Sekejap Berubah Gender

Sekejap Berubah Gender
Season 2 : A Mother's Hope


__ADS_3

Cherika yang semula menatap dengan kosong kini tersadar, dia linglung sesaat.


'Apa aku sudah kembali ke tubuh asliku?' batin Cherika dengan mengangkat ke dua tangannya, usahanya ternyata berhasil, dia benar-benar kembali ke tubuh aslinya setelah nekat menusuk jantungnya sendiri.


Cherika yakin jika Chandika sudah kembali juga pada tubuh aslinya.


"Hiks, tidak mungkin..."


Cherika mengalihkan tatapannya, dia terkejut saat melihat Chyderyn sedang terisak dengan terduduk, dia juga melihat Ben dan Ludhe yang tergeletak tidak sadarkan diri, dan ada Siska dengan tubuh yang tertancap pada ranting pohon yang runcing, gadis itu tewas dengan keadaan yang mengenaskan.


'Ada apa ini?' batinnya merasa bingung, belum lagi saat ini dia berada di tengah-tengah hutan yang begitu gelap dan rindang.


Cherika mendekati Cynderyn, mau bagaimanapun wanita tua itu adalah ibunya di masa lalu, karena ingatannya sudah pulih dia tidak bisa mengabaikan Cynderyn begitu saja.


"Ibu," panggil Cherika berjongkok di hadapan Cynderyn.


Cynderyn tertegun, dia mendongak dan menatap Cherika dengan lelehan air mata, dia senang karena jiwa putrinya sudah kembali, "Ellisha? Apa itu kamu, putriku?"


"Ya, Ibu. Ini Ellisha," jawab Cherika tersenyum.


Cynderyn memeluk Cherika dengan erat, "Kamu sudah mengingat Ibu?"


Cherika mengangguk, "Aku sudah ingat masa laluku."


"Itu bagus, ayo ikut dengan Ibu, kita pulang ke kastil," ucap Cynderyn dengan melepaskan pelukannya.


"Tidak Ibu, aku akan selalu di sini," tolak Cherika dengan menggeleng.


"Ikutlah dengan Ibu, Ellisha. Maafkan kesalahan Ibu, jangan membenci Ibu," kata Cynderyn dengan terisak.


Cherika menghapus air mata Cynderyn, "Jangan menangis Ibu, aku sudah memaafkan Ibu sejak lama. Aku begitu menyayangi Ibu, tidak mungkin bisa membenci Ibu."


"Terima kasih karena tidak membenci Ibu."


"Ibu, aku tahu begitu besar pengorbananmu, tapi aku tidak bisa ikut bersama Ibu, aku sudah mempunyai kehidupanku sendiri di sini. Aku bahkan sudah mempunyai suami," ucap Cherika dengan binar kebahagiaan, "Aku bahagia hidup di sini."


"Jadi kamu menolak untuk kembali?"


"Ya, aku ingin hidup di dunia ini sampai akhir hidupku," jawab Cherika dengan sungguh-sungguh.


"Jadi usaha yang telah Ibu lakukan sia-sia? Kamu akan tetap di sini dan meninggalkan Ibu sendiri di kastil."


Cherika menggeleng, "Aku akan selalu menjadi putrimu."


"Tapi, Ibu tidak akan bisa selamanya di dunia ini, Ibu sudah memakan banyak jiwa untuk bisa bertahan hingga saat ini."

__ADS_1


"Hentikan itu, Ibu. Jangan memakan jiwa manusia lagi. Jika kita berpisah pun aku akan selalu berada di hatimu."


Cynderyn tersadar jika perbuatannya memang salah.


Kalau dia membawa jiwa Cherika pasti itu akan membuat putrinya tidak bahagia, sudah cukup dia membuat sang putri menderita karena sifat keegoisannya. Dia memang harus membiarkan Cherika hidup bahagia dengan orang yang dicintai. Cynderyn tidak ingin merenggut kebahagiaan putrinya lagi.


"Baiklah, Ibu akan kembali," ucap Cynderyn tersenyum tulus.


Cherika membalas senyuman tulus Cynderyn, dia tahu jika Ibu di masa lalunya tidaklah jahat, Cynderyn hanya ingin menghidupkan kembali Ellisha untuk menebus kesalahannya.


Cynderyn bangkit dan berjalan ke arah Ludhe, dia berjongkok dan mengobati kepala Ludhe yang bocor dengan kekuatan sihirnya. Cherika hanya memperhatikan Cynderyn.


Ludhe membuka matanya perlahan, pemuda itu terkejut saat tahu Cynderyn yang mengobatinya.


"Eros, putra Ibu... Hiks," isak Cynderyn mengusap kepala Ludhe.


Si pemuda blaster bingung, dia bangkit dari posisi terbaringnya.


"Ibu menyesal. Maaf karena sudah membunuh kamu, karena hati yang sudah terselimuti dendam Ibu justru dengan kejinya membunuh kamu dan menjadi penyebab Ellisha tiada," lirih Cynderyn dengan begitu menyesal.


Ludhe mengalihkan tatapannya pada Cherika, dan Cherika mengangguk.


"Tidak apa-apa, Ibu. Aku juga bersalah karena menentang perkataan Ibu untuk tidak membiarkan Ellisha bertemu dengan Felix," ucap Ludhe setelah paham dengan situasi yang terjadi.


"Ini bukan kesalahan kamu, perbuatan kamu memang sudah benar, kamu adalah putra dan kakak yang sangat baik," sangkal Cynderyn dan memeluk Ludhe.


Cherika mendekat dan memeluk Cynderyn dari belakang, "Kami menyayangi Ibu."


"Ibu harap kalian selalu hidup bahagia di dunia ini."


"Itu pasti," jawab Ludhe mengeratkan pelukannya pada Cynderyn.


"Ibu mencintai kalian berdua. Kebahagiaan kalian adalah kebahagiaan Ibu."


Tubuh Cynderyn tiba-tiba saja mengeluarkan sinar hijau. Cherika dan Ludhe segera melepas pelukan mereka.


"Selamat tinggal."


Sinar hijau yang semakin lama semakin terang dan menjadi warna putih.


Shattt


Cynderyn pun menghilangkan dan berubah menjadi setangkai bunga matahari.


Cherika mengalirkan air mata dari pelupuk matanya, begitu pula dengan Ludhe. Cynderyn sudah benar-benar kembali ke dunia asal wanita itu.

__ADS_1


**


Chandika memarkirkan mobilnya di pinggir hutan, pemuda itu segera masuk ke hutan untuk mencari keberadaan Cherika. Hatinya tidak tenang, dia benar-benar khawatir. Chandika berlari mengikuti kakinya melangkah. Di dalam hatinya, dia berdoa atas keselamatan istri tercintanya.


Dari kejauhan dia melihat sinar biru yang begitu terang, Chandika segera menghampiri sinar itu.


Setelah sampai, Chandika melihat jika Cherika sedang memeluk setangkai bunga matahari dengan terisak piluh.


"Cherika," panggil Chandika mencoba menyadarkan Cherika atas kedatangannya.


Cherika yang mendengar namanya dipanggil segera mendongak, gadis itu semakin terisak saat melihat Chandika. Dia segera berlari dan menghambur ke pelukan sang suami, dia begitu merindukan Chandika.


"Hiks... Dika," isak Cherika.


"Ya, sayang," Chandika membalas pelukan Cherika, rasa khawatirnya menguap karena sang istri yang baik-baik saja, "Shtt, tidak apa-apa, aku sudah berada di sini, bersamamu."


"Aku kangen sekali padamu," gumam Cherika dengan suara yang terendam dada bidang Chandika.


"Aku juga kangen kamu," ucap Chandika mengelus surai hitam Cherika.


Chandika bersyukur dia masih bisa bertemu dengan orang yang sangat dia cintai, betapa sakit hatinya jika tidak bisa bertemu dengan Cherika.


Cherika melepas pelukannya, dia mencium bau anyir dari dada Chandika, "Maaf sudah membuatmu terluka," katanya dengan menyentuh bekas tusukan di dada si pemuda mullet.


"Tidak apa-apa, aku bahkan tidak merasakan sakit," kilah Chandika dengan tersenyum menenangkan, dia memegang tangan Cherika yang menyentuh dadanya.


"Hmm," sebuah dehaman mengintruksi pasangan muda itu.


Chandika dan Cherika menatap Ludhe, si pelaku.


"Jadi kalian sudah bertukar tubuh lagi?" tanya Ludhe menatap Chandika dan Cherika bergantian.


"Ya," jawab Cherika.


"Baguslah kalau begitu."


"Ngomong-ngomong di mana Cynderyn?" tanya Chandika yang tidak menemukan si wanita tua.


Cherika menunjukan setangkai bunga matahari pada Chandika, "Dia sudah pergi ke dunianya dan meninggalkan ini."


"Bagaimana bisa?"


"Nanti akan aku ceritain," tukas Cherika, saat ini memang bukan waktunya untuk bercerita.


"Sebaiknya kita urus dua orang itu," sela Ludhe dengan menunjuk Ben dan Siska.

__ADS_1


_To Be Continued_


__ADS_2