk di samping Nathan dan mencomot kripik kentang.


"Main comot saja lo," kata Nathan menatap tidak suka.


"Minta sih, pelit banget ya jadi abang," balas Aland sewot.


"Makan saja, gue hanya bercanda. Jangan baper, itu berat. Biar mereka saja," kata Nathan dengan tertawa garing.


"Gila lo!" seru Aland menatap aneh candaan Nathan.


Drett


Drett


Drett


"Hp lo bunyi, Al," kata Nathan mengalihkan perhatian Aland yang masih memakan kripik kentang.


Aland mengeryit bingung, kenapa ada orang yang menghubunginya selarut ini.


"Hallo," kata Aland yang mengangkat telepon.


"..."


"..."


"A-apa!? Lo bercanda kan??


"..."


Seketika badan Aland membeku dan memucat.


"Apa apa?" tanya Nathan penasaran karena heran dengan perubahan ekspresi adiknya.


"Cherika, bang.." ucap Aland dengan badan yang bergetar. "Dia tertembak."


**


Dokter membawa Cherika ke ruang ICU karena kondisinya kritis. Perawat tiba-tiba melihat monitor dan memberitahu dokter jika detak jantung gadis itu melemah. Dokter langsung menggunakan alat pemacu jantung dan langsung meletakan di bagian dada Cherika. Namun, detak jantung Cherika semakin melemah.


Kelvin yang tertembak di pahanya juga sedang ditangani di ruang lainnya. Alvis dan Aminty juga sama.


Di luar ruangan, semua orang yang sedang menunggu menunjukan raut khawatir.


"Chan, obati dulu luka di wajahmu," kata Aminta yang melihat muka babak belur putranya, pelipis yang robek sudah banyak mengeluarkan darah.


Chandika hanya diam saja, seakan dia tidak mendengar perkataan Aminta, pemuda itu masih menangis dalam diam. Aminta yang paham dengan kondisi putranya, dia langsung memanggil perawat untuk mengobati luka Chandika, jika itu dibiarkan pasti akan berakibat infeksi.

__ADS_1


Perawat wanita datang dan dengan segera merawat luka-luka di wajah Chandika. Pemuda itu hanya diam dengan tatapan yang kosong, seakan nyawanya sudah tidak ada di tempat.


"Di mana Cherika!?" tanya Agust pada Ignancio. Ke enam kakak laki-laki Cherika baru saja datang ketika dihubungi Ignancio jika adik mereka tertembak, mereka sangat terkejut dan segera pergi ke rumah sakit dengan terburu-buru.


"Bagaimana bisa adik gue tertembak, ha!?" tanya Nathan dengan mata yang memerah karena tangis.


"Cherika dia.. menyelamatkan Chandika," kata Ignancio dengan air mata yang mengalir.


Nathan seketika melirik Chandika yang wajahnya sudah selesai di obati, pelipisnya mendapat empat jahitan. Nathan segera melangkah dan menarik kerah baju pemuda bersurai hitam legam itu. "Bagaimana bisa Cherika bersama lo?" tanya Nathan dengan gusar, pasalnya Cherika diam-diam keluar rumah tanpa sepengetahuan ke enam kakaknya.


"Maaf," gumam Chandika dengan suara parau.


"Sudahlah, Nathan. Tahan emosimu, ini rumah sakit, kita tunggu saja kabar dari dokter," kata Guinendra menepuk bahu Nathan, di wajahnya terdapat jejak-jejak air mata.


Setelah perkataan Guinendra suasana menjadi hening kembali, mereka semua sedang berdoa untuk keselamatan Cherika.


CKLEK


Suara pintu ruang ICU terbuka mengalihkan semua orang, dokter keluar dari balik pintu.


"Bagaimana keadaannya, dok?" tanya Jauzan.


"Anda keluarganya pasien?" tanya dokter menatap Jauzan.


"Saya kakak laki-lakinya, dok," jawab Agust mendekati dokter.


"Orang tuanya?" tanya dokter yang yang kini menatap Agust.


"Sudah tidak ada," jawab pemuda berkulit putih itu sekali lagi.


Mendengar jika Cherika sudah tidak punya orang tua, semakin membuat hati Aminta sakit, kenapa gadis itu yang tertembak, kenapa bukan dia saja yang menggantikan putranya, kehidupan gadis malang itu masih panjang.


"Maaf sebelumnya, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi adik anda sudah tidak bisa di selamatkan lagi," kata Dokter dengan ekspresi penyesalan, dia sudah mencoba yang terbaik dan akhirnya menyerah. "Tembakan peluru pada bagian kepala menyebabkan kerusakan pada otak, tempurung kepala, mata dan pembuluh darah utama yang terletak di kepala." 


"Ti-tidak mungkin," ucap gadis segera meremas bagian kepalanya. Semua orang yang mendengar perkataan dokter langsung menangis histeris, perasaan mereka bagai tersambar petir.


"Tolong selamatkan gadis itu, berapapun yang kamu minta aku akan membayarnya," kata Jauzan yang menatap doker tajam.


"Ini bukan masalah uang, tuan," kata dokter dengan ekspresi yang syarat akan penyesalan. "Kita hanya membutuhkan keajaiban saat ini."


Chandika yang sejak tadi terdiam dengan badan yang membeku segera memaksa masuk ke dalam ruang ICU tanpa memperdulikan teriakan yang melarangnya.


Di tengah ruangan terlihat seorang gadis terbaring di brankar rumah sakit, perawat sedang melepaskan peralatan medis yang tadi melekat pada Cherika. Perawat yang melihat kedatangan Chandika langsung segera menyingkir.


"Hei, bangunlah, kenapa lo meninggalkan gue dengan membawa tubuh asli gue, hiks.." kata Chandika yang sudah berada di sisi ranjang dengan isak tangis.


Gadis mungil itu hanya diam, matanya terpejam dengan muka pucat dan bibir yang membiru.


"Katanya lo mau berubah menjadi kuat seperti gue, masa begini saja lo nggak bisa bangun," lanjut Chandika dengan memegang tangan Cherika yang sangat dingin.


Tidak ada respon sama sekali dari gadis itu.


"Hiks, bangunlah, Chandika.."


Jauzan, Aminta, dan ke enam kakak laki-laki Cherika menyusul masuk. Aminta semakin merasakan sesak melihat putranya menangis dengan memegang tangan Cherika.

__ADS_1


"Jangan meninggal, hiks... lo hanya pura-pura saja, bukan? Seharusnya gue yang tertembak, kenapa lo yang mengorbankan diri?" gumam Chandika menyangkal.


_To Be Continued_


__ADS_2