
Jam pulang sekolah.
"Cherika~"
Cherika yang hendak berjalan di koridor merasakan tubuh mungilnya diterjang pelukan oleh perempuan yang dengan hebohnya memanggil namanya.
"Lepas, Icha. Sesak," kata Cherika mencoba melepas pelukan super mematikan Icha.
Icha hanya nyengir. Perempuan yang biasanya mengganggu Cherika dan tidak segan-segan membully, kini nampak menunjukkan gestur pertemanan. "Gue senang banget karena lo sudah sadar," kata Icha yang sudah melepas pelukannya.
"Cherika, kita ingin minta maaf karena sering menggangu lo," kata Clara si perempuan berambut gelombang.
"Sudah gue maafkan kok," jawab Cherika.
"Ya, mulai sekarang kita berteman ya. Gue sudah mengikhlaskan kak Ludhe untuk lo," kata Icha.
"Sudah gue bilang, gue dan kak Ludhe nggak ada hubungan apa-apa," ujar Cherika mengeryit.
"Ah, ya. Pokoknya gue mau kita temanan," ucap Icha dengan wajah memelas.
"Terserah," jawab Cherika. Lagi pula dia juga tidak ingin bermusuhan dengan siapapun.
"Baiklah ayo pulang bersama," kata Icha langsung menggandeng tangan Cherika dan Clara menggandeng tangan sebelahnya.
Cherika hanya pasrah saja, banyak sekali kejutan yang dia hadapi hari ini. Dia terlalu malas untuk protes.
Lagian Aland sedang latihan basket dan tidak bisa pulang bersama dengannya, daripada pulang sendiri lebih baik dengan Icha dan Clara.
Ke tiga perempuan yang berjalan beriringan itu seketika heran saat melihat para siswi yang berkumpul di depan pintu gerbang sekolah seperti sedang menonton sesuatu.
"Apa apa?" tanya Icha pada salah satu siswi.
"Ada 2 cowok ganteng dari sekolah lain," kata siswi itu.
"Yaelah, seganteng apa sih sampai pada heboh gitu?" tanya Clara terheran-heran. "Artis?"
"Kayanya bukan artis, tapi memang ganteng banget cowoknya," kata siswi tadi.
Cherika hanya diam saja mendengarnya, dia merasa tidak perduli.
"Gue mau ambil mobil di parkiran, kalian tunggu di depan gerbang saja," kata Icha sebelum berlalu meninggalkan Cherika dan Clara yang masih bertautan.
"Sambil menunggu Icha, kita ikut nonton cowok ganteng yuk, Cher," ajak Clara yang langsung menarik tangan Cherika sebelum gadis itu menolak.
"Merepotkan," gumam Cherika misu-misu.
__ADS_1
Setelah cukup dekat dengan kerumunan Cherika dapat mendengar sayup-sayup suara laki-laki.
"Mau apa kalian ke sini?" tanya pemuda berambut pirang—Ludhe pada ke dua pemuda dari sekolah lain itu.
"Apa lo mengenal cewek yang bernama Cherika?" tanya pemuda berwajah babyface dengan bunny smile yang membuat siswi yang menonton klepek-klepek.
"Kenapa mencarinya?" bukan menjawab Ludhe malah berbalik bertanya, firasatnya memang benar. Ke dua pemuda itu pasti ingin menemui Cherika, karena keduanya memakai seragam sekolah yang sama dengan pemuda yang dia kenali. Seragam British School.
"Banyak bacot lo," kata pemuda berkulit eksotis.
"Hais, jangan cari masalah di sekolah lain, Ben," kata pemuda bayi menatap sengit Ben yang ngegas pada Ludhe. "Mending lo pergi deh, kenapa juga sih ada di sini juga?"
"Lo saja yang pergi, Alvis," desis Ben pada Alvis.
Ya, ke dua pemuda itu adalah Ben dan Alvis. Pemuda yang tanpa janjian bertemu di depan gerbang SMA Tunas Harapan untuk menemui Cherika.
"Kalian berdua pergilah, Tidak akan saya biarkan kalian bertemu dengan Cherika," tukas Ludhe yang memancing amarah Ben dan Alvis yang memang bertemperamen buruk.
"Memang lo siapa, ha?" tanya Alvis yang kini sudah emosi, wajahnya yang imut kini berubah menjadi menyeramkan. Kepribadian lain pemuda itu sepertinya sudah muncul. Padahal dia sendiri yang bilang supaya jangan cari masalah di sekolah lain.
"Saya—"
"Apa apa ini?" tanya Cherika yang memotong perkataan Ludhe, gadis itu segera membelah kerumunan yang sejak tadi menonton ke tiga pemuda tampan yang sedang cekcok karena mendengar namanya disebut-sebut.
"Hai, honey," sapa Ben seketika melihat gadis yang sejak tadi dia tunggu.
"Cewek bar-bar, gue kangen sama lo," kata Alvis yang langsung memeluk Cherika.
Ludhe dan Ben terbakar api amarah karena melihat Alvis yang dengan mudahnya curi start.
Entah sudah berapa kali Cherika mendapatkan pelukan hari ini, rasanya seperti boneka saja. Gadis itu langsung melepas paksa pelukan Alvis. "Ngapain lo ke sini, Alvis?" tanyanya dengan wajah galak.
Cherika tidak tahu jika ekspresi yang menurutnya sudah sangar itu, malah menjadikannya semakin menggemaskan di mata ke tiga pemuda yang sudah jatuh hati padanya.
Lihat saja, dua pipi chubby menggembung lucu dan memerah, mata yang semakin bertambah belo saat siempunya melotot, dan poni rata yang membingkai muka gadis itu semakin manambah kadar keimutan.
'Bagaimana saya bisa move on jika seperti ini?' batin Ludhe menjerit dalam hati. Hatinya semakin nelangsa karena sudah tidak punya harapan lagi.
Sedangkan Alvis dan Ben menelan ludah dengan susah payah. Ke dua pemuda itu mupeng, alias muka pengin.
"Hmm," deham Alvis untuk menyadarkan diri. "Gue ingin bertemu dengan lo, Cher. Memangnya lo nggak kangen dengan gue?" tanya Alvis dengan menggaruk pipinya yang agak bersemu merah.
"Nggak kangen tuh," jawab Cherika yang begitu menohok.
Ludhe dan Ben tersenyum mencemooh melihat Alvis yang sudah patah semangat.
__ADS_1
"Kalau dengan gue pasti kangen kan, honey," tukas Ben dengan penuh percaya diri.
"Nggak sama sekali," kata Cherika dengan savage.
Ben yang mendengar perkataan Cherika langsung patah semangat seperti Alvis.
Ludhe yang menyaksikan itu seketika tertawa, dia senang jika bukan hanya dia yang mendapatkan penolakan dari si gadis mungil.
Alvis dan Ben memberikan death glare pada Ludhe yang mengejek mereka berdua. Tapi si pemuda blaster tidak takut.
"Nggak usah ribut di sini, lo berdua pergi sana," usir Cherika dengan ekspresi datar.
"Aih, gue sudah belain jauh-jauh datang untuk bisa ketemu lo, masa diusir gitu saja," kata Alvis merengut.
"Gue juga nggak mau pergi, ayo gue antar pulang," ujar Ben dengan mengedipkan satu matanya.
"Nggak bisa, Cherika pulang bersama gue dan Icha," kata Clara yang mencoba melindungi Cherika yang kini sudah menjadi temannya. Sejak tadi gadis itu berada di samping Cherika.
"Berisik lo!" bentak Ben pada Clara.
"Lo yang berisik, Ben," ucap Cherika dengan tatap tidak suka.
Ben sempat terkejut, setahu dia Cherika adalah gadis penakut yang mirip kelinci imut. Tapi kenapa sekarang gadis itu dengan mudahnya menatap seakan menantang padanya?
"Lo sudah berani sama gue?" tanya Ben dengan terheran-heran.
"Sejak kapan gue takut sama lo?" tukas Cherika menatap sinis.
Bukannya marah, Ben malah menggigit bibir bawahnya sendiri. Setelah membuat penasaran karena respon gadis itu yang ketakutan saat pertemuan pertama, lalu kini Cherika membuat Ben semakin terpesona karena berubah menjadi gadis yang berani.
Tin
Tin
Sura klakson mobil milik Icha mengalihkan semua orang. "Hei, ayo kita pulang!" seru Icha memanggil Cherika dan Clara.
"Ayo, Cher. Nggak udah perdulikan mereka lagi," kata Clara pada Cherika.
"Parah sih, masa ninggalin gue," ucap Alvis tidak terima.
"Pulanglah, Alvis. Lain kali saja kita bertemunya," ujar Cherika pada si pemuda bayi.
Alvis menggangguk tidak rela.
Cherika langsung berbalik untuk memasuki mobil Icha. Meninggalkan kerumunan yang kecewa karena drama sudah berakhir dan ke tiga pemuda yang menatap kepergian mobil Icha dengan tatapan penuh arti.
__ADS_1
_To Be Continued_