
Cherika melongo saat memasuki sebuah mansion mewah bagai istana.
Kemegahan mansion bisa dilihat dari bangunan yang teramat besar, jalur masuk ke mansion yang dihiasi dengan pohon palem, lantai marmer, dan kolam air mancur berdekorasi patung serta emas. Interiornya bernuansa keemasan. Di dalamnya juga terdapat tempat khusus untuk bermain bowling, kolam renang di dalam ruangan, bar yang sangat luas hingga lapangan untuk berkuda.
"Selamat datang," kata barisan maid saat Cherika melangkah lebih dalam untuk memasuki mansion.
"Tuan Albert sudah menunggu, nona," kata sekertaris Theo membungkuk dengan sopan.
Cherika yang mendapatkan perlakukan bagai putri raja itu menjadi kikuk dan canggung bersamaan.
Ingatannya kembali saat melihat ada 3 mobil hitam dan banyak laki-laki berbadan kekar berbaris di depan gerbang rumahnya. Dan mereka bilang jika mereka adalah bawahan dari kakek Albert yang ditugaskan untuk menjemputnya, alasannya untuk mengundangnya makan malam untuk ucapan terima kasih. Karena tidak ingin membuat tetangganya bertambah ribut, dia pun menyetujuinya.
Cherika kini mengenakan dress yang pernah dibelikan Chandika karena hanya itulah baju feminim yang dia miliki. Karena dia juga menginginkan restu dari kakek Albert makan dia harus berpenampilan seperti perempuan pada umumnya, jadi tidak mungkin dia datang makan malam dengan kaos oblong dan celana jeans belel. Sebenarnya dia bisa saja membeli baju-baju mahal dengan kartu hitam yang diberikan sang kekasih, tapi dia terlalu malas untuk berbelanja barang-barang branded yang disukai perempuan lain itu.
Saat ini masih pukul 4 sore, belum saatnya untuk makan malam. Sekertaris Theo mengatakan jika kakek Albert mengajaknya untuk bermain catur di ruang tamu sembari menunggu jam makan malam.
Cherika hanya mengiyakan saya, dia sudah terlanjur datang jadi tidak mungkin untuk menolak. Lagi pula dia lumayan jago dalam bermain catur.
"Selamat sore, kakek," sapa Cherika saat terduduk di hadapan Albert.
"Kamu sudah datang," kata Albert tersenyum tipis. Tidak sulit untuk mencari tahu gadis yang sudah menolongnya itu.
Cherika mengangguk. "Terima kasih karena sudah mengundang aku untuk makan malam," kata Cherika tersenyum sopan.
"Kenapa kamu yang jadi berterima kasih? Ini adalah bentuk terima kasih kakek padamu," ucap kakek Albert kembali memasang wajah datarnya. Dalam hatinya dia sangat kagum dengan Cherika yang memang berbeda dengan gadis lainnya. Gadis yang terlihat sederhana dan apa adanya.
"Tidak apa-apa, kakek. Aku hanya ingin berterima kasih saja karena telah diundang untuk datang ke rumah sebesar ini," kata Cherika jujur.
Albert tertawa pelan. Hebat sekali Cherika karena dapat dengan mudahnya membuat kakek Albert yang terkenal bersifat dingin pada siapapun dapat tertawa dengan mudahnya. Sekretaris Theo yang sejak tadi berada di belakang Albert pun merasa kaget karena tuannya tertawa.
"Apakah kamu bisa bermain catur?" tanya Albert kemudian.
"Bisa, kek," jawab Cherika sembari mengangguk.
"Sebenarnya aku ingin sekali bermain catur dengan cucuku, tapi dia tidak mungkin bisa bermain catur," kata Albert sambil menata bidak catur berwarna hitam pada papan catur dengan pola kotak-kotak hitam dan putih. "Cucuku itu... bisa dibilang bodoh."
__ADS_1
"Terkadang berpura-pura bodoh sangat efektif untuk mengukur kepintaran orang lain," ucap Cherika dan ikut menata bidak putih miliknya.
Albert tertegun sesaat. Apakah selama ini dia sudah salah menilai Chandika?
"Lagi pula kebanyakan orang bodoh bisa sukses karena takut makin ditertawakan orang lain, dan kebanyakan orang pintar justru gagal karena sibuk menertawakan mimpi orang lain," tambah Cherika
"Ya, kamu benar," jawab Albert setelah terdiam sebentar.
Mereka berdua mulai bermain catur.
"Cucuku akan segera menikah," kata Albert tiba-tiba, dia menjalankan satu pion miliknya.
"Menikah?" Cherika membeo, dia juga menjalankan satu pion miliknya.
"Dia meminta untuk menikah dengan gadis yang dia cintai, kakek tidak tahu siapa gadis itu. Terakhir kakek menjodohkannya dengan gadis yang dicintainya dan berujung gadis itu sudah mengandung duluan. Dan sekarang kakek takut jika dia mencintai gadis yang salah lagi," jelas Albert dengan mengeluarkan isi hatinya.
Cherika termenung seketika. "Jadi kakek sedang galau?"
"Galau?" tanya Albert bingung.
Albert mengangguk untuk menyetujui apa yang gadis itu katanyan. "Tapi, aku ingin menikahkan cucuku dengan kamu," katanya kemudian yang membuat Cherika terkejut.
"Apa? Aku??"
"Kamu mau menikah dengan cucu kakek?"
"..."
**
Saat kamu keluar dari zona nyamanmu, apa yang dulunya tidak diketahui dan menakutkan, menjadi normal bagimu. Namun, tidak untuk Jane, dia sangat terpuruk.
Jane sudah dibuang oleh ke dua orang tuanya, segala fasilitasnya telah di cabut dan hanya tersisa apartemennya. Dia pun tidak mungkin melanjutkan sekolahnya karena keadaannya yang sedang hamil.
Hidupnya hancur seketika.
__ADS_1
"Benar kata Cherika, kebohongan hanya akan menyelamatkan aku untuk sementara, tapi menghancurkan aku selamanya," isak Jane pilu. "Aku adalah orang yang sangat bodoh..."
Jane meringkuk di depan pintu apartemennya. Dia sangat lelah akan semuanya, rasanya ingin sekali dia mengakhiri hidupnya tapi dia sedang mengandung. Dia tidak tega untuk membawa anaknya untuk mati bersamanya.
"Sedang apa?" tanya seseorang pada Jane yang hanya bergeming. Gadis itu masih hanyut dalam isak tangisnya.
"Hiks.. maaf," gumam Jane. Dia ingin meminta maaf pada dirinya sendiri, ke dua orang tuanya, Chandika, Cherika, dan anaknya yang belum lahir itu.
Jane membeku ketika merasakan sebuah jaket menyelimuti badannya. Dia mendongak untuk melihat siapa gerangan yang telah memberikan kehangatan dari Jaket itu, sejak tadi tubuhnya memang menggigil kedinginan.
Danny tengah menatapnya dengan tanpa ekspresi.
"L-lo?" gumam Jane tercekat.
Selalu.
Dan selalu saja laki-laki itu yang datang.
"Masuklah ke dalam apartemen, jangan menangis di tengah jalan seperti ini," kata Danny yang tampak baru pulang.
Jane hanya diam saja, dia tidak ada tenaga untuk menjawab perkataan Danny.
"Ck, kemana hilangnya gadis keras kepala itu?" tukas Danny. Baginya, Jane adalah gadis yang keras kepala, gadis yang tidak menghiraukan peringatannya untuk tidak menggangu Cherika.
Jane melanjutkan isak tangisnya, bahkan semakin keras.
"Aduh, berhentilah menangis," kata Danny panik
Seketika Jane merasakan lemas, tubuhnya roboh. Danny dengan sigap merengkuhnya sebelum dia roboh di lantai yang dingin.
"Hiks... Maafkan aku..." lirih Jane sebelum kehilangan kesadaran sepenuhnya.
Danny semakin merengkuh Jane dengan erat. Keadaan Jane saat ini sangatlah mirip dengan kakak perempuannya yang sudah lama meninggal. "Kenapa masih ada perempuan yang sebodoh dirimu, kak?" gumam Danny dengan tatapan kosong.
_To Be Continued_
__ADS_1