Sekejap Berubah Gender

Sekejap Berubah Gender
Season 2 : Punishment


__ADS_3

1 bulan setelah kejadian penculikan.


Siska sudah dikubur dengan layak. Sedangkan Ben dijebloskan ke penjara dan mendapat hukuman 9 tahun, pemuda itu tidak bisa lolos dari hukumannya, janji dari Edward Lazuardy yang ingin memberi kekuasaan atas hukum hanyalah dusta belaka.


Ben hanya mendapatkan hukuman di penjara karena berkat Danny yang memohon pada Chandika agar Ben—yang tidak lain adalah keponakannya untuk mendapatkan keringanan hukuman. Jika bukan karena Danny, mungkin saja Ben sudah terkubur bersama Siska.


"Jadi lo adalah paman gue?" tanya Ben pada pemuda berambut cokelat terang yang sedang duduk di hadapannya, sebuah kaca menghalangi ke duanya.


"Ya," jawab Danny, dia sedang melakukan kunjungan untuk menjenguk Ben di penjara.


Mata berwarna cokelat Ben memanas, dia sangat terpukul oleh kenyataan, selama ini dia hanya dijadikan alat oleh Ayahnya sendiri. Dan dia baru tahu jika indentitas aslinya adalah anak haram. Pantas saja Ayahnya tidak pernah menganggapnya.


"Bagaimana bisa gue dibohongi selama ini," kata Ben dengan air mata yang tidak bisa terbendung lagi, hatinya sakit dan begitu sesak.


"Dari satu kesalahan ke kesalahan lain, manusia menemukan kebenaran," ucap Danny yang masih berekspresi datar.


"Maaf, paman."


Paman. Sangat canggung sekali panggilan itu, Danny yang masih berumur 22 tahun dan keponakannya berumur 17 tahun.


"Apa sekarang lo menyesal?" tanya Danny dengan mengabaikan rasa canggungnya.


Ben mengangguk dengan air mata yang masih mengalir, pemuda itu memang sungguh menyesal. Sejatinya Ben adalah pemuda yang tidak tahu apa-apa, dia hanya mengharapkan pengakuan dan kasih sayang.


"Penyesalah itu datangnya selalu di akhir agar kita memiliki waktu yang lebih untuk belajar. Terima hukum lo dan cobalah untuk memperbaiki hidup."


"Ya, paman."


"Setelah itu, gue akan menjadi keluarga untuk lo."


Ben tertegun mendengarnya.


"Mungkin Gionino juga bisa lo anggap keluarga, dialah yang memberitahu kenyataan ini, dia sangat menyangai lo sebagai adiknya. Janganlah membenci seseorang yang begitu perduli pada lo, Ben."


"Ya."


**


Di gedung pencakar langit, tepatnya di perusahaan Aldebaron, ruang kerja Chandika.


Chandika masih bergulat dengan laptop miliknya, dia masih memeriksa laporan perusahaan.


Cherika yang sedang terduduk di sofa dengan memainkan ponsel terlihat bosan, sudah 3 jam dia menunggu Chandika, tapi suaminya itu masih saja sibuk dengan pekerjaannya. Akhir-akhir ini dia memang sering mengunjungi Chandika di kantor, kadang untuk membantu pemuda itu atau membawa makanan. Mereka memang sudah kembali ke tubuh masing-masing jadi Cherika bisa sepenuhnya berperan menjadi istri yang baik untuk Chandika.


"Dika."


"Ya, sayang," jawab Chandika dan tidak mengalihkan fokus dari laptop.


"Aku bosan, apa kamu masih mempunyai banyak pekerjaan?" tanya Cherika merengut.


"Sedikit lagi, habis itu kita pulang," jawab Chandika tersenyum ke arah sang istri tercinta.

__ADS_1


"Bosan," rengek Cherika.


"Duduk sini saja," titah Chandika dengan menepuk pahanya.


"Nanti aku mengganggu kamu," kata Cherika, dia bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah Chandika.


"Tidak kok."


"Baiklah kalau kamu memaksa," ucap Cherika, dia segera duduk di pangkuannya Chandika.


Chandika hanya terkekeh karena ucapan Cherika, dia kembali fokus pada laptopnya.


Sedangkan Cherika menyelusupkan kepalanya di leher Chandika, tatapannya tertuju pada jakun yang bergerak-gerak, gadis itu sangat menyukai jakun suaminya, baginya terlihat lucu.


Cup


Cherika mengecup jakun Chandika.


"Hais, jangan menggodaku, aku harus menyelesaikan ini dulu," ucap Chandika dengan mendorong pelan kepala Cherika dari jakunnya.


"Aku tidak menggoda," sangkal Cherika.


Setelahnya hanya bunyi keyboard laptop Chandika yang terdengar, sedangkan Cherika tertidur karena mengantuk.


Chandika menutup laptop saat pekerjaannya selesai, dia mengulum senyum ketika melihat wajah damai istrinya yang tidur di pangkuannya. Pemuda itu membuka jasnya dan menyelimuti Cherika, dia bangkit dengan menggendong Cherika ala bridal style untuk pulang.


Sekarang memang sudah pukul 10 malam, kantor sudah sepi hanya beberapa karyawan yang lembur.


Chandika hanya menggangguk.


**


"Apa kamu sudah bertemu Ben?" tanya Jane pada Danny yang duduk di sebelahnya.


Kini mereka sedang berada di ruang tamu apartemen Jane.


"Sudah," jawab Danny dengan menatap kopi yang masih mengepul di atas meja, kopi buatan Jane.


"Bagaimana reaksinya?" tanya Jane ingin tahu.


"Terkejut. Dia pun tidak menyangka jika aku adalah pamannya," jawab Danny dengan mengingat reaksi Ben.


"Ya, aku juga terkejut akan kenyataan itu," aku Jane.


Danny menatap Jane, "Tenang saja, aku akan tetap menikah kamu."


"Kenapa jadi membahas pernikahan?" tanya Jane heran.


"Karena aku adalah pamannya Ben."


"Terus?"

__ADS_1


"Kamu masih mau menikah denganku?"


"Tentu saja."


Danny tersenyum, dia kira Jane akan mempermasalahkan soal kekerabatannya dengan ayah dari anak yang dikandung Jane.


"Saat di penjara, Ben terlihat terpuruk, aku tidak tega melihatnya," ucap Danny tiba-tiba, "Dia juga sudah menyesali perbuatannya dan bersedia menjalani hukuman yang dia dapat."


"Begitu juga dengan kamu, Danny. Kamu tidak kalah terpukul, bukan?" tanya Jane menatap sendu Danny, pemuda itu memang terlihat frustasi.


Danny terlihat frustasi karena tidak mengira jika keponakannya masih hidup dan lebih parahnya lagi, dia pernah memukuli Ben hingga pemuda itu patah tulang, dia sangat merasa bersalah pada mendiang kakak perempuannya. Bukannya melindungi Ben, dia justru menyakiti keponakannya itu.


"Sudahlah, jangan menyalakan diri kamu sendiri," ucap Jane saat melihat ekspresi Danny yang semakin sendu, gadis blaster itu memberanikan diri untuk memeluk Danny. Mereka memang masih canggung untuk melakukan skinship.


Danny membalas pelukan Jane, perasaannya menjadi lebih tenang, "Terima kasih sudah menghibur aku."


Jane mengangguk, "Ya."


"Apa kamu sudah mulai menyayangi aku, Jane?" tanya Danny dengan berbisik.


Wajah Jane memanas seketika, jika ditanya seperti itu tentu saja jawabannya...


"Ya, aku menyayangimu."


**


Sesampainya di kediaman Aldebaron.


Chandika yang masih menggendong Cherika melangkah masuk ke mansion, saat berada di ruang tamu dia sedikit terkejut karena ada kakek Albert yang sedang mengobrol bersama Jauzan dan Aminta.


"Kamu sudah pulang, cucuku?" ucap Albert saat melihat sang cucu yang baru saja datang itu.


"Ya, kakek," jawab Chandika dengan mengangguk.


"Oh astaga, apa yang terjadi pada menantu mami?" pekik Aminta yang melihat Cherika seakan tidak berdaya digendongnya Chandika.


"Shttt, jangan berisik mami," tukas Chandika, dia melirik Cherika yang tidak terusik dengan pekikan Aminta, "Cherika hanya tidur."


"Syukurlah mami kira menantu mami kenapa-kenapa," ucap Aminta menghela napas lega.


"Ya, Cherika tidak kenapa-kenapa."


"Yasudah kamu bawa Cherika ke kamar dulu, ada yang ingin kakek bicarakan padamu," ujar Albert dengan ekspresi serius.


Chandika mengeryitkan dahi, "Apa itu penting?"


"Penting, karena menyangkut cicitku."


"Cicit?"


_To Be Continued_

__ADS_1


__ADS_2