Sekejap Berubah Gender

Sekejap Berubah Gender
Like Father Like Son


__ADS_3

"Kalau mau cium, tinggal cium saja, aku tidak keberatan kok."


Cherika merinding mendengar perkataan Chandika. Hatinya bergetar saat diberi lampu hijau siempunya bibir. Segera dia enyahkan pikiran tidak senonohnya, mereka itu belum cukup umur untuk melakukan itu.


"Ah, aku melupakan hal terpenting," kata Chandika langsung menutup bibirnya, menghalau pandangan Cherika yang sejak tadi fokus ke arah situ. "Kita tidak boleh berciuman," katanya yang membuat Cherika kesal.


"Siapa juga yang ingin berciuman dengan lo," ketus gadis belo.


"Panggil aku kamu," kata Chandika sekali lagi.


"Ck, banyak maunya."


"Ya?" kilah Chandika menuntut akan kemauannya.


"Terserah," kata Cherika pasrah. Bisa-bisa pemuda itu menangis jika tidak dia turuti.


Chandika langsung tersenyum dengan bibir berbentuk kotak nan adorable, menunjukan box smile miliknya.


"Duh, imut banget," ucap Cherika refleks.


Ke dua pipi Chandika seketika bersemu merah. "Berhenti memanggilku imut, aku bukan seorang gadis lagi," ucapnya mencebik.


"Lo—eh kamu lebih cocok menjadi cewek," kata Cherika dengan berbelit.


"Jangan menggodaku," ujar Chandika kesal. Oh ayolah, dia itu laki-laki tulen.


Cherika menahan gemas melihat ekspresi kesal si pemuda, benar-benar imut sekali Chandika baginya. Kenapa pula pemuda itu menolak dibilang imut?


Cklek


Suara pintu terbuka mengagetkan mereka berdua, Chandika langsung menjauh dari Cherika. Sejak tadi dia memang masih mengurung gadis itu, jika dilihat Nathan pasti akan panjang urusannya.


Nathan menatap Chandika menyelidik, pemuda mullet itu cengar-cengir tidak jelas ke arahnya. "Sudah siap?" tanya Nathan pada adik perempuannya.


"Ya."


"Yasudah ayo kita pulang."


**


Matahari sudah tergantung di atas langit, tumbuhan-tumbuhan hijau pun tampak bersinar dan hijau karena terkena cahaya matahari.


Burung burung pun berterbangan diatas sana bernyanyi seolah menyambut ke datangan si gadis mungil yang kini telah sampai di rumah minimalis berlantai satu.


"Cherika!" seru ke lima laki-laki yang menyebutkan kepulangannya, mereka serempak memeluk Cherika. Raut bahagia terpancar jelas.


"Abang," gumam Cherika menyambut pelukan-pelukan itu. Dia memang sangat merindukan kebersamaan ini. Dia bersyukur karena telah kembali pada tubuh aslinya.


Tidak ada pesta penyambutan, tapi ini sudah sangat membahagiakan untuknya.


"Sudah, sudah, jangan memeluk Cheri lama-lama. Nanti dia sesak dan sakit lagi," kata Nathan mengintruksi.


"Apa lo sesak?" tanya Aland dengan raut khawatir.


"Nggak kok."

__ADS_1


"Nggak sakit kan?" tanya si kembar Guinendra.


Cherika hanya menggeleng, dia memang merasa baik-baik saja, dan sangat merasa segar bugar. Apa kakak-kakaknya menjadi semakin protektif padanya?


"Sebaiknya biarkan Cheri untuk istirahat dahulu," kata Agust dengan bijak.


"Kalau begitu Cheri ke kamar dulu, ya," kata Cherika berlalu menuju kamarnya. Dia sudah kangen juga dengan kamar minimalis dan hangat itu.


Sesampai di dalam kamar gadis itu segera melemparkan dirinya pada ranjang single size yang entah kenapa menjadi tercium bau citrus, sungguh mengingatkan akan bau kamar Chandika.


Matanya meneliti kamarnya, tidak ada yang berubah.


Lama terdiam dengan mata yang terbuka, gadis itu menjadi ngantuk, dan tertidur.


Cherika melupakan jika seseorang tengah menunggu kabar darinya.


**


Pemuda itu menggerutu di dalam kamar bergaya industrial, dia menunggu kabar Cherika jika gadis itu sudah sampai di rumah atau belum. Tapi hasilnya nihil, tidak ada pesan atau telepon masuk di ponsel miliknya.


"Apa aku datang ke rumahnya saja?" tanya Chandika pada dirinya sendiri.


Baru dua jam dia berpisah dari Cherika. Tapi sudah panik seperti kebakaran jenggot saja.


Chandika melirik dua kunci motor sport di nakas.


"Kunci mobilku mana?" gumam Chandika bingung, mana bisa dia mengendarai motor.


Dia segera mencari kunci mobilnya. Salahkan dirinya yang lupa untuk menanyakan di mana Cherika menyimpan kunci mobilnya. Dia sangat yakin jika gadis itu tidak pernah memakai mobilnya.


Namun, ketika dia membuka laci nakas dia menemukan beberapa photocard.


"Si-siapa para laki-laki ini? Kenapa Cherika menyimpan ini?" tanya Chandika tercekat.


Dengan gusar dia keluar dari kamarnya, dia harus mencari tahu siapa ke tujuh laki-laki yang menarik perhatian gadisnya itu.


Chandika tidak tahu jika gadisnya itu adalah Fangirling dari ke tujuh laki-laki itu, bahkan mami Aminta pun juga.


"Jodoh memang tidak ke mana, tapi saingan di mana-mana," lirih Chandika dengan menuruni tangga.


Saat melewati ruang kerja sang ayah dia melihat pemuda berkacamata yang familiar.


"Danny," panggil Chandika pada pemuda yang baru saja keluar dari ruang kerja Jauzan. Dia mengingatnya, Danny adalah salah satu bawahan ayahnya.


"Tuan muda," sahut Danny dengan membungkuk sopan.


"Aku punya tugas untukmu."


Danny heran, tidak biasanya tuan mudanya memberikan dia tugas.


"Cari tahu siapa mereka," kata Chandika menyodorkan photocard pada pemuda berambut cokelat terang.


Danny sweatdrop ketika menerima photocard itu. Kenapa pula dia harus mencari tahu tentang Boyband terkenal ini lagi? Tidak bapak, tidak anak sama-sama sinting. Dia masih ingat jika Jauzan pernah menyuruh hal yang sama.


"Memang ada apa, tuan muda?" tanya Danny dengan cepat mengubah ekspresinya.

__ADS_1


Chandika terdiam sebentar untuk berpikir. "Mereka adalah saingan cintaku."


"Hmm," Danny berdeham untuk menghilangkan tenggorokan yang kering tiba-tiba. "Sepertinya aku sudah tahu siap—"


"Maaf tuan muda, ada nona Jane ingin bertemu," kata seorang maid memotong perkataan Danny.


Chandika hanya mengangguk pada maid.


"Beri tahu jika kamu sudah mencari tahu tentang mereka," kata Chandika pada Danny yang kini menunjukan muka tertekan.


'Astaga, gue juga sudah tahu, tadi juga mau bilang,' batin Danny menjerit dalam hati. Sungguh emosi dia.


"Oh, dan satu lagi. Carikan aku mobil baru," kata Chandika sebelum berlalu.


"Baik, tuan muda," jawab Danny patuh.


Bagi Chandika, mengganti mobil hanya seperti berganti sandal saja.


Chandika segera melangkah ke ruang tamu, di sana dia melihat seorang gadis blaster sedang terduduk menunggunya.


"Ada apa?" tanya Chandika setelah duduk di depan Jane. Mereka berdua terhalang meja kaca.


Jane menjadi kikuk, dia menangkap tatapan ketidaksukaan pemuda itu. "Bagaimana kabar kamu?"


"Baik," jawab Chandika apa adanya. Jika dulu pasti dia akan berteriak kesenangan karena Jane memperhatikan dirinya.


Tapi sekarang dia sadar, jika rasanya dulu pada Jane hanya obsesi belaka.


"Aku kemarin ingin menemui kamu, tapi kamu tidak ada."


"Aku kemarin ke Singapura," jawab Chandika jujur. Lagi pula untuk apa dia menutupinya?


Jane menunduk dan meremas tas branded yang berada di pangkuannya. Dia menyadari jika aksen bicara Chandika sudah berubah, tidak kasar seperti sebelumnya yang memakai gue lo. Tapi entah mengapa tatapan si pemuda menjadi lebih dingin dari biasanya.


"Kamu menemui Cherika?" tanya Jane dengan hati yang teriris.


"Ya."


"Kamu sedang terluka, Chan. Tidak seharusnya pergi menemui gadis itu. Apa kamu tahu? Aku sangat khawatir padamu," kilah Jane mengangkat wajah cantiknya dan menatap pemuda di hadapannya.


"Sejak kapan kamu menjadi khawatir padaku?" tanya Chandika dengan tersenyum miring.


Jane mendadak bisu.


"Kenapa diam?"


"Sudah sepantasnya aku khawatir padamu, kita akan segera bertunangan. Meskipun pertunangan kita kacau saat itu, tapi kita akan segera mengaturnya lagi," ujar Jane yang akhirnya membuka suara.


"Tapi maaf, sepertinya itu tidak akan pernah terjadi."


_To Be Continued_


Photocard :


__ADS_1


__ADS_2