Sekejap Berubah Gender

Sekejap Berubah Gender
Use Again


__ADS_3

"Kenapa memblokir kartu milikku!?" seru Jane yang baru datang pada Emily yang sedang duduk berhadapan dengan Ridwan yang sedang menyeruput kopi di ruang tamu.


Jane sengaja pulang ke rumah utamanya untuk meminta penjelasan perihal kartu yang tidak bisa digunakan, tadi dia di antar oleh Chandika. Dia dan Chandika memang tadi pergi menggunakan mobil milik si pemuda, mobil lengkap dengan sopir. Mobil Ferrari merah miliknya sengaja dia tinggal di kediaman Aldebaron, mungkin besok dia akan mengambilnya kembali.


Emily melirik suaminya, Ridwan hanya diam saja.


"Jane, mama sudah bilang padamu kan. Mintalah uang pada Chandika," kata Emily setelahnya.


"Tidak!" bentak Jane menolak.


"Jane Jangan membentak mamamu!" seru Ridwan yang memperingati putrinya.


Jane tidak perduli, sekarang dia sangat marah dan kecewa pada ke dua orangnya. "Jangan jadikan aku boneka kalian!" bentak Jane sekali lagi.


"Jika kamu tidak menurut, pergilah dan jangan menganggap kami orang tuamu," ujar Ridwan tanpa perasaan.


"Pa-papa mengusir aku??" tanya Jane tercekat, dunianya seakan runtuh mendengar perkataan serius sang ayah.


"Ya, papa tidak membutuhkan kamu yang telah membangkang hanya demi cinta. Berpikirlah sedikit, keluarga kita sedang pailit, hutang papah dan mama di mana-mana, pergerakan papa di pemerintahan sudah tercium KPK. Papah tidak bisa korupsi lagi," jelas Ridwan pada putrinya.


"Maka berhentilah menjadi koruptor," ucap gadis blaster.


"Papa memang sudah berhenti, tapi hutang-hutang perlu di bayar, kita akan jatuh miskin setelahnya," kata Ridwan yang membuat Jane tertegun.


"Ini semua pasti karena mama! Mama  pasti yang sudah berhutang sana sini untuk terlihat kaya pada kelompok sosialita!" seru Jane justru menyalahkan Emily.


Emily tidak menyangkal seruan Jane, yang dikatakan putrinya memang benar. Lagi pula mana sudi dia tersaingi oleh teman-teman sosialitanya, bagaimanapun caranya dia harus mendapatkan banyak uang untuk dipamerkan.


Ridwan memijit pangkal hidungnya karena mendadak pening, istinya memang boros, tapi putrinya juga tidak kalah borosnya. Jane tidak sadar jika selama ini dia selalu berfoya-foya tanpa memperdulikan keuangan keluarga. Gaji Ridwan sebagai Menteri mana cukup untuk memenuhi hasrat istri dan putrinya.


"Jane, tolonglah dengar perkataan papa. Setelah kamu sudah resmi menjadi tunangan Chandika, mintalah uang padanya untuk membayar hutang keluarga kita," ucap Ridwan sedikit meluapkan amarahnya. "Kamu tidak usah khawatir jika Chandika akan kehabisan uang, kekayaan keluarga Aldebaron sangatlah banyak."


"Tapi aku tidak ingin menguras harta Chandika," kata Jane dengan sungguh-sungguh.


Ridwan dan Emily saling tatap.


"Ya," jawab Ridwan. Saat ini dia akan menuruti keinginan putrinya, jika Jane dan Chandika sudah menikah, dia akan bertindak sendiri untuk mendapatkan kekayaan keluarga Aldebaron. "Kamu hanya perlu memintanya untuk membayarkan hutang keluarga kita."


"Baiklah."

__ADS_1


Niat buruknya memang sudah tersusun sangat rapi.


**


Jakarta sebagai ibu kota Indonesia seringkali dijuluki sebagai kota yang tidak pernah tidur. Hal tersebut menunjukan bahwa aktivitas di Jakarta tidak terhenti meskipun malam sudah semakin larut.


Chandika sedang berada di dalam mobil Lamborghini yang terjebak macet, sesekali dia terlihat menguap karena ngantuk. Menemani Jane berbelanja dan mengantar gadis itu pulang sangatlah memakan waktunya, harusnya dia sekarang sudah bermanja-manja dengan kasur empuk di kamarnya.


"Pak, nanti ke minimarket sebentar," kata Chandika pada sopir pribadinya yang duduk di kursi depan. Dia membutuhkan minuman yang menyegarkan.


"Baik, tuan muda," jawab sopir patuh.


5 menit kemudian mobil Lamborghini berhenti di parkiran salah satu minimarket.


Chandika langsung keluar dengan tampang yang kusut dan acak-acakan.


"Sttt," senggol seorang perempuan pada temannya yang sedang duduk di kursi sampingnya, ada tiga perempuan berpakaian mini tengah duduk di kursi depan minimarket. "Lihat ada cowok ganteng tajir melintir."


Perempuan yang di senggol lengannya langsung mengalihkan atensi dari bermain ponsel, dia melihat Chandika yang terlihat teramat sangat seksi tengah turun dari mobil Lamborghini yang berharga milyaran.


"Anjir, itu cowok beneran manusia? atau dewa?" ucap perempuan ke dua dengan umpatan.


"Manusialah goblok," celetuk perempuan ke tiga.


"Yakin lo dia akan tergoda?" tanya perempuan ke tiga tidak yakin.


"Yakinlah, semua cowok mana tahan dengan godaan duniawi," ucap cewek ke dua dengan membusungkan dadanya yang terlihat menyembul karena menggunakan pakaian yang cukup ketat.


Cringg


Pintu minimarket terbuka oleh dorongan tangan Chandika, dia segera masuk ke dalam dan mencari minuman dingin yang sedari tadi dia inginkan.


"Mumpung sudah jadi orkay, gue mau borong jajan," gumam Chandika pelan dengan mata yang berbinar menatap rak yang berisi bermacam-macam snack. Dia ingin membeli beberapa cemilan, biskuit, es krim, dan coklat.


"Hai," sapa ke tiga perempuan berpakaian mini pada Chandika yang sedang memilih es krim.


Chandika hanya diam saja, dia mengabaikan perempuan yang dia yakini sebagai cabe-cabean itu.


"Dingin banget si," kata perempuan ke dua dengan genit. "Kok nggak di jawab sapaan kita?"

__ADS_1


"..."


"Tuh kan benar dia nggak bakal tergoda," bisik perempuan ke tiga.


"Aduh..." rintih perempuan ke tiga berpura-pura jatuh ke lantai. "Sakit... sepertinya aku terkilir," lanjutnya dengan sengaja mengibaskan rambutnya yang menutupi dada ke belakang, berniat menggoda si pemuda.


Chandika mengeryit melihat perempuan yang tiba-tiba jatuh itu, belum lagi si perempuan yang sengaja menunduk agar belahan dadanya terlihat jelas olehnya. Dia yang notabene seorang perempuan tidak mungkin tergoda, dia juga pernah mempunyai buah melon itu.


"Minggir," ucap Chandika dengan dingin.


Ke tiga perempuan menatap tidak percaya, pemuda itu memang sulit di goda. Kurang seksi apa mereka?


Chandika langsung melangkah ke kasir setelah ke tiga perempuan itu menyingkir dari jalannya. Kasir langsung menghitung total belanjaannya.


"Ada plester luka?" tanya Chandika lada kasir laki-laki.


"Ada, ka," jawab kasir.


"Tambahkan itu."


Selesai melakukan pembayaran Chandika menghampiri ke tiga gadis yang masih terbengong di tempat tadi.


"Ini," katanya menyerahkan plester luka pada perempuan yang pura-pura terkilir tadi.


Perempuan itu segera menerimanya, dan Chandika langsung berbalik pergi keluar minimarket.


"OMG! Apa-apa itu, cowok itu manis sekali," kata perempuan ke tiga histeris.


"Tahu nggak cara menghilangkan baper?" tanya perempuan yang telah di beri plester luka oleh Chandika, wajahnya tengah memerah dengan sempurna.


"Jadi, untuk menghilangkannya buang saja tuh perasaan biar jadi Bab saja," celetuk perempuan ke dua.


"Niat menggoda malah jadi baper," ucap perempuan ke tiga.


Sopir langsung berlari untuk menghampiri si tuan muda yang membawa banyak belanjaan, dia pikir jika Chandika hanya membeli minum aja. "Biar saya yang bawa, tuan muda," kata sopir sopan.


"Nggak usah, biar gue saja," jawab Chandika karena tidak ingin merepotkan sopir yang sudah terlihat tua itu.


Chandika langsung melangkah dan masuk ke dalam mobil tanpa menyadari sepasang mata biru yang menatapnya penuh arti.

__ADS_1


"Sebentar lagi, Ellisha," gumam Cynderyn yang sejak tadi menatap Chandika.


_To Be Continued_


__ADS_2