
"Galen, coba lo rentas CCTV sekolah," perintah Alvis pada Galen.
"Ya, bos," ucap Galen yang masih menggunakan seragam SMP itu, saat pulang sekolah dia mendapatkan perintah dari Alvis untuk berkumpul. Pemuda itu langsung mengutak-atik iPad miliknya.
"Bagaimana bisa istri lo hilang, Leo?" tanya Kelvin pada Chandika.
"Gue juga nggak tahu, kalau tahu gue juga bisa mencarinya sendiri," jawab Chandika dengan wajah yang masih terlihat frustasi.
"Apa kalian mempunyai musuh?" tanya Axel.
Chandika berpikir sejenak dan mengangguk setelahnya. "Siska dan Ben."
"Siapa mereka?" tanya Jasen yang sedang menyandar pada kap mobil.
"Di jelaskan juga lo pasti nggak akan tahu, Jasen," celetuk Haidar memutar bola matanya.
"Namanya juga ingin tahu," kata JasenĀ dengan masih menunjukkan raut penasarannya.
"Siska itu cabe-cabean yang pernah menjebak Chandika di kamar mandi laki-laki dan Ben adalah anak dari saingan bisnis keluarga Aldebaron," jelas Alvis pada para anggotanya itu.
Anggota inti geng Bruiser mengangguk mendengar penjelasan ketua mereka.
Kini para pemuda itu tengah berkumpul di parkiran sekolah yang terlihat sudah sangat sepi itu, hari juga sudah semakin sore.
"Lihat ini," kata Galen yang sudah berhasil merentas CCTV sekolah, pemuda itu memang sangat bisa diandalkan.
Para pemuda itu berkumpul untuk melihat rekaman CCTV pada iPad Galen.
Chandika mengepalkan tangannya saat melihat ada seseorang yang memukul Cherika dengan tongkat kayu, dan menyeret Cherika.
"Topi dan kacamata hitam, dari postur tubuh sepertinya dia itu cewek," kata Kelvin dengan memegang dagunya sendiri.
"Cewek? Apa itu Siska?" tanya Alvis dengan menatap Chandika.
"Siska..." geram Chandika dengan menggerakkan gigi gerahamnya.
"Salah lo sendiri yang begitu saja memaafkan cewek jala-ng itu, kalau gue yang berada diposisi lo, pasti gue sudah membunuh orang yang sudah berani-beraninya mengusik gue," ucap Alvis dengan tanpa ekspresi.
"Leo itu berbeda dengan lo, bos," ujar Axel.
Chandika memang berbeda dengan Alvis yang pada dasarnya sosiopat.
"Bisakah lo mencari keberadaan Cherika?" tanya Chandika pada Galen, dia tidak memperdulikan ucapan Alvis yang seakan menyalakannya itu.
__ADS_1
"Gue akan mencobanya," tukas Gales kembali mengutak-atik iPad miliknya.
'Dika... Bertahanlah.'
**
Di sebuah bangunan tua, di pinggir kota.
"Ikat dia," perintah Siska pada Ben. Gadis itu mendorong Cherika yang tidak sadarkan diri hingga terjatuh di lantai yang lembab dan kotor.
"Siapa lo yang berani memerintahkan gue?" ucap Ben menatap tidak suka Siska.
"Ck, bukankah kita sedang bekerjasama? Berhentilah memprotes sesuatu yang tidak penting," kata Siska dengan santai.
Ben akhirnya menurut dan mengangkat Cherika untuk dia dudukan di kursi besi di tengah-tengah ruangan dan mengikat gadis itu.
"Apa lo akan langsung membunuhnya?" tanya Siska tiba-tiba.
Ben terdiam sejenak, ini adalah kesempatan untuk membunuh Cherika. Tapi dia tidak bisa melakukannya. Ralat dia belum bisa. Mau bagaimanapun Cherika adalah gadis yang dia cintai.
"Mungkin nanti," jawab Ben sekenanya.
"Lalu mau kita apaan dia?"
"Terserah lo saja. Yang terpenting, dia sudah menjauh dari Chandika," kilah Siska dengan tersenyum miring.
**
Sudah 3 hari Cherika menghilang. Chandika pun uring-uringan dibuatnya, keadaan pemuda itu begitu kacau. Sekolah dan pekerjaan kantornya menjadi terbengkalai.
Sudah berbagai cara Chandika lakukan tapi tidak dapat menemukan Cherika. Galen juga tidak bisa melacak di mana Cherika berada. Gadis itu seakan hilang ditelan bumi.
"Chan, kamu harus makan," kata Aminta yang melihat sendu putranya yang terduduk di sofa ruang tamu dengan tatapan yang kosong.
Chandika menggeleng. "Cherika pasti belum makan," gumam si pemuda justru mengingat Cherika. Dia begitu khawatir, sejak 3 hari ini Chandika tidak mau menyentuh makanan atau minum.
"Cherika pasti baik-baik saja," kata Aminta mendudukkan dirinya di sebelah Chandika. "Jangan menyiksa dirimu sendiri. Cherika tidak akan senang jika kamu seperti ini, Chan," lanjut Aminta dengan menitikkan air mata karena melihat putranya yang begitu terpuruk.
Aminta tidak tahu saja jika sebenarnya yang menghilang adalah putranya yang sedang berada di tubuh Cherika.
Chandika masih bergeming, tatapannya masih kosong. Pikirannya selalu tertuju pada Cherika.
'Sebaiknya memang harus melakukan itu,' batin Chandika memikirkan satu-satunya cara agar dia tahu keberadaan Cherika.
__ADS_1
**
Cherika membuka ke dua matanya, dan masih sama, di tidak tahu sudah berapa lama dia berada di ruang gelap ini, ruangan yang tidak ada fentilasi sama sekali, lembab, pengap, dan begitu kotor.
Cklek
Pintu terbuka. Siska muncul dari balik daun pintu. Gadis itu tersenyum congkak menatap Cherika yang tidak berdaya.
"Bagaimana kabar lo?" tanya Siska yang sudah berada di hadapannya Cherika yang terduduk di kursi dengan tubuh yang terikat.
Cherika menatap tajam Siska, dia ingin berteriak pada Siska tapi mulutnya tengah dibungkam dengan lakban.
PLAK
Siska menampar Cherika hingga wajah gadis itu menengok ke samping, lalu Siska menjambak rambut Cherika hingga siempunya mendongak ke atas.
"Berani sekali kamu menatap aku seperti itu? Aku bahkan bisa membunuh kamu saat ini juga," geram Siska semakin kencang menjambak rambut Cherika.
Cherika merasa jika rambutnya akan copot karena jambakkan Siska, dia hanya meringis tanpa suara.
"Dasar anak penyihir tidak tahu diri, inilah balasan untuk kamu yang telah menyihir hati pangeran Felix!"
Cherika mengeryit, dia ingin sekali membantah perkataan gadis gila itu. Dirinya yang sejatinya adalah Felix sendiri tidak pernah terkena sihir apapun dari Elisha. Bagaimana bisa Siska berspekulasi seperti itu?
Siska melepas jambakkan pada rambut Cherika, dia mencengkram rahang Cherika dengan kuat. "Gara-gara kamu, aku jadi tidak bebas untuk pergi keluar. Chandika mengerahkan berbagai cara untuk menemukan kamu, dan itu membuat aku semakin membenci kamu."
Chandika memang mengutus orang untuk mencari Siska karena gadis itulah yang menjadi tersangka utama atas menghilangkannya Cherika, dan itu membuat Siska untuk selalu bersembunyi.
Ekspresi Siska seketika berubah menjadi sedih dan tersisa. "Aku mohon.... Tolong cabut mantra sihir yang telah kamu tanamkan padanya," pintanya kemudian.
"Hmmp," Cherika menggelengkan kepalanya, dia bermaksud untuk mengatakan jika tidak ada mantra sihir yang dimaksud Siska.
PLAK
Siska menampar kembali pipi Cherika. "Dasar ***-***!" makinya dengan merubah kembali ekpresi menjadi bengis.
"Hentikan, Siska," kata Ben mengintruksi. Pemuda itu baru saja datang.
"Ck, jangan ikut campur," sinis Siska, dia sangat kesal pada Ben, padahal dia ingin lebih menyiksa Cherika.
Siska tidak paham dengan Ben yang selalu mengganggunya saat menyiksa Cherika.
Ya, Siska tidak tahu jika pemuda itu mencintai Cherika. Meskipun Ben selalu meyakinkan diri untuk membunuh Cherika tapi dia tidak bisa melakukan, saat melihat Cherika kesakitan dipukuli Siska saja dia tidak tega. Bagaimana bisa Ben membunuh Cherika?
__ADS_1
_To Be Continued_