Sekejap Berubah Gender

Sekejap Berubah Gender
Season 2 : Honeymoon


__ADS_3

"Cherika dan Chandika kenapa nggak masuk sekolah, Vis?" tanya Brian pada Alvis yang sedang terduduk di kantin, di sebelah Alvis ada Alice.


"Lo nggak tahu?" bukannya menjawab Alvis justru bertanya balik.


Brian menatap Ignancio dan Adam, mereka mengangkat bahu pertanda tidak tahu menahu. "Nggak tahu," jawab Brian setelahnya.


"Mereka berdua sedang madu bulan."


"Madu bulan?" Ignancio membeo, dia bingung dengan jawaban yang pemuda babyface itu berikan.


"Buka madu bulan," ralat Alice, dia menggeleng karena jawaban ngasal Alvis, "Tapi bulan madu."


"What?" pekik ke tiga pemuda.


"Yang boneng lo, mana ada izin nggak masuk sekolah karena bulan madu," ucap Ignancio memastikan sekali lagi.


"Lo nggak tahu ya?" kilah Alvis yang membuat ke tiga pemuda menggeleng.


"Sekolah ini milik keluarga Aldebaron, kepemilikan atas nama Cherika, jadi mereka bebas melakukan apapun," sambung Alvis dengan santainya.


Semakin kagetlah ke tiga pemuda itu, Cherika si penyandang beasiswa adalah pemilih asli sekolah ini.


"Gila sih," gumam Adam menggeleng takjub.


"Cherika ternyata adalah pemilik sekolah ini. Gue sering bolos terang-terangan di depannya lagi. Apa gue masih aman di sekolah ini?" ucap Ignancio resah dengan nasibnya kelak.


"Bos kita nggak mungkin cepu, Ignancio," kata Adam mencoba menghilangkan perasaan resah temannya itu.


Setelahnya Ignancio bernapas lega, "Ya, lo benar."


"Memangnya mereka honeymoon ke mana?" tanya Brian kepo.


"Hawaii," jawab Alvis.


"Hawaii? Siapa yang ke Hawaii?" tanya Icha yang tahu-tahu nimbrung, dia datang bersama dengan Clara.


"Cherika dan Chandika," Adam menjawab pertanyaan Icha.


Icha dan Clara pun ribut seketika, ke dua gadis itu juga baru tahu.


Alvis memutar bola matanya jengah, dia paling benci dengan cewek berisik, "Bukan nggak ingin ngasih tahu, mereka saja mendadak pergi."


"Ya, jadi kakak-kakak nggak usah kecewa ya," timpal Alice membenarkan perkataan sang kakak.


"Tapi kok kalian tahu?" tanya Adam pada kakak beradik Adhideva.


"Kami sepupunya Chandika," jawab Alvis jujur.


"Pantas saja muka lo dan Chandika agak mirip," ucap Ignancio seraya membandingkan muka Alvis dan Chandika di dalam pikirannya.


"Ya, Ibu kami berdua saudara kembar."

__ADS_1


"Oh, ternyata seperti itu," kata Brian manggut-manggut.


Setelahnya, mereka kembali makan dan sesekali bercanda gurau.


Clara memberikan satu kotak jus jeruk pada Alvis, "Ini untuk lo, Al."


"Thanks," ucap Alvis tersenyum yang membuat gigi kelincinya terlihat, "Gue jadi nggak enak karena lo setiap hari ngasih gue jus. "


"Nggak apa-apa, kok," kata Clara malu-malu. Gadis itu berharap dengan memberikan jus Alvis sadar tentang perasaannya.


Brian yang melihat itu tersenyum miris, gadis yang dia sukai diam-diam sejak lama justru menyukai pemuda lain.


**


Cherika berdecak kagum saat memasuki kamar hotel yang dilengkapi tempat tidur mewah dan fasilitas lengkap, dengan jendela-jendela setinggi langit-langit yang mengarah ke balkon pribadi, yang memberikan pemandangan pantai dan laut yang menakjubkan.


"Apa kita benar-benar ada di Hawaii?"


Chandika mengikuti langkah Cherika yang menuju balkon, dia memeluk istrinya dari belakang, "Ya, sayang."


Hawaii, Negara dengan wisata terfavorit di seluruh dunia dan memiliki sejuta pesona yang menakjubkan. Mulai dari wisata pantainya yang eksotis hingga wisata pegunungannya yang sangat mempesona.


Jika ditanya kenapa tiba-tiba pasangan muda itu berada di Hawaii, jawabannya adalah kakek Albert yang menyuruh mereka honeymoon di Negara kepulauan itu. Albert yang sudah tidak sabar untuk meminang cicit memberikan tiket liburan satu minggu pada pasangan muda itu.


"Tapi bagaimana dengan sekolah kita? Dan pekerjaan kamu?" tanya Cherika dengan mengusap lengan Chandika yang melingkar pada pinggangnya.


"Tentang saja kakek sudah mengurusnya, kamu tidak udah khawatir, sayang," jawab Chandika sembari mengecupi leher bagian belakang Cherika yang terbuka karena gadis itu menguncir tinggi rambutnya.


Cherika tertawa karena merasakan geli, "Hentikan."


"Tugas kita adalah menuruti keinginan kakek," bisik Chandika dengan suara parau, tangannya menyusup ke dalam crop top berwarna hijau muda yang dipakai Cherika.


Cherika menegang saat tangan Chandika mengelus lembut perutnya.


"Uhmm, tu-tugas apa?"


"Membuat bayi," jawab Chandika, tangan nakalnya menarik brα yang di kenakan Cherika ke atas, sehingga dia dapat merasakan kelembutan dan kekenyalan sesuatu yang ada di baliknya.


"Ahh..." desαh Cherika.


Cherika bernapas lega karena Chandika melepaskan tangannya, tapi dia langsung memekik saat Chandika menggendong dan membawanya masuk ke dalam kamar.


"Kita lanjutkan di dalam saja," kata Chandika dan langsung membungkam mulut Cherika dengan mulutnya.


**


Esok harinya.


Cherika menusuk-nusuk pipi Chandika yang tertidur dengan lelap, padahal dia ingin sekali berjalan-jalan untuk menikmati liburan mereka.


"Hmm?" gumam Chandika membuka mata, dia tersenyum saat melihat sang istri yang membangunkannya.

__ADS_1


"Akhirnya bangun juga," ucap Cherika mengacak rambut hitam Chandika.


"Kiss, kiss," kata Chandika dengan memonyongkan bibirnya dan mendekat pada Cherika.


Cherika segera menutup mulut Chandika dengan tangannya, "No."


Chandika melepas tangan Chandika, "Kenapa?"


"Kalau cium pasti ujung-ujungnya itu," jawab Cherika mencebikkan bibirnya.


"Terus kenapa? Kan kita memang harus selalu melakukan itu agar segera mendapatkan bayi."


"Ck," Cherika berdecak kesal, "Aku tidak mau."


"Kenapa tidak mau?" tanya Chandika seraya bangkit dari posisi tidurnya menjadi terduduk, dia terkejut karena Cherika menolaknya.


"Apakah permainanku membuatmu kecewa?" sambung Chandika dengan was-was.


Cherika merona, kecewa apanya? Justru Chandika selalu bisa membuatnya mabuk kepayang. "Bukan itu," sangkal Cherika.


"Terus?"


"Hari ini aku ingin jalan-jalan," jawab Cherika mengatakan keinginannya, "Padahal kita kan sedang ada di Hawaii, aku tidak mau di kamar hotel terus bersama kamu."


"Jadi kamu bosan bersamaku?" tanya Chandika justru menyalahartikan keinginan Cherika.


Cherika menepuk jidatnya, "Aku tidak bosan bersamamu."


"Aku hanya ingin jalan-jalan, menikmati Hawaii," jelas Cherika sekali lagi, dia berharap Chandika mengerti.


Chandika mengangguk paham, "Oke."


Cherika berbinar seketika, "Kalau begitu ayo kita siap-siap."


Chandika meraih ponselnya dan melihat jam, "Tapi ini masih terlalu pagi, masih jam 4 pagi loh."


"Aku ingin melihat matahari terbit di pantai."


"Aku malas sekali, pasti sangat dingin sekali di luar," kata Chandika merengut.


"Jangan seperti itu, ayo mandi," tukas Cherika, dia beranjak turun dari ranjang, lalu menarik tangan Chandika.


"Haish, kamu memaksa sekali."


"Ayolah, Dika..." rengek Cherika.


"Baiklah, tapi kita mandi bersama," kata Chandika mengajukan syarat.


"Ya, mandi bersama," ucap Cherika yang menyanggupi.


Chandika menarik sudut bibirnya, membentuk seringai.

__ADS_1


Cherika tidak tahu apa yang direncanakan otak mesum suaminya saat mereka mandi bersama.


_To Be Continued_


__ADS_2