
Malam yang bertabur bintang telah muncul ketika senja telah tenggelam dan siang berganti dengan malam. Bintang-bintang pun menjadi cahaya di langit yang gelap.
Bersama bintang. Bersama bulan. Bersama langit malam. Cukup dengan melihat langit malam dalam posisi terduduk di kursi yang berada balkon kamar, pasangan pengantin baru itu tersenyum bahagia.
"Aku menemukan kamu dalam bintang yang bersinar," bisik Chandika pada Cherika yang duduk di pangkuannya.
Cherika tertawa. "Oh, manis sekali perkataan suami kecil-ku," ucap Cherika berbalik menggoda.
Dan skakmat, wajah Chandika merona seperti buah tomat kesukaan si pemuda. "Kenapa memanggilku suami kecil? Aku sudah besar."
"Memangnya apa yang besar?" tanya Cherika yang sangat ambigu.
Chandika berpikir sejenak. Namun, pikirannya sudah terlebih dahulu tercemar karena film edukasi yang Alvis berikan padanya. Dia mengambil tangan kanan Cherika dan menuntunnya untuk menyentuh bagian bawah tubuhnya. "Yang ini," jawabnya dengan sangat percaya diri.
Cherika terkejut dan langsung menarik tangannya kembali. "Dasar mesum!" serunya dengan wajah memerah.
"Benarkan? Aku bukan suami kecil," kata Chandika nyengir kuda.
"Ihh, maksudku bukan itu, Dika," sangkal Cherika merengut.
"Lalu?"
"Umurmu yang masih kecil," jawab Cherika dengan cepat.
"Mana ada, aku sudah 17 tahun. Umurmu yang lebih kecil dariku, sayang," sangkal Chandika.
"Tapi aku lebih dewasa," kata Cherika tidak mau kalah.
"Terserah kamu saja, sayang," ucap Chandika mengalah.
Cherika tersenyum senang. "Jadi kamu jangan protes untuk aku panggil suami kecil."
"Ya, istri besar-ku," jawab Chandika asal.
"Apa? Jangan memanggilku istri besar! Memangnya aku gendut!" seru Cherika memprotes.
"Kamu tidak gendut kok, tapi besar di bagian ini," celetuk Chandika dengan meraup tonjolan milik istrinya.
"Ehmm, lepas!" kata Cherika terjangkit kaget, dia melepas paksa tangan Chandika. "Kenapa kamu jadi semesum ini sih??"
"Tidak ada salahnya untuk mesum pada istri sendiri, sayang."
Cherika melebarkan mata belonya, dari mana suaminya itu belajar kata-kata seperti itu?
"Ugh, kamu imut sekali," lanjut Chandika yang melihat kekagetan Cherika sebagai sesuatu yang imut. Dia semakin merapatkan pelukannya pada tubuh sang istri yang masih di pangku olehnya.
Chandika menyelusupkan kepalanya lada leher Cherika, menghirup dalam-dalam wangi vanila yang begitu dia sukai.
__ADS_1
"Aku ingin pipis," kata Cherika tiba-tiba.
"Ayo aku antar ke kamar mandi," ucap Chandika berdiri dari posisi duduknya, dia masih membawa Cherika pada pelukannya. Menggendong sang istri di depan.
"Aku bisa jalan sendiri," ujar Cherika malu, sejak tadi suaminya itu memang selalu menggendongnya jika ingin pergi kemana-mana.
"Apa sudah tidak sakit lagi?" tanya Chandika.
"Masih," jawab Cherika jujur.
"Kalau masih kenapa ingin berjalan sendiri? Aku tahu pasti kamu kesulitan saat berjalan," kata Chandika saat membuka pintu kamar mandi. Dia segera mendudukkan Cherika pada closet.
"..."
"..."
"Kamu keluarlah dulu," ujar Cherika mengintruksi keheningan itu. Dia menunggu Chandika untuk pergi, tapi pemuda itu tetap diam saja.
"Kamu tidak ingin aku bantu?"
"Tidak!" tolak Cherika cepat. Sudah seperti bayi saja dia.
"Baiklah, jika ingin keluar panggil aku lagi. Aku akan menggendong kamu lagi," kata Chandika berbalik pergi.
Cherika segera menyelesaikan ritual buang air kecilnya.
Namun, saat selesai dia tidak memanggil Chandika untuk menggendongnya lagi. Dia lebih memilih untuk berjalan sendiri. Meski dengan tertatih dia bisa berjalan untuk keluar dari kamar mandi, dia bukanlah perempuan yang manja.
Dengan mengeryit dahi dia menghampiri Chandika yang terduduk di tepi ranjang dengan perlahan, Chandika tidak menyadari kehadirannya dan masih tetap fokus pada headphone. Cherika yang penasaran mencoba melongok untuk melihat apa yang tengah Chandika lihat itu.
Dia langsung tercengang melihat apa yang tengah Chandika lihat. Cherika langsung mengambil handphone itu dan membuangnya.
Prakk
Chandika terlonjak kaget atas perlakuan tiba-tiba Cherika dan menatap prihatin handphone miliknya yang sudah hancur, baru saja dia beli baru. Sepertinya dia harus beli headphone baru lagi.
"Apa yang sedang kamu lihat!?" pekik Cherika dengan marah.
Si pemuda mullet menelan ludah berat. Kenapa istrinya begitu marah padanya? Dia hanya sedang belajar.
"Jawab!"
"Aku sedang melihat film edukasi," jawab Chandika takut-takut. Cherika yang sedang marah ternyata menyeramkan sekali.
"Edukasi apa? Kamu tidak boleh melihat itu! Kenapa kamu melihat cewek lain telanjang!" seru Cherika mencak-mencak.
"Kata Alvis, ini akan membantuku untuk tidak bermain kasar padamu lagi," jawab Chandika jujur.
__ADS_1
"Apa? Jadi Alvis yang memberimu itu?"
Oh, tamat sudah riwayat Alvis.
"Jangan marah, sayang. Maaf kalau aku salah karena melihat itu," kata Chandika bangkit dan merengkuh Cherika.
Cherika diam saja, dia marah karena suaminya sudah melihat tubuh perempuan lain. Apalagi dengan tatapan fokus seperti tadi. Sangat cemburu sekali dirinya. Ingin sekali dia mencongkel dan mencuci bersih mata Chandika.
Tidak. Itu terlalu sadis. Cherika menggeleng atas pikirannya.
Pantas saja suaminya terlihat begitu mesum sekarang. Jadi karena itu.
"Maaf..." lanjut Chandika semakin erat merengkuh Cherika. Dia sangat menyesal sekali. "Aku tidak akan melihat film itu lagi."
"Janji?" ucap Cherika.
"Janji, sayang."
"Awas saja jika kamu melakukanya lagi, aku akan benar-benar mencongkel matamu," ancam Cherika dengan tidak main-main.
"Y-ya," jawab Chandika luar biasa takut.
Cherika pun menaiki ranjang untuk tidur. Dia tidur membelakangi Chandika.
"Katanya sudah memaafkan aku, tapi kok tidurnya membelakangi aku? Kamu tidak ingin memelukku?" tanya Chandika yang sudah ikut menidurkan dirinya di sebelah Cherika.
Cherika hanya bergeming, meskipun tawaran memeluk Chandika begitu menggiurkan tapi dia coba abaikan. Dia memang sudah memanfaatkan suaminya, tapi tetap saja dia masih sedikit marah.
Chandika segera memeluk Cherika dari belakang, kaki pemuda itu menghimpit kaki Cherika.
"Minggir. Jangan peluk aku," ucap Cherika mencoba melepaskan diri.
"Tidak, aku ingin memeluk kamu sampai pagi," tolak Chandika justru semakin menempel pada belakang tubuh Cherika.
"Peluk saja sampai dirimu kram," kata Cherika menutupi rasa gugupnya. Sejatinya dia ingin sekali membalas pelukan hangat sang suami.
"Ngomong-ngomong apakah kamu sudah meminum pil yang aku berikan?" tanya Chandika tahu-tahu.
"Sudah. Memangnya untuk apa pil itu?"
"Pil agar kamu tidak hamil," jawab Chandika jujur.
"Kenapa kamu memberiku pil itu?" tanya Cherika tercekat. Apakah Chandika tidak menginginkan anak darinya? Padahal dia ingin segera mempunyai bayi-bayi yang lucu.
Namun, tidak ada jawaban dari Chandika. Cherika mendengar napas teratur pemuda itu, suaminya tertidur.
Cherika segera memutar tubuhnya menjadi berhadapan dengan wajah sang suami, dia kecup sekilas bibir Chandika yang sedikit terbuka.
__ADS_1
"Aku tidak mau meminum pil itu lagi."
_To Be Continued_