
"Sudah sampai..." kata Chandika ketika sudah mengantar Cherika sampai di depan pintu gerbang rumah.
"Ya.." Cherika mengangguk.
"Aku masih kangen," kata Chandika manja dan langsung memeluk kekasihnya.
"Hmm," suara dehaman mengagetkan mereka berdua.
Cherika langsung mendorong Chandika hingga pemuda itu terjatuh dengan tidak elitnya.
"Aduh, bokongku..." rintih Chandika.
"Ma-maaf," kata Cherika dengan segera membantu Chandika bangkit.
"Sakit tahu," ucap Chandika cemberut.
"Sedang apa kalian?" tanya Agust yang berdeham itu, sepertinya kakak pertama Cherika baru pulang dari kantor.
"Ti-tidak sedang apa-apa," jawab Cherika tergagap.
"Selamat malam," kata Chandika kikuk.
"Kalian pacaran?" tanya Agust tanpa basa-basi.
"Ah.. anu.. itu.."
"Jawab yang tegas!" perintah Agust dengan aura dinginnya.
"Ya, kami pacaran," jawab Chandika dengan cepat.
"Kalian pikir berapa umur kalian sekarang? Kalian masih kecil. Kenapa bisa-bisanya berpacaran dan sampai berpelukan seperti itu?" tukas Agust dengan tatapan setajam silet.
Cherika meringis, kakak laki-lakinya ini memang yang paling kolot, buktinya sampai di umurnya yang sudah matang belum juga mendapat kekasih. Bagaimana jika Agust tahu kalau Cherika dan Chandika sudah melakukan hal yang lebih dari sekedar pelukan? Seperti berciuman dan kecup mengecup?
"Aku sudah dewasa, bahkan aku sudah siap lahir dan batin untuk menikahi Cherika. Bang Agust tidak perlu khawatir," kata Chandika dengan mimik yang serius.
"Kamu hanya anak kecil yang masih bergantung dengan harta orang tua," ucap Agust yang sangat menohok.
"Dika tidak seperti yang bang Agust pikirkan!" seru Cherika mencoba membela kekasihnya.
"Diam, Cherika. Abang sedang tidak berbicara dengan kamu," ujar Agust tanpa mengalihkan tatapan tajamnya pada Chandika.
"Kamu pikir menikah adalah sebuah permainan rumah-rumahan? Sebagian remaja mengira pernikahan seperti memasuki restauran di mana orang-orang hanya menemukan yang enak-enak saja. Bagimu menikah itu apa, eh?" lanjut Agust mengintimidasi si pemuda mullet.
"Pernikahan adalah jembatan antara dua hati dari berbagai perasaan, cinta, kesedihan, kebahagiaan, kejujuran, kepercayaan, rahasia, rasa hormat, dan bekerja sama," jawab Chandika tidak ada rasa gentar.
Agust tersenyum miring. "Lalu, apa kamu pikir aku akan semudah itu membiarkan adikku menikah begitu saja denganmu?"
"Tolong izinkan aku," ucap Chandika membungkuk 90°.
__ADS_1
"Tidak semudah itu."
Cherika ingin kembali membuka suaranya tapi instruksi tangan Agust yang menyuruhnya diam mengurungkan niatnya.
"Kamu harus berhadapan dengan ke 6 kakak laki-laki gadis yang ingin kamu nikahi. Cherika adalah adik perempuan kami, enak saja dia melangkahi kami untuk menikah duluan," kata Agust dengan bersedekap.
"Aku bersedia melakukan itu," ucap Chandika sungguh-sungguh.
**
Suasan ruang tamu bernuansa putih dan krim terlihat begitu menegangkan. Chandika tengah terduduk di sofa dan menjadi pusat perhatian ke 6 laki-laki yakni kakak laki-laki Cherika.
Cherika baru datang dari arah dapur, dia membawa minuman dan beberapa kudapan, setelahnya dia ikut duduk di sebelah Chandika.
"Kalian berhentilah memelototi Dika," kata Cherika mencoba memecah ketegangan.
"Jadi lo benaran ingin menikah dengan Cherika?" tanya Nathan kemudian.
"Ya," jawab Chandika sungguh-sungguh, sejatinya dia sangat gemetaran. Oh ayolah, dia seakan dikuliti oleh tatapan tajam para kakak laki-laki Cherika.
"Memangnya punya apa lo?" tanya Aland.
"Aku mempunyai segalanya. Uang berlimpah, mobil tidak terhitung, perusahaan Aldebaron yang pasti akan menjadi milikku kelak, barang-barang mewah, dan masih banyak lainnya," jawab Chandika apa adanya.
Aland menelan ludahnya berat, menyesal dia menanyakan itu. Dia juga tahu jika si pemuda mullet sangatlah kaya raya.
"Mulai besok aku akan bekerja di perusahaan dan bisa menghasilkan uang dengan kemampuanku sendiri," ucap Chandika penuh percaya diri.
"Bukannya lo masih sekolah? Bagaimana bisa bekerja?" tanya Guinendra.
"Aku bisa mengatur waktunya."
"Lumayan hebat juga," kata Ganendra manggut-manggut.
"Dika-ku memang hebat!" seru Cherika mengangkat ke dua jempolnya.
Chandika langsung merona, dan ke 6 laki-laki lainnya memutar bola mata.
"Ck, pergilah ke kamarmu, Cheri. Jangan mengganggu rapat para cowok," ujar Aland mengusir Cherika.
"Nggak! Cheri nggak mau kalian memakan Dika-ku yang imut ini!" tolak Cherika tegas.
"Hah? Imut?" beo Aland dan dia melirik Chandika. Muka ganteng yang benar-benar membuatnya insecure, bagaimana bisa ada pemuda seganteng itu? Udah ganteng, kaya raya pula. Pantas saja adiknya yang tomboy kesemsem berat.
"Hentikan pandangan mesum lo dari Dika!" seru Cherika pada Aland.
Aland pun salah tingkah. "Enak saja, gue nggak mesum."
"Hentikan kalian," kata Agust yang membuat perdebatan kecil Cherika dan Aland berakhir.
__ADS_1
"Jadi apa bukti dari keseriusan lo untuk Cherika?" tanya Agust kemudian.
"Besok aku akan membawa ke dua orang tuaku untuk melamar Cherika."
Ke 6 laki-laki itu terperanjat tidak percaya, tidak terkecuali Cherika.
'Secepat itu kah?' batin Cherika. Meskipun terkejut tapi dia sangatlah senang.
"Ya, kalo Aland sih setuju-setuju saja. Mungkin Chandika sedang terkena rabun dekat jadinya dia bersedia menikah dengan Cherika yang urakan," kata Aland yang membuat Cherika menatapnya kesal.
"Kita memang harus menikahkan mereka supaya Chandika tidak bisa kabur," tambah Malvin manggut-manggut.
"Gue sih juga yes kalau lo beliin gue motor sama persis yang Cherika miliki, motor seharga rumah itu loh," kata Nathan dengan pikiran matrenya.
"Itu sesuatu yang mudah," jawab Chandika menyanggupi.
"Yes, motor baru!" seru Nathan berjingkrak-jingkrak.
"Gue juga mau satu," kata Guinendra yang tidak mau kalah dengan Nathan.
"Gue juga satu," ucap Ganendra yang tidak mau kalah juga dari kembarannya.
"Ya, apapun untuk kakak ipar."
Pelipis Cherika berkedut menahan emosi, sekarang dirinya seperti tengah dijual oleh kakak-kakaknya.
Sepertinya hanya Agust yang normal. Pemuda itu tetap dengan pendiriannya yang menentang Chandika dan Cherika. Baginya mereka itu masih kecil dan tidak sepantasnya menikah muda. Dia tidak mau kalau adik perempuannya akan menyesal dikemudian hari, masa-masa muda Cherika masih panjang.
"Chandika," panggil Agust pada pemuda mullet.
"Ya," jawab Chandika semakin menegakkan badannya.
"Jam berapa orang tuamu datang?"
"Mungkin malam hari," jawab Chandika setelah berpikir sesaat.
"Baiklah, besok sore kamu datanglah ke Dojo," kata Agust yang membuat Chandika bingung.
Tapi tidak dengan Cherika yang terkejut. "Apa? Jangan bilang jika..." ucap Cherika dengan khawatir.
"Aku akan mengetes seberapa pantasnya kamu bisa menjaga Cherika," sambung Agust tanpa menghiraukan ucapan Cherika.
Tanpa bertanya Chandika mengangguk mantap. "Baiklah."
Cherika menatap tidak percaya Chandika. Apa yang dipikirkan kekasihnya itu hingga asal mengangguk saja? Dan dia melihat Agust yang seakan menyeringai kecil.
Jika berkaitan dengan Dojo. Itu berarti pertarungan. Agust mengajak Chandika bertarung? Karate?
_To Be Continued_
__ADS_1