
"Papi!" seru Chandika sambil berlari menuruni tangga, wajahnya masih memerah sehabis video call dengan Cherika.
Dia harus segera bertindak karena sudah tidak tahan.
"Chan, jangan lari-lari," ujar Aminta yang sedang terduduk di sofa ruang tamu.
"Aih, ada apa si kamu, Chan?" tanya Jauzan yang kaget mendengar teriakan putra semata wayangnya. Gagal sudah waktu bermesraannya dengan sang istri yang baru pulang dari rumah sakit.
"Mami sudah pulang?" tanya Chandika yang baru tahu jika sang ibunda sudah pulang.
"Putraku sungguh tidak perhatian sekali, maminya pulang tidak tahu," kata Aminta menangis bombay.
"Ini salahmu, Chan. Lihat mami menangis," ketus Jauzan pada Chandika.
"Aku selalu salah di mata papi, besok-besok taruh aku di hidung papi saja," celetuk Chandika yang membuat ke dua orang tuanya speechless. "Salah papi juga yang tidak mengizinkan aku untuk merecoki kebersamaan kalian berdua."
Jauzan seakan mati kutu mendengar perkataan putranya itu, kemana Chandika yang irit bicara itu? Apakah sifat asli putranya ini kembali lagi?
"Jadi kamu?" tukas Aminta dengan mencubit lengan sang suami.
"Ampun, istriku. Aku hanya ingin merawat kamu sendiri tanpa Chan yang selalu menarik perhatian kamu," jawab Jauzan dengan memelas.
Aminta menggeleng-geleng atas kelakuan suaminya.
Chandika segera duduk di sofa untuk bergabung dengan ke dua orang tuanya.
"Ada apa? Kenapa tadi memanggil papi seperti orang kesetanan?" tanya Jauzan pada putranya, dia ingin Chandika segera pergi agar dia dan Aminta bisa berduaan.
"Aku ingin menikah," kata Chandika dengan mimik serius.
"Apa!?" pekik sepasang suami-istri itu, mereka shock dengan perkataan Chandika.
"Me-menikah? Kamu sudah menghamili anak siapa? Sampai-sampai ingin menikah? Pertunangan kamu dengan Jane saja belum kelar," tanya Jauzan bertubi-tubi.
"Aku baru ingin menghamili anak orang, belum juga mulai," jawab Chandika dengan santai.
"Hust, jangan ngawur kamu, Chan," ucap Aminta.
"Lagian papi menuduh macam-macam," gerutu Chandika.
"Habis kamu tiba-tiba bilang seperti itu, kamu sudah ngebet nikah sama Jane?" tanya Jauzan.
__ADS_1
"Bukan Jane, tapi menikah dengan Cherika," kata Chandika yang membuat ke dua orang tuanya terkaget-kaget.
"Jangan bercanda, Chan. Jelas-jelas kamu bilang mencintai Jane, kenapa sekarang mau menikah dengan Cherika? Apa pendirianmu mudah sekali goyah?" kilah Jauzan heran dengan putranya.
"Sebenarnya aku mencintai Cherika," ucap Chandika yang membuat Jauzan dan Aminta saling tatap.
"Lalu kenapa kamu bersedia bertunangan dengan Jane?" ujar Aminta yang sejak awal memang tahu jika Chandika sudah tidak menyukai Jane.
"Karena aku baru menyadari perasaanku pada Cherika," ucap Chandika. Tidak mungkin dia jujur jika tubuhnya dan Cherika tertukar selama ini, yang menerima pertunangan itu adalah Cherika bukan dirinya. Mana percaya ke dua orang tuanya. Yang ada dia langsung di bawa ke rumah sakit jiwa.
"Tapi—"
"Aku tidak butuh tapi-tapian, aku mau papi melamar Cherika untukku, pokoknya aku ingin segera menikah," ucap Chandika memotong perkataan Jauzan.
"Kamu itu masih 17 tahun, bagaimana bisa langsung menikah? Tunangan saja dulu," ujar Aminta mencoba menolak halus.
"Tidak."
Jauzan dan Aminta tiba-tiba saja mendadak pening, kalau putra tunggal mereka sudah meminta sesuatu mereka pasti tidak bisa menolaknya.
"Tapi ada syarat jika kamu benar-benar ingin menikah," kata Jauzan mengabaikan rasa mendadak peningnya.
"Apa?" tanya Chandika menaikan satu alisnya.
Aminta hanya diam karena mendukung syarat yang diajukan suaminya, dia juga ingin melihat kesungguhan putranya yang ingin menikah di umur belia.
"Tidak masalah," jawab Chandika percaya diri. Lagi pula dia memang harus bekerja untuk menafkahi Cherika dan calon anak-anak mereka.
"Kalau begitu besok kamu bisa mulai belajar tentang perusahaan."
"Baiklah," tukas Chandika mantap.
Jauzan dan Aminta tersenyum melihat putra mereka yang mulai beranjak dewasa.
"Sebaiknya kamu temui kakek dulu. Bilang padanya jika kamu tidak ingin bertunangan dengan Jane, jika sudah papi dan mami baru melamar Cherika untukmu," ucap Jauzan dengan serius.
Chandika menggangguk.
**
Pukul 8 malam.
__ADS_1
Jane menghentikan mobil Ferrari merah miliknya di basement gedung apartemen di mana dia tinggal.
Gadis blaster itu turun dari mobilnya dan melangkah gontai menuju lift dan segera masuk. Dia sangat merasakan lelah fisik dan pikiran, matanya sayu karena terlalu banyak menangis. Sejak pulang dari kediaman Aldebaron dia langsung pergi ke rumah Jolie untuk curhat pada sahabatnya itu.
Ting
Pintu lift terbuka di lantai 18, dia segera melangkah ke pintu kamar apartemennya. Namun, pandangannya tiba-tiba saja kabur dan menjadi gelap.
Bug
Gadis itu terkulai pingsan.
Tidak lama pintu sebelah kamar apartemen milik Jane terbuka karena siempunya mendengar suara dari luar.
Danny sontak kaget melihat seorang gadis tengah pingsan tepat di depan pintu kamar sebelah. "Jane?" panggil Danny dengan menghampiri gadis yang dia kenali itu.
Tapi Jane tetap bergeming, Danny langsung menggendong gadis itu. Dia langsung membawa Jane ke rumah sakit terdekat. Pemuda kacamata itu tidak mau mengambil resiko jika calon tunangan tuan mudanya kenapa-kenapa, yang ada pekerjaannya bisa melayang.
Butuh waktu 10 menit bagi Danny untuk sampai di rumah sakit terdekat dengan menggunakan mobil Pajero Sport miliknya.
"Bagaimana keadaannya, dok?" tanya Danny pada seorang Dokter wanita yang selesai memeriksa Jane.
"Selamat istri Bapak sedang mengandung, kandungnya sudah memasuki usia 5 Minggu," ucap Doker tersenyum menatap Danny.
Danny terkejut mendengar ucapan Dokter jika Jane sedang mengandung, belum lagi dia dianggap sebagai suami Jane. Memang tampangnya sudah cocok menjadi bapak-bapak? Umurnya itu masih 22 tahun, dirinya saja masih cocok menyamar sebagai anak SMA.
"Hmm," Danny berdeham untuk menghilangkan keterkejutannya. "Saya bukan suaminya. Wanita itu hanya kenalan saja," sangkalnya kemudian.
Dokter tersenyum kikuk karena kesalahannya. "Ah, maafkan saya."
"Tidak apa-apa."
"Baiklah, saya akan memberi resep obat. Tolong beritahu padanya jika tidak usah stres berlebihan dan tidak melakukan aktivitas yang membuatnya kelelahan. Kandungannya sangat lemah," kata Dokter dengan menulis beberapa resep obat.
Danny hanya mengangguk.
Setelah kepergian Doker pemuda berambut cokelat terang itu menatap Jane yang masih pingsan di ranjang rumah sakit.
Dia memikirkan anak dari siapa yang tengah dikandung oleh Jane. Apa tuan mudanya? Atau anak laki-laki lain? Dia tidak habis pikir jika pergaulan anak zaman sekarang sangatlah sebebas itu.
Sepertinya dia harus memberi tahu tuan besarnya akan hal ini. Memang tugasnya untuk memberitahu hal yang menyangkut Chandika pada Jauzan.
__ADS_1
Semoga saja ini tidak menjadi sesuatu yang merepotkan.
_To Be Continued_