Sekejap Berubah Gender

Sekejap Berubah Gender
Do Not Be Shy


__ADS_3

Pukul 15.00 di markas Bruiser.


Galen melirik si pemuda mullet yang sudah mandi dan berganti pakaian, rambut yang masih agak basah dengan kaus putih polos bergambar Buzz Lightyear dan celana training. Sebelumnya Chandika sudah mandi dengan air dingin untuk menjernihkan pikirannya, untung saja Alvis mempunyai beberapa baju di markas ini.


"Ketua Aodra itu ternyata buas juga ya. Banyak banget ****** di leher lo," celetuk Galen tanpa disaring.


"Hah? ******?" Chandika membeo. Tapi setelahnya dia segera mengusap kasar leher miliknya. Oh, dia melupakan keadaan lehernya itu.


"Yang sebelumnya saja belum hilang. Eh, sudah di tambah lagi," kata Alvis yang mengenyangkan rasa sesaknya.


"Cherika sedang mabuk, dia tidak sadar melakukannya," ucap Chandika.


"Kok bisa?" tanya Alvis menaikan sebelah alisnya yang memiliki pearcing.


"Cherika menyusul aku yang sedang bersama Jane. Ben yang membawanya, dan dia tidak sengaja minum wine milikku yang dianggap sirup," jelas Chandika.


Galen dan Alvis sontak tertawa. Jadi ini kesulitan yang Chandika bilang lewat telepon.


"Gue nggak menyangka jika ketua geng Aodra yang garang bisa terlihat bodoh saat bucin," kata Galen dengan masih tertawa.


"Berhentilah tertawa," kata Chandika pada ke dua pemuda yang masih saja tertawa. Dia kesal karena gadisnya ditertawakan.


"Memang dari kapan kalian mulai pacaran?" tanya Alvis yang sudah merendam tawanya. Dia sudah penasaran tentang itu sejak tadi.


"Baru beberapa hari," jawab Chandika apa adanya.


"Wow, baru beberapa hari saja sudah nyupang sana sini," celetuk Galen.


"Iri bilang saja, bos," kata Chandika dengan savage.


Alvis dan Galen yang notabene jomblo sejak dulu hanya bisa meringis atas perkataan menohok Chandika.


"Baiklah kita lupakan obrolan yang tidak berfaedah itu," kata Alvis mengintruksi.


"Mana USB-nya, Leo?" tanya Galen kemudian.


Chandika langsung merogoh kantung celananya dan mengeluarkan USB. "Ini," ucapnya menyodorkan benda itu pada Galen.


"Les't play."


Galen langsung beranjak untuk menghubungkan USB itu pada komputernya. Jarinya lagi-lagi menari dengan cepat di keyboard.


**

__ADS_1


Sinar matahari menerobos tirai putih dan mengusik seorang gadis yang tengah terlelap dengan selimut yang menggulung badan.


"Engg... " lenguh Cherika yang terbangun dan langsung mendudukkan dirinya, kepalanya mendadak pening. "Di mana ini?" tanyanya dengan mengedarkan pandangan. Kamar bernuansa hitam yang begitu asing.


Cherika merasakan mual seketika, dengan segera dia menuju ke sebuah ruangan yang dia yakini kamar mandi. Dia memuntahkan semua isi perutnya, dia menjadi dehidrasi setelahnya. Namun, sebelum beranjak mencari minum dia melihat penampilannya di kaca, wajahnya sangatlah pucat dengan rambut yang berantakan.


Tanpa perduli dengan penampilannya, Cherika melangkah untuk keluar dari kamar asing itu, dia ingin mencari minum untuk menghilangkan dehidrasi dan mencari tahu di mana dia berada sekarang.


Sayup-sayup dia mendengar suara beberapa laki-laki yang sedang mengobrol di bawah sana, segera dia turun dari tangga.


"Dika," panggil Cherika setelah melihat pemuda tersayang. Dia bernapas lega karena di tempat asing ini ada si pemuda tercinta.


Chandika yang tadi sedang mengobrol dengan Alvis dan Galen segera bangkit dari duduknya dan menghampiri Cherika. "Kamu sudah bangun?"


Cherika mengangguk. "Aku haus," katanya dengan memegang tenggorokannya yang terasa kering.


Dengan segera Chandika menarik tangan Cherika untuk pergi ke dapur. Lalu, tanpa kesulitan Chandika mengangkat badan mungil si gadis dan mendudukkan di kursi mini bar yang memang cukup tinggi.


Si gadis belo hanya menurut, badannya memang sangat lemas.


"Ini minumlah, sayang," kata Chandika setelah mengambil minuman dingin dari kulkas, dan tidak lupa untuk membuka tutup botolnya sebelum diberikan pada Cherika.


Cherika langsung menerimanya dan minum dengan rakus, dia sangat haus sekali.


Chandika menelan ludahnya karena melihat tetesan air yang mengalir menuruni leher jenjang Cherika dan berakhir masuk ke dalam sweater oversize gadis itu.


Si pemuda mullet tersenyum, ibu jarinya mengusap bibir dan dagu Cherika yang basa karena air. Chandika sudah menekan gejolak dari dalam tubuhnya, dia tidak boleh kelepasan lagi dan berakhir merusak gadis yang dia cintai. Cherika terlalu berharga untuk itu. Dia harus bersabar hingga Cherika sudah sah untuknya.


"Apakah kita ada di markas geng Bruiser?" tanya Cherika yang sudah sadar jika dia pernah sekali datang ke rumah bergaya industrial ini.


"Ya, sayang," jawab Chandika mengiyakan.


"Untuk apa kita ke sini?" tanya Cherika sekali lagi.


"Ini tentang Jane," jawab Chandika pada intinya saja.


"Oh, kamu sudah berkerjasama dengan Galen?" tukas Cherika yang sudah paham.


"Ya."


"Lalu kenapa aku juga ada di sini?"


"Apa kamu tidak sadar jika telah mabuk karena meminum wine?" tanya balik Chandika yang mencoba menyadarkan si gadis mungil.

__ADS_1


Cherika terdiam sesaat untuk berpikir. Dan wajahnya mendadak memerah seutuhnya. Gadis itu sudah ingat dan kelakuannya saat mabuk pun diingatnya, dia melirik leher Chandika yang sudah dipenuhi tanda merah dimana-mana. Dia menggigit bibirnya karena menahan malu dan gugup.


"Kamu sudah mengingatnya, gadis nakal?" tukas Chandika dengan tersenyum karena melihat gelagat Cherika.


"A-ah, aku ti-tidak mengingatnya," sangkal Cherika dengan gagap.


"Kamu tidak ingat saat merengek meminta aku cium?"


"Ti-tidak."


"Tidak ingat sudah menggigit aku terus-menerus?"


"Tidak."


"Tidak ingat juga saat meraba ini itu?"


"Ti-tidak."


"Tidak ingat jika kamu membuka baj-"


"Stop! Ya, aku ingat semua! Jangan diteruskan lagi, itu memalukan," seru Cherika dengan menutup mulut Chandika dengan kedua tangannya.


Chandika segera meraih kedua tangan Cherika dan mencium telapak tangan gadis itu. "Itu tidak memalukan kok," ucapnya dengan tersenyum manis.


"Tidak memalukan gimana? aku sangat malu sekarang," kata Cherika dengan menggembungkan kedua pipinya yang memerah.


Chandika terkekeh kecil, lucu sekali kekasihnya itu. "Untuk apa malu pada calon suamimu ini?" kilah Chandika dengan mengelus surai hitam gadis itu.


"Calon suami?"


"Ya, bukankah kamu sudah bersedia menikah denganku yang bodoh ini?"


Pada akhirnya Cherika menggangguk, dia tidak tahu sudah semerah apa wajahnya sekarang. Hari ini sangat memalukan sekaligus membahagiakan baginya.


"Aku ingin mandi," kata Cherika kemudian. Badannya memang sangat lengket dan gerah. "Ayo mandikan aku, badanku sangat lemas."


"A-apa!?" pekik Chandika menatap tidak percaya.


"Katanya tidak usah malu pada calon suami," ucap Cherika yang mengartikan terlalu jauh perkataan Chandika.


"Aduh, jangan memancing aku terus. Kamu mandi sendiri saja. Nanti akan aku belikan kamu baju ganti," ujar Chandika yang berusaha menormalkan detak jantungnya.


Cherika manyun. Siapa pula yang memancing? Bukannya Chandika memang sudah pernah memandikan badannya saat tubuh mereka tertukar? Memang apa bedanya dengan sekarang?

__ADS_1


Benar-benar dia sudah melupakan rasa malunya.


_To Be Continued_


__ADS_2