
"Kamu baik-baik saja, sayang?" tanya Cherika khawatir.
"Aku baik-baik saja. Tapi jadi lengket semua," jawab Chandika yang jatuh terduduk.
Lihat saja keadaannya yang sudah ketumpahan madu. Dari wajah mengalir higga leher, baju, lengan dan celana. Chandika sudah dipenuhi dengan madu. Bahkan botol madu yang tadi dia pegang sudah pecah. Benar-benar ceroboh sekali dirinya.
"Apa boleh buat aku harus mandi..."
"Tidak usah mandi," larang Cherika tahu-tahu sudah berjongkok di depannya.
"Eh?"
"Aku saja yang membersihkannya," lirih Cherika dengan tanpa aba-aba langsung menjilat madu yang ada di pipi Chandika.
Chandika menyipitkan matanya. "Memangnya aku anak kucing."
"Kamu kan kucing nakal," kekeh Cherika masih menjilati seluruh wajah Chandika.
Chandika memejamkan matanya antara pasrah dan menikmati. Dia memposisikan duduknya menjadi bersandar pada pintu kulkas dengan kaki yang menyilang.
Cherika duduk di kaki Chandika yang menyilang dan mulai menjilat rahang si pemuda dan sesekali memberikan kecupan di sana. Dia bahkan mencuri kesempatan untuk mengemut telinga Chandika.
"Ahmm... Telingaku tidak terkena madu," geram Chandika yang merasakan sensasi basah dan menggelitik di telinganya. Sungguh membuat geli dan mabuk kepayang.
Cherika menjilat dan mengecap lelehan madu pada leher putih Chandika, rasa manis bercampur wangi citrus semakin membuatnya bersemangat. Hisapan kecil tidak luput dia berikan, namun Cherika berusaha untuk tidak meninggalkan jejak kemerahan di sana.
"Buka baju kamu," perintah Cherika. "Lelehan madunya sampai masuk ke dalam."
"Bukakan," lirih Chandika dengan suara serak. Bibirnya terasa kebas, dia menunggu Cherika menciumnya, dia ingin mengecap bibir peach milik Cherika, namun Cherika tidak kunjung memenuhi hasratnya. Dan dia hanya bisa membasahi bibirnya sendiri dengan lidahnya.
Alih-alih mencium bibir Chandika, Cherika membuka seluruh kancing piyama tidur yang pemuda itu pakai dan meloloskannya hingga Chandika bertelanjang dada. Cherika langsung melancarkan aksi bersih-bersihnya. Menjulurkan lidahnya setengah menekan mengitari seluruh badan Chandika yang terkena madu.
Perasaan Cherika bergejolak, dia sangat senang dengan keadaan yang menguntungkan baginya ini.
Sementara itu, Chandika menyadari keanehan yang terjadi pada dirinya. "Tu-turun dari tubuhku. Celanaku kenapa jadi sesak begini?" gumam Chandika dengan napas yang memberat.
Cherika menurut dan turun dari posisinya, dia melihat Chandika yang segera membuka kakinya. Sepertinya pemuda itu benar-benar mengalami sesak di bawah sana, terlihat sekali wajah tersiksa dari siempunya.
Padahal jiwa Chandika adalah perempuan, tapi tubuh laki-laki yang dia tempati menerima rangsangan yang baru saja diberikan Cherika. Dia tidak bisa mengontrol tubuh yang sudah ingin meledak itu.
Cherika tersenyum mesum melihat itu. "Mau aku bantu supaya tidak sesak lagi?"
Chandika merinding melihat senyuman Cherika. "Bantu bagaimana?"
"Sebaiknya kita kembali ke kamar," ujar Cherika dengan menarik tangan Chandika untuk ikut bersamanya.
"Tapi dapur masih berantakan," lirih Chandika dengan suara beratnya. Dalam keadaan itu dia bisa-bisanya memikirkan dapur.
"Sudahlah, akan ada pelayanan yang membereskan," ucap Cherika. Dia meraih piyama Chandika yang tergeletak di lantai untuk dia bawa. Bisa berabe jika mami Aminta menemukannya.
Chandika mengangguk. Dia menurut saat Cherika menariknya ke kamar mereka berdua.
__ADS_1
"Buka celana kamu," ucap Cherika setelah mengunci pintu kamar.
"Kenapa?"
"Katanya sesak."
"Ya," Chandika menurut, dia membuka celananya.
"Buka semuanya," intrusi Cherika lagi.
Chandika membuka semuanya. Sekarang dia toples tanpa sehelai benangpun.
Setelahnya Cherika mulai membuka bajunya sendiri dengan gerakan yang tergesa-gesa. Chandika yang melihat itu merasa bergetar.
"Kenapa kamu juga ikut-ikutan? Kan hanya aku yang merasa sesak."
"Tentu saja biar kamu ada temannya, curang kan kalau hanya kamu yang polos," jawab Cherika nyengir tanpa beban.
Cherika mendorong tubuh Chandika hingga tertidur di ranjang. "Setelahnya ikuti semua yang aku suruh, ok?"
"Ok."
**
Chandika menatap wajah damai Cherika yang masih tertidur pulas. Dia tidak menyangka jika diri aslinya bisa menjadi sangat liar ketika kerasukan jiwa Chandika asli. Jadi malu sendiri dia. Dan mau-mau saja dia menurut untuk berbuat yang iya-iya pada tubuh aslinya itu.
Tangan Chandika menyentuh punggung halus Cherika untuk membangunkan gadis itu. "Wake up, Dika," bisikannya serak tepat pada telinga Cherika.
"Chandika."
"Bangun, kita harus sekolah," kata Chandika dengan memanggil nama asli si gadis.
Cherika mengerjap-ngerjap matanya. "Aku masih ngantuk sekali."
"Kan sudah aku bilang lebih baik tidak usah tidur lagi. Sekarang sudah pukul 6.30. Ayo cepat bangun, kita mandi bersama biar menghemat waktu."
Mereka memang tidur jam 5 pagi setelah melakukan olahraga yang menguras banyak keringat. Padahal yang paling bersemangat itu adalah Cherika sendiri, dan sekarang siapa yang mengeluh ngantuk?
Cherika mengangguk. "Gendong."
Chandika langsung menurut untuk menggendong Cherika, dia tidak memperdulikan tubuh polos mereka yang kembali menempel erat. Dan siapa yang tahu jika tubuh bagian bawahnya sudah menegang kembali. Benar-benar sudah tidak bisa terkontrol.
"Aku sesak kembali," aku Chandika setelah berada di kamar mandi.
Cherika langsung mengalihkan pandangannya ke bawah. Dan benar saja sang belalai sudah menegang kembali.
"Kamu ingin lagi?" tanya Cherika dengan muka polos menghanyutkan miliknya.
Chandika mengangguk. "Ayo kita lakukan dengan cepat."
Setelahnya Chandika segera menyalakan shower dan langsung menarik Cherika untuk dia cium di bawah guyur air.
__ADS_1
Sepertinya ajaran mesum Cherika sudah ditangkap baik oleh Chandika. Pasangan mudah itu kembali melakukan kegiatan mereka dengan suara gemericik air.
**
"Apa-apaan ini?"
Aminta terkejut ketika melihat dapur yang berantakan. Botol madu yang seharusnya beradu di dalam kulkas sudah pecah dan berserakan di mana-mana. Padahal dia ingin memasak sarapan untuk keluarga tercinta. Bagaimana dia memasak jika seperti ini?
"Apa ada pencuri?" tanya Aminta pada diri sendiri. Lalu dia melirik CCTV yang berada di pojok langit-langit. "CCTV-nya nyala, kan?"
Aminta memanggil pelayan untuk membersihkan kekacauan di dapur. Setelahnya dia melangkah untuk menuju ke ruang keamanan.
"Ada apa, istriku? Kenapa muka cantikmu serius sekali pagi ini?" tanya Jauzan yang sudah memakai setelan jas lengkapnya.
"Sepertinya ada pencuri yang memasuki dapur."
"Apa? Pencuri? Tidak mungkin kan? Mansion ini sudah dijaga oleh ratusan bodyguard dan ada CCTV di mana-mana, jangankan maling seekor tikus pun tidak mungkin bisa masuk ke sini," kata Jauzan terheran-heran. Keamanan mansion Aldebaron memang sudah terjaga dengan sangat baik.
Langkah mereka sampai di ruang keamanan.
"Apa semalam ada pencuri?" tanya Aminta pada dua bodyguard yang menjaga ruang keamanan. Ruangan yang dipenuhi oleh monitor pemantau CCTV.
"Tidak ada, nyonya," jawab Bodyguard sopan.
"Lalu apa kalian melihat siapa yang membuat dapur berantakan?" tanya Aminta penuh penasaran.
Ke dua Bodyguard itu saling tatap. Kemudian mengangguk bersamaan. Namun, muka mereka berdua mendadak memerah.
"Siapa?" tanya Aminta dan Jauzan bersamaan.
"Tuan dan Nyonya bisa lihat sendiri rekamannya," ujar Bodyguard dengan mengotak-atik keyboard untuk memutar kembali rekaman.
"OMG!" seru Aminta saat melihat jika putra dan menantunya lah si biang kerok.
Jauzan menggelengkan kepala. "Pengantin baru yang sangat bergairah. Kenapa mereka tidak kenal tempat? Apa mereka tidak tahu jika ada yang sedang merekam mereka?"
"Kalian segera hapus rekaman ini, dan tutup mulut kalian tentang ini," ucap Aminta dengan wajah yang memerah sempurna.
"Baik, nyonya."
Aminta dan Jauzan segera keluar dari ruang keamanan.
"Apa di dapur masih ada madu yang tersisa?" tanya Jauzan tiba-tiba.
"Sepertinya masih."
"Aku mau—"
"Tidak," potong Aminta yang langsung mengerti maksud sang suami.
"Hais..."
__ADS_1
_To Be Continued_