Sekejap Berubah Gender

Sekejap Berubah Gender
Bad Intention


__ADS_3

Berita tentang pertunangan Chandika dan Jane sudah menjadi perbincangan umum. Pelaku dari menyebarnya berita ini adalah Emily, ibunda Jane yang dengan bangga menyebar luaskan pertunangan putrinya dengan si anak tunggal keluarga kaya raya melalui media masa.


Semua orang dibuat terkejut akan hal itu.


"Sttt, lo tau nggak berita hebohnya?"


"Ya, Chandika sama Jane benaran akan bertunangan."


"Katanya tiga Minggu lagi."


"Makin besar kepala si Jane."


"Jangan gitu. Jane adalah calon dari nyonya Aldebaron selanjutnya, bisa habis kalau ada yang tahu jika lo menjelekkan dia."


"Tapi gue masih nggak terima, Chandika itu milik kita bersama!?"


Obrolan para siswi yang berstatus pacar Chandika dengan perasaan yang meluap-luap, ada iri, sakit hati, benci, dan tidak percaya.


Perhatian para siswi itu teralihkan dengan kedatangan Chandika yang memasuki kantin dengan Jane yang menggandeng mesra.


"Chandika, kenapa kamu bertunangan dengan Jane?" tanya Cana dengan tatapan sendu, gadis yang dulu menembak Chandika di bawah pohon.


Chandika hanya diam, dia tidak tahu harus berkata apa. Dia tidak bermaksud menyakiti hati sesama perempuan. Tapi, kenapa kini dia menjadi seorang f-kboy yang tidak punya perasaan.


"Padahal aku yang pacaran denganmu, tapi kenapa kamu.. hiks," isak perempuan berambut merah ponytail.


Chandika hanya menelan ludah karena merasa bersalah. "Maaf. Gue minta putus dari kalian semua."


Jane hanya tersenyum dengan penuh kemenangan menatap para perempuan yang sekarang sudah menjadi barisan para mantan Chandika. "Mending kalian jauh-jauh deh sekarang, Jangan deketin Chandika lagi," katanya dengan smirk.


Para gadis langsung meninggalkan Chandika dengan perasaan kecewa.


"Chan, ada yang mencari lo di luar pagar sekolah!" seru Caka dengan napas yang ngos-ngosan sehabis lari.


"Siapa?" tanya Chandika dengan alis terangkat.


"Cowok dari sekolah lain," kata Caka kemudian.


Chandika yang tidak mau ambil pusing, segera pergi dari area kantin untuk ke pagar sekolah.

__ADS_1


"Tunggu! Aku ikut!" seru Jane ingin mengekor Chandika.


"Jane, lebih baik lo di sini saja, sepertinya ini bukanlah urusan cewek," larang Caka menghentikan Jane.


Jane yang pada dasarnya mempunyai sikap keras kepala tidak memperdulikan Caka.


"Ngapain lo ke sini?" tanya Chandika to the point. Dia heran kenapa pemuda blaster yang dia kenal tiba-tiba saja datang.


BUG


Sebuah pukulan mendarat di rahang Chandika.


"Masalah lo apa, ha!" seru Chandika geram karena tiba-tiba saja terkena pukulan.


"Berani-beraninya anda menyakiti perempuan yang saya cintai," kata Ludhe yang mata biru yang berkilat marah.


"Maksud lo siapa?" tanya Chandika heran.


"Cherika."


Chandika langsung tertegun mendengar jawaban Ludhe.


"Singkirkan tangan lo!" seru Chandika dengan melepas kasar tangan Ludhe yang mencengkram kerah kemejanya. "Lo nggak tahu apa-apa," lanjutnya dengan tatapan rumit.


Dia tahu jika Ludhe sedang membela Cherika, dirinya yang dulu. Dia juga tahu sejak dulu pemuda blaster itu selalu mengejar cintanya, tapi dia tidak bisa menganggap Ludhe lebih dari teman. Ada yang tidak bisa dipaksa yaitu rasa dan ada yang tidak bisa dibohongi yaitu hati.


"Chan, kamu nggak apa-apa?" tanya Jane yang tiba-tiba datang dan memperburuk suasana.


"Kenapa lo ke sini?" tanya Chandika dingin.


"Aku hanya khawatir," ucap jane dengan raut cemas.


"Ck," decak pemuda mullet kesal.


Ludhe yang melihat ke dua orang yang menjadi sumber kemarahannya menjadi semakin meradang.


Baginya Cherika adalah seseorang yang harus dia lindungi. Jika ada yang berani menyakiti gadis itu, dia pasti akan membalasnya berkali-kali lipat. "Saya tidak akan membiarkan kalian hidup bahagia, camkan itu," kata Ludhe dengan tatapan tajam.


'Masalah apa lagi ini,' batin Chandika menangis di dalam hati.

__ADS_1


Chandika hanya diam saja, dia bingung harus melakukan apa. Dia serba salah sekarang. Di satu sisi, Ludhe sedang membela dirinya yang dulu, dia tahu jika pemuda bermata biru itu bukanlah orang yang jahat, dia tidak menyangkah jika Ludhe begitu mencintainya. Dan di sisi yang lain, hal ini memang murni kesalahan dirinya yang ingin bertunangan dengan Jane.


"Memang lo bisa apa, ha? Lo nggak mungkin bisa membuat gue dan Chandika berpisah," kata Jane dengan tatapan yang menantang, membuat suasananya menjadi semakin tegang, ingin rasanya Chandika menjambak rambut burgundy gadis itu.


"Kalian liat saja nanti," kata Ludhe dan berbalik pergi.


"Dia siapa sih, Chan? Dan Cherika itu siapa? Kenapa Ben dan cowok tadi membawa-bawa cewek yang bernama Cherika itu?" tanya Jane berbondong dengan tatapan menuntut.


Chandika hanya memutar bola matanya malas. "Berisik banget lo, ini bukan urusan lo," katanya dengan menatap datar gadis blaster.


'Nyebelin banget si nih cewek,' batin Chandika kesal.


"Ini urusan gue dong, cowok tadi berniat merusak hubungan kita," kata Jane tidak terima.


"Kalau dirusak ya tinggal rusak," ucap Chandika tidak perduli dan langsung meninggalkan Jane di depan pintu gerbang sekolah.


"Gue nggak bakal biarin," kata Jane dengan mengepalkan kedua tangannya. "Gue akan cari tahu siapa itu Cherika, cewek kecentilan itu pasti yang menggoda Chandika. Gue harus memberinya pelajaran," lanjutnya dengan wajah yang mengeras.


"Lupakan niat buruk itu," kata seorang pemuda berkacamata yang tiba-tiba saja datang.


Jane langsung menatap Danny, dia terkejut karena ada yang mencuri dengar niatnya tadi. "Jangan ikut campur, lo itu hanya pengawal pribadi Chandika," kata Jane dengan menatap sinis Danny.


"Justru karena ini menyangkut tuan muda, gue nggak akan membiarkan lo, lagi pula gadis itu berada di dalam perlindungan Aldebaron," ucap Danny dengan tatapan memperingati. "Gue memberi peringatan ini karena lo adalah seorang perempuan, tapi jika lo sudah melewati batas, gue tidak akan tinggal diam," lanjut Danny dan langsung pergi untuk mengikuti Chandika kembali, dia memang sejak tadi mengikuti tuan mudanya secara diam-diam.


"Brengsek, lo kira gue takut?" lirih Jane kesal. "Siapa sebenarnya cewek sialan itu, apa hubunganya dengan keluarga Aldebaron."


Namun, di sisi lain. Cynderyn menatap dengan seringai lebar.


"Menarik. Anak-anak itu mudah sekali terpengaruh niat jahat yang telah aku tanamkan, tidak sulit untuk mengendalikan hati mereka," ucapnya dengan mata berkilat senang.


"Rasa cinta tidak ada yang tulus dan suci, rasa cinta yang teramat dalam akan semakin mengarah pada rasa jahat dan dengki pada hati, bahkan bisa mengakibatkan kematian."


"Aku tidak akan membiarkan putriku terjebak rasa cinta yang sama dan merengut kembali kehidupannya."


"Bagaimanapun caranya aku akan membawa putriku kembali."


"Aku tidak akan membiarkan Felix merenggutnya lagi."


_To Be Continued_

__ADS_1


__ADS_2